Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
44 : Risiko Dan Konsekuensi


__ADS_3

“Melihat kak Cinta yang tetap belum ikhlas mengakhiri hubungan dari Akala, aku beneran enggak bisa diam apalagi tenang karena dampaknya pasti akan menyeret banyak pihak.”


“Belajar dari apa yang sudah terjadi pada kak Cikho, jadi, demi kebaikan bersama agar tidak terjadi konflik fatal di masa depan, aku maju atas restu orang tua dan juga kak Chalvin. Hanya Kak Cinta yang tidak tahu. Kak Cinta baru tahu di detik-detik terakhir kami bertukar posisi, sebelum menjalani ijab kabul.”


“Aku menyiapkan semuanya sendiri, termasuk berkas-berkas keperluan buat ijab kita. Orang tuaku dan juga kak Chalvin sampai terkejut karena mungkin mereka enggak kepikiran ke situ.”


“Delapan hari sebelum pernikahan, aku sudah membereskan semua persiapan, termasuk sengaja KB!” Chole mengakhiri ceritanya dengan jantung yang seolah nyaris loncat. Karena setelah ia membahas KB, tatapan iba seorang Helios langsung berubah menjadi sangat tajam. Helios terlihat sangat marah.


“Kenapa sampai KB?” tanya Helios.


Helios berpikir, apakah Chole tidak sudi memiliki anak darinya? Ia benar-benar sudah langsung marah dan dadanya sudah bergemuruh.


“Dari awal Mas sangat membenciku. Mas membenciku tanpa alasan. Sementara aku enggak mungkin membiarkan anakku merasakan kebencian dari papahnya sendiri. Aku beneran enggak mau jadi wanit*a bodoh yang serba pasrah apalagi dikit-dikit nangis. Aku dilahirkan sekaligus dibesarkan penuh cinta oleh orang tuaku, kenapa aku harus mengorbankan hidupku bahkan hidup anakku—”


“Sekarang sudah enggak!” refleks Helios menahan ucapan Chole.


Chole mendengkus dan menatap sedih Helios. “Aku dan anak-anak butuh Mas. Sementara Mas enggak mungkin meninggalkan dunia mafi*a Mas! Mas selalu bilang, anak buah Mas butuh Mas. Lalu, bagaimana dengan aku dan anak-anak?”


Detik itu juga Helios diam. Helios merasa tertampar dan perlahan menunduk.


“Aku bahkan enggak tahu, Mas beneran akan pulang, atau Mas akan terus membuatku menunggu? Atau malah, ... bukan hanya Mas yang tinggal nama, tapi juga anak-anakku?” Cairan hangat menjadi berjatuhan dari kedua sudut mata Chole tanpa bisa kembali ditahan.


“Mikirnya ke situ. Setiap hal apalagi yang menyangkut nyawa orang yang kita sayangi, wajib dipikirkan untuk jangka panjangnya, Mas!” lanjut Chole dan kali ini mulai tersedu-sedu.

__ADS_1


Yang ada di bayangan Chole, Helios akan langsung mengam*uk bahkan membuangnya. Namun ternyata, pria itu justru mendekapnya. Helios menggunakan kedua tangannya yang terluka untuk mendekap Chole. Dekapan lembut yang makin lama makin erat. Bahkan, sebuah kata maaf turut terucap. Kata maaf yang tentu saja sangat jarang bahkan terkesan mustahil keluar dari bibir seorang Helios.


Berbeda dari biasanya, kali ini Chole hanya tersedu-sedu. Chole tak sanggup membujuk Helios lagi karena membahas ketakutannya mengenai anak dan juga pekerjaan Helios, baginya sudah sangat menyakitkan.


“Aku mungkin bisa bertahan, tapi aku enggak mungkin membiarkan anak-anakku juga merasakan. Karena yang aku mau, sampai di napas terakhir, yang anak-anak tahu papahnya merupakan super hero nyata untuk mereka!” ucap Chole masih tersedu-sedu.


“Dunia kami mengajarkan, kami harus menjadi yang terbaik dari semua yang terbaik. Membu*nuh atau dibu*nuh. Karena tidak berulah saja, lawan akan dengan sengaja berulah agar kita menyerah, tunduk sekaligus menjadi bud*ak mereka!” lirih Helios. “Jangan pernah menyamakanku dengan yang lain termasuk menyamakan aku dengan Excel. Karena keluarnya Excel saja membuatku harus mengerjakan apa yang harusnya dia tanggung di dunia kami.”


“Sejatinya, memang tidak ada pilihan yang benar-benar lebih baik. Semuanya berisiko. Semuanya memiliki konsekuensi. Namun bukan berarti, aku enggak bisa membahagiakan istri dan anak-anakku.” Helios mengakhiri ucapannya dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Bagi Chole, apa yang Helios katakan juga tak ubahnya tamparan untuknya. Ini mengenai tidak adanya pilihan yang benar-benar baik. Semuanya termasuk pilihan yang dianggap paling baik tetap memiliki risiko sekaligus konsekuensi. Juga, Helios yang seolah sudah menegaskan, pria itu tetap akan menjadi suami sekaligus papah yang terbaik bagaimanapun kondisinya. Siapa pun Helios di dunia ini. Tentunya, semua itu sudah menjadi risiko sekaligus konsekuensi Chole yang memilih menikah dengan Helios. Kenyataan yang justru membuat Chole dilema. Gamang.


“Mas beneran enggak akan keluar ...?” lirih Chole.


“Beneran enggak ada alasan untuk bisa—” Chole langsung pusing. Masa iya, seumur hidupnya harus terus menjadi mafia? Jangan-jangan, anak mereka juga?


“Jangan pernah meninggalkanku.” Helios menunduk dalam dan perlahan mengunci pundak kiri Chole menggunakan dagunya.


“Pelan-pelan, buat usaha seperti mas Excel. Menjadi yang terbaik dari semua yang terbaik tanpa harus jadi mafia, lawan Mas pun enggak bisa macam-macam.” Chole masih berusaha, tapi Helios tak lagi merespons meski kali ini, pria itu tetap memeluknya.


“Aku sayang Mas, ... aku sayang banget ke Mas apalagi Mas suamiku. Lumrah aku khawatir, lumrah aku ingin yang terbaik buat Mas—”


Sepanjang Chole berbicara, Helios tetap bungkam. Chole berpikir, Helios terlalu bingung. Buktinya ketika ia mencoba mengakhiri dekapannya, Helios tidak mengizinkan. Helios buru-buru mengeratkan dekapannya. Punggung Chole sampai bunyi “pleketuk” lantaran Helios memeluknya terlalu erat.

__ADS_1


“Aku juga enggak mau Mas ninggalin aku ....” Chole menyerah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Helios. “Mungkin di suatu masa, kami akan terbebas dari semuanya. Aku benar-benar akan menunggu, dan aku akan menjadi istri yang berguna untuk suamiku,” batin Chole yang kemudian berbisik, “Ayo kita punya anak, Mas!”


Walau hanya diam, bisikan dari Chole barusan sudah langsung membuat air mata seorang Helios berjatuhan. Bersamaan dengan itu, hati Helios juga menjadi diselimuti rasa hangat sekaligus ngilu. Kebahagiaan yang lagi-lagi tak luput dari luka tetap Helios rasa. Sebab Helios sadar, keputusan tersebut Chole ambil di atas luka yang harus istrinya itu tanggung.


“Aku KB suntik yang satu bulan. Harusnya efeknya enggak sampai satu tahun. Nanti sambil urus operasi Mas, kita juga bisa sambil promil!” lanjut Chole bersemangat meski yang ada, makin ia bersemangat, makin deras juga air mata yang mengalir. Tak hanya air matanya, tapi juga air mata sang suami.


Hampir setengah jam lamanya mereka bungkam sambil terus berpelukan.


“Ayo tidur.” Helios sengaja mengakhirinya, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Jalan ninja yang selalu dipilih mereka untuk mengurangi risiko fatal.


“Mau foto dulu!” rengek Chole yang juga mengambil jalan ninja paling jitu.


Helios menggeleng dan berangsur berusaha merebahkan tubuh meski sang istri terus bertahan di pangkuannya. Chole terus saja memohon, benar-benar berisik. Wanita itu memang sempat meninggalkannya, tapi Chole kembali sambil membawa ponsel yang diambil dari nakas sebelahnya.


Helios pasrah dan langsung mendekap punggung Chole sambil membenamkan wajahnya di bahu kiri istrinya itu, bertepatan ketika Chole mengabadikan kebersamaan mereka melalui bidik kamera.


“Mas, Mas ... ayo kita foto kaki kita, di bawah selimut biar kayak orang-orang!”


“Apa lagi, sih? Sudah, tidur. Merem, sudah malam!”


“Mas ihhhh! Sekali saja! Diam yah, diam! Aku mau foto kita!”


“Innalilahi Chole ....”

__ADS_1


Hidup Helios benar-benar tidak baik-baik saja. Memiliki istri cantik fisik maupun cantik hati, tapi sangat berisik.


__ADS_2