Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
111 : Calista dan Keputusan Tuan Maheza


__ADS_3

Helios menghela napas pelan kemudian menatap Chole. Di sebelahnya, sang istri tampak berusaha tegar. Chole masih sibuk menyeka sekitar mata maupun ingusnya menggunakan tisu dari kotak yang menghiasi meja makan. Sementara di sebelah kirinya, Kim yang meski sudah tidak tersedu-sedu, masih terlihat gamang.


“Mau main ke rumah Sabiru dan Aurora?” tawar Helios mencoba menghibur buah hatinya.


Kim yang masih menunduk, berangsur menggeleng.


“Kenapa?” tanya Helios lirih.


“Kalau aku ke sana sekarang atau setidaknya hari ini, mereka pasti jadi tahu, aku baru menangis,” jujur Kim.


“Kita jadi lihat dedek Calista, kan?” lirih Chole menyinggung agenda USG yang akan ia jalani atas permintaan Helios maupun Kim. Calista sendiri merupakan nama untuk yang masih ada di dalam perut. Nama yang Helios siapkan secara khusus, kemarin malam, setelah pria itu mengetahui jenis kela*min anak kedua mereka.


Kim menatap sendu kedua mata mamahnya yang juga sudah menatapnya dengan tatapan serupa. “Mauuu ...!”


“Sini Mamah peluk dulu!” lembut Chole sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Kim.


Helios yang ada persis di sebelah Kim, segera merengkuh bocah itu, kemudian mendudukkannya di pangkuan Chole.


“Sudah, Mas jangan cengeng lagi. Mas sendiri yang minta Ryuna buat tegar, tapi Mas juga yang cengeng mirip Rayyan si juragan bedak!” ujar Helios sambil mengelus-elus punggung Kim menggunakan tangan kanannya.


“Apalagi bentar lagi Mas bakalan punya adik. Memangnya Mas enggak malu kalau nangis terus dedek Calista tahu?” lembut Helios lagi, sementara Kim yang ditanya dan masih memeluk erat Chole sambil membenamkan wajah, langsung menggeleng.


Waktu berlalu dengan sangat cepat. Helios dan Chole yang merasa baru kemarin sama-sama melihat Calista melalui USG, kini mereka sudah bisa melihat yang paling cantik mereka secara langsung. Tak beda dengan kelahiran Kim, kelahiran Calista juga terbilang gampang tanpa drama berarti. Chole yang awalnya masih melakukan aktivitas layaknya biasa, terbangun karena mules. Tak disangka, ada gumpalan darah dari pipis Chole dan wanita itu sadar, dirinya sudah mengalami pembukaan.


“Alhamdullilah, sama sekali enggak mirip Ojan!” ucap Helios merasa sangat lega.

__ADS_1


Chole sudah langsung terkikik dan refleks membingkai wajah kanan Helios menggunakan tangan kirinya yang tidak mendekap sang bayi. Di sana hanya ada mereka. Karena Kim dan keluarga besar mereka menunggu di ruang VIP yang sebelumnya sudah langsung mereka pesan untuk penginapan mereka di sana.


“Jangan lupa, mas Ojan itu anak pertama kita!” lirih Chole masih terkikik. Berbeda dengan kelahiran Kim, kali ini jalan lahirnya tak robek parah hingga ia tak sampai menjalani jahitan.


“Padahal dia lebih tua dari kita sebagai mami papinya. Iya, kan? Beda dari anak-anak kita yang panggil kita mamah papah, Ojan panggil kita mami papi!” lirih Helios yang kemudian terkikik dan mendekap pundak Chole menggunakan kedua tangannya.


“Tapi yang sekarang, meski enggak robek, kamu kayak mengalami proses lebih, ya? Yang sekarang, kamu kelihatan sakit, meski jarak kontraksi ke persalinan, hanya satu jam,” ucap Helios masih bertahan merangkul punggung Chole.


Chole yang masih menjalani pembersihan jalan lahirnya, mengangguk-angguk. “Mungkin karena jarak kelahiran dari Kim agak jauh yah, Pah. Jadi kayak kaget, berasa ini hal baru, ... aku merasa ini kelahiran pertama!” Ia mengakhiri ucapannya dengan tersenyum masam.


“Jadi maksudnya, punya anaknya jaraknya yang dekat-dekat saja, gitu?” sergah Helios sambil menahan tawanya.


Chole langsung terkikik. Namun sesuai niat mereka, Chole dan Helios berniat memiliki empat orang anak, meski hadirnya Calista membuat formasi mereka terasa makin lengkap karena biar bagaimanapun, mereka sudah punya anak sepasang.


“Punya cucu baru, berarti punya anak baru!” ucap Tuan Maheza bersemangat ketika mengambil alih Calista dari dekapan Helios.


“Ini sih mamahnya banget,” gemas Tuan Maheza menatap gemas Calista yang masih memakai bedong pink dan sengaja dipakaikan menyerupai memakai kerudung.


Ibu Aleya tersenyum haru kemudian memeluk Chole hingga kenyataan itu membuatnya jongkok.


“Mas, Kim ... Mas Kim. Itu Oma jangan boleh jongkok, nanti encoknya kambuh!” ujar Tuan Maheza sengaja menggoda sang istri.


Sontak, apa yang Tuan Maheza katakan, langsung membuat tawa pecah menghiasi kebersamaan di sana. Namun, ibu Aleya tak menepis anggapan suaminya karena akhir-akhir ini, ia memang jadi sering sakit pinggang. Namun ia berdalih, dirinya hanya kekurangan minum air putih layaknya hasil pemeriksaan yang sudah ia lakukan.


“Mamah harus tetap sehat, soalnya masih ada dua cucu lagi dari kami yang belum launching!” ujar Helios yang meminta Kim untuk turun lantaran ia akan membaringkan Chole ke tempat tidur.

__ADS_1


Turun dari gendongan sang papah, membuat Kim yang sudah langsung menyayangi Calista, buru-buru meminta gantian mengemban sang adik. Karenanya, ibu Aleya berinisiatif mewujudkannya.


“Mas duduk di sofa, baru nanti dibantu buat emban dedeknya. Soalnya kan tulang dedek masih rawan dan belum bisa diemban sembarangan. Yuk siap-siap yuk, Oma bantu,” ucap ibu Aleya benar-benar sabar. Ia menuntun Kim untuk duduk di sofa empuk tak jauh dari ranjang rawat Chole dibaringkan oleh Helios.


Meski tidak berkomentar, Helios dan Chole, diam-diam mengawasi interaksi manis Tuan Maheza, ibu Aleya, dan juga Kim yang tengah memangku sekaligus mendekap Calista.


Ibu Aleya dan Tuan Maheza sampai jongkok di hadapan kedua cucunya.


“Dek Calista cantik banget!” ucap Kim sambil tersenyum ceria menatap wajah oma opanya.


Tuan Maheza mengangguk-angguk, sementara ibu Aleya sengaja bertanya, cantiknya Calista mirip siapa?


“Mirip Mamah! Tapi bibir Dek Calista mirip bibir Papah!” lanjut Kim.


Dalam hatinya, Helios yang menyimak pun berkata, “Iya, bibir Lista memang mirip bibirku. Kalau bibir Kim lah, mirip bibir Rayyan banget. Untung yang Calista enggak mirip yang lain, beneran mirip aku sama mamahnya. Alhamdullilah juga enggak sampai mirip Ojan. Padahal sudah parno duluan karena biar bagaimanapun pas Chole hamil Calista, aku sering gelud sama Ojan. Iya, Ojan, anak yang enggak mau dibuang!”


Lahirnya Calista membuat Helios dan Chole kembali belajar merawat bayi. Karena seperti yang sempat Chole keluhkan, efek jarak kelahiran Kim dan Calista yang terbilang lumayan, Chole merasa harus kembali belajar merawat bayi dari awal.


“Sebenarnya Mamah sama Papah juga punya kabar bisa dibilang bahagia, tapi juga bisa sebaliknya,” ucap ibu Aleya yang menjadi terlihat sungkan. Ia dan Tuan Maheza sudah duduk bersebelahan dan tak lagi sibuk urus cucu. Karena kini, baik Kim maupun Calista sudah sama-sama lelap. Kim tidur di sofa lipat, sementara Calista tidur di ranjang bayi dekat Helios dan Chole.


Mendengar apa yang ibu Aleya sampaikan, disertai perubahan ekspresi ibu Aleya maupun Tuan Maheza yang jadi sungkan, Chole dan Helios yakin, ada yang serius dan itu masalah.


“Kenapa, Mah? Sudah, katakan saja,” sergah Helios.


Tuan Maheza berangsur berdeham, kemudian menatap sang menantu penuh keseriusan. “Cinta dibebaskan dari segala hukumannya karena perubahan baiknya. Intinya begitu, tapi Papah sepakat, tidak bisa menerimanya lagi di keluarga ini. Papah ingin, dia menjalani kehidupan tanpa bergantung kepada kita lagi. Namun sebagai gantinya, rumah berikut tanah di kampung, Papah berikan kepada Cinta.” Karena meski rumah yang dimaksud dibangun di atas tanah milik orang tua ibu Resty selaku mamahnya Cinta, tanah tersebut hanya separuh dari yang untuk rumah. Sisanya Tuan Maheza beli sekaligus bangun menjadi rumah mewah layaknya rumah di perkotaan.

__ADS_1


“Papah sengaja melakukan ini demi kebaikan bersama. Tak semata sebagai wujud tegas sikap Papah seberapa pun besar Cinta sudah berubah sekaligus menyesali perbuatannya, tetapi juga agar kita sama-sama menjaga perasaan kita. Perasaan Papah dan Mamah yang sudah hancur lebur, juga perasaan kalian tanpa harus Papah sebutkan alasannya!” tegas Tuan Maheza mantap dengan keputusannya.


__ADS_2