Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
58 : Masih Terlalu Syok


__ADS_3

Perhatian Chole kepada Helios menjadi pemandangan yang menyayat hati kedua orang tuanya. Tuan Maheza dan ibu Aleya, beberapa kali menitikkan air mata di tengah dada mereka yang juga terasa sangat sesak, menyaksikan Chole yang terus memeluk Helios dan seolah tidak mau pisah. Chole terus memberi Helios semangat hingga bibir pintu ruang operasi selaku batas akhir pengantaran pasien.


Kedua jemari tangan Chole membentuk hati, disaksikan Helios yang tersenyum sambil menitikkan air mata.


“Kadang, alasan kamu harus merasakan luka, karena memang Allah sedang mengetes, pantaskah kamu mendapat bahagia atau malah derajat lebih. Jadi, jika dulu kamu pernah sangat terluka, kini setelah bersamaku, aku pastikan kamu akan menjadi orang yang paling bahagia!” batin Chole. Ia membiarkan kedua orang tuanya memeluknya secara bersamaan, tak lama setelah pintu ruang operasi ditutup.


“Bismillah, lancar, sukses, semuanya sehat. Yang dioperasi sehat, yang urus sehat, yang jaga juga,” ucap ibu Aleya sambil mengelus-elus lengan Chole.


“Amin ...,” ucap Chole lirih. Lain lagi dengan Tuan Maheza yang menjadi paling optimis. Pria itu berucap lantang.


“Itu nanti mau dioperasi mirip Jungkook, apa Seok Jin, Chole? Kamu enggak sekalian pakai egrang biar makin mirip Han So Hee? Kamu kan mirip Han So Hee, tapi kurang tinggi,” ucap Tuan Maheza, si paling hafal semua kesukaan Chole saking sayangnya ia pada sang putri.


“Papah ...,” rengek Chole tersedu-sedu. Ia masih merasa sangat sedih, merasa sangat khawatir bahkan takut atas apa yang akan Helios jalani.


“Sudah, ... sudah, kita bantu lewat doa,” ucap ibu Aleya.


Tuan Maheza mengelus sayang kepala sang putri yang kali ini terbungkus jilbab biru toska selaras dengan pakaian syari maupun cadarnya.


“Bismillah, Mas. Sukses semuanya,” batin Chole.


Yang Chole tahu, sang suami akan mengambil wajah lamanya. Wajah lama yang juga merupakan wujud awal seorang Helios dan ketika Chole melihatnya, dulu Helios sangat tampan. Hingga Chole merawa wajar jika di masa lalu, Azzura pernah berpacaran dengan Helios.

__ADS_1


“Ayo duduk,” ucap Tuan Maheza kepada ibu Aleya dan Chole yang masih berpelukan.


Di sana mereka tak hanya bertiga karena di sana ada Dandi dan Ben. Keduanya terus mengawal mereka dan Chole baru mengabarkan bahwa keduanya memang akan selalu begitu selagi mereka masih ada di sana.


“Mas Helios yang mau dioperasi, aku yang nyeri enggak jelas gini,” rengek Chole. Ia duduk di apit oleh orang tuanya.


“Bantu doa,” lembut Aleya. “Pah, ayo pimpin doa buat mas Helios,” lanjutnya.


Melihat kepedulian kedua orang tuanya, Chole jadi sedih lantaran ia teringat Cinta dan perubahan Cinta yang ingin kembali kepada Chole. Cinta yang tidak pernah kasar kepada Chole meski itu dalam bertutur katanya, kini juga tak segan membentak.


“Andai mamah papah tahu, pasti mereka sedih banget. Pasti mamah papah kecewa lagi,” batin Chole yang segera mengaminkan setiap doa yang sedang dipimpin oleh sang papah.


Mengenai Cinta dan perubahannya, Chole memutuskan untuk menghubungi Excel, memintanya untuk membantu menemukan sekaligus mengawasi Cinta.


Tak sampai menunggu lama, hanya selang sekitar tiga menit dari pesan yang ia kirimkan, Chole sudah mendapatkan pesan balasan.


Mas Excel : Waalaikum salam, Chole. Mengenai Cinta, sudah kamu jangan ambil pusing. Sekarang kamu cukup bahagia dengan Helios. Kalian berhak bahagia tanpa harus memikirkan orang yang hanya merecoki hubungan kalian.


Chole : Tapi Mas Excel, aku penasaran sekarang Kak Cinta bagaimana? Soalnya aku merasa, dia jadi berubah banget.


Mas Excel : Ada saatnya kamu tahu. Namun saranku, lebih baik jangan banyak tahu. Asal kamu dan Helios sama-sama bahagia. Asal kalian sama-sama nyaman, itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Balasan Excel yang terus meminta Chole untuk tidak penasaran pada keadaan Cinta, justru membuat Chole makin yakin, memang ada yang tidak beres dengan Cinta.


“Coba aku tanya kak Chalvin. Kemarin nomornya sudah aktif,” batin Chole yang memang langsung mengirim pesan WA kepada Chalvin.


Chole : Kak Chalvin. Kakak sehat, kan? Kakak masih di Cilacap.


Kak Chalvin : Sehat, Chole, ... sehat. Kemarin lambung Kakak kambuh. Kakak pingsan. Hape juga ikut sekarat. Maaf banget ya, baru bisa ngabarin. Kamu juga sehat, kan? Sekarang kamu lagi ngapain?


Di tempat berbeda, di sebuah rumah sederhana dan lantainya saja hanya berupa adonan semen, Chalvin tengah duduk sila di kasur busa tanpa amben atau itu ranjang. Chalvin masih memegang ponselnya menggunakan kedua tangan ketika gawai canggih itu bergetar tanda pesan masuk. Ia mendapat pesan balasan dari Chole.


Chole : Alhamdullilah Kak, aku sehat. Tapi ini mas Helios lain operasi plastik. Mohon doanya, yah, Kak. Doakan semoga semuanya lancar. Ini papah mamah juga di sini, tapi lusa sepertinya papah bakalan balik ke Indo soalnya memang banyak urusan.


Hampir empat hari sekarat efek lambungnya yang kambuh, Chalvin sudah banyak tertinggal kabar. Karena mengenai operasi plastik yang tengah Helios jalani benar-benar baru ia ketahui.


Kak Chalvin : Serius Helios akhirnya oplas ...? Ini aku antara percaya enggak percaya. Itu oplas di mana? Ya tentu Kakak bantu doa, moga semuanya lancar, semuanya sehat, yang terbaik pokoknya.


Suara langkah hati-hati yang terdengar mendekat, langsung mengusik Chalvin. Dunia Chalvin seolah langsung berputar lebih lambat, selain Chalvin hang sudah langsung panas dingin.


“Mas, ini diminum hangat-hangat. Ini tepung kanji dicairin pakai air panas. Terus ini rebusan daun salam. Semua ini baik buat lambung. Warga sini biasa minum begini buat obati lambung,” ucap Laras, wanita yang malam itu memakai masker putih dan sempat dikira sebagai kuntilanak oleh Chalvin.


Chalvin yang langsung mati kutu, menunduk tanpa berani berucap apalagi menatap, susah payah mengumpulkan keberanian untuk membalas.

__ADS_1


Setelah meletakan nampan berisi dua gelas yang dimaksud, Laras berangsur duduk di depan Chalvin. “Sudah, Mas enggak usah bingung-bingung. Nanti sebelum Mas ke Jakarta, Mas cukup talak aku. Selebihnya kan memang enggak harus ada yang dikhawatirkan apalagi pernikahan kita hanya pernikahan siri. Masalah orang tua aku, nanti aku yang kasih tahu mereka pelan-pelan. Lagian kan, malam itu kita memang enggak ngapa-ngapain,” ucapnya.


“Ya enggak boleh gitu Ras. Sudah, kamu jangan mikir macam-macam dulu. Aku beneran masih belum pusing. Namun mengenai hubungan kita, ....” Chalvin memberanikan diri untuk menatap Laras, wanita yang memang sudah ia nikahi. Laras memiliki wajah terbilang tembem, tapi sangat cantik. Kecantikan Laras dirasa Chalvin ada di atas rata-rata wanita. Namun karena hubungan mereka yang terlalu instan, ia masih bingung. Chalvin masih terlalu syok.


__ADS_2