Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
76 : Obrolan yang Menyedihkan


__ADS_3

Helios memasuki kamarnya dengan hati-hati dan langsung memergoki Chole yang tengah duduk tapi bengong mirip orang bingung.


“Kenapa masih belum tidur?” tanya Helios sembari menekan sakelar lampu di sebelah pintu yang kemudian ia tinggalkan. Detik itu juga suasana jadi temaram menyisakan dua buah lampu meja di nakas yang menjadi sumber penerang.


Chole menatap kedatangan Helios tanpa balasan pasti. Pria itu langsung mendekapnya dan tampak begitu khawatir.


“Aku sudah tidur, tapi baru sebentar sudah mimpi Kak Chalvin nangis-nangis ke aku. Ya aku bangun, bingung, nangis juga. Lagipula, lihat kak Chalvin yang sekarang memang jadi aneh. Kak Chalvin masih serba bingung. Jadi murung, dan memang sering melamun,” ucap Chole tak bersemangat dalam dekapan Helios


Helios yang tahu penyebab Chalvin kecelakaan, langsung tidak bisa berkata-kata. Namun berbeda dari biasanya, kali ini ia berusaha meredam kekhawatiran Chole.


“Wajar Chalvin begitu, satu tahun ingatannya hilang. Pasti dia merasa ada yang kurang. Dia pasti berusaha mengingat ingatan satu tahun. Ingatan satu tahun itu banyak Chole. Kita saja bisa membuat banyak kenangan dalam hitungan jam. Lihat, meski sampai sekarang kamu masih menyita beberapa hapeku buat memutar MV Jongkok, hidup kamu dalam satu jam saja, beneran enggak hanya buat itu, kan?” Helios menatap saksama kedua mata Chole menggunakan mata kirinya yang kali ini tidak tertutup kacamata.


“Chalvin pasti belum terbiasa, ... yang mana dia juga pasti sedang menerka-nerka, adakah hal sangat penting yang telah dia lupakan di ingatannya yang hilang. Aku yakin dia ingin memiliki semua ingatan itu,” yakin Helios lagi sambil menyikapi Chole dengan sangat lembut.


“M-mas ...?” sergah Chole langsung menatap sang suami penuh keseriusan.


“Apa ...?” balas Helios masih sangat lembut.


“Aku penasaran apa yang sebenarnya kak Chalvin lakukan di Cilacap. Dia lama banget loh di sana. Besok aku juga mau cek transaksi rekeningnya ... soalnya kan, semua yang di mobilnya termasuk hape dan dompetnya kebakaran. Mobilnya juga terbakar kan. Beruntungnya, Kak Chalvin enggak, dan luka fisik pun nyaris enggak ada. Hanya amnesia, tapi amnesia ini ... aku rasa memang ada yang sudah fatal.” Chole menunduk tak bersemangat.


Yang Helios tahu, alasan Chalvin di Cilacap dalam waktu cukup lama karena Chalvin mengurus Cinta. Namun setelah Helios melakukan cocok logi, ia ingat pengakuan Chalvin yang sempat menghebohkan kebersamaannya dan Chole. “Kamu masih ingat, ... pas Chalvin bilang, dia sudah menikah?” Helios berucap hati-hati.


“Nah itu, Mas ... aku juga kepikiran ke situ ....” Chole menatap sedih suaminya. Berharap, status Helios sebagai seorang ketua mafia, akan membuatnya segera mengatasi kekhawatirannya terhadap Chalvin.


Setelah terdiam sejenak, Helios kembali menatap Chole sambil berkata, “Besok kamu kumpulkan nomor rekening, ktp, atau KK keluarga. Buat cek mutasi rekening ke bank. Nanti bakalan keluar transaksi rekening Chalvin. KTP dan KK juga penting buat cek benarnya pernikahan. Kita ke kantor agama. Tapi juga wajib cek sinyal hape Chalvin. Terakhir sebelum di lokasi kecelakaan, dia ke mana saja. Masalahnya kalau pernikahan belum didaftarkan, ini yang bikin waswas. Logikanya, kenapa Chalvin sampai menikah mendadak? Jangan salah, sedikit salah paham kadang bikin seseorang digerebeg. Tapi sepertinya kejadiannya di kampung, ya?”

__ADS_1


“Nah gitu, Mas ... apa aku tanya ke yang di kampung saja? Ke Mbak yang di kampung? Ke ibu Arum atau mas Aidan.”


“Si Aidan sudah punya istri dan istrinya sedang hamil. Kamu enggak usah hubungi dia lagi.”


“Enggak masalah lah Mas. Cintaku kan sudah lurus ke Mas. Aku beneran sudah enggak goyah sedikit pun.”


Mendengar itu, Helios hanya melirik sebal Chole. Seperti biasa, Chole langsung memeluknya erat dan ia sadar, alasan Chole begitu lantaran tengah berusaha meyakinkannya.


Setelah menghela napas dalam, Helios berkata, “Baiklah ... besok juga aku urus. Namun jika pernikahan belum terdaftar di kantor agama, mau enggak mau kita wajib cek setiap lokasi lewat jejak sinyal ponsel Chalvin.”


“Caranya gimana?” rengek Chole.


“Nanti aku yang urus. Meski—”


“Meski, apa, Mas?”


“Apaan, aku ikut!” protes Chole.


“Kamu lagi hamil, Chole. Ingat dulu Azzura terlalu capek dan sampai enggak terasa hanya karena resepsi dan segalanya bikin dia bahagia!” kali ini Helios mengomel.


“Mas, anak kita kuat. Jangankan papahnya yang ketua mafia, mamahnya saja tahan ban*t*ing!” yakin Chole.


“Enggak lah. Besok kamu sama mamah papah kamu saja. Besok sore habis urus Syam, aku titipin kamu ke mereka,” yakin Helios tak lagi menerima penolakan.


“Mas kan tahu, aku jadi enggak bisa tidur kalau jauh-jauh dari Mas. Anakmu ini, manja banget. Nanti kalau aku enggak tidur, dampaknya enggak hanya ke aku, tapi ke janin loh!” jengkel Chole.

__ADS_1


“Nanti dia pasti nurut kan ada kakek neneknya,” yakin Helios, tapi kali ini, Chole hanya diam.


“Chole ...?” panggil Helios lantaran Chole tetap menunduk sekaligus bungkam.


“Ya sudah, aku mau tidur.” Chole buru-buru memunggungi Helios.


“Chole, jangan ngambek ih.” Helios berusaha menahan Chole, tapi Chole tetap memunggunginya.


“Ngambek apaan, biasa saja,” balas Chole kemudian menutup tuntas tubuhnya menggunakan selimut.


Helios terpejam erat dan berangsur mendekap tubuh Chole dari belakang.


“Mas, tolong percaya ke aku. Meski keadaanku begini, aku janji buat tetap mandiri. Aku beneran enggak akan merepotkan Mas. Paling andai iya, hanya sedikit,” ucap Chole.


“Bukan masalah merepotkan enggaknya, ini beneran mengenai kehamilan kamu, Chole.”


“Dokter bilang aku dan janinku sehat banget Mas. Kemarin kan aku sampai berisik banyak tanya. Katanya oke aku perjalanan jauh asal aku nyaman.”


“Itu kan hanya prediksi dokter, Chole. Dokter juga manusia biasa sementara menjaga dan waspada jauh lebih baik buat kita. Aku janji cuma pergi sebentar,” yakin Helios.


“Memangnya Mas enggak mau mengunjungi orang tua Mas? Meski berupa makam, aku pengin banget dikenalin ke mereka.” Setelah mengucapkan itu, Chole berangsur balik badan. Ia menatap Helios dengan kedua mata berkaca-kaca. Namun karena Helios menepis tatapannya, ia memilih memeluk Helios kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


“Mendadak otakku jahat, Mas. Aku bilang ini jahat karena ... kenapa, yang berulah kan mas Cikho dan kak Cinta, tapi kok justru anak kandung orang tuaku yang cela*ka?” isak Chole. Ia berpikir begitu dan baginya jahat, tapi apa yang ia pikirkan memang kenyataan. Kenyataan yang jujur saja sangat menyesakkan.


Tanpa bisa menepis apa yang Chole keluhkan meski kenyataan tersebut benar adanya, Helios berusaha menenangkan Chole. “Kamu punya aku, ... kamu bisa mengandalkan aku, Chole. Masalah Chalvin, meski polisi enggak bisa menangani, nanti aku yang urus.” Setelah terdiam sejenak, Helios juga berkata, “B-besok ... besok kamu ikut. Iya, enggak apa-apa, besok kamu ikut. Asal kita selalu bersama, harusnya semuanya baik-baik saja.”

__ADS_1


Mendengar itu, Chole langsung tersedu-sedu. Kedua tangannya memang makin erat memeluk tubuh Helios, tapi ia tak kuasa menyudahi kesedihan berikut tangisnya akibat pemikiran yang ia anggap jahat. Mengenai hubungannya dengan Cikho dan Cinta, tapi justru Chalvin bahkan dirinya yang cela*ka.


__ADS_2