
Perjalanan dari bandara ke rumah Tuan Maheza membuat Chole tidur pulas dalam dekapan sang suami. Tak beda dengan Chole, Helios juga terkantuk-kantuk sambil sesekali mengecek ponselnya.
“Bos, ... Bos sehat? Mau ke rumah sakit?” tawar Dandi karena Ben harus fokus mengemudi.
“Enggak ... aku baik-baik saja. Ini ... ini hanya agak ngantuk.” Helios yang berbicara layaknya kepada temannya sendiri juga bingung, kenapa dirinya jadi gampang mengantuk. “Mungkin karena aku merasa sangat nyaman. Karena bersama Chole memang membuatku merasa tentram. Makanya aku jadi gampang ngantuk. Padahal siang bolong terik gini,” pikir Helios. Kemudian, tatapannya tertuju pada wajah Chole dan tentu saja hanya terlihat alis beserta mata. Mata yang terpejam damai setelah sempat menangis sekaligus tertawa di waktu yang sama. Seunik itu memang istrinya, jarang-jarang ada manusia berisik, merepotkan, tapi selalu membuatnya rindu. Apalagi jika Chole sedang penuh perhatian dengan sikapnya yang sangat dewasa.
Helios berangsur mengembuskan napas pelan. “Sudah bukan bulan madu lagi, sudah harus fokus kerja lagi. LDR, ketemu paling hitungan jam bahkan menit. Astaga, jadi melow begini. Pantas Excel lebih memilih mengor*bankan aku karena jauh dari istri memang sangat menyiksa,” batinnya.
Mobil yang Ben kemudikan tiba di depan kediaman Tuan Maheza tak lama setelah Alphard putih memasuki pelataran sekitar gerbang. Ternyata mobil tersebut yang membawa Tuan Maheza, ibu Aleya, dan juga Chalvin.
Helios dan Chole bergegas menyusul. Namun Helios segera sigap mencekal lengan kanan Chole lantaran istrinya itu nyaris jatuh karena menginjak ujung gamisnya sendiri.
Chole langsung tersenyum tak berdosa kepada sang suami yang ia yakini sudah langsung menatapnya dengan tatapan murka. Hanya saja, efek Helios memakai kacamata hitam, hingga tatapan sangat seram itu tak langsung menghakiminya.
“Pelan-pelan,” lembut Helios tetap mencekal lengan kanan Chole, walau istrinya itu kembali melangkah.
“Chole ...? Ini beneran kalian?” Chalvin tersenyum semringah. Ia bergegas menghampiri Chole kemudian memeluknya erat. Sesekali, ia juga menepuk lengan kanan Helios yang masih berdiri di sana.
Chalvin sudah terlihat layaknya orang sehat. Suaranya pun terdengar jelas, tanpa ada tanda-tanda pria tampan itu sakit selain plester kecil di pelipis kirinya.
“Mereka terlihat satu server! Mirip juga, yang satu cantik dan memang cantik banget mirip boneka, sementara yang satu lagi terlalu tampan. Anak-anak Tuan Maheza dan ibu Aleya enggak ada yang gagal. Bibit unggul semua,” batin Helios.
“Ayo masuk dulu jangan di sini. Kalian pasti capek,” ucap ibu Aleya yang menenteng tas mahalnya.
__ADS_1
Bagi Helios, wajah Tuan Maheza apalagi ibu Aleya terlihat sangat lelah. Seolah memang ada yang keduanya sembunyikan dan itu beban fatal. Karena meski keduanya terus mengumbar senyum, tatapan dan helaan napas keduanya tidak bisa berbohong.
“Hal terakhir yang Kakak ingat, apa?” tanya Chole sambil terus menggandeng tangan kanan Chalvin, sementara tangan kanannya menggandeng tangan kiri Helios.
“Kita sedang menyiapkan pernikahan kak Cikho dan mbak ... Azzura,” jujur Chalvin bersedih.
“Jauh banget ...,” balas Chole tak kalah sedih.
Chalvin segera memberikan senyum terbaiknya. Hanya saja sampai di titik itu, baik Chole maupun sekelas Helios juga lupa mengenai pengakuan Chalvin yang sempat mengaku sudah menikah, tapi sampai saat ini belum sempat mereka klarifikasi lebih jauh. “Enggak apa-apa. Yang penting semuanya sehat. Dan kamu, ini gini Masya Allah banget. Takjub aku!”
Chole langsung tersipu meski dalam hatinya, ia juga jadi berpikir, berarti Chalvin juga melupakan semua tentang Cinta yang sekarang entah bagaimana kabarnya.
“Oh iya, Mas ... nanti Mas mau berangkat jam berapa?” tanya Chole yang mengalihkan perhatiannya kepada Helios.
“Loh, mau langsung pergi, enggak cuti dulu? Habis perjalanan jauh, istirahat dulu, Mas,” ujar ibu Aleya yang memimpin langkah. Di sebelahnya, sang suami yang menggandengnya juga mendukung keputusannya.
“Mas Helios memang sudah ada kerjaan yang enggak bisa ditunda,” ucap Chole berusaha menyelamatkan suaminya. “Jangan pergi setengah empat pas ya, Mas. Kan masih kangen. Memangnya, acaranya jam berapa sih?” lanjutnya, dan langsung membuat orang tua beserta Chalvin menertawakannya.
Setelah mengobrol sebentar di ruang keluarga, mereka masuk ke kamar masing. Hanya Chalvin yang ke kamarnya sendiri tanpa pasangan.
“Satu tahun, ... apa saja yang telah kulupakan selama itu, sementara mobil yang aku kendarai baru saja mengarungi perjalananan rute Cilacap. Apa yang baru saja aku lakukan di sana? Sayangnya mobil dan semua yang ada di dalamnya terbakar, jadi aku enggak bis cari tahu. Mau balik ke Cilacap pun, sepertinya enggak mungkin karena papah mamah enggak izinin. Mereka telanjur trauma takut aku kenapa-kenapa,” pikir Chalvin yang perlahan duduk di pinggir tempat tidurnya.
Di tempat berbeda, di kampung dan itu di rumah Laras, wanita yang sudah Chalvin nikahi itu tengah mual hebat. Laras bahkan memilih bertahan di kamar mandi sebelah dapur sederhananya lantaran ia tak hentinya mual sekaligus muntah, tapi tanpa disertai isi.
__ADS_1
“Usia pernikahan kami sudah satu bulan lebih, sepertinya aku memang hamil. Namun, sampai sekarang mas Chalvin enggak bisa dihubungi. Jangankan menghubungiku, nomornya saja enggak pernah aktif semenjak dia pergi ke Jakarta. Walau ini bikin aku sangat sedih bahkan takut, aku hanya bisa berdoa semoga mas Chalvin baik-baik saja. Semoga mas Chalvin segera kembali dan menepati janjinya!” lirih Laras yang lagi-lagi muntah tanpa isi. Sang ibu terseok melangkah berseru memastikan keadaannya.
Lain dengan Laras yang masih menunggu kabar dari sang suami, di kamarnya, Chole yang masih dengan sang suami justru mendadak tak mau ditinggal.
Helios disekap di tengah-tengah tempat tidur. Chole memeluknya erat dan berdalih tak akan pernah melepaskan apalagi membiarkan Helios pergi.
“Besok pagi aku sudah pulang, paling telat pukul sembilan pagi. Besok aku langsung pulang ke sini,” yakin Helios masih diam layaknya tugu pahlawan.
Setelah memeluk sang suami lebih erat, Chole juga sengaja meletakan kepalanya di dada Helios. “Sekali-kali aku ikut lah, Mas.”
“Eh jangan ... bahaya!” Helios langsung panik.
“Mas kan punya anak buah, dan aku bisa latihan bela diri!” yakin Chole.
“Bukan masalah itu karena di sana isinya bandot-bandot tua yang haus wanita cantik. Bahaya kalau mereka sampai lihat kamu karena mereka pasti akan melakukan segala cara buat mendapatkan kamu!” yakin Helios.
Bukan perka*ra cerita Helios yang mengusiknya, tapi mengenai suara Helios yang terdengar melantur. Dan setelah Chole pastikan, memang benar, suaminya ngantuk berat.
“Mas ngantuk?” lembut Chole khawatir. Ia sampai bangun hingga sebagian rambut panjangnya yang tergerai, menyapu wajah Helios.
“Chole, tolong pasang alarm dan wajib pukul setengah empat. Aku ngantuk banget.” Helios yang tak memakai kacamata sekaligus tetap terpejam, berangsur mendekap tubuh Chole menggunakan kedua tangannya. Namun karena Chole tetap diam, ia sengaja memanggilnya, menagih Chole agar segera menyanggupi.
“Iya, ... iya, ini mau langsung pasang!” yakin Chole bawel. “Tumben mas Helios jadi ngantukan gini? Biasanya bringas enggak ada capeknya blas. Matanya saja kayak enggak doyan tidur,” pikir Chole sambil memasang alarm di ponselnya yang kemudian ia letakan di meja nakas.
__ADS_1