
Helios menatap lama Rayyan dan itu mendadak membuatnya minder. Pria di hadapannya terlalu tampan. Tinggi, putih, wajah mirip artis dan tampaknya Rayyan memang sengaja melakukan perawatan rutin. Rayyan terlihat sangat nyaman dipandang bahkan bagi Helios yang seorang laki-laki. Fatalnya, Helios mendadak membandingkannya dengan penampilannya.
“Mas suami sayang ... sebagus-bagusnya mantan, suami tetap terdepan!” ucap Chole. Setelah sampai mendekap tubuh Helios dari belakang dan itu membuat kedua tangannya nyaris tak mencakup tubuh sang suami, ia sampai melongok dari bawah ketek kiri Helios. Ia sengaja mengangkat tangan kiri Helios. Tentunya, alasan ia muncul di sebelah kiri karena andai ia di sebelah kanan, Helios tidak bisa melihatnya.
“Rayyan, siapa yang kasih tahu alamat rumah ini ke kamu?” tanya Chole.
“Kalau gini caranya, aku beneran wajib operasi!” batin Helios.
“Kok Chole kelihatan baik-baik saja? Matanya memang sembam dan dia kelihatan habis nangis, tapi kok Chole nempel terus gitu ke Helios. Ini beda jauh dengan yang Cinta kabarkan. Apa, hanya akal-akalan Chole saja. Chole sengaja begitu agar aku percaya bahwa hubungannya dan Helios baik-baik saja? Chole sengaja bikin aku yakin, bahwa mereka sudah saling mencintai?” pikir Rayyan.
“Aku beneran harus waras, enggak boleh oleng. Jangan sampai aku malah mengikuti jejak Ojan. Bukannya bisa sama Chole dan punya banyak anak seperti rencana, yang ada aku beneran enggak bisa sama Chole!” batin Helios masih belum bisa percaya diri hanya karena harus berhadapan dengan Rayyan yang terlalu tampan.
“Biar aku yang selesaikan ini. Sudah, kamu masuk ke mobil! Hei, Helios, suruh satpam kamu bukain gerbangnya!” ucap Rayyan yang juga berdalih akan menyelesaikan hubungan Chole dan Helios baik-baik.
“APANYA YANG HARUS DISELESAIKAN KALAU KAMI SAJA SEDANG PROMIL?!” semprot Helios dengan suara lantang.
Rayyan refleks mundur. Tak hanya takut, tapi ia memang nyaris jantungan. Kedua tangannya saja refleks menahan dada.
“Aku bilang kita selesaikan baik-baik, enggak usah teriak-teriak!” ucap Rayyan yang tak bisa segarang Helios.
“Apanya yang diselesaikan. Kenapa tiba-tiba kamu datang bahkan sampai langsung atur-atur kami?! Siapa yang kasih kamu alamat ini?!” Helios masih marah-marah.
Sambil buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku belakang celana levis panjang warna putihnya, Rayyan berkata, “Tunggu Chole. Aku punya bukti kuat yang bisa bikin kamu cepat lepas dari monst*er ini!”
__ADS_1
Tentu Helios sadar, yang dimaksud monst*er itu dirinya. Dan tentu juga ia juga marah. Hanya saja karena yang menyebut begitu terlalu tampan dan bahkan mantan dari Chole, ia jadi makin minder sekaligus sakit hati.
“Rayyan, kamu kalau ngomong dijaga, ya. Gini-gini Mas Helios sayang banget ke aku. Lagian kamu aneh, enggak diundang dan enggak mungkin diantar pulang, kok langsung jadi peru*sak rumah tangga orang?”kesal Chole masih bertahan di bawah ketiak kiri Helios.
Rayyan yang masih belum tahu bahwa dirinya hanya dimanfaatkan oleh Cinta, dengan segera memberikan ponselnya yang layarnya sudah dihiasi ruang obrolan dengan nomor ponsel Cinta.
“Ini cukup jadi urusan aku sama kamu, jangan bawa-bawa Cinta. Justru harusnya kita berterima kasih karena kejujuran Cinta membuat semuanya terarahkan. Enggak semua orang berani bicara seperti Cinta. Dia enggak hanya memperjuangkan cintaku dan Chole, tapi dia juga memperjuangkan cintanya kepada Helios!” ucap Rayyan.
Chole yang ikut membaca ruang obrolan Rayyan dengan Cinta, sudah langsung tidak bisa berkata-kata. “Kak Cinta, ... kok kamu makin enggak jelas? Kamu baik-baik saja, kan? Kok kamu tega banget ke aku? Kok kamu jadi ngebet banget ingin jadi istri mas Helios?” batin Chole yang merasa sangat sedih. Ia sampai menangis meski tangisnya tak sampai bersuara. Hanya saja, air matanya benar-benar sulit untuk ia hentikan.
Helios menghela napas panjang sekaligus dalam, menandakan bahwa pria itu akan berbicara. Chole yakin, sang suami sudah mengambil keputusan.
Sambil menatap sang satpam yang berdiri di depan pintu gerbang, Helios berkata, “Buka gerbangnya!”
“Chole, masuk ke rumah, dan kemasi barang-barang kamu!” tegas Helios sambil melangkah keluar melewati pintu gerbang yang sudah dibukakan oleh sang satpam.
“Hah ...? Aku disuruh kemasi barang-barangku?” batin Chole langsung tersedu-sedu. “Mas Suami sayang, aku maunya sama Mas. Aku mau ikut Mas!” Tanpa peduli situasi, ia yang sampai sesenggukan sengaja lari menyusul Helios.
Helios menatap bingung sekaligus heran sang istri. “Kamu ngapain begitu?!”
“Aku ikut Mas. Ngapain Mas pilih kak Cinta!” kesal Chole.
Helios langsung menghela napas dalam. “S-siapa ...?”
__ADS_1
“Sudah ayo masuk, aku beneran sudah enggak ada hubungan apa pun sama Rayyan maupun Kak Cinta. Coba sekarang aku tanya, kakak macam apa yang mau mengambil suami adiknya? Kakak macam apa yang ngebet ingin jadi istri suami adiknya?” protes Chole. Awalnya, ia hanya mengguncang-guncang lengan kiri Helios. Namun karena ia tak mau berpisah dengan Helios, ia nekat memeluk suaminya itu.
Helios langsung tidak bisa berkata-kata. Bibirnya tak jadi terbuka dan refleks mingkem. Namun ketika ia menoleh ke Rayyan, pria itu tengah bengong menatap heran Chole.
“Sudah kamu masuk rumah. Kemasi pakaian kamu,” ucap Helios.
“Enggak mau, enggak mau, enggak mau pokoknya enggak maaaau!” berisik Chole nyaris guling-guling di lantai.
Doni yang melihat tingkah nyonyanya, jadi makin kasihan. Baru juga diomeli habis-habisan, sekarang malah sampai diusir.
“Enggak mau bagaimana? Kamu yang minta bulan madu ke Korea Selatan, kan? Kalau enggak mau ya minta Mbak buat bantu packing. Sekalian siapkan keperluanku biar enggak bolak-balik. Bawa dua koper saja. Satu besar satu kecil. Kecil buat check-in!” jelas Helios.
“Hah ...?” lirih Chole langsung linglung. “Ini sebenarnya aky nangisin apa? Mas ngerjain aku? Jahat banget ih dari tadi dibikin jumpalitan terus emosiku!” kesal Chole benar-benar manja. Ia sengaja berjinjit dan mendekap tengkuk suaminya menggunakan kedua tangan layaknya biasa.
Seketika, senyum Doni terbit. Doni sampai berkaca-kaca, dan ternyata satpam di sebelahnya juga tak kalah bahagia. Kebahagiaan yang seolah sudah mulai menyelimuti lingkungan kerja mereka semenjak Chole ada si sana.
“Sudah sana masuk ini suasananya makin panas. Mataharinya ikut nga*muk,” ucap Helios kali ini menjadi lembut.
“Sun dulu ...,” rengek Chole yang kemudian mengakhiri dekapannya terhadap tengkuk Helios.
Doni dan satpam di sebelahnya refleks menahan tawa. Terlebih rengekan super manja Chole sudah langsung membuat wajah Helios merah merona.
Lain dengan Doni dan satpam di sebelahnya, kemanjaan Chole kepada Helios justru membuat Rayyan nyaris pingsan. Pandangan Rayyan sudah langsung samar-samar nyaris gelap.
__ADS_1