Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
108 : Cerita Hari Ini


__ADS_3

“Akhir-akhir ini aku jadi sering berpikir, sudahkah aku bikin kamu bahagia?” batin Helios sembari memandangi Chole yang dengan bersemangat menyuapinya. Wanita itu seolah memiliki dua orang anak, yaitu ia dan Kim.


“Baru aku sadari, bahagia kita benar-benar ada pada dirimu. Karena jika kamu bahagia, kamu juga akan membuat kami makin bahagia,” batin Helios lagi yang jujur saja merasa menyesal, kenapa baru sekarang ia menyadarinya. Kenapa mereka tidak menikah dari dulu saja? Kebencian yang hadir di awal hubungan mereka karena komunikasi yang kurang, kini telah sepenuhnya menjadi rasa sayang sekaligus cinta.


“Besok jadwal kita apa saja?” tanya Helios.


“Besok kita masih di rumah, sementara lusa menjadi hari pertama Mas Kim sekolah!” ucap Chole bersemangat kemudian buru-buru tepuk tangan.


“Waw, Papah mau ikut ke sekolah, ya!” Helios tak kalah bersemangat.


“Semuanya ikut ke sekolah. Opa, oma, uncle, benelan semuanya!” Heboh Kim sambil menatap bahagia wajah orang tuanya.


Chole mengelus penuh sayang, wajah kiri Kim menggunakan kedua tangannya. “Iya, semuanya ikut karena semuanya sayang banget ke Mas Kim!” yakinnya.


“Aku juga sayang semuanya!” ucap Kim sangat bangga kepada orang tuanya. Karena gara-gara orang tuanya, ia jadi punya banyak orang yang sangat sayang kepadanya.


“Sudah, sekarang kita habisin makanannya, habis itu baru mewarnai gambar. Oke?!” sergah Chole.


Diam-diam, Helios kembali sibuk bersyukur. Sebab memiliki Chole, anak-anak mereka memiliki kebahagiaan yang sempurna. Sangat beda jika dibandingkan dengan anak yang lain apalagi Adam yang selalu murung.


Sekitar satu jam kemudian, kebersamaan mereka berlangsung di sekitar tempat tidur. Chole dan Helios duduk di karpet mengelilingi meja belajar berbahan kayu milik Kim. Bocah itu sedang hobi corat-coret sekaligus mewarnai meski coretan yang dihasilkan masih sangat berantakan. Namun hasil dari coretan kali ini, sengaja Chole simpan dan akan dibingkai lagi layaknya coretan-coretan yang sudah-sudah dan kini mulai menghiasi dinding kamar mereka.


Rumah pohon dengan tempat tidur yang sangat empuk sekaligus nyaman, Helios sampai berdalih ingin berterima kasih kepada Syam karena sudah memberikan tempat tidur tersebut di sana.

__ADS_1


“Sejak aku lepas sendiri dan sekarang jadi pimpinan, si Syam beneran jadi bisa diandalkan. Lain dari saat aku dan Excel masih ada. Dikit-dikit nangis!” cerita Helios berbisik-bisik di belakang Chole yang sedang menge*loni Kim. Chole sudah langsung cekikikan.


“Ya pasti nuansanya beda ya, Mas. Jadi mungkin, Syam juga merasa sekaligus bertekad untuk tidak mengecewakan Mas. Syam ingin memberikan yang terbaik!” ucap Chole lagi.


Helios mengangguk-angguk. “Selamat tidur, Mah. Makasih buat semuanya! Hari ini kita beneran sibuk, tapi Alhamdullilah lagi-lagi kita bisa mengontrol emosi kalau sudah di depan mas Kim.” Helios sengaja agak bangkit untuk mengec*up kening, hidung, dan terakhir, bibir Chole.


“Yang namanya orang tua pasti selalu ingin memberikan yang terbaik buat anak. Bahkan yang enggak ada, pasti susah payah diadakan karena demi anak. Alhamdullilah, sudah sampai di titik ini dan harusnya, kita bukan orang tua egois,” bisik Chole menatap kedua mata sang suami penuh cinta. Ia sengaja mengerucutkan bibirnya, kemudian mendaratkannya sangat lama di bibir sang suami.


Chole sadar, Helios yang sekarang adalah Helios yang sudah berdamai dengan masa lalunya. Helios yang sekarang hanya menjadikan kebahagiaan keluarga kecil mereka sebagai alasan pria itu bertahan. Meski ketika Helios bertemu Rayyan, ceritanya sungguh akan berubah.


Keesokan harinya, semuanya tampak baik-baik saja. Pagi-pagi bersama matahari terbit, mereka keluar dari rumah pohon yang juga telah menjadi tempat favorit mereka.


“Mau jalan pagi, apa berjemur? Jalan pagi saja, ya?” sergah Helios sudah memanggul Kim. Bocah itu masih terkantuk-kantuk karena baru mereka bangunkan. Aktivitas yang terus saja terulang bahkan hingga akhirnya Kim berusia lima tahun.


“Pah, cari jajan yuk sekalian sarapan!” rengek Chole yang sama-sama menggandeng Helios.


Rengek manja sang istri yang akhir-akhir ini makin kerap terdengar membuat Helios yakin, program hamil yang mereka jalani sudah mendapat hilal.


“Mau beli apa?” tanya Helios.


“Beli semuanya saja soalnya aku laper banget. Beli yang banyak lah bisa buat camilan juga kan di rumah. Keluar kompleks jalan bentar, biasanya di sana ada bazar jajan. Minggu pagi gini, pasti rame banget!” ujar Chole.


Seperti biasa, kepergian mereka kali ini masih dikawal oleh dua orang mafia. Hanya saja, Kim yang cenderung pendiam justru tengah memperhatikan seorang bocah perempuan di gerobak samp*ah. Bocah perempuan itu tampak cantik meski tampilannya deki*l, tak kalah dek*il dari kedua orang tua yang bekerja sama memulung setiap botol atau gelas plastik bekas yang ada di sekitar jalan. Sampai sekita bazar, mereka masih berdekatan yang mana tatapan Kim dengan si bocah perempuan, terus saja bertautan.

__ADS_1


Karena orang tuanya memborong banyak makanan sementara orang tua si bocah perempuan hanya jadi menonton sambil sesekali mengelus perut, Kim berinisiatif mengisi satu kantong besar yang diambil kemudian meminta orang tuanya untuk membayarnya, sebelum ia memberikan satu kantong itu kepada bocah perempuan tadi.


“Nama kamu siapa?” tanya Kim dingin tapi perhatian.


“Ryuna ...,” singkat si bocah perempuan itu dan Kim sudah langsung mengangguk.


“Ryuna, ini buat kamu. Makan yang banyak biar kamu sehat, ya!” ucap Kim dan sudah langsung membuat bocah bernama Ryuna itu takut.


Ryuna menoleh ke kanan-kirinya karena di sana, ada ibu dan bapaknya.


Sadar, ketiga orang yang Kim dekati takut menerima pemberian Kim, Chole sudah lebih dulu menyusul, sigap meyakinkan ketiganya.


“Enggak apa-apa. Mas Kim sengaja siapin ini buat Ryuna dan ... itu?” ucap Chole sampai detik ini masih istiqomah dengan cadarnya.


“Bapak dan Ibu aku ....” Ryuna sengaja mengenalkan kedua sosok di kanan kirinya.


Apa yang Kim lakukan pagi ini membuat Chole dan Helios menyadari, bahwa apa yang mereka lakukan selalu menjadi contoh nyata untuk Kim. Selain itu, masa kecil Kim dikata orang tua Chole sangat mirip dengan Chole. Karena menurut keduanya, dari kecil Chole sudah terbiasa membantu orang ‘kecil’.


“Kasihan si Ryuna, dia kelihatan lapar banget,” ucap Kim ketika ditanya oleh Omanya, apa alasannya sampai membantu Ryuna tanpa diberi arahan.


“Mas hebat! Mas hebat banget. Dilanjutkan, ya!” ucap ibu Aleya masih betah memangku Kim. Kunjungannya hari ini dan sudah langsung disuguhi cerita harian Kim dan salah satunya Kim yang memberi banyak makanan kepada Ryuna, benar-benar membuatnya bangga.


“Ini cerita hari ini, entah kisah apa lagi yang akan kami tuliskan besok untuk kenangan tak terlupakan dalam hidup kami,” batin Chole sambil menikmati jajan pasar hasil kuliner pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2