Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
95 : Ibadah yang Menguatkan Cinta


__ADS_3

Malam-malam, di tengah suasana kamar yang dibiarkan terang benderang, Helios dan Chole tengah bercanda sekaligus menertawakan Excel. Ketiganya tengah terlibat telepon video. Lebih tepatnya, Helios sengaja menghubungi Excel karena penasaran bagaimana proses sahabatnya ronda menjaga kedua bayinya. Hanya saja, Helios malah kesal lantaran kedua bayi Excel yang diberi nama Aurora Bilqis Lucas dan Sabiru Muhammad Lucas, justru terus tidur. Keduanya sangat lelap, padahal yang Helios mau, keduanya rewel dan tak hentinya menangis agar ia bisa menyaksikan kerepotan Excel melalui telepon video yang dilakukan.


“Heh, Helios ... kamu enggak usah rese, deh! Sudah kalian juga bikin, biar kalian cepat nyusul punya anak. Syukur-syukur hasilnya rewel seperti yang Helios mau. Ya maksudnya, biar Helios enggak harus melihat anak orang lain, cukup lihat anaknya saja yang rewel!” ucap Excel dari seberang dan mengakhirinya dengan menahan tawa.


Helios sudah langsung tidak bisa berkomentar sambil menatap tak habis pikir Excel. “Kamu beneran enggak percaya kalau Chole hamil? Ini beneran sudah jalan bulan empat!”


Chole berpikir, terbiasa menyembunyikan kehamilan bahkan itu dari Excel yang merupakan sahabat terdekat mereka, benar-benar membuat sekelas Excel sulit percaya. Ditambah lagi, selama ini Chole selalu memakai gamis syari kedodoran hingga tumbuh kembang janin di perutnya juga tersamarkan.


“Lihat, ini hasil USG. Nada dering kami juga sudah bukan Jongkok lagi apa semua yang berkaitan dengan BTS. Nada dering kami, pakai detak jantung janin kami!” jelas Helios sambil memamerkan setiap foto hasil USG yang sangat mereka jaga karena bagi mereka, semua jejak itu benar-benar berharga.


“Bentar, ... bentar. Kalau sudah jalan bulan ke empat, berarti kemarin langsung proses, dong?” Dari seberang, Excel yang tak lagi mengarahkan kameranya kepada kedua anaknya, menerka-nerka. Ia masih berucap lirih dan menatap wajah di layar ponselnya penuh keseriusan.


“Ya iya, memang kenapa?” ucap Helios merasa gengsi.


“Wah! Hebat kamu, Chole!” sergah Excel sudah langsung susah payah menahan tawanya.


Mendengar itu, Helios sudah langsung kebingungan. Ia menatap wajah Chole maupun Excel, silih berganti. Keduanya sama saja, sama-sama menahan tawa.


“Bentar deh ... ini kenapa malah Chole yang dipuji hebat? Kan aku yang hami*lin!” protes Helios tak paham.

__ADS_1


“Logikanya, kalau bukan Chole yang mulai dan susah payah yakinin kamu buat proses bikin anak, ... ya tentu saja belum jadi!” Excel masih susah payah menahan tawanya.


“Bener, Mas ... bener!” sergah Chole sambil melongok layar ponsel Helios sambil memberikan kedua jempol tangannya kepada lawan bicaranya.


Kali ini Helios tak kuasa berkomentar. Karena apa yang Excel katakan memang benar. Sehebat itu Chole sampai membuatnya mau memproses pembuatan anak untuk pertama kalinya dan itu terbilang tak lama dari hari pernikahan mereka. Malahan setelah Helios ingat-ingat, Chole dengan begitu mudah membuatnya jatuh cinta. Membuat kebencian Helios pada Chole yang begitu besar, perlahan mencair digantikan dengan gunungan cinta yang perlahan tumbuh dengan kokoh.


“Jadi, sejak kapan Mas mulai mencintaimu, atau setidaknya mulai tertarik—suka?” tanya Chole ketika akhirnya telepon yang mereka lakukan dengan Excel, Helios akhiri. Toh, bayi kembar Excel tetap tidur nyenyak meski telepon mereka harusnya sudah menimbulkan kegaduhan.


Helios yang membiarkan tubuhnya dipeluk dari samping kiri oleh sang istri, sudah langsung terdiam sejenak. Jika ditanya kapan pertama kali ia tertarik kepada Chole, yang ia ingat itu hujan di siang menjelang sore kala ia datang ke rumah Tuan Maheza untuk menemui Cinta.


Saat itu benar-benar menjadi awal mula pertemuan mereka. Chole yang buru-buru dan kala itu sampai lari, belum hijrah layaknya sekarang. Chole yang dulu benar-benar mirip barbie hidup. Kulit putih mulus, rambut panjang agak hitam yang ujung-ujungnya diwarnai pink. Paling mencolok, rambut yang tampak super lembut itu tergerai bergaya blow out. Tentunya, pakaian, sandang, termasuk itu aksesori lainnya juga masih berbau pink. Hanya saja, ucapan refleks Chole kala itu yang takut dan mengeluhkan penampilan Helios, sudah langsung melukai hati Helios. Karena Helios yang dulu dengan Helios yang sudah dipawangi Chole, memang sangat berbeda. Helios yang dulu benar-benar cemen—payah. Beda dengan Helios yang sekarang dan memang sudah bisa berdamai dengan kenyataan hingga dikit-dikit tidak serba baper.


“Sekarang hati Mas yang nyangkut di hati aku, ya? Hahahaha!” sergah Chole terkikik geli. Ia sengaja mengeratkan dekapannya kemudian membenamkan wajahnya pada dada Helios yang benar-benar bidang.


“Tapi gara-gara tersangkut kelambu, aku jadi ci*um bibir kamu, loh.” Helios benar-benar tidak akan lupa itu.


Akan tetapi, Chole yang memang tidak tahu, juga tidak bisa untuk tidak terkejut. “Asli, Mas?”


“Ya asli ... masa iya aky bohong. Dulu, aku menyebut kelambu itu, sia*lan. Tapi sekarang sepertinya aku harus menyebutnya kelambu jodoh!” yakin Helios.

__ADS_1


Namun dengan cepat, Chole berkata, “Ih ala*y!”


“Ih, ala*y gimana? Ini beneran ih!” yakin Helios yang pada akhirnya tertawa. Ia memeluk gemas Chole dan mengunci punggung kepala istrinya itu menggunakan bibirnya.


Baru Helios sadari, bersama Chole, dirinya menjadi manusiawi. Bahkan kini, ia jadi tidak bisa sembarang menyakiti hingga ia sadar dirinya, ia tak lagi pantas menjadi mafia apalagi pimpinannya.


“Chole ...,” lirih Helios sambil tetap memeluk erat sang istri.


“Mas, besok bangunin aku buat sahur, ya. Aku mau puasa lagi buat kelancaran operasi mata Mas,” ucap Chole yang malah sudah mulai tidur.


“Oke, ...,” balas Helios yang mulai sadar, cara Chole mengikatnya, dan itu melalui ibadah hingga melibatkan Tuhan mereka dalam hubungan mereka, dirasanya menjadi alasan utama kenapa ia begitu dengan cepat mencintai Chole. Rahasia yang juga membuat hubungan mereka langgeng. Rezeki lancar, termasuk itu kesehatan mereka yang sangat jarang sakit.


“Jangan tidur dulu, aku mau ngobrol sebentar,” bisik Helios tepat di telinga kanan Chole.


Mendengar itu, Chole memaksakan dirinya untuk menatap Helios. Ia agak mengangkat kepala dan juga tubuhnya karena biar bagaimanapun, ia sudah sangat mengantuk. Apalagi kini sudah nyaris pukul dua pagi. Alasan yang juga membuatnya minta dibangunkan untuk sahur. Karena setertib-tertibnya ia pada alarm yang dipasang, terhitung sejak mengetahui dirinya hamil, Helios memilih tidak tidur dan mengisinya dengan salat sepertiga malam kemudian dilanjut dzikir hingga subuh.


“Apa, Mas?”


“Melihat keadaan sekarang, enggak salah kan, kalau aku menyerahkan semua urusan mafiaku ke Syam? Aku hanya akan sesekali membantu seperti apa yang Excel lakukan,” ucap Helios.

__ADS_1


Mendengar Helios berkata seperti itu, tentu yang Chole rasakan kebahagiaan membuncah.


__ADS_2