
Kedatangan Chole yang disertai Helios sudah langsung membuat Cikho merasa tidak nyaman. Terlebih cara Chole bersikap. Tak hanya tatapan yang Chole lakukan, tapi juga cara Chole menatapnya. Paling mencolok, Chole tak sampai menyalami tangan Cikho.
“Kita hanya buang-buang waktu, Mah! Orang seperti dia memang enggak pantas jadi seorang papah! Adam terlalu bahagia jika harus menjadi bagian dari dia. Bilang saja kalau papahnya sudah mati, itu memang pilihan paling tepat!” tegas Helios emosional.
Cikho yang memang belum pernah melihat wajah baru Helios, sudah langsung terkejut lantaran Cikho mengenali suara Helios. Yang membuat Cikho terkejut, tentu karena Helios mendadak mencekal kerah koko lengan pendek Cikho. Helios melakukannya dengan keji. Membuat tubuh mereka khususnya wajah mereka nyaris tak berjarak di atas tengah-tengah meja kayu yang memisahkan kebersamaan mereka.
“Cepat keluar dari sini. Karena cukup dengan satu tangan, aku akan langsung membunu*hmu. Orang sepertimu lebih baik mati, daripada hidup tapi terus melukai orang lain bahkan darah dagingmu sendiri!” tegas Helios yang detik itu juga memban*ting tubuh Cikho ke lantai. Terlebih biar bagaimanapun, Adam merupakan anak dari adiknya Excel.
“Ingat kataku, jangan pernah menampakkan diri di hadapan kami apalagi Adam lagi. Aku pastikan Adam tidak akan pernah mengenalmu. Aku pastikan Adam akan menganggap kamu mati seperti apa yang selama ini kamu lakukan!” Helios masih sangat emosional. “Mulai sekarang kamu juga bukan bagian dari keluarga istriku lagi, ... sebaik apa pun mertuaku. Dan mulai sekarang pun aku sudah enggak mau menampung semua hasil usahamu. Apa pun alasannya. INI HUKUMAN BAGI BAPAK ZALIM seperti kamu!” Tak mau berurusan dengan Cikho lagi, Helios juga sudah langsung menggandeng Chole yang awalnya terduduk loyo di bangku yang ada di sana.
“Kamu juga enggak perlu menjelaskan apa pun karena dia bukan anak kecil yang apa-apa harus dibimbing! Buat apa berguna bagi orang lain kalau ke anak saja sampai enggak mengakui? Justru kita bakalan ikut menanggung dosanya kalau kita terus-menerus memberinya jalan rezeki. Sudah, mulai sekarang akhiri saja. Lebih baik kita enggak punya hubungan, ini beneran pilihan terbaik!” tegas Helios.
Chole hanya tersedu-sedu tanpa bisa berkomentar. Ia mengikuti tuntunan Helios.
“Adam layak memiliki papah terbaik!” isak Cikho tetap meringkuk setelah dibanti*ng Helios.
__ADS_1
Detik itu juga, Chole yang baru dirangkul punggungnya oleh Helios, menjadi menolak. Chole berhenti melangkah kemudian menatap sekaligus menghadap Cikho.
“Orang sepertiku memang tidak pantas jadi papah. Apa kata dunia ... bagaimana perasaan Adam andai dia tahu papahnya seorang pembunu*h? Bagaimana perasaannya andai dia tahu, papa yang dia harapkan layaknya super hero, justru tak lebih dari narapida*na?!” Cikho makin tersedu-sedu, merasakan penyesalan yang memang baru akan hadir di akhir kesalahan yang ia lakukan. Penyesalan yang selalu menjadi hasil dari setiap keegoisan, kebatil*an, dan semua perbuatan di luar dari kebaikan sekaligus kebenaran.
Andai bisa mengulang waktu, tentu Cikho akan memperbaiki semuanya. Tentu Cikho akan melakukan hal yang layak membuat anaknya bangga. Jadi, setelah semua yang terjadi dan ia pun tetap tidak bisa keluar dari masa lalu kel*amnya, Cikho memutuskan untuk tidak dikenal Adam sang putra.
“Tapi Adam berhak tahu ....” Chole masih tersedu-sedu. Rasanya terlalu sakit, benar-benar sakit. Ia paham, posisi Cikho tak ubahnya menelan buah simalakama.
“Dia memang berhak, tapi lebih baik tidak tahu!” lirih Cikho yakin dengan keputusannya.
“Aku mohon, setia anak selalu mengharapkan kebahagiaan penuh dari orang tuanya. Anak selalu ingin bersama-sama orang tuanya karena itu juga yang kamu rasakan!”
“Sekali lagi aku tegaskan, Adam berhak tahu! Siapa pun kalian sekarang, bukan hanya masa lalu yang akan diperhitungkan, tapi juga semua yang ada setelah masa lalu. Apa pun nanti tanggapannya, itu sudah jadi risiko sekaligus konsekuensi yang harus kamu hadapi sekaligus selesaikan.”
“Diam dan tidak mau mengakui darah daging sendiri bukan cara yang tepat. Cobalah bercermin pada keadaanmu. Semua pemberonta*kkan ini, kamu lakukan karena kamu kecewa setelah kamu tahu status asli kamu dalam keluargaku, kan? Pikirkan itu andai itu sampai menimpa Adam.”
__ADS_1
“Jangan lupa, sampai kapan pun kita enggak akan pernah bisa lari dari kenyataan. Sementara menghadapi sekaligus menyelesaikan masalah, merupakan satu-satunya cara agar semuanya selesai.”
“Jangan sampai membuat anakmu justru jatuh ke jurang yang sama dengan jurang yang telah melukaimu!” tegas Chole yang akhirnya mengakhiri ucapan panjang lebarnya. Kendati demikian, ia belum bisa mengakhiri kesedihan dan juga air matanya yang menghasilkan sesak luar biasa.
Karena Cikho terus tersedu-sedu, Chole sengaja berkata, “Ini sudah jadi risiko dari semua yang kamu lakukan. Hadapi dan selesaikan. Jaga anakmu, tak sembarang orang diberi kepercayaan memiliki anak.”
Chole tak lagi menolak tuntunan Helios. Dirasanya, ia tak perlu melangkah lebih jauh memasuki kehidupan Cikho lantaran Cikho sudah selayaknya menyelesaikan semuanya sendiri.
“Biarkan Cikho dewasa melalui setiap cobaan hidup yang harus dia selesaikan,” ucap Helios sambil merangkul erat punggung Chole. Tanpa menatap Chole, di tengah kedua kaki mereka yang tetap melangkah, Helios mengunci kening Chole menggunakan bibirnya. Cukup lama kenyataan tersebut terjadi. Terlebih Helios yakin, apa yang terjadi pada Cikho menyangkut Adam, telah membuat istrinya terpukul.
“Sampai napas terakhir kita, kita harus tetap jadi orang tua terbaik untuk anak-anak yah, Pah!” ucap Chole yang perlahan menoleh kemudian menengadah, dan berakhir membuat tatapan mereka bertemu. “Bagaimanapun masa lalu kita, ... anak-anak berhak tahu karena itu sudah jadi risiko kita. Karena seperti yang aku katakan, masa lalu bukan satu-satunya yang akan dinilai. Karena semua yang terjadi setelah masa lalu juga tetap akan dipertimbangkan!” lembut Chole yang berangsur menggunakan kedua tangannya untuk mendekap punggung Helios.
Dalam diamnya, Helios yang tetap memimpin langkah meski Chole terus memeluknya, membenarkan anggapan Chole. Kelak, pelan-pelan ia akan menceritakan siapa dirinya kepada anak-anaknya. Iya, Helios sungguh akan menceritakan semuanya. Daripada anak-anak justru mendengarnya dari pihak lain dengan porsi yang justru merugikan Helios.
Setiap insan memang memiliki masa lalu, dan tak semua masa lalu berwujud indah apalagi layak dibanggakan. Namun bukan berarti, masa lalu menjadi satu-satunya acuan kehidupan seseorang. Karena semua yang terjadi setelah masa lalu juga akan tetap diperhitungkan. Jadi, satu-satunya cara untuk mengobati masa lalu yang kita anggap kurang bahkan jauh dari sempurna, kita cukup melakukan hal yang lebih baik, terus begitu tanpa melupakan kebahagiaanmu. Karena terkadang, orang yang terlalu bekerja keras juga tidak menyadari bahwa dirinya sudah terlalu egois pada dirinya sendiri. Iya, segala sesuatunya benar-benar harus seimbang.
__ADS_1