Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
46 : Langsung Diproses


__ADS_3

“Aku benar-benar minta maaf, Mas. Aku begini karena aku sayang Mas. Apa yang tadi aku lakukan, murni untuk menjaga apa yang Mas miliki, meski mungkin caraku salah,” lirih Chole, masih tersedu-sedu memeluk Helios.


Mendengar itu, Helios refleks mengerling. “Jadi, hukuman apa yang menurut kalian pantas kalian dapatkan setelah apa yang kalian lakukan?”


Ben berangsur berlutut di sebelah Dandi yang sedari awal sudah lebih dulu melakukannya.


“Ini, aku juga dihukum?” pikir Chole yang kemudian mengakhiri dekapannya. Ia menjauhi Helios dan bermaksud berlutut juga di hadapan Helios tak jauh dari Dandi dan Ben. Namun, belum apa-apa Helios sudah menarik gamis bagian punggungnya, mendekap perutnya dari belakang sangat erat hingga ia tak bisa kembali minggat.


“Saya yang salah, Bos. Namun saya mohon, tolong maafkan saya!” ucap Ben yang kemudian juga berkata, “Saya benar-benar minta maaf. Saya begini karena saya terlalu takut, Bos seperti Bos Excel hingga kita jadi terlunta-lunta!” Tersedu-sedu dirinya memohon maaf sekaligus memohon ampun.


“Saya juga minta maaf, Bos. Maafkan saya karena saya belum bisa jadi anak buah yang baik!” tegas Dandi sambil tetap menunduk dalam.


“Jadi, sebenarnya siapa yang salah?” tegas Helios masih menatap kedua pria di hadapannya dengan tatapan penuh intimidasi.


Sambil meraung-raung, Ben mengakui. Namun lagi-lagi, ia memohon ampun. Apalagi ketika akhirnya Helios kembali bertanya, hukuman apa yang pantas Ben terima.


“Baiklah ....” Helios sudah memutuskan. Ia beberapa kali menghela napas sambil mengangguk-angguk. Tampang yang sebenarnya sudah langsung membuat lawannya panas dingin ketakutan.


Jantung Dandi apalagi Ben nyaris copot karena bekerja terlalu keras. Yang membuat mereka merasa makin bersalah sekaligus malu khususnya Ben, Chole masih saja membela mereka.


“Mas Suami Sayang buat kali ini, ya. Tolong kasih keringanan—” Chole tak bisa berbicara lagi karena tangan kiri Helios mendadak membekap mulutnya .

__ADS_1


“Baiklah ... dua hari ke depan kalian libur. Lusanya kita ke Korsel. Kalian berdua ikut dan wajib memastikan istri saya selalu baik-baik saja selagi saya menjalani rangkaian operasi!” ucap Helios dengan nada suara yang terdengar sangat manusiawi. Kontras dari nada suaranya yang sebelumnya. Begitu juga dengan ekspresi sekaligus sikapnya.


Karena perbedaan wajah Helios yang dulu dengan sekarang, Helios memang terancam tidak bisa naik pesawat, menjalani penerbangan layaknya warga negara lain yang normal. Tampang Helios yang sekarang tidak dikenali karena tampangnya yang dulu dengan yang sekarang sangat berbeda. Sama halnya dengan kasus operasi wajah yang membuat mereka memiliki rupa sangat berbeda dengan rupa mereka saat di kartu identitas. Itulah yang Helios alami, tapi kini tengah ditindaklanjuti. Walau penerbangan yang dijadwalkan besok harus ditunda dan itu sempat membuat Helios kesal, kini Helios menyadarinya. Ada hikmah yang bisa diambil dari kondisi tersebut dan itu membuatnya bisa memberi Ben maupun Dandi cuti sebelum ia memboyong keduanya.


Helios membiarkan Ben dan Dandi sibuk berterima kasih. Ia tetap memilih dengan egonya yang tak mau memedulikan ucapan terima kasih apalagi membalasnya meski Ben dan Dandi terus mengucapkannya nyaris tanpa jeda. Helios memilih membawa sang istri pergi, menggandengnya erat menggunakan tangan kiri tanpa sedikit pun melirik sekitar.


Dalam diamnya, Chole merasa sangat bahagia. Karena meski suaminya begitu, nyatanya makin hari hati suaminya makin lembut, selain Helios yang juga mulai terbuka dalam menebarkan energi positifnya.


“Rumah sebesar ini, pekarangan seluas ini, aku pikir ini bakalan mubazir kalau hanya diisi taman. Coba dikasih ayunan, perosotan, salju-saljuan kayak di wahana permainan,” ucap Chole. Helios membawanya keliling rumah. Halaman sekaligus pekarangan rumah Helios masih sangat luas dipenuhi tanaman yang ia ketahui sangat bermanfaat. Sebagian besar tanaman di sana berfungsi untuk menetralisasi radiasi. Ada juga tanaman yang bisa mengusir nyamuk meski nyamuk era sekarang tak kalah bebal dari para manusianya.


“Nanti aku bakalan siapin semua itu. Kasih perosotan, jungkat-jungkit, ayunan, sebelah sana ditanami pohon buah, jangan hanya bunga seperti ini. Sebelah sana dibuat rumah pohon. Ada—” Helios menjelaskan, tapi Chole sudah berisik memotong ucapannya.


“Bikin gubuk apa saung yang mirip di upin ipin yah, Mas Suami Sayang!” Karena sedang merayu sang suami, Chole sengaja menyebut nama panggilan sayangnya kepada Helios secara lengkap.


“Jawab dulu!” Lagi-lagi Chole memotong ucapan Helios. Ia mengguncang lengan kiri Helios yang sudah ia dekap menggunakan kedua tangan. Suaminya itu langsung menatapnya dengan tatapan sebal bahkan marah, tapi Helios juga berangsur mengangguk-angguk. Kenyataan yang baginya ibarat kemenangan.


“Asssyyyiikk!” Girang Chole sampai lompat kemudian mengalungkan kedua tangannya pada tengkuk Helios. Ia sengaja menempelkan bibirnya di pipi kiri Helios. Namun, tubuhnya mendadak nyaris merosot karena dekapan kedua tangannya terhadap tengkuk Helios kurang kuat. Untunglah tangan kiri Helios dengan sigap menangkap pant*at Chole hingga Chole tak berakhir di rerumputan yang masih agak basah.


Chole langsung memasang wajah tak berdosa menatap sang suami yang langsung memberinya wajah datar khas pria itu sedang marah. Helios sampai memalingkan wajah walau pria itu juga tampak jantungan ketika Chole berteriak mengabarkan bahwa pohon kurma di belakang Helios sudah berbuah.


“Mulutmu loh, Chole. Sekali mangap berasa ada pengeras suaranya. Jantungku sudah rawan, sementara kita belum punya anak. Efek KB kamu masih kan?” ucap Helios lirih sekaligus pelan, tapi alasannya begitu karena kali ini, ia sangat gemas kepada istrinya.

__ADS_1


“Ya maksudnya, Mas Suami Sayang ... soalnya jarang banget pohon kurma yang ditanam di pekarangan pribadi bisa sampai berbuah. Nah itu di rumah papah, papah tanam pohonnya sudah besar dari mamah promil aku, sampai aku mau promil juga, enggak pernah sekalipun mereka buah! Uh sayang, mamah sama papah sudah pulang. Kalau belum kan, bakalan aku kasih tahu!” ucap Chole cepat sekaligus lantang.


Helios yang menyimak langsung istighfar sambil sesekali menghela napas. “Ini aku beneran baru mangap, tapi dia sudah ngomong sampai Tanah Abang. Astaghfirullah ...,” lirih Helios yang makin tak habis pikir lantaran Chole memintanya untuk memanjat.


“Sudah ayo Mas, cepetan. Petik kurmanya beberapa, aku penasaran kayak apa rasanya. Lagian kurma muda juga bagus buat promil, kan?” ucap Chole.


“Tangan kanan aku belum bisa gerak leluasa, suruh Doni saja,” omel Helios.


“Oh iya yah, aku lupa.” Chole langsung mengawasi suasana sekitar, tapi ia mendadak berteriak memanggil sang ajudan pribadi bernama Doni.


“Chole, kenapa makin lama, kamu makin mir Ojan? Jangan-jangan pas dia ngasuh kamu, kamu diludahi*n makanya kamu ketularan,” pikir Helios yang langsung kocar-kacir lantara. Chole dekat-dekat dengan Doni.


“Chole, sini!” Karena Chole tampak kurang paham dengan maksudnya, Helios buru-buru lari kemudian mengamankan sang istri. Ia sudah langsung merangkul punggung Chole menggunakan tangan kirinya yang masih bergerak meski di punggung tangan kirinya juga dihiasi luka baru.


“Pakai tangga, Don. Petik dua dulu. Kalau Ibu Chole doyan, baru petik lagi. Mubazir kalau petik banyak tapi enggak dimakan,” ucap Helios.


“Eh, bentar deh. Ini kok aku jadi dipanggil ibu? Tadinya kan Non?” batin Chole merasa aneh pada panggilan baru yang ia dapat dari sang suami.


Namun, bertamasya dadakan ke pekarangan rumah di tengah waktu senjang yang mereka miliki dirasa Chole bukan ide yang salah. Terlebih setelah ia awasi, wajah menyera*mkan sang suami jadi makin manusiawi.


“Besok bakalan ada pembangunan rumah pohon, bikin wahana permainan juga di sini. Nanti kamu yang urus yah, Don. Kamu awasi—”

__ADS_1


Mendengar wejangan Helios kepada Doni yang tengah memboyong tangga dan siap diarahkan ke pohon kurma, Chole sudah langsung girang bukan main.


“Ya ampun langsung diproses!” batin Chole yang tiba-tiba kepikiran Cinta. Bukan bagaimana keadaan wanita itu, tapi apakah benar Cinta tidak menyesal telah membuang Helios yang sebenarnya juga tidak kalah lembut dari Akala? Sementara mengenai rupa, juga bisa diubah dengan operasi dan akan Helios jalani?


__ADS_2