Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
43 : Ingin Punya Anak


__ADS_3

🌿Namanya Nina Nurlaila. Usianya masih sembilan belas tahun ketika untuk pertama kalinya, ia menjadi korban rudapaks*a ayah tirinya ....🌿


Membaca kiriman instagr*am seorang Akala, Chole langsung meringis menahan kebas yang seketika menguasai dada. Karena selain sepenggal tulisan di atas, di kiriman Akala tersebut juga dihiasi foto seorang wanita tengah terbaring lemah. Hanya saja, wajah wanita itu disamarkan. Kendati demikian, lebam parah masih terlihat mencolok, membuat sekelas Chole yang hatinya sangat lembut langsung teriris pedih. Ditambah lagi, sosok tersebut dikabarkan sebagai korban rudapaksa.


Yang Chole tahu, anak-anak pak Kalandra dan ibu Arum memang sudah terbiasa membantu sesama. Ibaratnya, meski yang jadi pengacara memang hanya mas Aidan, hampir semuanya termasuk Azzam yang terbilang nyinyir bin lambe lemes, semuanya merupakan aktivi*s. Semuanya selalu kompak membantu sesama bersama anggota lain yang bersedia ikut serta. Sering kali, Chole juga akan ikut.


Chole menjadi satu-satunya anka Tuan Maheza yang tak segan ikut blusukan. Sebab kakak-kakak Chole sudah terbiasa fokus mengurus urusan kantoran. Paling Chalvin yang akan jadi sumber donasi. Sebab Cinta dan Chiko memang tipikal cuek jika itu memang bukan urusan mereka.


Bahkan karena keterlibatan Chole, serta hubungan baik Chole dengan mas Aidan dan adik-adiknya, Chole sempat dijodoh-jodohkan dengan Akala. Alasannya sepele, yaitu karena mereka sama-sama baik, sama-lembut, terlebih keceriaan Chole dirasa semuanya sangat cocok untuk Akala yang sangat penyayang. Padahal tanpa semuanya ketahu, selain di masa lalu Chole sangat mencintai mas Aidan, nyatanya Akala justru sudah diam-diam pacaran dengan Cinta. Hubungan yang cukup mengejutkan semuanya. Apalagi perbedaan usia di antara keduanya dan Cinta yang jauh lebih dewasa dari Akala.


Akan tetapi, bukan itu yang menyita perhatian Chole. Melainkan Akala yang tak menunjukkan kode bahwa dirinya dan Cinta sudah berbaikan.


“Malahan enggak ada tanda-tanda dan Akala justru sibuk sendiri. Di IG kak Cinta pun sepi. Ini sebenarnya ada apa? Kak Chalvin lebih-lebih, sama sekali enggak pasang status WA apalagi instag*ram. Kalian ih, ada apa sih dengan kalian!” pikir Chole.


“Papah ...?”


Rengekan dari bocah perempuan yang sampai meraih sebelah lengan Helios, langsung mengusik kebersamaan di sana.


Mereka yang memang tengah makan siang di sebuah restoran mewah, langsung menjadikan bocah perempuan bermata sipit dan berkulit sangat putih itu.


Bukan hanya Chole yang langsung tersenyum ceria karena ibu Aleya apalagi Tuan Maheza juga langsung kepo. Ketiganya buru-buru melongok dan meninggalkan kesibukan masing-masing. Chole yang awalnya tengah makan sambil melihat-lihat kabar melalui ponsel, juga ibu Aleya dan Tuan Maheza yang awalnya tengah makan sambil mengobrol lirih.

__ADS_1


Lain dari semuanya, Helios justru langsung terdiam tegang bahkan takut. Ia hanya berani melirik bocah gembul dengan kuncir mirip kecambah di poni, dan terus memanggilnya papah. Helios berpikir, bocah itu mengiranya sebagai sang papah. Baru saja, bocah itu diemban Chole. Chole yang periang sudah langsung membuat bocah itu tersenyum karena keberisikannya.


“Namanya siapa, namanya siapa? Papah mana, papah, mana? Mas, ini anak yakn banget Mas papahnya. Digendong loh. Ini ....” Chole masih berisik dan malah tertawa.


Walau tidak begitu yakin, Helios yang kembali menutup wajah menggunakan masker hitam, selain ia yang juga memakai kacamata hitam, berangsur menatap si bocah.


“P-papah!” panggil bocah perempuan dan kiranya berusia tiga tahun itu.


Setelah kembali tergelak, Chole berangsur memberikan bocah itu kepada Helios. Ia menaruhnya dengan sangat hati-hati di pangkuan sang suami.


“Deg-degan yah, Mas?” ujar Tuan Maheza yang melihat betapa sang menantu sangat takut menyentuh si bocah. Ia yakin, Helios terlalu takut melukai bocah perempuan di pangkuannya.


Helios mengangguk-angguk sambil menatap Tuan Maheza. Ia berangsur menunduk dan membuat tatapannya dengan tatapan si bocah, bertemu.


“Nanti, kalau kami punya anak perempuan tapi matanya sipit mirip aku, kurang lebih penampakannya begini. Namun andai anak kami matanya mirip Chole, pasti akan sangat cantik. Matanya lebar mirip mata boneka,” batin Helios.


Dipanggil papah dan terus ditempeli bocah layaknya sekarang, membuat sekelas Helios yang kejam karena masa lalunya, mendadak ingin punya anak.


“Punya satuuuuu, saja! Tapi jangan, jangan hanya satu. Kasihan kalau enggak punya saudara. Punya banyak saja. Lagian aku lihat, Chole siap. Dia sudah siap jadi ibu!” batin Helios.


Malamnya, ketika mereka bersiap tidur dan Chole baru saja beres menepuk-nepuk wajah Helios menggunakan cairan, dan sebelumnya juga Chole aplikasikan di wajahnya sendiri, Helios mengajak Chole bicara.

__ADS_1


“Ngobrol? Ngobrol apa, Mas? Kelihatannya serius banget? Masih mengenai operasi? Lusa kita berangkat ke sana,” ucap Chole. Di hadapannya, Helios yang masih duduk selonjor dan juga menunduk justru menyebut anak.


“Anak? Anak bagaimana, Mas Suami Sayang ...?” Chole belum paham mengenai arah obrolan sang suami.


Helios berangsur menoleh kemudian menatap Chole. Belum sempat bicara, Chole sudah buru-buru merangkak kemudian berakhir duduk di pangkuannya, sementara kedua tangan Chole juga sudah langsung mendekap tengkuknya. Hal yang sepertinya akan menjadi rutinitas Chole kepadanya.


“Gara-gara di restoran, ya? Mas jadi ingin punya anak apa bagaimana?” tanya Chole.


Helios menghela napas pelan sambil memejamkan kedua matanya.


“Aku juga mau punya anak, tapi lihat kondisi dulu,” ucap Chole.


Mendengar itu, Helios berangsur membuka matanya dan berakhir menatap serius kedua mata lebar Chole. Tak ada lagi keceriaan di sana. Yang ana keseriusan dan juga tuntutan.


“Tumbuh bersama orang tua penyayang yang juga memberikan fasilitas lengkap saja kadang membuat beberapa anak merasa itu kurang, apa kabar jika anak itu tumbuh di keluarga berantakan? Aku enggak mau, bila waktu yang anakku jalani harus diisi dengan teriakan apalagi kebencian dari papahnya sendiri.”


“Aku mau punya anak, tapi Mas juga harus siap. Karena setelah kita memutuskan untuk memiliki anak, otomatis kita juga harus siap menjadi orang tua baik. Definisi orang tua sendiri bukan hanya ibu yang mengurus anak dan juga pekerjaan rumah tangga, atau papah yang cukup bekerja dan menuntut istri maupun anak-anaknya sempurna. Karena orang tua sudah sewajarnya bekerja sama. Bukan hanya seorang ibu yang berkewajiban mengurus sekaligus memberi kasih sayang penuh kepada anak-anaknya. Karena seorang papah juga memiliki peran yang sama. Aku enggak mau anak-anakku kekurangan apa pun apalagi kasih sayang orang tua. Lihat saja kasus Kak Cikho, kurang apa aku dan keluargaku, tapi hasilnya sefatal itu.” Chole menunduk sedih.


“Juga ....” Chole sengaja menggantung ucapannya.


Membuat Helios yang masih menyimak serius, menjadi makin penasaran. “Apa ...?”

__ADS_1


Ini mengenai pekerjaan Helios, tapi Chole bingung mengatakannya. Meski harusnya, kini juga menjadi waktu yang tepat untuk Chole melakukan ‘bersih-bersih’ di kehidupan Helios.


__ADS_2