Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
92 : Adik Perempuan


__ADS_3

Walau datang dengan tangan kosong, Helios dan Chole sudah langsung dijamu oleh warga sekitar. Semua warga mendadak berkumpul setelah dikabari bahwa Heri, putra dari kyai mereka telah kembali. Heri tak datang sendiri karena Heri yang kini memiliki mobil bagus, datang bersama istrinya.


Kebaikan keluarga khususnya orang tua Helios menjadi alasan Helios dan Chole, diperlakukan dengan istimewa. Rasa haru itu membuncah, membuat mereka sulit mengakhiri air mata meski mereka sudah tersenyum. Rasa haru dan air mata yang terus menyelimuti kebersamaan lantaran mereka tidak bisa berhenti untuk tidak teringat masa lalu.


Yang mana, niat baik Helios dan Chole membangun pondok di sana sudah langsung disambut baik. Semuanya kompak akan membantu, melanjutkan yang terdahulu dan kalau bisa lebih maju.


“Kayaknya aku juga bakalan betah kalau tinggal di sini, Mas.” Chole yang matanya sudah sembam karena ikut menangis, berbisik-bisik kepada sang suami.


Helios yang sampai detik ini masih duduk sila di lantai layaknya warga, berangsur menoleh sekaligus menatap sang istri. “Kamu, tinggal di goa saja betah asal ada sinyal buat internetan cari kabar terbaru BTS sama Jongkok!”


Mendengar itu, Chole sudah langsung tersenyum ceria sambil mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Bener banget! Tentu saja sekarang wajib bareng Mas juga!” ucapnya yang kemudian mendekap erat lengan kiri Helios menggunakan kedua tangannya.


“Andai kamu enggak sampai nambahin ucapan terakhir, sudah aku cancel pemberian album khususnya!” lirih Helios sengaja mengancam Chole yang ia lirik tajam, tapi yang mendapatkannya hanya cekikikan.


Hari yang melelahkan, tapi kini giliran Chole yang membawa Helios ke kediaman orang tuanya yang ada di kampung.


“Tapi Mas pernah ke sini, ya?” tanya Chole memastikan meski ia yakin, Helios pernah ke rumah sana mengingat beberapa kali, dulu saat masih dengan Cinta, Helios juga kerap mengantar Cinta mudik.


“Iya,” singkat Helios yang kemudian berkata, “sudah jangan dibahas.”


Tentu, Chole juga tidak berniat membahas lebih lanjut. “Oh iya Mas, di belakang ada kolam ikan, terus ada bak buat menampung belut. Itu enggak tahu cuma dipelihara atau sampai diternak, tapi memang ada. Ayam, entok, bebek. Jadi, semua itu sengaja diadakan biar pas kami liburan, enggak perlu beli dan tentunya lebih aman sekaligus sehat karena punya sendiri. Mas mau aku masakin apa?” ucap Chole sudah heboh. Ia buru-buru menggandeng Helios ke belakang rumah, meski suaminya itu masih diam dan memang terlihat jelas pasrah.


Suasana di sana benar-benar sepi sekaligus gelap akibat sore yang tengah berlangsung. Ditambah lagi, rumah keluarga Chole dibangun jauh dari rumah warga. Namun, di sana ada sepasang paruh baya yang bekerja mengurus rumah dan masih tetangga. Rumahnya sekitar lima ratus meter dari kediaman orang tua Chole.


“Yang kerja di sini hanya dua?” tanya Helios yang kemudian mendekap tubuh Chole dari belakang. “Sudah kamu diam, dari tadi enggak bisa diam.”

__ADS_1


Mendengar itu, Chole langsung terkikik.


“Hari ini ...,” ucap Helios. “Rasanya beneran campur aduk!” lanjutnya masih lirih seiring ia yang mengeratkan dekapannya dan berakhir membenamkan wajahnya di tengkuk Chole.


Chole tahu bagaimana perasaan Helios saat ini. Terlebih, ia yang tak mengalami kejadian langsung juga merasa sangat berat, apalagi Helios?


“Hari ini perasaanku juga campur aduk, Mas. Tapi aku juga bahagia banget karena kunjungan tadi, bikin aku punya banyak keluarga,” ucap Chole.


Helios berdeham kemudian mengangkat wajahnya.


“Mas, ... Mas tahu gimana rasanya tanpa orang tua. Jadi, kita harus sama-sama sampai akhir ya. Kita harus sehat, syukur-syukur bisa sampai lihat cicit,” ucap Chole yang baru merencanakannya sudah melow. “Mas juga harus makin sayang ke aku, biar kita punya banyak anak. Biar aku tetap bisa seceria ini—”


“Memangnya, aku kurang sayang apa lagi?” protes Helios.


“Namun, aku memang akan melakukan apa pun, agar kita bersama-sama hingga akhir. Agar anak cucu bahkan buyut kita juga merasakan keberisikkan kamu yang akan turut membuat hidup mereka berwarna!” batin Helios.


Helios tahu, andai dia mengatakan niatnya itu, Chole akan makin bahagia. Namun, ia sudah tak memiliki tenaga untuk melakukannya. Ia memilih diam, menyatu dengan kedamaian yang ia dapatkan dari kenyataannya yang masih mendekap tubuh Chole dari belakang.


***


Beres urusan di kampung, Helios memboyong Chole langsung ke markas. Helios mengantar Chole ke kamar, meminta istrinya itu untuk istirahat, sementara ia sengaja ke penjara bawah tanah. Di sana, ada pak Mul yang sampai detik ini masih hidup. Pria itu makin kurus dan kulitnya putih pucat, sementara rambut ikalnya benar-benar gondrong mirip rambut singa betina. Menurut kabar yang Helios dapat, pak Mul menolak setiap makanan bahkan minuman yang diberikan.


“Aku pikir kamu akan menyesali perbuatan kamu, tapi caramu begini dengan kata lain kamu tetap menyalahkan istriku!” kesal Helios.


“Aku memang tidak bersalah—” ucap pak Mul yang sebenarnya belum selesai.

__ADS_1


“Jangan paksa aku membu*nuhmu sekarang juga!” marah Helios memilih buru-buru pergi sebelum ia melakukan apa yang baru saja ia tegaskan. Ia melangkah cepat memasuki lorong lebih dalam di tengah suasana sana yang sangat gelap.


Setelah meninggalkan pak Mul agak jauh, sampailah Helios yang dikawal Ben, di depan penjara pria gamis pink. Jay benar-benar masih memakai gamis pink ketika pria itu dikejar tuntas oleh Ojan. Namun berbeda dengan pak Mul, Jay mau memakan maupun meminum setiap yang dijatahkan.


“Aku sampai bingung harus bicara apa?” ucap Helios menatap tak habis pikir Jay.


Jay tetap duduk.


“Aku tahu sampai kapan pun, kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan apalagi membuat aku tunduk kepada kamu.” Saking bingungnya harus bagaimana membuat Jay menyerah, Helios sampai mempertanyakannya kepada Jay.


“Sudah, sekarang mau kamu apa?” tanya Helios.


“Aku mau adik kamu ... aku janji, aku akan membahagiakannya,” ucap Jay. Hampir sepuluh hari dikurung, yang ada di ingatannya hanya Chole. Chole menjadi hidayah seorang Jay untuk menjadi manusia lebih baik lagi.


“Kamu amnesia apa memang gi*la?” semprot Helios. “Adik aku yang mana?!”


“Yang bercadar itu ...!” seru Jay meyakinkan.


“Ka-kamu jangan kebanyakan halu deh. Aku beneran enggak punya adik apalagi yang bercadar!” yakin Helios masih mengomel.


“Yang kemarin ikut kamu ke kampung!” yakin Jay memohon.


Yang langsung Helios tangkap, yang Jay maksud itu Chole. “Aku tem*peleng kamu macam-macam ke dia!” kesalnya yang kemudian juga berkata, “Sudah, enggak usah halu! Sekarang aku kasih kamu waktu, dan kamu wajib putuskan. Kamu mau masih hidup dan tunduk kepadaku, atau ... ma-ti ....”


Jay makin penasaran, jika Helios tidak mengakui wanita bercadar yang bersamanya sebagai adik, lantas wanita itu siapa sementara ia yakin, itu bukan Cinta?

__ADS_1


__ADS_2