Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
67 : Saling Mengerti


__ADS_3

Helios masih ingat pesan Excel, bahwa satu-satunya hal yang wajib ia lakukan agar ia berguna adalah membahagiakan Chole.


“Tiga hari lagi puasamu beres?” ucap Helios.


“Iya, kan yang tadi enggak batal. Mas sih, ustad ....” Chole tak berani melanjutkan tertawanya.


“Ustad apa?” balas Helios dengan suara naik drastis karena ia kembali marah-marah layaknya biasa. Namun, bukannya takut apalagi marah, Chole malah tertawa, seolah istrinya itu menjadi orang paling bahagia di atas kemarahan seorang Helios.


“Oke, sebelum makan, kita doa dulu. Aku yang pimpin doanya,” ucap Helios bersemangat.


Lagi-lagi, Chole tertawa. “Tumben, Mas? Tapi sumpah, kalau gini caranya, aku makin cinta!”


Helios langsung melirik sengit Chole yang ada di sebelah kirinya. “Awas saja kalau masih ada Jongkok di antara kita!”


“Hahaha ... Mas ih!”


“Ya sudah, aku mau hafalan Al quran dari awal sampai khatam!” ucap Helios bersemangat dan langsung melafalkan ta'awuz.


“Mas, kita kan mau makan, bukan sunatan. Ini aku mau buka puasa, nanti makanannya keburu dingin. Masa iya, Mas mau sunat lagi sekalian khataman? Kalau di kampung gitu kan? Biasanya anak cowok kalau sunat sekalian khataman, terus ada hadroh, pengantin sunatnya naik kuda dan diiringi pawai obor malam-malam. Dulu kak Chalvin gitu, sengaja sunat di kampung sekalian khatam, rame banget! Mas Azzam, mas Aidan, Sepri, mas Ojan, sama Akala nemenin. Huh, siangnya ada kuda lumping, mas Ojan kesu*rupan, eh, mendem apa apa itu namanya. Hahahaha ...!” cerita Chole dan bagi Helios berisik.


“Sudah, sudah, kamu makan, biar aku khataman,” ucap Helios.


“Mas, lebih baik Mas juga makan. Khataman nanti malam saja pas mau tidur. Takutnya pas ada ya g dengar, kita dikira sedang apa. Beda negara, beda adat, Mas. Setiap aku bepergian di sini saja, selalu jadi fokus perhatian,” bisik Chole.


“Oke, oke ....” Helios segera meraih piring Chole, dan berdalih akan menyuapi istrinya itu.


Chole yang kaget dengan perubahan drastis sikap Helios, langsung meringis dan perlahan tersipu. Ia begitu bersemangat membuka cadarnya dan langsung membuka mulutnya.


“Aku kangen masakan kamu. Pengin makan tumpeng lagi. Ini kamu masih betah banget di sini?” ucap Helios yang memang menyuapi Chole.


Chole terdiam sejenak kemudian mengunyah makanan di dalam mulutnya.


“Jujur, di sini sudah seperti rumah sendiri, tapi kalau dipikir-pikir, kita memang sudah terlalu lama di sini,” ucap Chole.


“Lagian, di sini pun aku enggak ngerti mereka ngomong apa. Jadi ke depannya, kalau ada klien dari luar negeri, aku wajib ajak kamu karena bahasa Inggris kamu ... lumayan oke,” ucap Helios.

__ADS_1


Mendengar itu, Chole yang langsung tersenyum ceria buru-buru mendekap pundak kanan Helios, hingga ia mengunci sebagian tubuh sang suami.


“Chole ...,” ucap Helios sengaja mendahului Chole.


“Kita bangun bisnis, Mas. Anak buah Mas bisa jadi karyawan. Nanti kita bikin edukasi khusus buat mereka. Pelan-pelan, pasti bisa,” lembut Chole benar-benar manis.


Helios mengangguk-angguk sanggup. “Satu hal yang harus kamu tahu, ... sampai kapan pun, aku enggak bisa berhenti dari duniaku. Karena andai aku berhenti, orang-orang di sekitarku dalam bahaya. Keluarga kita, ... bukan bermaksud membuat setiap waktumu dipenuhi ketakutan bahkan ... ajal. Karena ... jangan nangis dulu. Dengarkan aku baik-baik!” lembut Helios yang sengaja mendekap erat kepala dan punggung Chole.


Helios menjelaskan, kuasanya di mafia-nya, akan membuatnya mendapatkan banyak perlindungan, dan itu jauh lebih menguntungkan Helios daripada Helios keluar, tapi bisa diperb*udak lawan.


“Yang penting kita sama-sama sehat, sama-sama mengerti keadaan kita. Anak-anak, keluarga, semuanya sehat dan aku masih bisa mengontrol semuanya.” Sampai detik ini Helios masih berucap lirih, sedih.


“Beneran enggak ada pilihan yang lebih baik yah, Mas?” rengek Chole masih menangis.


“Enggak. Itu beneran yang terbaik. Kalau kamu enggak percaya, tanya Excel. Dia paling jujur dari semuanya. Baik bu*suknya pasti akan dia katakan.” Helios terdiam sejenak. “Aku tahu ini berat buat kamu, tapi aku percaya, kamu bisa diajak kerja sama.”


“Kalau ada pilihan yang lebih baik,” ucap Chole.


Helios langsung memotong ucapan Chole. “Enggak ada Chole ....”


Mendengar itu, kedamaian seolah ada dalam genggaman seorang Helios. Rasa lega juga turut ia rasa tak lama setelah ia menghela napas pelan sekaligus dalam. Helios mengeratkan dekapannya, meski bibirnya berakhir mengunci bibir sang istri dengan c*iu*man lembut sekaligus i*n*tens.


“Ini kue berarti punya kita. Mmm, tiga puluh tahun pernikahan, kita seperti apa?” ucap Chole tetap meringkuk dalam dekapan Helios.


Sambil menyiapkan makanan di sendok untuk Chole, Helios berkata, “Di usia pernikahan kita yang ke tiga puluh tahun, kita sudah mulai panen cucu.”


“Jangan paks*a anak-anak buat menikah muda ...,” sergah Chole.


“Justru aku berharap anak-anak menikah muda karena aku sudah terbilang telat nikah,” balas Helios sambil menyuapi Chole.


“Kalau Mas nikah muda, berarti enggak sama aku!” semprot Chole.


“Ya makanya kamu jangan pacaran sama pengusaha bedak beras!” omel Helios.


Chole yang tahu bahwa yang Helios maksud itu Rayyan, langsung tertawa.

__ADS_1


“Harusnya dari dulu kamu ngejar aku!” kesal Helios yang mulai makan sendiri.


Chole hanya menggeleng geli. “Mas, jangan menyalahkan Rayyan ya. Sebenarnya dia orangnya baik banget kok. Cuma ya itu, nasibnya dihasut sana sini. Gini-gini aku juga jadi merasa berdosa sudah bohongi dia.”


“Sudah-sudah jangan dibahas,” kesal Helios.


Chole hanya bisa menertawakan Helios seiring ia yang membenarkan dekapannya.


“Beres puasa kita pulang ke Indo? Apa bagaimana?” tanya Helios dan Chole langsung mengangguk-angguk.


Di hari terkahir puasanya, Chole merasa sangat kelelahan. Ia bahkan tak sanggup membereskan koper mereka.


“Mas ...?” Chole mencari suaminya, sementara dari kamar mandi terdengar ada yang jatuh bahkan pecah.


“Bentar! Tangan kananku enggak sengaja nyenggol gelas kumur!” sergah Helios dari dalam kamar mandi.


Mendengar itu, Chole jadi sedih. Ia memutuskan untuk duduk di pinggir tempat tidur mereka. “Sabar yah, Mas. Kamu baru operasi wajah. Kalau kamu langsung operasi mata kanan, takutnya kamu enggak kuat. Pelan-pelan saja. Operasi wajah Mas lancar saja, sudah alhamdullilah,” batin Chole.


“Kenapa?” Helios datang dengan langkah buru-buru.


“Kepalaku pusing banget. Sepertinya tensi darahku rendah banget,” ucap Chole yang sebenarnya belum beres cerita.


“Efek puasa, ya? Jam berapa sih, ini? Sudah, kamu minum saja. Aku pesenin makan, ya?” sergah Helios buru-buru meraih sebotol air mineral dari meja nakas. Ia sudah memak*sa Chole untuk minum, membatalkan puasanya, tapi Chole tidak mau dan memilih tidur sebentar sebelum kembali membereskan koper mereka.


“Ya sudah kalau gitu kamu tidur, urusan koper biar aku yang urus!” sergah Helios langsung membantu Chole berbaring.


“Jangan asal tumpuk loh!” bawel Chole sangat paham jurus beres-beres laki-laki.


“Yang penting masuk semua!” yakin Helios tapi Chole langsung sibuk merengek.


“Ada beberapa yang rawan pecah, hati-hati. Jangan iya, iya tapi nyatanya enggak loh Mas.”


“Sudah kamu tidur ....”


Baru Chole sadari, mereka sudah seperti pasangan pada kebanyakan yang akan bahagia bahkan ribut hanya karena hal sepele.

__ADS_1


__ADS_2