Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
54 : Kabar Terbaru Cinta


__ADS_3

“Kalau gini caranya lebih baik aku mati!” Baru melihat kedua tangannya yang dihiasi luka baret parah, Cinta sudah ketakutan. Rasa takut yang juga membuatnya teringat alasan dirinya seperti itu.


Di ingatannya, Cinta melihat dirinya yang baru keluar dari rutan. Ia lari dengan buru-buru dan bermaksud menyusul Akala yang malah pergi bersama Nina. Akala tak lagi peduli kepadanya lantaran ia terus menolak menyerahkan diri ke polisi. Akala tetap membela Nina dan malah terus menghindarinya selagi ia tetap tidak mau meminta maaf apalagi menyerahkan diri.


Tanpa sepengetahuan siapa pun, Cinta memang sengaja membeli Nina pada seorang germ*o bernama Reno dan tak lain suami Nina. Cinta sengaja mengirim Nina ke Korea Selatan untuk operasi wajah. Karena demi bisa kembali bersama Akala, Cinta sengaja membuat Nina memiliki wajah layaknya wajahnya. Rencananya, Nina akan Cinta jadikan sebagai penggantinya di sisi Helios. Yang mana semua biaya itu, Cinta biayai dengan uang Helios yang sudah ia kuras habis. Masalahnya Nina yang harusnya menggantikan Cinta di pernikahan, justru ditolong oleh Excel—baca novel : Pembalasan Istri yang Haram Disentuh.


Kemudian, ingatan Cinta membuat wanita itu bergidik. Karena setelah ponsel dan tasnya diram*pas oleh begal, Cinta yang berniat melakukan perlawanan justru tak kuasa menghindari sabetan golo*k terhadap kedua tangannya. Naasnya, ketika terjatuh, rambut panjang Cinta yang tergerai justru masuk rantai motor si beg*al.


Sepulangnya ke Cilacap, Cinta memang memutuskan melepas jilbabnya gara-gara tak lagi dipedulikan oleh Akala. Namun, Cinta yang sempat masuk RSJ karena tetap tidak merasa bersalah setelah apa yang ia lakukan kepada Nina, baru menyadari, bahwa kecelakaan yang ia alami merupakan teguran keras dari Sang Pemilik Kehidupan. Karena andai Cinta tak asal melepas jilbab, pasti tidak ada tragedi rambutnya masuk rantai motor milik sang begal. Atau, andai Cinta mau meminta maaf kemudian menyerahkan diri ke kantor polisi dan Akala siap mendampingi, agar hukuman yang menjerat Cinta juga lebih ringan, tentu Cinta juga tidak akan menjadi korb*an layaknya sekarang.


Sekarang, ... Cinta sungguh tidak bisa menjelaskan keadaannya. Apalagi di ingatannya, ia melihat wajahnya terseret di aspal panas. Dan saat itu, saking sakitnya Cinta seolah mati rasa. Belum lagi kepalanya yang tertindih knalpot motor panas.


“Aku bahkan bisa jauh lebih bur*uk rupa dari Helios!” batin Cinta yang terpejam pasrah sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. “Tangan, kaki, tubuh, wajah, kepa-la ...?” Bahkan ketika Cinta membuka kedua matanya, itu benar-benar terasa sangat kaku, sakit, perih tak karuan. Seolah, kulit bahkan daging di sekitar sana memang ru*sak fatal.

__ADS_1


Melalui pandangannya, Cinta mencoba memastikan keadaan wajahnya. Tangan dan kakinya jelas sudah lecet fatal hingga dagingnya tampak menganga dan dalam proses pengeringan. Dan Cinta sangat penasaran dengan keadaan wajahnya. Ia sampai panas dingin karena itu. Apalagi melalui tatapannya, wajahnya yang terasa kaku sekaligus panas dan perih, ia dapati jauh lebih tinggi dari hidungnya. Cinta berpikir itu terjadi karena luka dan membuat wajahnya bengkak atau malah iritasi.


“Ya Alloh, ini pasti parah banget!” isak Cinta hingga air matanya justru makin menambah rasa sakit di wajahnya. Ibaratnya, apa yang Cinta lakukan serba salah. Karena jangankan air mata yang membasahi luka di wajahnya, bernapas saja dan membuat wajahnya bergerak berlebihan, itu mirip tanah di musim kemarau yang retak.


“Operasi plastik saja enggak separah ini. Operasi plastik saja enggak sesakit ini. Dan operasi plastik pun hasilnya lebih baik, bukan begini yang memang ru*sak ....” Cinta makin tersedu-sedu dan memang tak bisa mengakhirinya. Meski setiap tetes air matanya membuat perih dari luka yang terkena, terasa makin menyiksa.


Hingga akhirnya, kedatangan seorang perawat yang hendak mengontrol keadaan Cinta, membuat kehancuran seorang Cinta akibat keadaannya, khususnya keadaan wajahnya, benar-benar sempurna. Tak pernah Cinta berpikir dirinya akan seperti sekarang. Wajah cantiknya kini lebih mirip topeng Halloween! Wajahnya tak lebih baik dari wajah hantu bu*ruk rupa!


“Ini pasti ada yang salah, ... ini pasti bukan aku!” batin Cinta yang mendadak tak bisa membedakan antara kenyataan maupun halusinasi. Ia bahkan jadi tidak bisa mengenali wajahnya sendiri. Wajahnya benar-benar jadi aneh, asing, seolah memang itu wajah orang lain.


Karena kini, suara tanpa penampakan dari orang-orang yang sempat mengecamnya, menganggap bahwa apa yang ia lakukan kepada Nina merupakan kejahatan HAM, juga usulan mereka agar Cinta menyerahkan diri ke polisi agar hukuman yang Cinta dapat jauh lebih ringan, silih berganti menggema. Kehidupan Cinta mendadak hening dan hanya suara itu yang terus menjelma menjadi kidung mengerikan.


Tentunya, Cinta belum lupa dan sepertinya tidak akan pernah lupa pada beberapa ucapannya dengan Nina. Ucapan yang juga perlahan terputar di ingatannya lengkap dengan kejadian yang sesungguhnya.

__ADS_1


“Aku tidak butuh permintaan maaf dari siapa pun. Karena satu-satunya orang yang wajib minta maaf memang hanya Cinta. Itu saja, aku tidak yakin bisa sepenuhnya memaafkannya. Apalagi sampai detik ini, Cinta masih belum mau mengakui bahwa apa yang dia lakukan salah.” Itu yang Nina katakan ketika Cinta tetap tidak merasa bersalah apalagi mau meminta maaf.


Padahal, semua orang di Cilacap, di rumah orang tua Akala, termasuk itu Chalvin yang langsung jauh-jauh datang dari Jakarta, sudah berulang kali meminta maaf kepada Nina. Terlebih Nina memang korban eksp*oitasi anak oleh orang tua tirinya, sebelum Nina malah dinikahkan paks*a dengan Reno yang malah menjualnya kepada Cinta.


Nina bahkan sempat dise*kap dan menjadi korban pelec*ehan se*k*sual ayah tirinya selama dua bulan hingga Nina hamil. Malahan ketika Nina dioperasi wajahnya, wanita itu tengah hamil dan berakhir keguguran. Dan Cinta mengetahui semua itu, tapi Cinta tak mau ambil pusing lantaran Cinta merasa tidak bersalah hanya karena Cinta sudah membayar, membeli Nina.


“Lihat, dia masih terlihat seperti enggak merasa bersalah padahal orang lain sibuk meminta maaf untuk kesalahannya!” ucap Nina merasa tak habis pikir. Saat itu, Nina yang terlibat sangat menyedihkan karena wajahnya penuh luka, berangsur menggeleng dan air matanya menjadi berjatuhan. “Beneran capek berurusan dengan orang seperti kamu, tapi orang seperti kamu wajib dihukum!”


“Hukum saja!” Itulah yang akhirnya Cinta katakan dengan lantang sekaligus marah. Cinta menatap menantang kepada Nina. “Hukum aku, WAHAI WANITA YANG MERASA PALING JADI KORBAN!”


Mengingat itu, Cinta hanya bisa menangis. Perawat yang ada di sana berusaha menenangkan. Dan Cinta segera meminta bantuan kepada perawat tersebut untuk menghubungi nomer ponsel Chalvin. Namun, sebanyak apa pun Cinta mencoba, nomor ponsel Chalvin tetap tidak bisa dihubungi. Nomornya tidak aktif.


“Di saat seperti ini dan aku beneran butuh, kalian justru menjauh!” sedih Cinta menatap miris perawat yang masih memegang ponsel menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


__ADS_2