Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
45 : Perka-ra Kejujuran Chole


__ADS_3

“Hapus! Hapus foto itu, Ben!”


Suara seorang pria dan terdengar sangat tegas barusan, Chole kenali sebagai suara Dandi. Suara yang juga langsung membuat Chole melangkah lebih pelan, padahal awalnya, Chole tengah berlari kecil meninggalkan Helios di lorong depan.


Chole dan Helios sedang petak umpet, dan tentu saja, Chole yang memak*sa Helios. Chole yang bersembunyi, sementara Helios Chole tugasi jaga.


“Si Chole lupa apa gimana, kalau aku bisa cari dia cukup dari CCTV yang bahkan sudah terhubung ke ponselku?” batin Helios masih dengan santainya membelakangi kepergian sang istri.


Padahal tanpa sepengetahuan Helios, Chole yang awalnya lari agak berjinjit mirip anak kelinci, justru masuk ke ruang biliar. Chole tengah kepo melongok apa yang terjadi di balkon ruang biliar. Di sana, Dandi hanya berdua dengan Ben. Raut wajah keduanya sama-sama terlihat tidak nyaman. Jelas menegaskan, Dandi dengan keputusannya, sementara Ben juga bertahan dengan keputusan tak sejalan dengan dandi.


Kini, tiba-tiba Dandi nekat mencoba merebut ponsel di tangan kanan Ben. Namun dengan cepat, Ben menepis. Ben sengaja mengangkat tinggi-tinggi ponselnya, tapi seberapa pun tinggi Ben melakukannya, Dandi terus berusaha merebut. Hingga yang ada, ponsel tersebut justru terlempar ke arah Chole.


Ponsel milik Ben terkapar tepat di ujung kedua kaki Chole yang terbungkus kaus kaki warna cokelat muda selaras dengan gamis sekaligus jilbabnya. Layar gawai canggih berwarna hitam itu dalam keadaan menyala dan menampilkan foto Helios saat membopong Shin.


Selain refleks menggunakan kedua matanya untuk membatasi pandangan, Chole juga refleks mundur sambil beberapa kali beristighfar. Penampilan Shin yang nyaris tanpa busana benar-benar syok.


Kenyataan tersebut langsung membuat Dandi bahkan Ben, kalang kabut. Bedanya, ketika Dandi langsung lari memungut ponsel Ben kemudian berlutut di hadapan Chole, tidak dengan Ben yang hanya diam di tempat tak ubahnya bongkahan kayu tua.

__ADS_1


“Maaf, Non. Maaf, ini hanya editan! Maaf, ... ini hanya iseng. Saya hapus! Beneran langsung saya hapus!” sergah Dandi. Setelah tak segan menempelkan keningnya pada lantai di sana, Dandi juga buru-buru mencoba menghapus foto yang dimaksud. Foto telar*ang dan baginya bisa mengantarnya sekeluarg ke neraka.


Melihat kesungguhan Dandi, fokus perhatian Chole langsung tertuju kepada Ben yang terlihat tidak ada usaha untuk memperbaiki keadaan. Padahal jika ia cermati, Ben juga yang telah membuat keadaan kini terjadi.


“Apa yang mau dihapus?” ucap Helios dingin dan memang sudah ada di belakang Chole. Jaraknya dengan sang istri tak kurang dari dua meter. Ketika jarak mereka makin dekat, ia sengaja mengulurkan tangan kirinya kemudian meletakkannya di atas kepala Chole yang seketika ia tuntun untuk mundur. Agar istrinya itu jauh lebih dekat dengannya. Agar Chole tidak dekat dengan laki-laki lain selain drinya.


“Celaka ...!” batin Chole, Dandi, maupun Ben nyaris bersamaan. Ketiganya sudah langsung gelisah terlebih ketika Helios meminta ponsel yang tengah Dandi pegang.


“Berikan itu kepada saya dan kenapa juga kamu sampai berlutut di hadapan istri saya?” tanya Helios dengan suara makin dingin dan terdengar keji bahkan di telinganya sendiri.


Dandi terpejam pasrah kemudian menunduk.


“Saya benar-benar minta maaf, Bos!” sergah Dandi.


“Kenapa kamu harus minta maaf?” sengit Helios.


“Ben yang akan menjelaskannya!” refleks Chole sengaja membuat Ben untuk belajar lebih tanggung jawab lagi.

__ADS_1


“Ya ampun ... ngapain juga Non Chole justru menyebut namaku?!” batin Ben. Ben sudah langsung kebingungan apalagi setelah namanya disebut oleh Helios. Karena ulah Chole juga membuat Helios meminta Ben untuk menjelaskan.


“Kesalahan fatal apa yang telah kamu lakukan?!” ucap Helios masih dengan nada manusiawi meski tatapannya kepada Ben, sudah sangat sengit.


“Bisa diselesaikan dengan baik-baik, kan?” ucap Chole berusaha menengahi selain ia yang sudah telanjur ketakutan sendiri. Kendati demikian, sang suami terus menatap sengit Ben.


Chole berangsur menghela napas dalam. “Baiklah, ... sekarang begini saja. Jujur lebih baik walau kadang kejujuran juga akan terasa menyakitkan. Setidaknya, alasan kejujuran itu menyakitkan karena kita memang salah.” Chole menjadi kerap menghela napas pelan, ia berusaha menjadi penengah di sana. Ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada sedikit pun yang ditutupi.


“Kalaupun kalian merasa takut karena Mas Helios bisa saja menghukum kalian, setidaknya kalian tahu itu risiko dari apa yang kalian lakukan. Mas juga—” Chole mendadak berhenti berucap karena Helios mendadak teriak-teriak memarahinya.


“Kamu melarangku marah sementara apa yang mereka lakukan bisa menghancurkan hubungan kita! Jangan pernah berkata kamu tidak pernah terhasut pada apa pun yang memberatkanku karena kamu akan selalu percaya kepadaku! Bagaimana jika situasi membuatmu tidak begitu lagi? Bagaimana jika kamu lebih percaya pada yang lain dan kamu justru meninggalkanku? Pikir pakai otak! Jangan hanya memakai hati kamu karena jika itu terjadi, di dunia ini tidak perlu ada hukum apalagi polisi!” Helios meledak-ledak.


Chole menunduk dalam dan perlahan meminta maaf hingga yang ada, Helios kembali memarahinya.


“Kenapa malah kamu yang minta maaf?! Kamu bahkan tahu, aku tetap memikirkan mereka meski bagiku kamu segalanya. Aku tetap mempertahankan semua ini karena aku peduli kepada mereka yang harus menjadi tulang punggung keluarga sementara karena itu, aku harus mengorbankan perasaanmu. Aku membawamu ke titik ini, titik di mana kamu harus menghabiskan setiap detikmu dengan banyak kekhawatiran hanya untuk bertahan di sisiku. Hanya untuk bertahan menjadi istriku!” Helios masih meledak-ledak.


“Terus kalau aku enggak boleh minta maaf, aku harus bagaimana?” isak Chole yang kemudian tersedu-sedu. Ia masih menunduk dalam karena selain yakin tampang sang suami akan sangat menyeramkan, ia juga sadar, dirinya memang salah walau memang tak sepenuhnya. Niat baiknya justru membuat Helios marah bahkan kecewa.

__ADS_1


“Niatku beneran baik, aku berusaha jadi penengah untuk kalian karena aku tahu, Mas sangat menyayangi mereka. Seperti yang tadi Mas katakan, Mas bahkan rela mengorbankanku, membuatku ada di titik ini hingga aku menghabiskan setiap detikku dengan banyak kekhawatiran. Mas peduli kepada mereka karena mereka memiliki tanggung jawab besar kepada keluarga mereka. Semua inilah yang membuatku ingin, Mas dan kalian lebih terbuka satu sama lain. Agar kalian jauh lebih menghargai, saling menghargai, dan juga jauh lebih tahu batasan lagi agar kita tidak berakhir dengan penyesalan. Jangan sampai, hanya karena sedikit kekurangan yang harusnya tidak perlu dipermasalahkan, kalian justru menghancurkan kebahagiaan kalian sendiri. Jangan karena ego sesaat, kalian justru menyesal seumur hidup!” ucap Chole.


Helios pikir, dengan sifat Chole yang lebih sering kekanak-kanakan karena tadi saja mereka tengah petak umpet dan itu Chole yang meminta, istrinya itu akan memilih pergi. Istrinya itu akan marah. Namun, itu sungguh tidak terjadi. Karena yang ada, Chole justru memeluknya dengan hangat.


__ADS_2