Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
55 : Menjadi Pengganggu


__ADS_3

Sejak rasa sayang itu hadir dan makin lama makin besar hingga melahirkan sebuah rasa cinta yang tak bisa Helios kontrol, Helios memang selalu membuat Chole berada di sebelah kirinya. Termasuk ketika mereka sedang tidur layaknya sekarang. Tentu alasan Helios melakukannya agar mata kiri Helios bisa melihat Chole khususnya wajah cantik istrinya itu dengan leluasa.


“Chole, ... setelah operasi wajahku selesai, aku juga akan menjalani operasi mata kananku. Aku akan pergi ke tempat mana pun yang sanggup melakukannya, agar kedua mataku bisa melihat kamu dengan sempurna,” batin Helios yang kemudian menempelkan hidung mereka.


Helios pikir, Chole menangis karena mengigau. Namun ternyata sang istri flu dan hidungnya mampet hingga wanitanya itu sulit bernapas.


“M-mas ....” Chole yang terbangun memang tak segan manja kepada Helios.


“Ini efek makan eskrim kemarin, langsung pilek?” lirih Helios heran, tapi adanya memang begitu. Di balik keceriaan Chole, sebenarnya wanita itu memiliki kesehatan yang ringkih.


Chole kembali mengangguk-angguk ketika Helios menawarinya minyak angin yang kemudian pria itu pijatkan di hidung dan sekitarnya. Termasuk tenggorokan, dada dan juga punggung juga turut Helios baluri menggunakan minyak angin guna mengurangi efek pilek yang Chole alami.


Selesai dibaluri minyak angin, Chole segera tidur di pangkuan Helios. Helios yang awalnya baru meletakan minyak anginnya ke nakas langsung terusik. Helios menatap tak tega wajah Chole yang akan mirip bayi teraniaya, hanya karena istrinya itu sedang pilek. Padahal, pilek yang Chole alami masih terbilang ringan.


Helios meraih ponselnya yang ada di nakas sebelah minyak angin berada. Ia memastikan waktu dan mendapati waktu kini yang ternyata sudah pukul setengah empat pagi. Bertanda, sebentar lagi mereka harus siap-siap ke bandara.


“Jangan sakit ya, ... sebentar lagi kan kita penerbangan,” bisik Helios sambil meletakan kembali ponselnya ke nakas.


“Aku cuma lagi manja dikit kok, Mas. Habis alarm bunyi pasti langsung balik jadi singa kelaparan lagi,” rengek Chole di tengah kedua matanya yang tetap terpejam. Ia masih meringkuk di pangkuan Helios, dan buru-buru memeluk tengkuk pria itu, ketika Helios sengaja memeluknya.


“Sepertinya AC-nya terlalu dingin,” ujar Helios segera meraih remote AC dari wadah dan ada persis di belakang kepalanya.

__ADS_1


“Yang penting hati Mas enggak dingin lagi,” rengek Chole masih menjadi bayi untuk Helios.


“Paling bisaaaaa!” lirih Helios mencibir tapi ia melakukannya karena terlalu gemas kepada Chole.


Kebersamaan mereka sudah langsung hening. Karena selain Chole yang tak menjawab dan tampaknya ketiduran dalam dekapan Helios, Helios juga langsung diam. Helios terlalu bingung bagaimana caranya mengabarkan kepada Chole, mengenai dirinya yang ingin kembali menjalani ‘rutinitas’ mereka sebagai suami istri. Terlebih selain malam ini saja mereka sudah melakukannya dua kali, tampaknya Chole juga sudah kelelahan.


“Chole, kamu beneran tidur?” lirih Helios berbisik-bisik tanpa berani menatap wajah Chole. Ia sengaja menjaga suaranya, seolah apa yang akan ia sampaikan memang rahasia dan di sana ada orang lain selain mereka.


Setelah Chole bergumam dan Helios sadar itu merupakan balasan untuknya, Helios kembali berbisik, “Satu jam lagi aku bangunin, ya?”


“Alarmku bunyinya satu setengah jam lagi, Mas. Mas tidur saja,” balas Chole masih nyaman memejamkan kedua matanya, hingga ia tidak tahu, sang suami sudah gelisah mirip ayam betina akan bertelur.


“Nah makanya, setengah jam cukup, habis itu kita langsung mandi dan siap-siap sarapan bareng papah mamah kamu.” Helios masih usaha dan memang terlalu gengsi. Padahal cukup jujur, otomatis ia juga tak segelisah kini.


“Melihat punggungnya yang hanya tertutup gaun malam super transparan, itu beneran godaan. Apalagi kalau sudah balik badan,” batin Helios berangsur duduk untuk menerima segelas air minum pemberian Chole.


Helios baru akan menenggak minumannya ketika Chole bersiap untuk kembali berbaring. Ia sengaja menggunakan tangan kanannya yang sudah bisa bergerak cukup leluasa untuk mendekap pinggang Chole. Dekapan yang Helios lakukan refleks dan itu memang sangat erat. Buktinya, tubuh mereka nyaris menempel.


“Jangan tidur dulu, ‘aku mau lagi’. Lagian kalau kita sampai Korea Selatan, kita bakalan jarang melakukannya, ditambah lagi aku operasi wajah dan otomatis enggak bisa leluasa,” bisik Helios masih sangat gengsi. Ia bahkan sama sekali tidak berani melirik Chole yang detik itu juga langsung menengadah hanya untuk menatapnya.


“Mas haus banget? Mau nambah lagi? Terus mengenai operasi, Mas jangan khawatir, setahu aku, orang habis operasi masih bisa minum bebas. Minum air putih tapi yah. Malahan dokter memang menganjurkan kita buat banyak-banyak minum air putih,” balas Chole meyakinkan. Namun, tanggapan Helios yang malah kebingungan, membuatnya yakin, bukan jawaban itu yang Helios inginkan.

__ADS_1


“Aku salah, yah, Mas?” Kali ini Chole berbisik-bisik, tapi Helios buru-buru mengangguk, kemudian menenggak tuntas satu gelas air putihnya. Helios yang melakukan itu tanpa sedikit pun meliriknya, juga langsung meletakan gelasnya di nakas sendiri.


Chole masih terdiam bingung ketika Helios juga langsung buru-buru mendudukkannya di pangkuan pria itu. Ia yang mulai paham apa yang Helios inginkan, nyaris tertawa. Namun melihat Helios yang sudah langsung merapatkan jarak wajah mereka, ia berusaha untuk langsung serius, meski sebenarnya ia juga masih sangat mengantuk sekaligus lelah.


“Aku lagi pilek, enggak apa-apa? Nanti ketularan loh,” bisik Chole, tapi Helios langsung menggeleng. Suaminya itu tampak sangat menginginkannya dan berakhir mengunci bibirnya dengan ci*uman lembut yang perlahan menjadi lebih kas*ar dengan ritme yang juga menjadi cepat.


Baru lima menit berselang dan Chole baru saja mendekap kepala Helios menggunakan kedua tangannya lantaran pria itu tengah sibuk bermain-main di dadanya, ponsel Chole berdering. Dering telepon masuk yang sampai terulang empat kali. Helios sampai jengkel kemudian sengaja menon-aktifkan ponsel Chole. Malahan meski ponselnya tak sampai ikut berdering, Helios yang tak mau diganggu juga sengaja mematikan ponselnya.


“Jam segini telepon!” kesal Helios.


“Memangnya tadi siapa?” tanya Chole antara takut tapi juga penasaran. “Tapi dari kemarin memang ada nomor baru berusaha telepon, ada WA juga ngakunya saudara aku ada di rumah sakit karena kecelakaan. Nanti Mas baca ya, jangan marah-marah apalagi curiga dulu!” Chole langsung menghampiri Helios, mencoba kembali membangun kedekatan yang terlanjur disertai kekesalan Helios. Ia kembali mendekap tengkuk Helios dan untungnya pria itu tidak langsung menyingkirkannya. Helios masih mau dan tampaknya tengah mencari solusi untuk keadaan mereka.


“Nanti ganti nomor lagi saja,” ucap Helios.


Chole mengangguk-angguk, berusaha menenangkan Helios agar pria itu tak cemburu sekaligus curiga dan dampaknya sangat fatal untuknya apalagi hubungan mereka.


“Iya ... aku pun juga enggak nyaman kalau ada nomor asing, sok dekat, terus-menerus telepon dan biasanya awalnya iseng, terus ngajak kenalan. Iya kalau diabaikan bahkan ditolak, dia udahan. Biasanya terus dilanjut mirip sinetron kejar tayang yang laris!” balas Chole.


Namun di tempat berbeda, Cinta yang masih di ruang rawatnya, tengah menatap layar ponsel di tangan kanannya penuh dendam.


“Enggak Chole, enggak Helios, keduanya sama-sama baji*ngan. Enggak tahu apa aku butuh bantuan. Andai aku hafal nomor papah mamah. Andai aku enggak hanya hafal nomor kalian!” kesalnya dalam hati dan lagi-lagi terpaksa mengembalikan ponsel milik suster yang ia pinjam tanpa hasil.

__ADS_1


“Cara kalian mengabaikanku benar-benar bikin aku ingin jadi penjahat. Aku ingin balas dendam dan memberi kalian pelajaran!” Jauh di lubuk hatinya, Cinta terus meronta-ronta. Wanita itu kesal sekesal-kesalnya, tapi bingung harus bagaimana. Apalagi jika ia teringat kondisinya yang ia saja sampai tidak bisa mengenali wajahnya sendiri.


“Kenapa Chole dan Helios bisa kompak? Mereka kompak mematikan ponsel. Apakah mereka sudah ... apakah Helios sudah bisa menerima Chole? Dan Chole juga sudah mencintai Helios, makanya dia mengabaikan WA lamaku? Terus, apakah Rayyan juga belum nyamperin Chole padahal dia saja bilang akan mengambil Chole dari Helios?” pikir Cinta mendadak ingin menjadi pengganggu agar Helios dan Chole tidak bisa bahagia di atas penderitaannya.


__ADS_2