Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
50 : Mulai Bercermin


__ADS_3

Dunia Rayyan tidak baik-baik saja. Selain mulai senyap, dunianya juga seolah berputar lebih lambat. Di hadapannya, Helios yang meski tetap memakai masker, berangsur menempelkan bibirnya di kening Chole. Adegan tersebut membuat dunia Rayyan seolah berpindah ke padang pasir yang benar-benar gersang, sebelum akhirnya dunianya malah berhenti berputar hingga adegan mesra di hadapannya makin awet.


Untuk beberapa saat, dada Rayyan terasa sangat sesak. Ia juga menjadi berkeringat parah padahal langit siang ini mendadak mendung mirip hati Rayyan yang sudah gelap gara-gara kemesraan Chole dan Helios. Parahnya, adegan Chole yang tak segan menempelkan bibir ke bibir Helios dengan keadaan keduanya masih sama-sama menggunakan pelindung wajah, justru menjadi akhir dari kesadaran Rayyan. Sebab detik itu juga, Rayyan berakhir terjatuh pingsan.


“Urusan kita belum selesai, jangan pingsan dulu!” omel Helios sengaja membangunkan Rayyan.


Chole sudah masuk rumah dikawal oleh Doni. Sementara satpam yang ditinggal, sudah memangku kepala Rayyan. Dipantau Helios, mereka masih ada di luar gerbang.


Tak butuh waktu lama bagi Helios maupun sang satpam untuk membangunkan Rayyan. Bahkan, sang satpam hanya modal menepuk-nepuk pipi Rayyan menggunakan tangan kosong. Sementara Helios memandu melalui omelan.


“Jantungku beneran enggak aman. Hatiku lebih-lebih!” keluh Rayyan sambil memijat-mijat kedua sisi kepalanya. Ia sampai menjam*bak rambutnya cukup lama. Ia dapati, Helios yang berangsur duduk di hadapannya kemudian mengangsurkan ponsel miliknya. Helios melakukannya menggunakan tangan kiri karena tangan pria itu memang masih diperban.


Walau ragu bahkan malas, Rayyan berangsur mengambil ponselnya dari tangan Helios.


“Katakan kepada Cinta, kembalikan uang lima miliar dua ratus jutaku dulu. Karena jika dia belum melakukannya, jangan harap aku akan mengampuninya!” tegas Helios.


Rayyan yang awalnya masih pening, langsung melek hanya karena mendengar nominal uang yang memang tidak sedikit.


Ditatap berlebihan oleh Rayyan dengan jarak mereka yang terbilang dekat, Helios langsung tidak nyaman. “Sudah sana pergi, takut bedak kamu luntur!”

__ADS_1


“Eh, apa maksudnya bilang bedak luntur?” kesal Rayyan.


Helios menghela napas pelan kemudian menggeleng. “Lihat wajah kamu. Itu bedak begitu. Mirip lady b*oy!”


Mendengar itu, Rayyan terpejam pasrah. “Malah disamakan dengan Lady bo*y!” batinnya benar-benar kesal. “Heh, Mas Helios. Di era sekarang, bukan sebuah kesalahan andai laki-laki melakukan perawatan! Biar enak dipandang dan memang biar enggak meru*sak penglihatan! Kamu sendiri, juga enggak nyaman dengan penampilan kamu yang begitu, kan?”


Disingung mengenai penampilannya, Helios langsung bungkam. Ia memilih pergi dari sana dan berakhir merenung di depan kamar. Setelah cukup lama menunduk di sebelah pintu kamarnya, Helios berangsur masuk.


Suasana kamar sudah berantakan karena Chole tengah menyiapkan keperluan yang akan mereka bawa ke Korea Selatan. Dua koper juga tampak tergeletak dan sebagiannya sudah terisi pakaian.


“Mas—” Senyum di wajah Chole langsung surur lantaran Helios mengabaikannya. Pria itu buru-buru masuk ke kamar mandi, tapi Chole yang khawatir berangsur menyusul.


Pintu kamar mandi dalam keadaan tidak tertutup sempurna. Selain itu, nyatanya Helios yang membelakangi cermin wastafel milik Chole, Chole dapati tengah berusaha menoleh ke belakang. Bagi Chole, suaminya tengah berusaha bercermin tapi pria itu terlalu takut melakukannya. Karenanya, Chole buru-buru masuk dan langsung merangkul Helios menggunakan kedua tangan.


“Memangnya kalau Mas ngaca, kenapa? Sering-sering ngaca lah Mas, biar sekalian introspeksi diri. Gunanya cermin kan buat gitu, bukan cuma buat dandan.” Chole yang masih merangkul punggung sang suami, juga masih menunggu Helios menatap cermin di hadapan mereka.


Cermin yang sempat Helios tinj*u hingga pecah, memang telah diganti dengan cermin baru. Membuat siapa pun yang bercermin di sana kembali merasa jauh lebih nyaman karena bisa mengawasi penampilan lebih leluasa. Kemudian karena suasana di sana masih remang, Chole sengaja melipir dan menekan sakelar di sebelah pintu.


Seketika, suasana langsung terang, tapi detik itu juga Helios panik ketakutan. Helios yang sampai gemetaran buru-buru jongkok sekaligus membelakangi keberadaan wastafel.

__ADS_1


“Separah itu yah, kalau sudah trauma?” pikir Chole yang walau diam, memilih kembali memeluk sang suami dengan lembut. Ia berharap, melalui pelukan tersebut, sang suami mampu mendapatkan ketenangan walau tidak seberapa.


“Enggak apa-apa, Mas. Mas punya aku. Kalau memang Mas belum siap bercermin, aku bakalan jadi cermin Mas. Dan aku jga bakalan urus semuanya khususnya mengenai penampilan Mas. Kita sama-sama perbaiki, ya. Sabar, pelan-pelan, nikmati proses. Karena apa ya ... kalau memang menurut Mas rupa sangat penting, kenapa enggak dari dulu Mas operasi wajah? Mas sampai ketakutan hanya karena Mas lihat wajah Mas sendiri. Sebenarnya, ini gunanya cermin, kan? Pas kita lihat ada yang kurang, warasnya kita pasti akan berusaha memperbaiki.”


“Pada kenyataannya, kita memang enggak dibenarkan buat terus-menerus lari dari kenyataan, apalagi jika alasan kita lari hanya buat menghindari hal yang tak mungkin kita tinggalkan. Ubah dan buatlah keadaan seperti yang kita mau, terlebih selalu lari akan membuat kita makin lelah.” Chole mengakhiri ucapannya dengan menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia memeluk pinggang Helios menggunakan kedua tangannya, sementara dagunya mengunci sebelah pundak Helios.


“Andai dari dulu aku tahu Mas butuh teman hidup buat berbagi beban sekaligus mengembalikan kepercayaan diri Mas, dari dulu aku mau-mau saja menikah dengan Mas. Sayang loh, cermin bagus di rumah ini dianggurin. Tapi enggak apa-apa sih, daripada aku yang dianggurin!” ucap Chole yang berakhir terbahak.


Helios yang gemas kepada Chole, refleks mendekap kepala Chole. Jilbab sang istri sampai lepas tapi Chole nyaman-nyaman saja karena sampai sekarang, wanita itu tetap tertawa.


“Gini, Mas. Ayo belajar bercermin. Ayo pelan-pelan,” ucap Chole kali ini menuntun Helios.


Helios menggeleng sambil menatap Chole penuh peringatan.


“Hanya bercermin. Ada aku! Kalau Mas tetap takut, cukup peluk aku yang erat saja! Masih takut juga, aku pakein Mas rok tutu warna pink, mau?” kesal Chole.


Helios langsung mendengkus dan perlahan berkeringat dingin.


“Ayo,” bujuk Chole lagi dan memang siap menuntun.

__ADS_1


Helios berangsur menatap wajah Chole. Istrinya itu sampai tak lagi memakai cadar maupun jilbabnya, gara-gara ulahnya yang terlalu gemas. Tak mau mengecewakan Chole yang sudah kembali memeluknya, Helios membiarkan kedua kakinya untuk bergerak. Bersama Chole, ia berangsur berdiri dan perlahan menghadap cermin.


Satu, dua, tiga ... bersama dunianya yang seolah berputar lebih lambat, tatapan Helios akhirnya berhenti mendapati pantulan bayangan mereka di cermin. Helios terdiam membeku menatap takut pantulan wajahnya sendiri.


__ADS_2