Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
105 : Mengenai Anak


__ADS_3

“Punya anak perempuan kayaknya lucu ya, biar bisa didandani mirip boneka hidup gitu. Di rumah ini beneran belum ada cucu perempuan!” ucap Chole yang kemudian terkikik geli sambil mengawasi putranya yang tengah main dengan anak Chalvin, di kolam renang.


Di kolam renang sana, Tuan Maheza tengah mengawal jalannya kelas renang untuk anak-anak. Karena demi kedua cucunya, Tuan Maheza sampai absen ke kantor. Ibu Aleya juga tak ketinggalan dan turut serta menjadi tim hore. Memang hanya ada satu tukang sorak yaitu ibu Aleya. Namun power dari mantan ibu-ibu, nyatanya lebih kuat dari power saat menjadi ibu-ibu. Suara ibu Aleya sampai membuat keheningan di sana mirip dihiasi demo.


“Ya sudah, Kim dikasih adik. Pasti perempuan,” sergah Laras, tapi di hadapannya, Chole yang tengah meminum jus buah sirsak melalui sedotan, langsung menggeleng.


“Kenapa?” balas Laras.


“Aku sama papahnya Kim, sepakat baru kasih adik kalau Kim sudah lima tahun. Biar Kim puas diuwel-uwel kami, dan dia juga enggak harus jadi dewasa hanya karena dia anak pertama. Intinya dipuas-puasin dulu, biar Kim punya kenangan masa kecil yang indah,” jelas Chole.


Laras langsung tersenyum pasrah. “Beda sama Helios, mas Chalvin malah sudah sibuk ngajakin program lagi.”


Mendengar itu, Chole yang memang terkejut, refleks ngakak. “Kejar target kayaknya kak Chalvin!”


Laras langsung mengangguk-angguk. “Iya, bener. Katanya pengin punya banyak anak.”


“Minimal berapa? Lima?” sergah Chole menebak-nebak dan memang masih cekikikan.

__ADS_1


“Nah bener lagi!” sergah Laras cukup terkejut lantaran target anak sang suami, sudah langsung tertebak. Namun di hadapannya, Chole malah makin terbahak-bahak.


“Padahal penginnya, minimal Gevan tiga tahun dulu, baru dikasih adik,” ucap Laras lagi.


“Sebenarnya dikasih adik sekarang juga enggak apa-apa sih. Kan ada papah mamah yang bakalan bantu. Kalian juga di sini saja, enggak usah pindah apalagi bikin rumah lagi. Andai mau bikin rumah, buat investasi saja, biar rumah ini juga enggak mubazir, enggak ada penghuni,” ucap Chole.


Mendengar itu, Laras berangsur berdeham. “Sebenarnya kemarin mamah juga baru bahas ini, soalnya tiga hari lalu, mas Chalvin habis bahas pengin bikin rumah.”


“Sudah kalian di sini saja, bikin rumahnya buat investasi saja. Kalian kan targetnya punya banyak anak. Kalau kalian jauh dari papah mamah, anak-anak pasti jadi kurang kasih sayang. Rawatan pekerja sama papah mamah beda loh,” ucap Chole, dan Laras yang menjadi lawan bicaranya, berangsur mengangguk-angguk.


“Memangnya kapan? Pengin sekalian pulang kampung kalau gitu!” Laras benar-benar bersemangat.


“Satu bulanan lagi lah, Mbak. Nanti aku juga ikut ke kampung Mbak, ya. Mau dadah-dadah ke Rudy lewat kaca jendela. Anak kades saja sombong! Ih kalau ingat dulu perjuangan menemukan Mbak dan malah dihalang-halangi Rudy, rasanya pengin geprek kepalanya pakai gada!” ucap Chole yang sudah langsung emosi hanya ingat kelakuan Rudy dan tengah ia bahas.


Laras jadi tertawa, tapi ia lega karena pertolongan Chole dan Helios yang berhasil menemukannya, membuatnya bisa bersatu dengan Chalvin. “Kabarnya sih bulan lalu, si Rudy baru keluar dari penjara, Chole.”


Ulah Rudy yang menghalang-halangi Chole dan Helios menemui Laras memang membuat pria itu diganjari hukuman kurungan selama hampir dua tahun.

__ADS_1


“Tapi tuh orang tobat, kan? Atau malah makin menjadi?” Chole benar-benar penasaran, tapi yang ia tatap antusias, justru berangsur menggeleng.


“Enggak tahu ... soalnya pas ketahuan mas Chalvin, aku chatingan sama temen dan yang kami bahas justru si Rudy, mas Chalvin langsung cemburu!” Laras tidak bisa untuk tidak tertawa lantaran ia sudah langsung teringat ekspresi Chalvin kala itu, dan baginya benar-benar lucu.


“Ya Allah kak Chalvin ternyata enggak beda sama papahnya Kim. Urusan cemburu beneran nomor satu!” ujar Chole yang kemudian ngakak lagi.


Hari ini hingga akhir pekan, rencananya Chole sekeluarga memang menginap di kediaman Tuan Maheza. Namun karena para suami sedang bekerja, kebersamaan mereka absen dari para suami. Sementara alasan mereka hanya duduk-duduk santai sambil mengobrol layaknya sekarang, karena itu merupakan permintaan khusus dari Tuan Maheza dan ibu Aleya yang ingin quality time dengan para cucu.


“Chole, anaknya Rere enggak sekalian diajak? Jujur loh, aku kasihan banget ke dia. Dia beneran korban. Apalagi kan sekarang, mas Cikho dan Rere sudah sama-sama hijrah. Mereka sudah jadi lebih baik, dan suami kamu pun sudah ikhlas,” lirih Laras yang kali ini sengaja berbisik-bisik kepada Chole. “Aku beneran enggak berani bahas ini sama yang lain kecuali kamu. Ke mas Chalvin pun aku takut. Tapi kalau ingat Adam ... rasanya bener kasihan. Kalau sama kita pun, ya beneran sama kita, Rere pun enggak berani ikut. Kadang aku mikir, bukannya bermaksud berlebihan, ya. Tapi kelihatan banget kalau mental Adam enggak baik-baik saja. Oke, Rere dan semuanya termasuk kita pasti sudah kasih yang sempurna buat Adam. Masalahnya, salah enggak sih pemikiranku ini, bahwa seorang anak tetap akan merasa ada yang kurang tanpa adanya didikan papah? Mas Cikho tetap enggak mau berurusan dengan Adam padahal jelas, wajah Adam saja mirip banget sama mas Cikho. DNA pun positif.”


Disenggol mengenai nasib Adam dan tak lain anak Cikho dan Rere, hati seorang Chole langsung bersedih. Iya, Cikho dan Rere memang sudah berhijrah. Keduanya sudah jadi manusia lebih baik lagi, tapi Cikho tetap tidak mau berurusan dengan Adam sang putra. Seolah, Cikho juga menyalahkan Adam atas hancu*rnya hubungan Cikho dengan Azzura. Padahal dulu, andai pun awalnya Rere yang mengg*oda, pada kenyataannya Cikho juga menikmati. Cikho bahkan sudah langsung tinggal bersama dengan Rere selama enam bulanan, setelah keduanya menikah diam-diam.


“Astaghfirullah ... aku kecolongan. Iya, Adam. Kok aku enggak kepikiran dia. Adam jadi anak yang enggak diakui oleh papahnya sendiri meski wajah dan gisik Adam mirip banget kak Cikho, dan hasil tes DNA pun positif,” batin Chole mendadak bersedih.


Mungkin Adam memang tidak mengalami kekurangan materi karena mereka juga Rere sekeluarga, memberi Adam fasilitas sempurna. Namun menjadi anak yang tidak pernah tahu siapa papahnya karena kehadirannya tidak lagi diharapkan, tentu ini sudah membuat mental bocah itu tidak baik-baik saja.


“Makasih banyak yah Mbak sudah bahas ini ke aku. Nanti aku urus deh. Kasihan banget si Adam. Pantesan setiap sama mas Ojan, Adam kayak seneng banget. Mungkin Adam mikir, ‘begini rasanya punya papah yang super perhatian!’” ucap Chole. Yang Chole tahu, Ojan dan Rere memang sedang dekat. Namun karena alasan Rere mau menikah lagi itu demi Adam, tentu Rere belum berani memutuskan arah hubungan mereka tanpa persetujuan Adam.

__ADS_1


__ADS_2