
Hari yang melelahkan. Chole dan Helios menutupnya dengan menatap langit-langit kamar hotel mereka menginap.
“Andai suatu hal bikin aku mengalami apa yang Nina alami. Andai wajahku sampai dioperasi jadi wajah orang lain seperti yang Nina,” ucap Chole yang sebenarnya belum selesai, tapi di sebelahnya, Helios sudah berucap tegas.
“Enggak mungkin terjadi. Enggak akan ada cerita begitu. Ada orang lain yang bicara pakai nada tinggi ke kamu saja, sudah langsung aku habi*si.”
Chole menatap heran sang suami. “Eh, Mas Suami Sayang, ini seandainya. Aku bakalan tanya hal lain.”
“Ya enggak mungkin terjadi. Ngaco, ah!” balas Helios sambil tetap mengomel.
Chole berangsur mengerucutkan bibirnya. “Mas kalau orang lain ngomong pakai nada tinggi, langsung emosi. Ini Mas enggak sadar marah-marah ke aku?” rengek Chole benar-benar manja. Ia berangsur memeluk Helios dari samping kiri kemudian agak bangun. “Sini sun dulu. Yang suka marah-marah tapi aslinya sayang banget!” lanjut Chole yang kemudian mengec*up gemas pipi kiri sang suami.
Awalnya Chole sudah akan menyandarkan kepalanya di dada Helios, tapi suaminya itu memintanya untuk mengabsen tuntas wajahnya menggunakan kecu*pan.
Tentu Chole sudah langsung bersemangat, meski wanita itu menjadi kesulitan menyudahi tawanya. “Mas, aku mau tanya lagi. Andai aku beneran mengalami kayak Nina wajah aku jadi wajah orang lain, Mas bisa mengenali aku, enggak?”
“Asal suara dan yang lain masih sama, aku pasti bisa mengenali kamu,” yakin Helios tanpa menatap wajah Chole yang masih ada di atas wajahnya.
“Nah itu masalahnya Mas. Andai suaraku sampai berubah, semuanya, dan hanya sedikit saja yang sama,” rengek Chole masih haus penjelasan.
__ADS_1
“Dikiranya aku duk*un?” sewot Helios tapi malah mengundang tawa sang istri. “Duk*un saja kadang harus tahu seluk-beluk yang harus diselidiki,” omel Helios lagi.
“Sungkem Mas, sungkem ....” Chole yang masih cekikikan, buru-buru menyalami tangan kanan Helios dengan takzim.
Tangan kiri Helios sudah langsung merangkul pinggang Chole. “Sudah tidur, seharian ini kita beneran sibuk banget. Ke rumah istrinya Chalvin, terus rus*uh di kencan Akala dan Nina. Sementara besok, kita juga akan jenguk Cinta.” Ia menuntun Chole untuk tidur.
“Terus besok kita ke rumah, apa Jakarta, Mas?”
“Ya kurang tahu, lihat saja besok. Kalau masih ada urusan di sini ya tetap di sini. Kalau enggak ya pulang. Nanti aku tanya Excel, Akala dan Nina kapan nikah, daripada kita bolak-balik dan kamu bisa capek di perjalanan.” Tiba-tiba saja Helios ingat, dirinya belum mengurus Jay. “Sudahlah Jay, kamu tobat saja, jangan rusuh dan bikin beban hidup aku tambah!” batin Helios yang berniat akan melepaskan Jay asal riva*l paling resenya itu taubat.
“Mas, setelah kebaikan yang Mas lakukan, Mas merasa jauh lebih baik, kan?” tanya Chole di tengah kedua matanya yang terpejam sempurna.
“Iya ... aku ... merasa kembali hidup,” ucap Helios yang buru-buru mengec*up ubun-ubun Chole.
“Di mana-mana, tentu parah kamu!” kesal Helios tak mau lebih bur*uk dari Chole yang baginya sudah berisik, resek, rusuh, persis seperti Ojan. “Asli, kamu persis seperti Ojan!”
“Ah, Mas bahas mas Ojan, aku jadi kangen dia. Besok kita ke rumahnya yah, Mas. Sekalian beli Es Gepluk Cap Gajah Duduk milik ibu Septi yang legen banget!” rengek Chole sampai membuka matanya kemudian menatap Helios.
Helios yang sudah langsung tak bisa berkata-kata, refleks menghela napas kemudian istighfar, selain ia yang menepis tatapan sang istri. Tatapan manja dan sangat memaksa.
__ADS_1
Pagi menjelang siang, Helios dan Chole keluar dari rumah makan Akala. Mereka membawa aneka makanan yang Chole siapkan khusus untuk Cinta.
“Setulus ini yah kamu. Cantik fisik sekaligus hati. Semoga kelak anak-anak perempuan kita juga kayak kamu. Semoga aku punya banyak anak perempuan yang mirip mamahnya.
“Enak banget itu perkedel jagungnya, Mas. Ini juga ada rujak sama pecel. Nah ini mendoan. Mendoan itu tempe sama tepung sengaja digorengnya enggak terlalu matang. Masih mendo—atau bahasa sininya, masih setengah matang. Gitu yah, Mas?” heboh Chole sedang memberi Hannan satu kantong makanan dan sedang ia jelaskan. Namun lagi-lagi sang suami yang cemburu, jadi sibuk berdeham di setiap ia melayangkan pertanyaan.
Mereka benar-benar akan mengunjungi Cinta. Chole membawa banyak barang bawaan dan sengaja disiapkan dari kemarin. Perlengkapan salat saja ada dua set lengkap dengan al'quran dan tasbih. Ada selimut, sandal, bantal lengkap dengan guling, dan tentunya pasangan ganti paket lengkap. Kendati demikian, Helios tetap mengkhawatirkan Chole lantaran ia yakin, semua perhatian yang Chole siapkan untuk Cinta, sebenarnya menjadi ungkapan dari kesedihan Chole yang terlalu terpukul.
“Besok biar aku saja yang mengabarkan ini ke orang tua kamu,” ucap Helios.
“Asli aku belum siap, Mas. Namun andai aku menunda apalagi tidak mengatakannya, justru ini enggak dibenarkan. Karena walau menyakitkan, jujur beneran lebih baik. Termasuk pernikahan kak Chalvin, aku juga sudah akan langsung mengabarkannya setelah ini melalui telepon. Nanti nya, mau papah mamah maupun kak Chalvin yang ke sini, atau kita yang bawa Laras ke Jakarta, semuanya beneran bisa diatur,” balas Chole.
Mendengar itu, Helios mengembuskan napas berat melalui mulutnya. Dalam hatinya, ia berujar. Bahwa dirinya merasa sangat takut jika harus membiarkan Chole memikirkan setiap masalah yang justru berasal dari luar hubungan mereka.
Setelah mengarungi perjalanan selama satu jam lebih, akhirnya mereka sampai di lapas Cinta ditahan sekaligus mendapatkan bimbingan, Chole dan Helios dibantu Hannan, memboyong barang bawaan mereka yang sudah langsung memenuhi meja kayu panjang di ruang besuk.
“Maaf, Mas, Mbak, ... yang bersangkutan tidak mau dibesuk oleh siapa pun,” ucap si petugas yang kemudian menatap menyesal wajah Chole maupun Helios.
Chole sudah langsung menatap gusar sang suami. Ia merasa sangat sedih sekaligus terpukul atas tanggapan Cinta.
__ADS_1
“Tolong, Bu. Kami jauh-jauh dari Jakarta dan menang enggak punya banyak waktu.” Chole berkaca-kaca menatap petugas wanita di sana dengan sangat memohon.
“Kenapa dia tidak dipaksa saja? Kalaupun ini bagian dari hak asasi manusia, tapi kami pihak keluarga yang tidak mengetahui jalannya sidang sekaligus prose*s hukum yang dia jalani, benar-benar ingin bertemu!” tegas Helios yang akhirnya angkat bicara. Terlebih, keputusan Cinta menolak dijenguk membuat Chole sangat bersedih. Chole bahkan terlihat sangat bersalah.