
Keuletan Chole dalam mengurusnya, menjaganya dengan banyak kecerobohan yang kadang akan membuat wanita itu tertawa bahkan menangis di waktu yang sama, menjadi warna paling terang dalam hidup seorang Helios. Warna yang juga perlahan membuat Helios menjadi orang paling bahagia.
Helios tidak akan pernah lupa ketika Chole yang takut merawat luka, tetap susah payah berusaha. Bukan hanya tangan Chole yang terus gemetaran. Karena selain Chole yang terus berisik, wanita itu juga merawatnya sambil menangis sekaligus tertawa. Bekas operasi wajah Helios sampai terancam lantaran selain jadi kerap mengomel berlebihan, tertawa lepas gara-gara tingkah sang istri juga menjadi ancaman untuk hasil operasinya.
“Ini wajahnya sudah manusiawi,” ucap Chole sembari mengompres wajah sang suami menggunakan air es.
Mendengar itu, tangan kanan Helios dengan cekatan mencubit gemas hidung sang istri.
“M-mass ....”
“Kalau yang sekarang baru kamu sebut manusiawi, yang sebelum ini bagaimana?” lirih Helios meski sebenarnya, ia sampai mendelik-mendelik kepada Chole saking gemasnya.
Chole menahan tawanya. “Seenggaknya sekarang aku sudah enggak takut kayak kemarin-kemarin,” ucapnya. Hampir tiga minggu berlalu, dan hasil operasi wajah Helios sudah terlihat layaknya wajah normal. Kendati demikian, Chole masih melakukan perawatan rutin di wajah Helios.
Sampai detik ini mereka masih di Korea Selatan. Dan hari ini menjadi jadwal kontrol Helios ke rumah sakit.
Helios terdiam, tak lagi menggubris keberisikan apalagi kejailan sang istri. Namun perlahan tapi pasti, kedua tangannya mendekap pinggang Chole. Ia mendekap tubuh Chole hingga menindih tubuhnya yang masih berbaring dengan posisi kepala jauh lebih tinggi.
“Kenapa, Mas? Mas nyesel kenapa baru operasi sekarang? Enggak dari dulu? SALAHMU! RASAKNO!” ucap Chole.
Mendengar sang istri sampai berbicara dengan bahasa Jawa khas daerahnya, Helios tidak bisa untuk tidak tertawa, mesk tentu saja ia harus mengontrol tawa.
“Asli aku enggak nyesel kenapa baru sekarang aku operasi!” yakin Helios serius.
Chole terdiam bingung seiring hatinya yang menjadi mengkhawatirkan sang suami. “Mas baik-baik saja, kan? Aku jadi takut kalau Mas bilang begitu,” lirih Chole, tapi di bawahnya, Helios masih mengangguk-angguk dan gayanya masih serius.
“Aku percaya semuanya akan indah pada waktunya. Seperti hasil operasiku, hasil ini indah di waktunya karena orang yang tepat,” ucap Helios.
Mendengar itu, hati Chole jadi berbunga-bunga. “Mas mau memuji aku?” ucapnya yang langsung ceria. Tak sabar rasanya mendengar mulut pedas sang suami memujinya dengan hal romantis yang tentu saja manusiawi. Namun, seperti biasa, Helios malah menggeleng keji. Wajahnya yang kini sudah tampan dan tak lagi bur*uk rupa, menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
“Memangnya kalau bukan kamu siapa lagi?” kesal Helios.
“Ini mulut beneran enggak bisa enggak pedes ya?” gemas Chole sambil menahan tawanya. Mulut sang suami yang sempat ia bungkam menggunakan handuk kompres, perlahan ia kec*up.
“Bayangkan kalau aku operasi dari dulu ... belum tentu aku ....”
“Aku apa ...?” lembut Chole sengaja menggo*da suaminya.
Menatap gugup sang istri, Helios berkata, “Boleh bisik-bisik enggak sih? Aku malu bilangnya,” ucapnya meski ia sadar, di kamar hotel mereka menginap, hanya ada mereka. Karena meski Tuan Maheza sudah kembali menyusul, tentu Tuan Maheza ada di kamar sebelah dengan ibu Aleya.
Menahan senyum, Chole mengangguk-angguk dan perlahan mendekatkan sebelah telinganya ke bibir sang suami.
“Andai aku operasi dari dulu, tentu aku enggak dapat yang sebaik kamu. Tentu aku enggak punya istri ... yang paket komplit seperti kamu. Karena meski aku marah-marah ke kamu pun, itu juga bagian dari rasa cintaku ke kamu.”
Bukannya membalas, Chole malah tersedu-sedu mendengar itu. Chole ingat, dan memang sangat ingat sekaligus tidak akan pernah lupa, hubungan mereka jauh dari mudah. Malahan andai Chole tidak modal nekat sekaligus mendu*ngukan pendengaran berikut hatinya ketika Helios memarahinya di awal pernikahan mereka, bisa jadi mereka tidak ada. Namun berkat tekad Chole, semuanya sungguh indah pada waktunya. Layaknya apa yang diam-diam Helios yakini.
“Operasi ini beneran enggak telat. Karena operasi yang baru dilakukan juga, aku jadi tahu mana yang tulus dan mana yang hanya mau uang maupun kekuasaanku,” ucap Helios tak lagi berbisik-bisik.
“Ini aku bahagia banget, Mas. Ini aku nangis gini karena aku terlalu bahagia!” rengek Chole.
“Ya sudah jangan nangis,” balas Helios dengan suara yang jauh lebih lembut. “Kalau kamu bahagia, ketawa saja.”
“Aku masih waras, Mas ....”
“Astaghfirullah, Chole ....” Helios memeluk erat Chole. “Mau jalan-jalan?” Sebelum Chole menjawab, Helios sudah lebih dulu bilang, “Mau banget, ya?”
“Iya ....” Dengan cepat Chole tertawa.
Helios langsung geleng-geleng atas perubahan emosi Chole yang begitu drastis. Apalagi jika mengingat lamanya mereka di sana dan juga proses yang harus Chole lewati. “Enggak mudah jadi Chole. Dia melawan rasa takut sekaligus kemanjaannya hanya untuk menjadi istri siaga untukku,” pikir Helios.
__ADS_1
***
“Masih agak bengkak dikit, tapi termasuknya cepat sih. Selamat ya!” ucap Tuan Maheza ketika akhirnya mereka bertemu.
Helios yang sampai melepas kacamata hitamnya hanya tersipu tanpa bisa menjawab.
“Jangan lupa pada susternya yang selalu siaga tanpa kenal waktu dan merawatnya penuh sayang!” rengek Chole masih mendekap erat lengan kiri Helios menggunakan kedua tangannya.
Detik itu juga orang tua Chole tertawa. Sementara Helios yang memang refleks ikut tertawa berusaha mengontrolnya.
Tuan Maheza refleks membingkai wajah sang putri kemudian mengec*up ubun-ubun Chole dalam waktu yang terbilang lama.
“Kelak, aku juga harus begitu. Chole sangat bahagia memiliki orang tua seperti mereka,” pikir Helios diam-diam mencontoh interaksi orang tua Chole, dengan Chole.
“Habis kontrol nanti kita mau makan apa, di mana? Chole, kamu punya referensi?” tanya Tuan Maheza sengaja memimpin langkah sembari menggandeng mesra ibu Aleya.
“Ada Pah, banyak malahan!” balas Chole sambil tersenyum tak berdosa menatap suaminya.
Helios yang akan kembali memakai kacamata hitamnya refleks mengernyit. “Kenapa?” Ia yakin, Chole tidak berpikir ia akan membatasi makan wanitanya itu.
“Mau beli beberapa merchandise BTS,” lirih Chole. Bukan hanya ucapannya yang terdengar takut, tetapi juga tatapannya kepada Helios. “Diizinin yah, Mas. Masa iya Mas cemburu ke bantal apalagi poster.”
“Cemburuku khawatir, Chole. Masa iya kamu ngomong sama bantal. Jingkrak-jingkrak di depan poster?” balas Helios sewot karena memang terbawa suasana. Detik itu juga ia melakukan peregangan wajah meski mertuanya justru kompak tertawa. Keduanya menertawakan kebiasaan Chole yang memang kerap berbicara dengan poster maupun bantal bersablon wajah member BTS.
“Aku mau beli buat Mbak di rumah,” rengek Chole.
“Beli buat Mbak di rumah, tapi kamu ngumpetin juga buat dikoleksi,” balas Helios masih sewot dan lagi-lagi membuat Tuan Maheza maupun ibu Aleya tertawa.
“Nanti pulang ke Indo, jangan langsung pulang dulu. Kalian nginep di rumah papah mamah dulu, ya,” ucap ibu Aleya.
__ADS_1
Chole langsung tersenyum canggung kepada sang suami. Dan setelah Helios yang menatapnya juga mengangguk, Ia langsung tersenyum ceria. Segera Chole membentuk jemari tangan kirinya menjadi bentuk hati, yang mana di sebelahnya, meski tampak gugup, sang suami langsung membalasnya dengan tangan kanan. Terbahak Chole karenanya meski ketika Helios berdeham, ia langsung diam.