Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
47 : Mobil Sport Merah


__ADS_3

Kurma sudah dipetik dan memang hanya memetik dua buah. Chole nyaris langsung memakannya karena memang sudah langsung dicuci menggunakan air mineral yang seorang ART bawakan. Namun, Helios langsung mengambil alih, dan mencoba lebih dulu.


“Kalau habis ini aku enggak apa-apa, kamu baru boleh makan,” ucap Helios menatap sang istri penuh peringatan. Ia mendadak merem lama tak lama setelah kunyahan pertama dan ia pertahankan hingga akhirnya ia menelannya.


Ulah sang suami membuat Chole menatapnya penuh cinta seiring hatinya yang menjadi berbunga-bunga. Karena baginya, cara Helios mencoba kurmanya lebih dulu, itu sikap yang sangat manis. Pria itu ingin memastikan semua yang Chole dapat memang benar-benar yang terbaik.


“Ini memang rasanya sesepet ini, ya?” ucap Helios yang kemudian menerima sebotol air mineral sisa untuk mencuci kurma dari Chole. “Ini asli lebih sepet dari tingkah Ojan. Kalau Ojan kan ada lucu-lucunya gitu mesk kadang bikin geregetan. Nah ini, beneran langsung seret di tenggorokan.” Ia sengaja memberi tahu sang istri. Entah sejak kapan ia merasa sedekat itu hingga apa pun yang ia rasa, dengan mudah ia sampaikan.


Chole yang menyimak dan refleks meringis seolah dirinya sudah ikut menelan kurma muda dan bagi Helios sangat sepet, mengangguk-angguk. Ia paham apa yang suaminya rasakan, terlebih ia memang sudah tahu bocoran rasanya.


“Tapi kan manfaatnya banyak Mas. Dibikin jus campur sama madu, kayaknya rasanya jadi lumayan manusiawi,” ucap Chole hingga membuat Helios meminta Doni untuk memetik kurmanya lagi.


Doni sudah langsung kembali memanjat karena niat dan tekad Helios menjalani promil memang sudah bulat.


“Nanti biar aku saja yang lebih banyak minum jusnya karena rasanya beneran eee—enggak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ucap Helios masih manusiawi.


Chole menghela napas dalam. “Menghadapi Mas saja aku sanggup, masa minum jus kurma muda demi promil aku enggak sanggup. Gampang itu, tinggal capit hidung, glek, habis!”


Balasan Chole barusan dan terdengar sombong membuat Helios meliriknya sebal. Segera ia mencubit hidung Chole meski istrinya itu masih memakai cadar.

__ADS_1


Chole langsung tertawa. “Mas Sumi sayang merasa terzalimi? Hahahaha!”


“Kamu ya, berbakat banget ngelunjak!” omel Helios.


“Ya memang, Mas. Ngelunjak memang bakat terpendamku. Bakat terbesar malahan!” ucap Chole dengan bangganya.


Helios langsung geleng-geleng kemudian menengadah hanya untuk mengawasi Doni yang tengah memetik kurma. Meski jujur, mengawasi wajah sang istri jauh lebih membuatnya betah apalagi jika yang diawasi tidak menyadarinya. Karena sampai sekarang, ia masih merasa sangat gengsi untuk mengakui rasa cintanya secara langsung. Bahkan meski Chole tak segan bergelendotan atau malah mememeluknya manja layaknya sekarang.


Dari sebelah, dan itu dari pintu masuk utama rumah, Helios mendapati mafianya yang bertugas menjadi satpam. Pria yang begitu santun kepadanya itu mengabarkan kedatangan pria bernama Chalvin. Pria itu mengaku kakak Chole.


Chole yang masih memeluk bahkan menempel ke tubuh Helios meski sang suami benar-benar cuek tak sedikit pun membalas, langsung bingung. Karena yang Chole tahu, Chalvin masih ada di Cilacap dan memang belum pulang.


“Nah iya, aku saja baru mau bilang.” Chole berangsur menyudahi dekapannya. Ia dapati, sang suami yang langsung mengeluarkan ponsel menggunakan ponsel. Yang membuatnya terkejut, Helios mengecek keadaan rumah melalui semacam CCTV dari sana.


“Lah, berarti tadi Mas pas petak umpet lihat dari situ?” protes Chole.


“Kalau memang ada yang lebih mudah, ngapain pakai yang ribet?” balas Helios dengan santainya. Tak kalah santai dengan setiap tanggapan Chole yang sering dan selalu membuatnya jengkel.


“Tunggu pembalasanku, Mas!” sinis Chole sembari bersedekap.

__ADS_1


“Selalu aku tunggu! Musuh saja aku ladenin, apalagi kamu!” balas Helios sudah langsung menjadikan CCTV depan gerbang sebagai pilihan hingga suasana di sana memenuhi layar ponselnya.


Chole yang tak hanya merasa tertantang, tapi juga gemas, sengaja agak lompat hanya untuk membuat kedua tangannya berpegangan pada bahu kiri Helios hingga tubuhnya bergelantungan mirip tarzan. Kendati demikian, Helios hanya diam meski saat awal sang istri menggelantung kepadanya, tubuh pria itu agak sempoyongan.


“Mobil sport warna merah?” ucap Helios yang langsung menatap sang istri meski setelah itu, ia juga langsung fokus menatap satpamnya. Namun, kenyataan Chole yang mendadak batuk-batuk membuat Helios berdeham di tengah ekspresi wajahnya yang menjadi sulit diartikan.


Cinta : Rayyan, cepat bebaskan Chole. Hanya kamu yang bisa melakukan ini apalagi aku tahu banget, Chole hanya mencintai kamu. Chole hanya terpaksa menikah dengan Helios karena keadaan yang enggak bisa dijelaskan. Kamu tahu kita seperti apa, dan aku tahu banget Chole. Selama ini Chole selalu curhat tentang kamu. Cita-citanya hanya menikah dan menjadi keluarga bahagia dengan kamu. Jadi, kalau kamu beneran peduli, tolong Chole. Bawa Chole pergi dari Helios si bur*u*k rupa keji itu!


Di dalam mobil sport mewah warna merah dan tengah Helios maksud, seorang Rayyan kembali membaca pesan terakhir yang Cinta kirimkan. 2 hari lalu ia mendapatkan pesan tersebut lengkap dengan alamat rumah Helios. Namun karena Rayyan baru kembali dari luar negeri, pria itu baru melakukannya.


“Maha baik Cinta yang memang selalu jadi kakak terbaik. Kakak yang paling ngerti keadaan adiknya. Lain sama Chalvin yang sampai aku nyembah dia pun, justru minta aku buat lupain Chole. Chalvin beneran kakak enggak berguna karena milih adiknya jadi kor*ban kekejian monst*ter hidup sekelas Helios!” kesal Rayyan yang berangsur turun.


Berbeda dari biasanya, kali ini Rayyan bepergian sendiri. Karena biasanya, pria itu selalu dikawal dua orang ajudan di setiap bepergiannya layaknya tuan muda pada kebanyakan. Pria sangat tampan yang wajahnya lebih bersih dari wajah boy band Korea selatan itu memilih menunggu di balik gerbang rumah yang tetap ditutup rapat. Tadi, Rayyan memang sempat turun mengajak satpam yang jaga mengobrol, meminta pria itu bantuan untuk mengabarkan kedatangannya. Namun karena suasana agak panas dan ia anti panas sekaligus gerah, Rayyan memilih masuk di dalam.


“Mobil spory warna merah itu ... Rayyan. Tapi ngapain dia sampai nekat ke sini? Dia tahu alamat ini dari siapa, padahal mamah papah kompak diam meski Rayyan memang mohon-mohon minta alamat sini ke mamah papah. Ya Alloh, baru juga tenang, ... ini beneran bisa per*ang dunia!” panik Chole dalam hatinya. Ia sudah langsung panas dingin apalagi Helios sudah langsung menyikapinya dengan dingin. Lirikan mata kiri Helios sudah langsung menjadi tajam, mirip lirikan saat awal mereka mengenal. Penuh kebencian.


“Kamu juga tahu kalau itu bukan Chalvin, kan?” ucap Helios yang membuat Chole makin tak karuan.


Jantung Chole seolah lompat hanya karena pertanyaan barusan. Tubuhnya gemetaran hebat, sementara ia yang tidak bisa berbohong juga refleks mengangguk-angguk.

__ADS_1


__ADS_2