Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
52 : Sudah Menjadi Berwarna


__ADS_3

Helios menghela napas panjang sambil menurunkan ponselnya dari telinga tiri. Ia membiarkan Chole lari ke arahnya dan berakhir jatuh menimpanya. Meski tidak memastikan, Helios yakin alasan sang istri jatuh karena Chole tersandung kaki atau malah gaun malamnya sendiri.


“Mas Suami Sayang ... ini beneran enggak ditolongin?” rengek Chole.


Helios menggeleng sambil menghela napas. “Mau heran, memang adanya begini,” ucapnya sambil menatap tak habis pikir sang istri. Di hadapannya, yang ditatap langsung tersenyum tak berdosa.


Chole langsung heboh menceritakan perihal orang tuanya yang akan menemani mereka saat di Korea Selatan nanti.


“Mas ... ekspresinya jangan sedatar itu dong. Aku cerita panjang lebar dan tenggorokanku sampai kering gini, loh. Heh, senyum apa balas. Masa iya cuma ngangguk gitu?” protes Chole lantaran tanggapan Helios dirasanya terlalu biasa bahkan datar.


“Chole, memangnya kamu enggak merhatiin aku? Lama-lama aku kayak kurang waras, ... beneran mirip kamu!” yakinnya meski ia mengucapkannya dengan cukup berbisik-bisik.


Mendengar itu, Chole langsung melirik sebal sang suami. “Malam ini, Mas tidur di sini saja, ya. Aku kunci pintunya dari dalam!”


“Heh, heh, heh! Apa-apaan, ini? Apa-apaan?” Helios langsung panik lantaran Chole benar-benar menutup pintu balkon.


“Ya nutup sekaligus kunci pintu. Mas tidur di luar, aku tidur sama bantal Jungkook!”


Kedua mata Helios jadi sibuk mengerjap, menatap heran, bingung sekaligus takut Chole. “Tidur sama bantal jongkok gimana ...?”


Balasan Helios yang terdengar refleks membuat Chole terbahak. Pun meski Chole tahu, sang suami memang tidak tahu-menahu mengenai kecintaannya kepada artis-artis Korea Selatan, khususnya member BTS, salah satu boy band paling feno*menal, dan kerap ia bahas dengan Helios. Walau sampai detik ini, Helios tetap tidak nyambung apalagi paham.


“Jungkook, Mas. Itu nama orang itu loh yang paling muda, yang paling ganteng itu!” ucap Chole di sela tawanya.


Mendengar itu, Helios langsung mendelik. “Kamu mau tidur sama ... astaga kamu mau tidur sama laki-laki lain?!” semprot Helios yang langsung menerobos masuk. Secepat kilat ia melangkah apalagi ia juga sampai berlari.

__ADS_1


Chole lupa, meski suaminya tak paham dan katakanlah buta terhadap kesukaannya, Helios seorang mafia yang sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya dengan cekatan.


“Mana orangnya?” Helios mencari ke seluruh penjuru kamar mereka termasuk setiap lemari pakaian yang sampai ia buka.


“Bantal, Mas. Bukan asli. Kalau aku beneran punya yang asli, bisa sakit-sakitan hidupku efek dite*luh online sama yang iri!” Chole buru-buru mengunci pintunya kemudian menyusul Helios.


Kebersamaan yang awalnya dipenuhi ketakutan dari Chole sekaligus kebencian dari seorang Helios, kini menjadi kebersamaan penuh warna. Chole dengan keberisikan sekaligus kelembutannya dan tak jarang akan sangat manja bahkan sangat dewasa. Juga Helios dengan sikap kerasnya dan semua yang bertolak belakang dengan Chole, tapi kini, Helios merasa dirinya mulai mengikuti Chole, dan bagi Helios itu membuatnya jadi kurang waras.


Kini, di depan ranjang tidur mereka yang masih dihiasi semua serba pink termasuk kelambu tipis di atasnya, Helios tengah menatap sebal Chole lantaran istrinya itu terus mendekap erat bantal berwarna pink lembut berhias foto Jungkook.


“Daripada kamu yang pegang bantalnya, biar aku saja yang peluk bantalnya, terus kamu peluk aku saja deh!” keluh Helios. Ia benar-benar menyerah, tak rela berbagi Chole walau itu dengan bantal yang jelas bukan benda hidup apalagi laki-laki lain.


Mendengar itu, Chole jadi kasihan kepada Helios yang terlihat frustrasi. Pria itu tampak sangat cemburu sekaligus bucin kepadanya. Karenanya, ia memilih meletakan bantal itu kembali ke dalam lemari pakaiannya. Kemudian, yang ia lakukan tentu menghampiri Helios sambil merentangkan kedua tangannya. Ia dekap tubuh sang suami dengan mesra kemudian menengadah hanya untuk menatap wajah Helios yang langsung jaim.


“Mas bahagia, kan?” lembut Chole sengaja meletakan dagunya di dada Helios.


“Tapi, percaya enggak percaya yah, Mas. Obat paling ampuh itu ‘bahagia’ damai sentosa. Pekerjaan dan rezeki lancar, kesehatan lancar, pasangan penyayang, ini kunci!” lembut Chole sambil melirik sang suami penuh cinta. Ia tak lagi panik sekaligus lari layaknya beberapa saat lalu.


Helios yang langsung tersipu segera memijat-mijat tengkuk Chole.


“Asli Mas, geli ... geli! Ayo langsung bikin jus saja!” ujar Chole yang langsung heboh.


Baru akan pergi, ponsel Chole yang ada di nakas sebelah wanita itu biasa tidur berdering. Chole dan Helios refleks bertatapan, tapi Helios yang langsung mengambil ponselnya.


“Rayyan, kah? Malam-malam telepon. Andai benar, awas saja beneran aku kirim bedak beras biar wajahnya makin putih!” gerutu Helios.

__ADS_1


Chole yang menunggu dan menyimak ucapan Helios refleks cekikikan. Tubuhnya terguncang pelan karena tawa yang susah payah ia tahan.


Mengenai Rayyan, pria itu memang kerap menjalani perawatan. Namun tak sampai memakai bedak seperti yang Helios keluhkan. Hanya saja, efek perawatan yang Rayyan jalani luar dalam, memang membuat pria itu memiliki kulit tak kalah cerah dari wanita pada kebanyakan.


“Siapa, Mas? Benar itu Rayyan?” tanya Chole tak lagi sibuk menahan tawa. Ia hanya mesem dan sengaja menghampiri.


“Chalvin,” ucap Helios yang sudah langsung menjawab telepon masuk tersebut.


Chole langsung tersenyum manis kepada sang suami yang sampai membantunya menjawab telepon dari Chalvin. Ia tak segan memeluknya manja menggunakan tangan kiri karena Helios memang tetap di sebelahnya.


“Asssalamualaikum, Kak? Gimana? Kakak sehat, kan?”


“Waalaikum salam, Chole. Aku? Aku enggak yakin aku masih waras. Ta-tapi. Tapi, ini Kakak enggak ganggu kamu, kan? Helios mana biar aku izin pinjam kamu bentar buat teman ngobrol.”


Mendengar sang kakak yang sampai panik dan akan langsung meminta izin kepada Helios hanya untuk memintanya menemani mengobrol, Chole refleks tersenyum geli. Namun, cara Chalvin begitu memang jauh lebih sopan agar mereka sama-sama menjaga hubungan mengingat Helios memang lebih sensitif dari wanita hamil yang sedang mengalami kontraksi.


“Aman Kak, aman. Ini saja tadi yang jawab Mas Helios. Orangnya ada di sini,” balas Chole.


“Aman, Vin,” ucap Helios kaku dan langsung mengoreksi panggilannya lantaran Chole langsung menegurnya. “Kak—” Ia sungguh belum terbiasa, hingga memanggil Chalvin saja benar-benar kaku. Seolah di dalam tenggorokannya ada tokek yang sedang radang tenggorokan.


“Duh, gimana ya? Berarti, kalian lagi berdua, ya? Tapi kalian janji, yah, ini beneran rahasia. Gini loh, sebenarnya aku bingung, ... ini musibah, atau malah rezeki soalnya beneran mendadak digerebek karena salah paham dan kami dinikahkan malam itu juga—”


Sedang serius-seriusnya menyimak, suara Chalvin mendadak hilang dan ternyata karena ponsel Chole yang kehabisan daya baterai.


“Mas tadi dengar, kan? Itu maksudnya, Kak Chalvin sudah nikah apa gimana?” heboh Chole meminta pendapat Helios.

__ADS_1


“Coba telepon balik meski aku nangkepnya juga gitu!” sergah Helios tak segan meminjami sang istri ponsel.


Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_2