
“Sekitar sepuluh menit jalan kaki dari sini, kita bisa sampai rumah sakit Chalvin tarik tunai.” Helios melangkah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan pelan kepalanya yang masih setengah basah menggunakan handuk berwarna putih. Namun karena Chole yang awalnya tiduran buru-buru duduk setelah mendengar ucapannya, ia sengaja berkata, “Ya enggak mungkin sekarang. Besok sekalian jalan-jalan pagi.” Ia yang akhirnya sampai di hadapan Chole, juga berangsur duduk di sebelah istrinya itu.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Chole terlihat gelisah.
“Kamu kenapa, sih? Jangan bikin aku takut dong,” tegur Helios yang kemudian merih kaki kiri Chole, meski tatapannya terus lurus pada wajah Chole.
“Nah gitu Mas, tolong pijitin. Rasanya anas ngilu kayak meriang,” rengek Chole.
“Kamu jangan bikin aku takut!” sergah Helios yang sudah langsung memijati kaki Chole.
“Kayaknya bawaan hamil. Jadi gampang capek!” yakin Chole.
“Aku telepon Excel buat bawa Azzura ke sini. Biar dia bisa cek keadaan kamu,” sergah Helios tak mau sesuatu yang tak diinginkan sekaligus ia takutkan, sampai menimpa istri dan calon anak mereka.
“Asli, Mas. Aku baik-baik saja,” yakin Chole.
“Ya sudah, aku tempel koyok di telapak kaki kamu, sama olesi minyak urut. Yang kerasa banget sebelah mana?” Helios benar-benar siaga. Bahkan tak sampai lima belas menit setelah mengurus kaki kedua kaki Chole, ia sudah membawa sang istri sampai rumah sakit Chalvin melakukan tarik tunai. Rumah sakit yang keberadaannya ada di kabupaten.
Helios langsung memboyong Chole ke IGD saking khawatirnya. Membuat dokter dan perawat yang tengah jaga di sana jadi ikut panik. Apalagi ibu hamil dan segala keluhannya selalu sensit*if dan harus sesegera mungkin mendapat penanganan.
__ADS_1
“Bentar ya ... dicek dulu ....” Dokter wanita yang menangani begitu sabar sekaligus lembut menangani Chole. Bahkan meski tensi darah Chole dalam keadaan normal, ia dengan segera melakukan USG karena Helios mema*ksa agar hasil pemeriksaan lebih akurat.
“Mas ...,” lirih Chole berusaha meraih tangan kanan Helios. Di sebelah kanannya, Helios sudah langsung sigap menggenggam tangan kanannya.
“Sekarang aku percaya, anak segalanya buat mas Helios. Jujur ini cukup bikin aku lega buat menepis goda*an kak Cinta,” batin Chole refleks tersenyum haru dengan tanggapan sang suami yang selalu sigap kepadanya.
Dentuman demi dentuman yang seketika memecahkan kesunyian di sana, dan itu detak jantung dari jabang bayi dalam perut Chole, membuat senyum haru pecah menggantikan ketakutan di sana. Chole bahkan sekelas Helios sampai menitikkan air mata karena mereka terlalu takut apa yang Azzura dan Excel alami juga sampai mereka alami.
“Dok, tahan bentar. Mau saya rekam sebentar saja. Rasanya benar-benar menenangkan. Merinding begini, meski lama-lama, perasaan juga jadi campur aduk,” ucap Helios dengan suaranya yang sengau akibat kebahagiaan membuncah dan sampai membuatnya menitikkan air mata.
Dentuman demi dentuman yang Helios rekam, langsung menjadi musik wajib dalam kebersamaan mereka. Benar-benar bukan lagi lagu Jung Kook maupun lagu BTS lainnya yang mereka putar, melainkan rekaman detak jantung buah hati mereka. Rekaman yang baru berhenti di esoknya, sekitar pukul lima pagi.
Helios hanya tersenyum pasrah membiarkan wajahnya diabsen menggunakan ci*uman gemas oleh sang istri.
“Mas, sebelum baby lahir, ayo kita puas-puasin pacaran. Soalnya kalau sudah punya anak pasti beda. Pasti kita bakalan fokus ke anak, atau malah kita sama-sama cemburu ke anak karena perhatian kita enggak hanya ke pasangan lagi. Menurut berbagai curhatan yang aku simak begitu. Mas jangan bilang enggak, apalagi nantinya kita enggak bisa terus sama-sama, selama dua puluh empat jam!” yakin Chole.
Belum apa-apa Helios sudah pusing. Kerepotan mengurus anak seolah sudah menyolok matanya. Namun bila membayangkan betapa menggemaskan dan bahagianya bisa bersama anak-anak, Helios tetap siap dengan segala risiko termasuk kerepotannya.
“Lagian kan ada papah mamah kamu. Mereka pasti seneng banget kalau dikasih banyak cucu. Sudah jangan pusing. Yang namanya orang tua apalagi orang tua super penyayang sekelas orang tua kamu, harta berharga mereka beneran cucu. Malahan bisa jadi, mereka lebih sayang ke cucu daripada ke anak sendiri. Kalau ke anak minimal ngomel pasti kan, kalau ke cucu enggak bakalan. Apa-apa dimaafkan paling dalam hati saja uring-uringan dikit. Papah mamah kamu tipikal yang begitu,” yakin Helios yang sudah langsung tertawa karena Chole sudah lebih dulu melakukannya.
__ADS_1
“Ayo sia-siap salat. Kamu yang ngajarin aku biar makin rain apalagi Allah sudah kasih kita semua bahagia yang kita butuhkan bahkan mau,” sergah Helios benar-benar semangat. Ia berangsur menuntun Chole dengan hati-hati. Hingga kebersamaan manis mereka sampai di rumah sakit mereka ingin memantau CCTV.
Berbagai bekal yang berkaitan dengan Chalvin mereka bawa. Bukan hanya beberapa lembar foto Chalvin karena KTP, KK, dan juga surat keterangan sakit Chalvin juga mereka bawa. Kali ini Helios sengaja ikut bersuara karena tak mau sang istri berjuang sendiri.
“Sebentar,” balas manager rumah sakit yang langsung mereka temui sekaligus minta izin.
Detik itu juga kedua mata Chole berkaca-kaca seiring kedua mata lebatnya yang perlahan menjadi sipit. Kenyataan yang Helios yakini istrinya sedang tersenyum lepas.
“Apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan di dalam?” pikir Jay yang sudah membuntu*ti Helios dan Chole lagi. Namun saat kemarin malam Helios memboyong Chole ke sana memeriksakan keadaan janinnya, Jay tidak ikut karena memang tidak mengint*ai selama 24 jam.
CCTV depan rumah sakit ketika tanggal Chalvin melakukan penarikan tunai, benar-benar diputar. Dada Helios apalagi Chole makin berdebar-debar. Chole sampai panas dingin dan berakhir kebelet pipis. Kenyataan yang menjadi drama pemutaran CCTV hingga sempat tertunda. Namun setelah dipastikan, mereka tidak melihat Chalvin masuk ke ATM di depan rumah sakit. Di jam yang tertera justru seorang wanita yang melakukan tarik tunai.
“Wanita itu siapa?” lirih Chole refleks kemudian melirik sekaligus menatap sang suami.
“Coba tolong ikuti ke mana wanita itu pergi,” refleks Helios tak mau kecolongan. Ia yang awalnya bersedekap berangsur merangkul Chole. Tangan kiri menggenggam tangan kiri Chole, sementara tangan kanan menggenggam tangan kanan. Jemari tangan mereka mengisi ruas satu sama lain.
“Baik, Mas,” balas sang manager dan segera membuat satpam yang mengendalikan jalannya pemeriksaan CCTV segera menjalankan keinginan Helios.
Sosok wanita berambut panjang dan diikat tinggi yang melakukan tarik tunai memasuki rumah sakit dengan tenang. Tak ada tanda-tanda mencurigakan jika wanita itu telah melakukan kejahat*an termasuk itu mengur*as ATM Chalvin.
__ADS_1