
Chole terbangun dengan perasaan yang belum bisa sepenuhnya baik-baik saja. Ditambah lagi, sang suami sudah tidak ada di sisinya tanpa jejak bahkan pesan di selembar kertas yang sudah mereka sepakati, di setiap salah satu dari mereka pergi tanpa bisa pamit secara langsung. Namun ketika Chole menoleh ke bawahnya, di sana ia memergoki sang suami mendekapnya sambil membenamkan wajah ke perutnya.
Chole tersenyum geli dah perlahan merasa sangat bahagia. Sebab kini, tampaknya janin mereka menjadi perioritas utama seorang Helios.
“Mas ... Mas ...? Tidurnya jangan gitu. Berat, aku enggak bisa gerak. Kakiku juga kesemutan.” Chole mengusap lembut wajah maupun kepala Helios menggunakan tangan kanannya. Pantas kakinya sampai kesemutan parah karena Helios saja mendekapnya seerat itu.
“Ada apa?” sergah Helios langsung duduk siaga menatap sang istri. Karena wajah sekaligus ekspresi Chole tampak baik-baik saja, ia segera memastikan perut sekaligus kaki Chole. Ia menyibak, menyingkirkan selimutnya dari kedua kaki Chole.
“Kakiku kesemutan parah gara-gara dipeluk seperti tadi sama Mas ... nih, sakit banget buat gerak.” Chole meringis kesakitan. Sementara sang suami ia dapati makin panik.
Helios berangsur memijat kaki Chole dengan sangat hati-hati. “Kamu bawa minyak urut? Ini jam berapa sih? Rasanya baru sebentar banget aku tidur,” ucapnya yang kemudian beranjak pergi. Ia menuju meja rias yang hari ini ia pesan secara langsung untuk Chole. Karena mau tidak mau, Chole pasti akan sering di sana, sementara Chole yang sangat feminin, juga sangat membutuhkan cermin rias.
“Kamu taruh minyak urutnya di tas ini, kan?” sergah Helios.
“Iya, Mas.” Chole mengangguk-angguk lemah sambil menatap prihatin kedua kakinya.
Dengan hati-hati, Helios menuang minyak urut ke telapak tangan kanannya kemudian membalurkan ke kaki kanan Chole. “Ini aku sudah pelan-pelan banget.”
“Ya lebih pelan lagi, kesenggol saja sakit banget, Mas.”
“Sakitnya pasti sebentar, masa iya hanya dilihatin? Kapan sembuhnya ...!” yakin Helios.
__ADS_1
Chole langsung diam dan perlahan meringkuk menahan sakit di kakinya yang sedang dipijat.
“Chole, katakan sesuatu jangan hanya diam. Aku takut banget kalau kamu hanya diam,” ujar Helios.
“Nanti kalau aku ngomong terus, Mas marah karena aku berisik,” balas Chole.
Helios langsung tidak bisa menjawab dan malah gelagapan. “Ya ... ya ... aku pilih kamu berisik, daripada kamu diam, aku takut.”
“Berarti besok kalau Mas sampai ngatain aku berisik, Mas siap dihukum, ya?” balas Chole sengaja menantang.
Helios langsung terdiam sejenak. “Asal hukumannya bukan tidur di luar. Asal hukumannya bukan harus jauh-jauh dari kamu. Aku, ... oke, siap. Aku siap terima. Tapi harusnya enggak sampai di hukum. Masa iya dihukum, Chole. Kamu kan tahu, walau aku marah-marah, itu karena aku sayang banget ke kamu.”
Ketika Helios gelagapan, Chole malah menertawakannya. “Ya wajib. Risiko dan konsekuensi kan tetap ada.”
Untuk pertama kalinya Helios merengek, dan bagi Chole itu tak hanya lucu. Karena jika sudah seperti itu, tampang Helios jadi sangat menggemaskan.
“Kok kamu jadi sibuk ngetawain aku? Berarti ini sudah enggak sakit?” Helios refleks memegang kaki Chole yang belum ia urut atau pijat, tapi hasilnya, Chole langsung teriak kesakitan.
“Chole ih, jangan bikin aku takut. Lama-lama, kamu beneran mirip Ojan, ya. Aku nyaris jantungan.” Karena kini saja, Helios sudah sampai mendekap sekaligus memangku tubuh Chole.
“Tapi asli itu tadi beneran sakit banget, Mas!” rengek Chole benar-benar manja.
__ADS_1
“Tahan bentar. Biasanya kesemutan memang akan sakit banget tapi perlahan, rasa sakitnya berkurang bahkan hilang,” lirih Helios yang kemudian mengusap bahkan memijat kaki Chole yang satu lagi.
“Mendingan?” tanya Helios memastikan sambil menatap saksama wajah sang istri yang berangsur memberinya anggukan.
“Bentar, ini sudah jam berapa?” sergah Helios segera meraih asal ponselnya dari meja nakas sebelah. Ia melakukannya tanpa menurunkan Chole dari pangkuannya.
“Setengah empat ...,” lirih Helios.
“Pak Ustadz enggak mau ajak istrinya salat sepertiga malam? Ini masih bisa, kan? Manfaatnya pun enggak hanya buat kita, tapi juga buat orang-orang yang kita sayangi.” Chole sengaja merayu suaminya.
Untuk sejenak, Helios jadi bingung. Kemudian ia menatap wajah Chole yang langsung menyambutnya dengan senyuman yang begitu menenangkan. “Kamu juga mau ajak aku buat bangun ... pondok lagi?” tanyanya dan sang istri langsung tersenyum tak berdosa.
“Karena doa menjadi satu-satunya yang mampu menghubungkan kita dengan Tuhan kita, bahkan doa menjadi satu-satunya yang mampu membuat kita menolong mereka yang sudah tiada, percayalah Mas, di Surga sana, orang tua Mas pasti berharap Mas melanjutkan apa yang sempat ada. Walau memang telanjur hancur bersama kenangan yang menyakitkan dan sampai melahirkan banyak trauma, setidaknya ada kenangan bahkan harapan indah yang untuk sekelas Mas sangat mudah untuk melaksanakannya.”
“Ibaratnya sekarang Mas sudah punya semuanya. Sangat mudah bagi Mas buat dapatkan semua yang Mas mau. Meski Mas enggak bisa keluar dari dunia mafia, bukan berarti kenyataan itu membuat Mas enggak bisa menyalurkan sebagian tenaga sekaligus rezeki Mas. Nantinya, anak-anak dari anak buah Mas juga bisa belajar di sana. Dengan konsep pondok pesantren layaknya kebanyakan. Kita juga bisa tinggal di sana.”
“Jangan pernah takut berbuat baik karena meski kita enggak bisa menghindari luka, setidaknya kebaikan kita akan mengobati luka-luka kita. Ingat tabur-tuai ada. Dalam agama kita juga meyakininya. Meski sebelumnya aku sempat marah kenapa kebaikan orang tuaku dan keluargaku dibalas kecewa oleh kak Cikho dan kak Cinta, setelah merenung akhirnya aku sadar. Seberat apa pun cobaan yang harus orang tua sekaligus keluargaku terima, Allah dengan mudah memberi kami jalan. Kalaupun rasanya terlalu berat, setidaknya usaha kami enggak akan pernah sia-sia. Andai bukan kami yang merasakan dampaknya secara langsung, pasti orang-orang di sekitar kami yang akan merasakannya.”
“Contoh tabur tuai bukan hanya dari yang dialami keluargaku, Mas. Coba lihat keluarga ibu Arum dan pak Kalandra. Alhamdullilah, jodoh buat anak-anak mereka saja sampai dikasih yang terbaik. Usaha mereka juga selancar itu. Mereka bukan orang yang perhitungan ke orang lain bahkan orang yang lebih ‘kecil’ dari mereka. Namun tetao, yang namanya suami, nomor satu tetap istri, anak-anak, baru yang lain. Karena meski sebagian rezeki yang kita miliki merupakan bagian dari rezeki orang lain, rezeki seorang suami ada karena doa istri dan anak-anaknya.”
“Sebagai ustadz, harusnya Mas lebih tahu. Ada kasus seorang dermawan yang jenazahnya sulit dimakamkan dan di liang kuburannya dipenuhi kelabang, ular, dan juga kalajengking? Usut punya usut, ternyata dermawan itu baik ke orang lain tapi istri sama anaknya enggak diurus hanya karena istrinya bisa urus diri sendiri sekaligus anak-anak mereka. Bayangin ... bayangin Mas, suami yang jahat ke istri, malah demen sama pelakor, dan ke orang lain pun jahat, matinya pasti mengenaskan. Kesamber petir hidung sama matanya hilang, mungkin. Kepalanya lepas, mungkin!” Setelah berbicara panjang lebar sekaligus serius, Chole malah berakhir menakut-nakuti Helios.
__ADS_1
“Kok kamu malah nakut-nakutin aku?” protes Helios.
Chole yang tertawa segera berkata, “Ayo, Mas segera wudu mumpung masih ada waktu. Tapi pegangin ya, kakiku masih nyeri kebas enggak jelas.” Tentunya, Chole juga mengingatkan agar Helios mempertimbangkan usulnya yang tadi ia katakan panjang lebar.