Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
107 : Keluarga Bahagia


__ADS_3

Pulang ke rumah Tuan Maheza, Chole dan Helios sudah mengharuskan diri mereka untuk kembali bahagia. Sebisa mungkin mereka bersikap ceria untuk kebaikan mental putra mereka.


“Salim sama Opa Oma. Sama Kak Gevan juga. Sama Ante ... nah, udah? Dadah ....” Chole sengaja mengajari sang putra menjadi sosok yang lemah lembut sekaligus bertanggung jawab.


Setiap ada keperluan yang membuat mereka meninggalkan Kim, Chole dan Helios memang sepakat menitipkannya kepada kakek-neneknya. Namun, itu hanya untuk kepentingan yang berlangsung di hari itu, tak sampai berhari-hari. Karena jika untuk kepentingan yang lebih dari sehari, baik itu keluar kota sekaligus luar negeri, mereka akan tetap mengajak Kim, meski sampai detik ini, mereka tak sampai mempekerjakan orang.


Malahan, Kim lebih sering diurus kedua ajudannya dan masih mafia yang dipimpin Syam. Kini saja, dengan penuh kasih sayang, Syam menyambut mereka di teras rumah. Hubungan mereka dengan Syam memang makin erat. Begitu juga dengan Kim yang sudah menganggap Syam sebagai pamannya sendiri.


“Uncleee!” Kim berlari kemudian merentangkan kedua tangannya. Ia siap mendekap Syam yang sudah jongkok di depan sana. Seperti biasa, Syam sudah langsung mendekapnya erat kemudian mengembannya.


“Mas Kim mau nginep di rumah pohon bareng papah mamah?” tanya Syam, dan yang ditanya sudah langsung mengangguk-angguk ceria sambil menatapnya.


“Ayo Uncle antar, sudah Uncle siapin tuh. Nah, lihat ... siap huni. Ada mainan juga. Nanti malam bisa main kembang api.”


“Papah bilang, kembang api itu Mamah,” ucap Kim.


Bukan hanya Syam yang langsung terkikik mendengarnya. Karena Chole yang mengikuti di belakang, juga. Apalagi ketika Chole melihat wajah sang suami dan Helios kebingungan sekaligus salah tingkah, tak lagi berani menatapnya.


“Oh, Papah bilang begitu?” ujar Syam masih memimpin langkah menuju samping rumah Helios yang megah sambil terus mengemban Kim.


“Heeh. Aku dengel begitu. Celitanya, kan Papah lagi ngoblol cama—” Sepanjang Kim bercerita, selama itu juga Syam susah payah menahan tawa.


Helios yang kesal sengaja mendorong gemas kepala Syam. Namun, ulah Helios tersebut malah membuat tawa Syam makin tak terkendali.

__ADS_1


“Makanya, ... dikiranya anaknya enggak cerdas!” sindir Chole masih tertawa sambil melangkah di sebelah Helios.


“Ya cerdas lah, bapaknya saja cerdas!” balas Helios paling hobi membanggakan diri jika sedang membahas Kim yang ibaratnya memang ‘bibit unggul’.


“Ya pokoknya mulai sekarang, Papah harus hati-hati. Soalnya sepertinya, kartu AS Papah sudah kepegang Kim semua!” Kali ini Chole sengaja mengingatkan, dan detik itu juga, tampang suaminya langsung ngenes.


“Kok bisa secepat tanggap itu, yah, Mah? Lihat apa, tiru, dengar apa, apalagi! Beo saja enggak secepat tanggap itu!” ucap Helios.


“Eh, enak saja anak aku disamaain sama beo! Lagian kan dari perut saja, Kim sudah dikasih asupan sekaligus nutrisi lengkap. Kim juga dikelilingi orang-orang yang menyayangi dia. Jadi ya pengaruhnya beneran positif. Dia jadi anak yang energik berisik tapi pinter mirip mamahnya!” ucap Chole dan malah membuat Helios menertawakannya. Selain itu, Helios juga sampai mendekapnya gemas layaknya biasa.


Setelah hampir dua tahun berlalu, akhirnya rumah pohon impian Chole ada di depan mata. Bukan rumah pohon biasa karena itu benar-benar mewah.


“Masya Allah, setelah ditutup benteng pakai seng dan aku beneran enggak bisa sekadar ngintip, ini wujudnya?! Mirip hotel bintang dong!” Chole kegirangan kemudian memeluk gemas sang suami.


Suasana penghubung pohon satu ke satunya lagi berupa kaca. Membuat suasana di sana terang benderang. Namun baru saja Helios mengabarkan bahwa itu bisa ditutup menggunakan gorden yang ada di kanan kiri gorden.


“Ya ampun ... aku pikir tadi itu cuma hiasan ala-ala klasik!” ucap Chole yang kemudian terkikik.


“Masa Mamah sebagai IRT enggak tahu kalau ini gorden buat tutup-tutup?” tegur Helios tapi sang istri yang tertawa sudah langsung buru-buru memeluknya.


Perjalanan mereka berakhir di balkon, dan itu sangat indah. Di balkon yang atapnya masih bisa dibuka-tutup, sudah dihiasi alat masak untuk barbeku.


“Nanti Mas Kim bantu Mamah Papah macak-macak di cini, ya!” ucap Syam yang kemudian menuntun Kim memasang kompor mini yang sudah ia sediakan di sana, atas titah Helios.

__ADS_1


“Resto dan penginapan punya Liam, kalah jauh!” ucap Helios dengan bangganya, dan lagi-lagi membuat sang istri menertawakannya.


“Indah banget sih, asli ini indah banget. Sekitarnya pun dikasih bunga warna-warni jadi taman mungil gemes banget!” ucap Chole sembari melongok suasana di luar sana.


“Mbak, itu ada kurma muda lagi soalnya yang mateng sudah aku sikat. Mau lagi, enggak? Dulu, buahnya jadi cikal bakalnya adanya Kim, kan?” ujar Syam yang kali ini sengaja mengg*oda pasangan romantis di belakangnya.


“Sok tahu! Tanpa buah kurma muda, sebenarnya juga sudah langsung jadi. Cuman pas itu kami belum ngerti!” tepis Helios tak terima. Namun karena Chole terus tertawa, ia juga jadi ikut tertawa.


Masih sangat Helios ingat dengan jelas, memang buah kurma muda itu sangat berjasa untuk hubungannya dan Chole hingga lahirlah Kim. Namun tentu saja, ia tak mungkin mengaku karena itu membuatnya malu. Gengsi!


Malamnya, keluarga kecil Helios benar-benar menginap di sana. Hanya mereka bertiga karena para mafia, berjaga-jaga di luar. Itu pun bukan tepat di sekitar rumah makan. Semuanya hanya sesekali berpatroli agar tidak mengusik kebersamaan keluarga kecil Helios.


Kali ini, Chole mendandani keluarga kecilnya menggunakan piyama lengan panjang warna biru. Layaknya menginap di hotel mewah, mereka mengenakan sandal bulu dalam melangkah ke sana kemarinya. Chole tengah memanggang daging sapi dan satu panci ramen. Sementara Helios tengah memotong buah semangka dan aneka buah lainnya.


Kim yang sangat suka buah semangka jadi tidak bisa jauh dari sang papah karena bocah itu terus nambah.


“Papah doakan, kelak kamu jadi pengusaha yang memanfaatkan kesukaan kamu termasuk itu buah semangka, sebagai bagian dari usaha kamu yah, Mas. Amin! Kamu harus kayak Papah, suka berinovasi termasuk itu menciptakan pundi-pundi uang dari mantan tak tahu diri sekelas om bedak!” ucap Helios tetap jongkok di hadapan Kim.


“Om bedak ... ganteng!” ucap Kim sambil terus mengunyah.


“Helios sudah langsung syok. “Ah kata siapa? Itu suruh cuci wajah, pasti rontok semua!” balas Helios.


Chole yang tertawa, sengaja memanggil Helios. “S-sayang, sini. Sudah. Daripada kamu emosi gara-gara bahas itu, dan itu bisa bikin imun enggak lebih baik. Mending kamu peluk aku. Ini sudah mateng. Mamah suapin kalian, ya?!”

__ADS_1


Seperti biasa, keceriaan Chole mampu menjadi sentral warna sekaligus kebahagiaan dalam hubungan mereka. Bahagianya Helios dan Kim memiliki Chole yang selain akan menjadi mamah atau istri, juga akan menjadi sahabat paling baik.


__ADS_2