Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
40 : Hati yang Mulai Kembali Manusiawi


__ADS_3

“Sejak kecil, Chole memang divonis enggak bisa jalan. Usia dua tahun dia belum bisa jalan juga, tapi papahnya sabar banget. Papahnya yang terapi Chole hampir setiap saat. Pagi-pagi sudah dibawa jemur sambil latihan jalan. Sampai dibawa ke mana-mana termasuk kerja. Ibaratnya, Chole itu anak papah karena pergi rapat di luar negeri pun, Chole wajib ikut dipangku papahnya.”


“Usia lima tahun, Chole baru lancar jalan. Dan sampai sekarang, dia memang masih sering jatuh.”


“Mas Heri bisa lihat, papahnya selembut itu. Papah Chole beneran tipikal yang enggak bisa marah. Chole yang mewarisi sifat papahnya. Sifat yang kadang bagi orang, termasuk bagi Mamah sebagai pasangan, terlalu baik. Terlalu lembut, lembek, dan biasanya justru disalah artikan sama orang.”


“Termasuk Cikho, ... bukan berarti sebagai papah, orang tua bahkan kepala keluarga, papah Maheza justru gagal mendidik. Beneran sudah enggak kurang-kurang. Termasuk juga mengenai Cinta. Sejauh ini siapa pun mereka, papah beneran enggak membeda-bedakan. Karena kepada ART dan sopir di rumah saja, mereka sampai punya rumah pribadi di kota. Setiap anak ART dan sopir juga disekolahkan sampai sarjana. Sekarang yang di perusahaan ya mereka-mereka. Beneran sudah seperti keluarga.”


“Soalnya bagaimana ya, papah Maheza memang tipikal yang percaya, baik bur*uk yang dia lakukan akan kembali kepadanya. Entah beliau yang merasakan secara langsung, atau malah orang-orang yang beliau sayangi yang harus merasakannya. Selebihnya jika yang beliau dapat luka, beliau beneran memasrahkan semuanya ke Yang Punya Kehidupan. Ibaratnya, beliau rela sakit tanpa mau membalas orang yang sudah bikin beliau terluka.”


“Karena papah percaya, semuanya sudah ada garisannya. Dan memang enggak selamanya kita akan bahagia maupun terluka. Jadi, jalani dan nikmati proses walau kadang proses yang harus kita lalui terlalu menyakitkan hingga kita justru menyerah kemudian mengubahnya jadi dendam.”


Menyimak itu, Helios menyimpulkan, dirinya merupakan kebalikan dari seorang Tuan Maheza.


“Kadang geregetan sendiri sih, tapi memang hanya orang-orang seperti papah Maheza yang beneran menikmati hidup.”


Kemudian, tanpa direncanakan, tatapan ibu Aleya apalagi Helios, tertuju kepada kebersamaan tuan Maheza dan Chole. Keduanya mulai sibuk menyiapkan tumpeng. Chole tengah mencuci berat di wastafel, sementara pak Maheza tengah mengupas rempah-rempah di sebelahnya. Keduanya sibuk mengobrol sekaligus bercanda mirip teman sebaya.

__ADS_1


“Ya sudah, Mamah juga mau siapin ayam ingkung sama ayam bakar. Chole minta ayamnya jadi ingkung sama bekakak bakar.” Ibu Aleya yang sudah memakai celemek sengaja pamit.


Helios yang masih diam, berangsur menunduk sambil mengangguk. Kali ini, berbeda dari kebersamaan sebelumnya, Helios memberanikan diri tidak memakai kacamata hitam. Meski ia tetap memakai masker hitamnya. Sebenarnya Chole sudah melarang keras, tapi Helios belum bisa membiasakan diri untuk tidak bersembunyi, menyembunyikan wajahnya yang buruk rup*a dari kenyataan.


“Mereka keluarga yang penuh energi positif. Mereka mengubah takdir dengan sugesti positif dan mereka menikmati semua prosesnya yang memang tidak mudah, tanpa lupa untuk bahagia,” batin Helios. “Menikmati proses yang sering menyakitkan tanpa melupakan kebahagiaan sendiri. Pasrah kepada Sang Pemilik Kehidupan tanpa kenal lelah dalam berikhtiar!” Itulah pelajaran berharga yang Helios petik dari Chole dan orang tuanya.


“Keluar kota bagaimana sih? Jadwal keluar kota dari perusahaan kan dua minggu lagi. Aku saja ikut,” ucap Chole mengomentari kabar terbaru Chalvin sang kakak yang dikata orang tua mereka, tengah dinas keluar kota. Ia berangsur meminta sang suami untuk mengangkat satu baskom beras yang baru saja ia cuci, agar suaminya menjadi bagian dari kesibukan mereka. Agar suaminya tidak mirip orang hilang di tengah keluarganya sendiri.


“Ya kemarin belum lama, dini hari sudah berangkat. Bawa koper kecil, ada kerjaan mendadak katanya,” jelas pak Maheza.


Padahal bagi kalian yang juga mengikuti novel : Pembalasan Istri yang Haram Disentuh, kepergian Chalvin yang buru-buru tersebut untuk mengurus Cinta dan juga kasu*s yang wanita itu buat.


Chole mendelik tak percaya menatap suaminya. Sambil memasukkan daun salam, sereh dan juga bumbu yang sudah dihaluskan, ia berkata, “Jadi duda gimana ih Mas Suami Sayang! Ini dinas keluar kota. Cuma ke Bandung, dua hari dua malam dan itu pun di weekend.”


“Terus, kamu tidur sama siapa?” sergah Helios masih berbisik-bisik dan memang sudah sangat posesif.


“Astaghfirullah ... ya tidur di kamar, sendiri. Kalau Mas mau, ya ayo ikut!” kali ini, meski Chole masih berbisik-bisik, ia sengaja mengomel.

__ADS_1


Helios langsung kicep. “Oke. Meski mungkin siang enggak bisa, malamnya aku wajib jaga-jaga.”


“Memangnya, dua hari itu Mas enggak bisa fokus ke aku saja? Sekalian honeymoon loh Mas!” rengek Chole yang perlahan menahan tawanya sebab pembahasan kali ini langsung membuat wajah suaminya bersemu.


“Sayang, nanti makannya lesehan apa di meja saja? Pakai daun kayak kalau di rumah, kan?” tanya Tuan Maheza.


“Iya, Pah. Itu lagi disiapin di depan taman. Di meja, pakai daun pisang tapi pinggirannya dikasih daun selada.” Chole benar-benar ceria.


“Oke-oke,” tanggap Tuan Maheza yang masih mengupas bawang merah dan bawang putih.


Chole sengaja memberi Helios pisau kecil agar sang suami membantu Tuan Maheza mengupas-ngupas.


“Mas, ini konsepnya masakan Jawa tempat Mas juga loh. Rempah dan cara masaknya,” ucap ibu Aleya yang tengah membersihkan setiap ayam kampu*ngnya di wastafel.


Chole ditugasi menghaluskan setiap bumbu. Kebetulan, baru bumbu untuk ingkung yang sudah beres dikupas.


“Ini begini, ... berasa sama orang tua sendiri. Jadi kangen umi sama bapak. Al-fatihah ...,” batin Helios terenyuh. Hatinya menjadi diselimuti rasa hangat walau dadanya justru menjadi pegal bersama sesak yang memenuhi di sana.

__ADS_1


Ulah Chole mengajak orang tuanya menjadi bagian dari kebahagiaan mereka, membuat Helios rindu almarhum orang tuanya yang menjadi korban kebakaran setelah pesantren mereka dibakar oleh Cikho dan kawan-kawan. Chiko yang tak lain kakak kandung Cinta, hanya karena di masa lalu, Helios merupakan kekasih Azzura yang kini justru menjadi istri Excel.


Kejadian yang menjadi awal mula tragedi dalam hidup seorang Helios. Karena setelah pondok pesantrennya dibakar berikut penghuninya, Helios juga diseka*p, kemudian dirusa*k wajah dan juga mata kanannya. Alasan yang juga membuat hidup Helios menjadi dipenuhi dendam. Karena semenjak itu, hidup Helios tak beda dengan mimpi bu*ruk. Bahkan karena itu juga, Helios memutuskan menjadi mafia—baca novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia.


__ADS_2