
Acara makan-makan akan dilangsungkan di lantai dak balkon atas pilihan Helios. Di sana, nuansa senjanya benar-benar indah. Karena meski masih menutup diri, Helios juga ingin menyuguhkan yang terbaik untuk orang tua Chole.
“Rumah sebesar ini, kamu bangun berapa lama?” tanya Tuan Maheza.
Bersama Helios yang juga sudah mandi setelah mereka beres masak-masak, Tuan Maheza tengah menikmati senja. Acara makan-makan baru akan mereka lakukan setelah mereka melangsungkan salat maghrib. Jadi, kini mereka murni menikmati senja di antara beberapa pekerja yang tengah menyiapkan keperluan makan-makan di sana.
“Lama, hampir lima tahun. Tapi paling lama itu urus liftnya.” Helios menjawab dengan suara yang benar-benar kaku, canggung.
Tuan Maheza yang masih kerap mengawasi suasana sekitar berangsur bertanya, “Rumah tahun sudah sampai isi rumah?” Ia dapati, sang menantu yang masih mirip tembok karena Helios cenderung diam sekaligus sangat kaku, berangsur mengangguk-angguk.
“Iya ....” Bahkan sampai detik ini, meski sudah bersama-sama selama hampir empat jam, Helios belum pernah memanggil orang tua Chole.
Kedatangan Chole yang sudah langsung heboh dengan seragam warna pink salem, membuat suasana di sana menjadi berwarna. Pertama-tama, yang Chole peluk tentu sang papah. Namun setelah itu, Chole langsung menempel terus kepada Helios hingga akhir. Chole menggunakan kedua tangannya hanya untuk memeluk erat tubuh sang suami.
Kemudian, Helios langsung dibuat bingung, ketar-ketir ketika sant istri justru mengajaknya foto bersama.
“Aku mohon, aku enggak mau ikut!” lirih Helios yang menatap kedua mata Chole penuh peringatan.
Chole menatap memelas suaminya. “Pelan-pelan. Di pernikahan saja, kita enggak foto bareng. Biasakan, buat koleksi pribadi.” ia yang juga berucap lirih, benar-benar memohon.
Helios menghela napas berat, seberat kenyataan ketika wajah buruk rupanya harus terekam dan otomatis akan abadi.
“Mas rangkul aku, kemudian letakin wajah Mas di punggung atau kepala aku,” mohon Chole.
“Itu enggak mungkin!” lirih Helios kali ini menggeleng gelisah.
“Lebih enggak mungkin lagi kalau Mas justru pergi!” rengek Chole.
“Mending aku memang pergi!” tegas Helios sangat tegas dan benar-benar pamit setelah sebelumnya pamit kepada tuan Maheza maupun ibu Aleya yang baru datang bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Kepergian Helios yang terbilang buru-buru sudah langsung mengusik pikiran orang tua Chole. Keduanya kompak menatap bingung perubahan sikap Helios yang benar-benar drastis.
“Tadi kenapa?” tanya Tuan Maheza lembut kepada Chole.
“Ya gara-gara mau foto bareng, dia enggak mau,” rengek Chole jadi merasa serba salah.
“Ya sudah, enggak usah ada foto-foto kalau memang suamimu enggak nyaman,” balas Tuan Maheza.
Chole menghela napas dalam. “Ya maksud aku kan biar mas Helios terbiasa,” balasnya.
“Pelan-pelan ... sudah sana susul. Bentar lagi juga salat maghrib kan,” ucap ibu Aleya.
Jadi karena penolakan tersebut pula, acara makan mereka juga tidak sampai ada sesi foto-foto. Meski setelah beres makan, diam-diam tangan kiri Chole berusaha menggenggam tangan kanan Helios yang masih diperban. Chole mengabadikannya melalui bidik kamera, kemudian mengunggahnya menjadi status WA bahkan instag*ram.
Akun instag*ram Rayyan menjadi akun pertama yang langsung menanggapi. Bukan melalui emoji, melainkan panggilan.
“Innalilahi ...,” batin Chole langsung ketar-ketir. Namun, Chole berniat membalasnya.
Cholarina_Mahez : Ini suaminya Chole.
Rayyanza01 : Iya, itu aku! Aku suami Chole!
“Eh, kalau mas Helios tahu, bisa ada perang Baratayudha dadakan ini. Sudahlah, tutup akun!” ucap Chole buru-buru menutup akunnya.
“Kamu lagi ngapain?” bisik Helios masih membiarkan tangan kanannya di pangku Chole.
Pertanyaan Helios yang mengejutkan Helios, membuat Chole refleks menjatuhkan ponselnya.
“Mencurigakan!” cibir Helios sambil menatap heran Chole yang ia pergoki ketakutan hanya karena ia pergoki.
__ADS_1
“Mas bikin aku kaget!” keluh Chole masih berucap lirih.
“Memangnya kamu lagi ngapain?” balas Helios sewot meski ia masih berucap lirih lantaran sengaja menjaganya dari orang tua Chole.
Tuan Maheza dan ibu Aleya masih duduk di hadapan mereka. Malahan, keduanya mereka minta untuk menginap apalagi Chalvin juga sedang tidak di rumah.
Tanpa membuat orang tua Chole curiga, Helios sengaja mengambil ponsel Chole kemudian memeriksanya sendiri.
Yang Helios pergoki, layar ponsel Chole tengah menampilkan foto tangan mereka. Kenyataan tersebut langsung membuat hati Helios terenyuh. Helios menatap tak tega sang istri. Chole dengan keceriaan sekaligus segala kehebohannya, merupakan tipikal yang narsis. Helios yakin, kenyataannya yang menolak foto bersama sang istri, telah melukai Chole.
“Kamu marah?” tanya Helios ketika akhirnya mereka masuk kamar. Mereka bersiap untuk tidur dan benar-benar puas dengan kebersamaan mereka dengan orang tua Chole.
Sembari melepas cadarnya, Chole yang melangkah di sebelah Helios berangsur menengadah hanya untuk menatap wajah sang suami. “Marah untuk apa? Yang perka*ra foto? Enggak, biasa saja. Ini aku hanya ... kelelahan, ngantuk juga. Gendong ih!” Pada akhirnya ia merengek manja.
Helios langsung mendengkus kemudian menggeleng. “Tadi kamu habis satu bekakak sama satu ingkung beneran utuh!” cibirnya tapi Chole langsung tertawa. “Enggak kebayang, berat badan kamu langsung ditambahi berat dua ekor ayam. Belum nasi, lalapan, sama yang lain juga. Minumnya mau satu setengah liter. Pas lihat kamu makan selahap itu, makanan di perutku langsung kompak naik ke tenggorokan lagi!”
“Masakan mamah selalu nagih, Mas!” dalih Chole masih belum bisa menyudahi tawanya.
“Aku malah sempat mikir, jangan-jangan kamu ‘ketempelan’ penghuni sini. Kok makan sampai selahap itu!” lanjut Helios sengaja meninggalkan Chole. Ia langsung duduk di sofa depan tempat tidur mereka, tapi Chole sudah buru-buru menyusul kemudian menempel kepadanya.
“Mas, aku sambil telepon Kak Chalvin, boleh?” tanya Chole sengaja tidur di pangkuan Helios.
Helios hanya bergumam seiring kedua matanya yang terpejam. Tangan kirinya meraih bantal sofa kemudian menggunakannya untuk mengganjal kepala. Terdengar percobaan telepon yang Chole lakukan tapi setelah dua kali nomor ponsel Chalvin tidak bisa dihubungi karena tidak aktif, di sambungan ketiga yang tersambung juga todak Chalvin angkat.
“Ini orang lagi di mana sih?” lirih Chole. “Bentar aku cek sinyalnya di mana. Kok kayak suasana kampu*ng. Sering enggak aktif, tapi sekalinya nyambung justru enggak dijawab. Tapi kata mamah papah, Kak Chalvin lagi keluar kota,” lirih Chole lagi.
Setelah dicek, sementara Helios sudah mendengkur menandakan pria itu justru ketiduran, Chole mendapati keberadaan lokasi sinyal sang kakak tengah ada di kampung halaman alm. ibu Resty yang juga menjadi rumah mereka.
“Kok kak Chalvin malah di Cilacap? Ngapain? Katanya lagi dinas keluar kota. Ini sih lokasi rumah di sana,” batin Chole heran sekaligus yakin, memang ada maksud lain atas keberadaan Chalvin di rumah mereka yang ada di kam*pung halaman.
__ADS_1