
“Jangan minta yang aneh-aneh.”
“Aneh-aneh gimana, Mas?” Chole menatap tak mengerti suaminya yang sampai detik ini terus menghindari tatapannya.
Obrolan lirih itu masih mewarnai sofa di sudut depan pintu masuk ruang kesehatan. Chole dan Helios masih di sana, berbagi sofa tunggal yang harusnya hanya diisi oleh satu orang. Namun karena Chole tidak mau jauh-jauh dari sang suami dan memang sedang memiliki misi khusus, Chole sengaja nempel kepada Helios.
Helios menatap tak habis pikir Chole dan memang karena jengkel. “Kamu ini sarjana bisnis, tapi kamu tetap enggak ngerti. Kalau aku berhenti, anak buahku bagaimana?”
“Bisa disiasati dengan membuat usaha lain. Kalaupun mereka enggak paham, kita bisa melakukan pelatihan!” yakin Chole kali ini sengaja merengek dan sebenarnya sedang merayu Helios.
“Enggak segampang itu!” tegas Helios kembali memalingkan wajah.
Chole menjalani trik selanjutnya dan itu bujukan disertai sentuhan lebih dari biasanya. Ia berangsur mendekap tubuh Helios kemudian membenamkan wajahnya di sebelah wajah Helios. Tetap begitu meski Helios selalu memberinya jawaban tidak.
“Jawabannya beneran masih sama, TIDAK!”
Balasan barusan dari Helios yang keras kepala membuat Chole menitikkan air mata. Ia memasang wajah sangat sedih sambil terus menatap Helios.
“Ah! Apaan, sih!” Helios sadar, istrinya sedang merajuk. Berusaha mendapatkan hatinya apalagi ia sadar, Chole menyadari dirinya mulai luluh kepada wanita itu.
“Mas enggak kasihan kalau aku jadi janda?” rengek Chole bersama kedua tangannya yang mengguncang-guncang pelan ujung kemeja hitam sang suami.
“Hal semacam itu enggak akan terjadi!” tegas Helios.
“Pekerjaan Mas sangat berisiko! Kita bangun usaha baru saja. Aku janji, akan bantu.” Chole masih belum menyerah.
“Bahas yang lain saja!” balas Helios sambil sesekali melirik Chole. Tak disangka, Chole justru berdiri dan tampak jengkel kepadanya. “Pergi yang jauh!” semprotnya.
Jengkel dengan tanggapan Helios, Chole yang menatap sebal sang suami juga langsung memilih pergi.
Tentu kenyataan tersebut langsung membuat Helios panik. “C-chole!”
__ADS_1
Walau Helios terus memanggilnya, Chole tetap pergi. Ia menuju lift dan berniat menggunakannya untuk kembali ke kamar pribadi Helios. Chole hendak mengambil ranselnya yang masih di sana.
Kepergian Chole yang membuat Helios panik saja sudah mencuri perhatian mafia yang ada di sana, apalagi ketika Helios tertatih menyusul, tak mau ditinggal sang istri.
“Wah, si Bos sudah bucin!” bisik mereka satu sama lain.
Helios yang lari tertatih menyusul Chole, nyaris tertinggal andai satu detik saja pria itu telat menghentikan lift. Chole yang sadar sang suami sengaja menyusul, buru-buru memunggungi Helios. Helios langsung gondok, tapi pria itu tak memiliki pilihan lain karena sadar dirinya tidak bisa mengabulkan keinginan Chole.
“Aku enggak minta kamu buat diam!” ucap Helios lantaran sampai mobil dan mereka bersiap pulang, Chole masih mendiamkannya.
“Aku beneran enggak bisa tenang kalau kamu justru diam!” lirih Helios sambil menatap Chole yang duduk di sebelahnya penuh peringatan.
Chole tetap menyibukkan diri mengawasi sebelahnya dan memang sengaja menghindari Chole.
“Minta yang lain saja,” lanjut Helios masih menjadi pembicara tunggal. Mafia di depan dan menyetir mobil mereka jadi ikut tegang.
“Minta yang lain,” lanjut Helios yang sudah kembali menutupi wajah dan juga matanya menggunakan masker maupun kacamata hitam tebal. “Chole—”
“Enggak mau. Aku enggak butuh apa pun selain keselamatan Mas!” lirih Chole masih membelakangi Helios.
Hanya saja, Chole tetap masih bertahan dengan keputusannya.
“Ya sudahlah terserah kamu!” jengkel Helios yang buru-buru menjaga jarak. Ia sengaja geser hingga berada tepat di pinggir pintu. Tak disangka, Chole yang sempat meliriknya dengan lirikan sebal juga melakukan hal serupa hingga sekat di tengah mereka benar-benar luas.
“Ya ampun anak ini kalau sudah punya kemauan, beneran mirip bayi!” batin Helios kesal sendiri. Namun layaknya Chole, ia juga tetap dengan keputusannya.
Chole menolak diantar ke rumah orang tuanya hingga Helios tak memiliki pilihan lain selain mengantar Chole ke rumahnya.
“Limitnya seratus juta. Belanja lebih dari itu, kamu harus sama aku!” lirih Helios sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Chole di rumahnya. Ia memberikan kartu kredit warna emas kepada Chole, tapi sang istri buru-buru menggeleng.
Chole tahu, makin ia menolak akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, Helios marah dan memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka. Kedua dan menjadi paling fatal, Helios jadi tidak bisa baik-baik saja dan itu bisa membuat suaminya celaka karena tidak bisa fokus.
__ADS_1
Helios sudah mende*sah kesal lantaran sekelas kartu kredit yang biasanya menjadi sumber kebahagiaan wanita, tetap saja Chole tolak. Padahal Helios juga sudah terang-terangan tidak membatasi belanja Chole. Ia hanya berdalih andai Chole sampai belanja lebih dari 100 juta, istrinya itu wajib melakukannya bersamanya. Untung, hanya selang hitungan deti, Chole sudah memeluknya hingga hatinya kembali melunak.
“Aku hanya mau Mas,” rengek Chole sambil memeluk manja Helios.
Helios yang sempat memejamkan mata karena merasa agak lega Chole tak lagi membuatnya emosi, berkata, “Subuh atau paling telat pukul tujuh pagi, aku pasti sampai rumah.”
Dalam diamnya, Chole yang masih mendekap Helios justru menitikkan air mata.
“Chole,” tagih Helios karena Chole tak kunjung merespons.
“Aku nangis ....” jujur Chole yang malah tersedu-sedu hingga membuat Helios merasa memiliki seribu bayi.
Helios yang awalnya belum membalas dekapan Chole, berangsur melakukannya.
“Sudah, percaya kepadaku kamu cukup doakan aku!” yakin Helios.
Dalam diamnya, Chole yang tidak membalas Helios berpikir. Chole berpikir sangat keras, mengenai apa yang kiranya bisa membuat Helios meninggalkan dunia mafia?
“Pelan-pelan. Jangan spontan, biar pikiran mas Helios juga tetap bisa tenang!” batin Chole meyakinkan dirinya sendiri. Ia berangsur menyudahi dekapannya dan melepas Helios tanpa bisa sepenuhnya baik-baik saja.
“Istirahat dan tidurlah,” ucap Helios.
“Mas juga hati-hati,” ucap Chole yang kemudian menyalami tangan kanan sang suami dengan sangat hati-hati.
Seperti biasa, Chole membingkai wajah Helios kemudian mengabsennya menggunakan ci*uman. Namun ketika Chole akan menci*um bibir Helios, pria itu memalingkan wajah.
“Jangan menci*um bibirku kalau kamu saja masih marah ke aku,” ucap Helios.
“Oh ... kalau gitu caranya, sampai sepuluh minggu ke depan pun, aku masih marah. Ya sudah, enggak apa-apa. Cuma ci*um tangan saja juga enggak apa-apa. Bye ....” Chole benar-benar pergi dan hendak masuk kamar, meninggalkan Helios yang masih di luar, begitu saja.
“J-jangan gitu!” kesal Helios dan buru-buru menyomot gamis bagian punggung Chole kemudian menariknya.
__ADS_1
Dengan sangat santai, Chole berangsur balik badan disusul kedua tangannya yang langsung mendekap Helios. Detik itu juga, ci*uman bibir yang Chole lakukan langsung buru-buru disambut oleh Helios.
“Mas ketua mafia sudah bucin. Tinggal cari tahu apa yang akan jadi alasan Mas Helios mau melakukan segalanya termasuk meninggalkan dunia mafia!” batin Chole masih usaha.