Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
51 : Damai, Nyaman


__ADS_3

Butiran keringat mengalir dari kepala Helios membasahi wajah. Kini, di ingatan Helios tengah terputar kejadian awal mula Helios kehilangan ketampanan bahkan bentuk wajahnya. Kala itu ia disekap, dan wajahnya disiram menggunakan minyak panas hingga mata kanannya yang turut tersiram, berakhir dengan kebutaan.


Jerit sakit dari Helios ketika mengalami kekejian tersebut terdengar sangat menakutkan bagi Helios yang juga langsung ketakutan. Kini Helios refleks terpejam erat dan tubuhnya sudah gemetaran hebat. Chole yang jujur saja sudah mulai ketakutan, nekat mendekap kepala Helios menggunakan kedua tangan. Di tengah air matanya yang sibuk berlinang, Chole menempelkan wajah mereka. Chole berusaha menguatkan, merangkul hati sang suami dan sebisa mungkin memberikan Helios dukungan. Jah di lubuk hatinya Chole yakin trauma yang Helios alami terlampau parah. Benar-benar menyakitkan.


Sebenarnya, Helios sudah sangat ingin membunu*h ingatan itu agar ia tak lagi dihantui rasa takut. Namun, sampai saat ini Helios masih belum bisa melakukannya. Bahkan meski keputusannya untuk melupakan apalagi menghapus memori itu dari ingatannya, sudah sampai membuat tubuhnya terguncang mirip orang sa-kau.


“Mas punya aku. Mas beneran bisa mengandalkan aku. Sudah jangan khawatir lagi. Enggak sampai satu minggu lagi, kita beneran akan mulai pengobatan.” Chole terus meyakinkan. Namun, berbeda dari biasanya, kali ini ia tak berisik. Ia berbisik-bisik sambil sesekali mengecu*p wajah Helios. Chole berusaha tegar meski kebersamaan mereka kali ini membuatnya merasakan ketakutan yang tak kunjung usai.


“Kenapa aku serapuh ini? Aku bahkan sudah membuat Chole merasa sangat khawatir. Aku yakin sebenarnya Chole sangat takut, tapi demi aku Chole berusaha bertahan dan sebisa mungkin melawan rasa takutnya,” batin Helios buru-buru memeluk erat Chole. Ia merasa sangat bersyukur, sebab saat ia berada di titik paling ren*dah sekalipun, Chole masih bersamanya. Chole masih dengan sangat sabar menemaninya. “Aku tidak akan pernah melupakan ini, dan hukum aku andai aku sampai melakukannya, ya Allah!” batin Helios lagi seiring pelukannya yang menjadi makin erat.


“Mas mau aku buatkan jus?” tanya Chole yang juga sudah langsung membalas pelukan Helios.


“Boleh,” balas Helios terdengar belum semangat.


“Kita ke dapur?” lanjut Chole dan membuat mereka berakhir di dapur karena Helios memang mau.


Tak ada obrolan dalam kebersamaan mereka, sampai akhirnya jus jadi dan Chole hidangkan pada Helios yang duduk menunggu. Sampai detik ini, Helios tampak melamun. Chole sampai tidak tega melihatnya.


“Minum Mas ...,” ucap Chole lembut. Ia membuatkan jus sayuran hijau dengan tambahan nanas madu yang begitu harum diberi sedikit garam dan tentu juga sedikit es batu agar jauh lebih segar.

__ADS_1


Helios mengangguk-angguk. Ia meraih gelas jusnya kemudian menatap wajah Chole. Sang istri yang sudah kembali memakai jilbab lengkap dengan cadar, mengangguk-angguk. Chole masih memberinya senyuman yang membuat mata lebarnya menjadi pipih.


Bukannya meminum jusnya apalagi Chole juga sudah minum, bibir Helios justru tersangkut di kening Chole. Chole yang sempat diam refleks tersipu sambil tetap meminum jusnya melalui sedotan stainles.


“Bahagiaku semahal ini. Ketika Mas Suami Sayang Helios yang terkenal kejam sekaligus menakutkan, dengan sadar dan tanpa pura-pura kesuru*pan, menyangkutkan bibirnya sembarangan di wajah atau malah di bibirku,” batin Chole yang menjadi menertawakan dirinya sendiri. Karena kebahagiaan mahal yang ia dapatkan dari seorang Helios, harusnya menjadi kebahagiaan murah meriah bagi pasangan normal di luar sana.


“Kamu kasih aku nanas, kalau aku keguguran gimana?” protes Helios yang kemudian merasa aneh pada dirinya sendiri. “Ini kok aku jadi ketularan Chole, ya?” pikirnya dan sampai jadi senyum-senyum sendiri. Harus ia akui, terbiasa bersama Chole meski usia hubungan mereka belum hitungan tahun, kebiasaan Chole juga mulai menular kepadanya.


Chole langsung tertawa. “Memangnya sejak kapan Mas hamil ... ya Alloh suamiku ....”


Namun pada akhirnya, Helios sudah langsung menghabiskan satu gelas jus miliknya. Chole langsung melongo melihatnya dan lagi-lagi ia menertawakan sang suami. Begitupun dengan Helios yang menjadi senyum-senyum sendiri.


Chole yang masih susah payah menahan tawanya berkata, “Hanya buah hati yang belum ada karena memang masih dalam proses, Mas!”


Sempat bengong karena balasan Chole barusan, Helios yang memang syok, menjadi sibuk menahan tawa. Kemudian, ia sengaja memijat-mijat pundak Chole guna memberi istrinya itu semangat. Bukan hanya semangat membuatkannya jus baru dengan rasa berbeda, tetapi juga semangat menjalani proses untuk menghadirkan buah hati mereka.


“Punggungku masih terasa sakit loh Mas. Turun, turun dikit lagi. Nah, sebelah situ!”


“Kok kamu malah aji mumpung minta dipijitin terus?” protes Helios.

__ADS_1


Chole hanya tertawa. “Ibadah, Mas. Ibadah. Buat jalan masuk Surga! Biar makin cepat juga proses buah hatinya!” yakinnya masih tertawa.


Meski cuek, mulut Helios refleks berucap, “Amin.”


Sementara Chole yang mendengarnya langsung buru-buru membingkai wajah sang suami menggunakan kedua tangan. Suasana yang sepi dan sangat mendukung membuat Chole sengaja mengunci bibir suaminya itu dengan ci*uman. Terlebih, mereka memang sedang sama-sama tidak memakai penutup wajah termasuk mulut.


Malamnya, Helios tengah menghubungi Excel. Melalui sambungan telepon suara, pria itu meminta bantuan sang sahabat untuk mengawasi keadaan mafianya selagi Helios pergi dan otomatis tak bisa mengurus sendiri. Chole yang sempat menyimak sambil mendekap tubuh sang suami dari belakang, menjadi melipir lantaran ponselnya berdering. Dering telepon masuk dan itu dari sang mamah. Alasan yang membuat Helios mengizinkannya pergi. Karena meski sedang berbicara sangat serius, telinga Helios seolah sudah langsung menempel ke layar ponsel Chole, hanya karena gawai canggih itu berdering.


Semenjak kedatangan Rayyan siang tadi, Helios memang menjadi sangat protektif. Sekadar dengan dering tanda pesan masuk di ponsel Chole saja, Helios sudah langsung mengeceknya. Padahal pesan tersebut kebanyakan dari operator atau malah ibu Aleya.


“Iya, Mah. Assalamualaikum?” sapa Chole yang meninggalkan balkon kamar Helios berdiri sambil berbincang serius dengan Excel.


“Besok ke Korea Selatannya bareng Mamah Papah juga. Biar suami kamu merasa lebih nyaman dan punya energi positif tersendiri karena dukungan kami,” ucap ibu Aleya dari seberang dan itu membuat Chole kegirangan.


“Masyaaa Allaah, serius, Mah?”


Helios yang sudah ditinggalkan oleh Chole, langsung kaget karena suara istrinya benar-benar berisik.


“Iya, tapi papah paling hanya bisa lima hari, soalnya harus balik urus kerjaan. Paling Mamah yang ditinggal buat nemenin sekaligus bantu kalian. Jadi, nanti Mamah yang urus ini itunya biar kamu bisa fokus urus sekaligus nemenin suami kamu.”

__ADS_1


Mendengar ucapan sang mamah, Chole langsung merasa sangat damai. Apalagi ia yakin, sang suami juga akan langsung tersentuh karena pada kenyataannya, alasan Helios menjadi sosok kejam memang karena Helios kurang kasih sayang. Helios haus perhatian dari orang-orang terdekat, dan sejak pria itu menjadi korb*an Cikho, benar-benar tak lagi Helios rasakan. Karena meski sempat bersama bahkan bucin kepada Cinta, tampaknya Helios belum merasakan indahnya dicintai oleh orang yang membuat pria itu sempat bucin setengah mati.


__ADS_2