Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
114 : Benar-benar Tak Percaya!


__ADS_3

Sekitar satu tahun kemudian, Helios memboyong keluarga kecilnya ke pesantren. Ia sengaja menggelar acara syukuran ulang tahun Calista yang pertama, di sana. Namun karena ini menjadi kali pertama mereka kesana lagi dan itu dalam formasi lengkap, kedatangan mereka langsung dikerumuni oleh warga yang memang sangat menyayangi mereka.


“Her, sehat kabeh(Her, sehat semua)?” sapa pria sepuh yang sudah tongkok dan jalan saja sampai menggunakan tongkat.


Helios yang awalnya mengira sudah tidak ada orang untuk ia sapa apalagi temui, buru-buru menghampiri pria bersorban putih itu. “Alhamdullilah, Wa(uwa—om). Sehat kabeh(semua)!” balas Helios yang memang panik. Ia segera menyalami tangan si pria sepuh tersebut dengan takzim menggunakan kedua tangannya. “Harusnya Uwa ora usah repot-repot ring ngeh, mbok tiba. Kalau Uwa pengin ring ngeneh, aku jemput(Harusnya Om enggak usah repot-repot ke sini, takut Om jatuh. Kalau Om ingin ke sini, aku jemput)!” yakin Helios.


Pria sepuh yang kedua matanya sudah sangat sipit itu hanya tertawa. “Sekalian olahraga, ingin lihat rumah baru kamu. Kata orang-orang gedong gede, tingkat mirip hotel!”


Helios langsung tersipu. “Ya sudah, mulai sekarang, Uwa tinggal di sini, ya. Kebetulan, tiga tahun ke depan, aku sekeluarga tinggal di sini.”


“Sudah enggak tinggal di Jakarta lagi?”


“Ya masih, sana-sini, tapi akan agak fokus ke sini. Kim pun akan sekolah di sini.”


“Kim sudah sekolah? Lucu ya, padahal rasanya baru kemarin, tapi sekarang sudah sekolah. Kemarin masih belajar jalan, Uwa masih kuat gendong, kalau sekarang ... enggak yakin bisa, hehehehe.”


Helios ikut tertawa pelan. “Ingat, nanti tinggal di sini. Mulai hari ini, biar kalau mau ngaji atau salat di masjid pesantren, lebih dekat!”


“Masa iya, wong cilik kayak aku urip neng umah gedong hotel kayak umahmu, Her. Engko aku diguyu cecek. Hehehehe!” ucap pria sepuh itu yang intinya tidak percaya, orang kecil sepertinya tinggal di rumah Helios yang gedong besar dan sampai tingkat.


Selain membangun pesantren, Helios juga sampai membangun rumah gedong dan sampai tingkat, persis di bekas rumah orang tuanya. Tentu Helios memiliki alasan kuat kenapa dirinya sampai membangun rumah menyerupai hotel dan sampai menjadi bahan pembahasan hangat orang-orang sekitar. Karena selain ingin membuat keluarganya yang menempati merasa nyaman, rumah tersebut juga menjadi rumah bersama keluarga Tuan Maheza setelah rumah sebelumnya diberikan kepada Cinta.

__ADS_1


“Aku sama mamahnya anak-anak sudah siapin kamar khusus buat Uwa, jadi Uwa jangan mikir macam-macam,” yakin Helios sambil menggandeng si pria sepuh menuju rumahnya.


Bunyi cit-cit dari sepatu mungil bocah perempuan kecil yang bergamis lengkap dengan kerudung, mengusik kebersamaan mereka. Tentu bocah perempuan sangat cantik bermata lebar itu Calista yang langsung tersenyum ceria kepada papahnya. Calista melangkah agak lari meninggalkan teras rumah menghampiri sang papah.


“Anakku!” ucap Helios membagikan kebahagiaannya dengan sangat bangga kepada si Uwa.


Pria sepuh itu sudah langsung tak bisa berkata-kata. Ia tersenyum bahagia dan sampai berlinang air mata. Namun perlahan tapi pasti, tawanya pecah ketika Helios yang mengemban Calista, menuntun bocah berkulit sangat putih itu menyalami tangannya dengan sangat takzim.


“Hahahaha ... ayu banget anak wedonmu, Her. Masya Alloh, bakalan dadi kembang desa. Eh, kembang kota kuwe! Hahaha!” ucap si Uwa yang memuji kecantikan Calista dan baginya sangat cantik.


“Mirip mamahnya banget!” balas Helios.


Si Uwa mengangguk-angguk paham, dan langsung ngakak ketika Helios berbisik, “Bentar lagi punya adik lagi. Soalnya kemarin kebablasan!”


“Enggak apa-apa, enggak apa-apa. Mumpung masih muda, punya banyak anak saja. Apalagi kamu ada rezeki dan bisa mencukupi. Enggak apa-apa, banyak anak lebih bagus daripada banyak istri!” ucapnya.


“Aku sudah cinta mati ke istriku, Wa! Enggak akan ke lain hati, sumpah. Apa lagi, istri sudah menemani aku dari nol. Dia yang merangkul aku saat aku bukan siapa-siapa. Sebelum sama dia, aku beneran enggak pernah bahagia. Aku bahkan enggak tahu, sebenarnya bahagia seperti apa? Malahan karena mamahnya anak-anak juga, aku jadi ingat Alloh lagi.” Helios bercerita sambil berkaca-kaca.


Si Uwa mengangguk-angguk. Ia menggunakan tangannya yang gemetaran karena faktor usia, untuk mengelus punggung Helios. “Rezeki, disyukuri, dicintai dan makin disayangi, ... nanti kamu pasti dikasih anak lagi!” ucapnya dan diakhiri tawa bahagia yang mana Helios yang awaknya hanya malu-malu, juga ikut terbahak. Helios memang sampai menitikkan air mata, tapi ia yakin, air mata itu karena Helios terlalu bahagia.


“Chole, kamu pinter banget ya!” ucap si Uwa ketika akhirnya Chole juga keluar sambil menuntun Kim.

__ADS_1


Chole langsung tersipu dan buru-buru menuntun Kim untuk menyalami si Uwanya Helios, dengan takzim.


“Helios sampai klepek-klepek ke kamu!” mendengar itu, Chole tidak bisa untuk tidak tertawa meski tentu saja, sebagai pemilik pondok yang perkembangannya Alhamdullilah terbilang pesat, Chole menjadi makin pandai menjaga sikapnya. Keadaan yang juga membuat Helios makin klepek-klepek kepada Chole.


“Mana, katanya kebablasan dan jadi ngisi lagi?” ucap Uwa yang lagi-lagi tertawa.


Chole yang hari ini memakai serba pink lengkap dengan cadarnya layaknya Calista meski Calista belum sampai bercadar, langsung tersipu. Ia membiarkan tangan kiri Helios yang tak mengemban Calista, membingkai perutnya.


“Oalah iya, kalau begitu beneran kelihatan. Sudah tiga apa empat bulan, ya?” ucap si Uwa makin antusias dan lagi-lagi tertawa lantaran Helios dan Chole membenarkannya sambil tersenyum malu-malu.


“Kalian benar-benar sudah sangat bahagia,” batin Cinta yang diam-diam mengawasi dari teras pesantren. “Padahal dulu aku berpikir, menikah dengan Helios sama saja bunu*h diri, musibah. Namun aku sungguh salah. Aku bahkan ingin menertawakan diriku sendiri jika keadaannya justru begini.”


“Dulu aku berpikir, Helios tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain selain aku. Hingga aku begitu yakin, aku bisa datang dan pergi sesuka hati. Namun nyatanya, aku memang belum paham apa arti cinta yang sesungguhnya. Karena dulu, aku sama sekali tidak kepikiran buat ajak Helios operasi.”


“Memang belum jodoh. Karena yang namanya jodoh memang seperti mereka, saling melengkapi, bukan hanya datang dan pergi sesuka hati. Chole bahkan bisa membangun rasa percaya diri Helios yang dulu sangat ... parah.”


“Kalau dibilang iri tidaknya, ya ... sebagai manusia normal, aku benar-benar iri. Namun mau bagaimana lagi ...?” batin Cinta mengakhiri obrolan hatinya.


“Ukhti ... ayo kita menikah agar kita juga bisa bahagia seperti mereka!” ucap seorang pria dan sudah langsung membuat Cinta yang baru balik badan, membatu. Di hadapannya, sepasang sepatu ia pergoki berdiri tegap. Yang dengan kata lain, pria itu sungguh menjadikannya lawan bicara.


Ada seorang pria yang mengajaknya menikah? Cinta benar-benar tak percaya!

__ADS_1


__ADS_2