
Ibu Aleya ingin mengabarkan, sebenarnya Chalvin kecelakaan dan ia baru saja mendapatkan kabar tersebut dari orang kepercayaannya. Kakak kandung Chole dikabarkan tengah kritis hingga ibu Aleya maupun Tuan Maheza memang lebih baik untuk secepatnya pulang. Namun, ibu Aleya tidak tega mengusik apalagi meru*s*ak kebahagiaan Chole dan Helios yang ia yakini baru saja tercipta. Ia memilih tidak mengabarkannya kepada pasangan di hadapannya.
“Papah sehat, kan?” tanya Helios khawatir.
Dirasa Helios, sesuatu yang fatal telah terjadi hingga mamah mertuanya yang juga memperlakukannya layaknya anak kandung, tampak begitu kalut. Ia yakin, ibu Aleya hanya tengah berusaha tegar di depannya apalagi Chole.
“Mamah bingung bilangnya gimana, soalnya kan Mamah sudah janji ke kalian. Ini papah ternyata harus pulang, harus urus pekerjaan ke Jepang. Dan Mamah harus ikut karena Chalvin enggak bisa datang. Kami beneran harus pulang segera, enggak bisa tunggu sampai malam,” ucap ibu Aleya yang dalam batinnya langsung meminta maaf karena ia terpaksa berbohong.
Chole terdiam merenung. “Sepertinya Kak Chalvin memang masih sangat sibuk. Akhir-akhir ini saja, komunikasi kami hanya lewat pesan singkat. Semoga Kak Chalvin selalu sehat—” Kerinduan Chole kepada Chalvin, membuatnya tak bisa berkata-kata. “Enggak apa-apa, Mah. Enggak apa-apa. Jalan-jalan sama makan malamnya bisa diganti lain kali. Lain kali kita ke sini lagi. Kita operasi mata Mas Helios di sini juga. Nanti Mamah juga ikut lagi, ya? Mamah jangan kapok pergi-pergi sama kami!” lembut Chole yang kali ini sengaja memeluk sang mamah penuh sayang.
Mungkin Chole memang tidak tahu sang mamah diam-diam menangis kemudian langsung menghapus air matanya. Namun Helios yang telanjur curiga segera melakukan cocoklogi.
“Pasti memang ada yang terjadi, tapi bukan karena mamah dan papah bertengkar. Mereka beneran pasangan sangat romantis. Mereka sudah sangat memahami satu sama lain. Atau malah, ... mamah sudah mengetahui kabar terbaru Cinta? Namun harusnya enggak sekalut ini. Enggak ... enggak. Orang seperti mamah Aleya pasti akan sangat kalut kemudian menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dirasanya sebagai bagian dari tanggung jawabnya,” pikir Helios.
“Ya sudah, kalian balik istirahat. Itu papah juga sedang siap-siap,” sergah ibu Aleya yang kemudian membingkai wajah Chole. Putrinya tengah tidak memakai jilbab apalagi cadar.
Setelah menatap lama wajah Chole, ibu Aleya berkata, “Kalian juga sehat-sehat, ya.” Ia mengec*up kening Chole. Yang mana hal yang sama juga ia lakukan kepada Helios.
“Kami antar sampai bandara,” sergah Helios.
Ibu Aleya buru-buru menggeleng. “Enggak usah, kalian istirahat saja.”
__ADS_1
Baik Chole maupun Helios jadi merasa serba salah. Keduanya bertukar tatapan.
“Chole, yang kemarin kasihin,” ucap Helios. Ia dan Chole telah menyiapkan bingkisan spesial untuk ibu Aleya maupun Tuan Maheza.
“Yang kemarin apa?” tanya ibu Aleya bingung.
Chole menghela napas dalam kemudian mengangguk-angguk. “Mamah masuk ke kamar Mamah dulu, nanti kami nyusul. Ini aku belum pakai kerudung—” ia tersenyum masam.
Beberapa saat kemudian, Chole yang sudah memakai jilbab lengkap dengan cadarnya, menggandeng Helios yang menenteng karton bergambar sepasang beruang dalam ukuran besar.
Saat mengunjungi Museum Boneka Teddy Bear di Jeju kemarin, Chole mengajak Helios menyiapkan kado manis untuk Tuan Maheza dan ibu Aleya. Karena hari ini merupakan hari peringatan pernikahan keduanya. Iya, pernikahan kedua karena Tuan Maheza dan ibu Aleya sempat menikah lagi, dan keduanya selalu merayakan hari peringatan pernikahan, tepat di tanggal pernikahan keduanya.
“Selamat yah, Mah ... Pah ... enggak terasa sudah tiga puluh tahun. Ini luar biasa, apalagi di tengah banyak cobaan, kalian masih bisa menyikapi dengan tenang. Kalian tetap menjadi pasangan yang saling menguatkan, melengkapi, benar-benar pasangan manis. Dan tentunya aku enggak akan lupa, kalian tetap menjadi orang tua terhebat! Aku bangga punya orang tua seperti kalian. Semoga, kelak aku bisa jadi orang tua baik seperti kelian dan kalau bisa, ... lebih!” ucap Chole yang merasa sesak luar biasa hanya karena mengucapkannya. Ia mengucapkan isi hatinya, meski kata-kata itu jadi makin sering ia ucapkan semenjak kasus Cikho mencuat. Karena semenjak itu juga, selain mendadak dilanda kebangkrutan, hampir semua orang mencibir Tuan Maheza dan ibu Aleya. Tuan Maheza dianggap tidak becus mendidik anak yang mana semua kekhilafan Cikho dilampiaskan kepada Tuan Maheza maupun ibu Aleya. Alasan yang juga membuat Chole maju menggantikan Cinta karena takut, Cinta yang tetap tidak bisa mantap hanya melihat Helios, justru kembali melakukan kesalahan fatal. Chole tidak mau orang tuanya kembali dikec*am. Apalagi sejauh ini, walau Cikho dan Cinta hanya anak adopsi, keduanya mendapatkan kasih sayang sekaligus fasilitas yang sama.
Sepasang boneka beruang warna cokelat memakai pakaian adat Korea Selatan menjadi isi karton yang Helios bawa. Tuan Maheza dan ibu Aleya langsung tersenyum haru melihatnya, apalagi pakaian adat Korea Selatan yang dipakai sepasang beruangnya, sama persis dengan pakaian yang kemarin mereka pakai.
“Kok bisa mirip banget?” Ibu Aleya berkaca-kaca meraih kedua bonekanya. Ia memberikan boneka beruang bermahkota putih kepada sang suami, sementara ia mendekap boneka beruang laki-lakinya.
“Bisa lah ... suamiku kan lebih hebat dari Doraemon!” ucap Chole buru-buru mendekap erat tubuh Helios dari samping kiri. Karena sampai detik ini, ia masih berdiri di samping kiri Helios agar suaminya itu bisa melihatnya dengan leluasa.
“Mas Suami Sayang, aku lagi muji kamu loh. Senyum dong!” bisik Chole lantaran ekspresi Helios tetap datar.
__ADS_1
Tuan Maheza dan ibu Aleya yang mendengar itu langsung tertawa. Mereka dapati, Helios yang menunduk untuk menatap wajah Chole sambil geleng-geleng.
Sepasang boneka beruang yang sangat mirip mereka, dan dua buah bingkai berisi foto mereka berdua maupun foto mereka berempat saat mengunjungi Museum Teddy Bear di Jeju. Tuan Maheza dan ibu Aleya pikir, hadiah untuk mereka hanya itu dan itu pun sudah sangat luar biasa untuk mereka. Namun di peringatan pernikahan mereka yang ketiga puluh dan kali ini Chole sudah menikah, mereka masih memiliki hadiah lain.
Sepasang cincin berlian.
“Itu buat Mamah sama Papah. Sudah kami pesan sejak awal kami di sini. Ada nama Papah Mamah!” ucap Chole mengabarkannya penuh kebahagiaan.
“Cincinnya mirip sama yang dipakai Teddy Bear Mah, Pah.” Helios angkat suara meski ia hanya menghasilkan suara sangat canggung.
Mendengar itu, ibu Aleya dan Tuan Mahesa yang terkejut, buru-buru memastikan tangan boneka teddy bear-nya. Rasa terkejut yang perlahan menjadi penasaran dan berakhir dengan tawa.
“Ini beneran mirip banget. Ih, beneran makasih ya ....” Ibu Aleya sampai tidak bisa berkata-kata. Ia langsung merangkul tengkuk Chole maupun Helios secara bersamaan. Air matanya memang berlinang, tapi alasan kali ini terjadi karena ia terlalu bahagia. Ia begitu bahagia melihat kekompakan Chole dan Helios yang juga langsung menjadi pelipur lara atas kabar kecelakaan Chalvin.
Ibu Aleya berharap, selain Chalvin segera selamat dari kritis, kelak bahkan secepatnya, Chalvin juga bisa memiliki pasangan yang membuat putranya itu memiliki pernikahan bahagia mengikuti jejak Chole. Amin—sebagai orang tua, hanya itu yang ibu Aleya inginkan. Harapan yang terdengar sederhana tapi akan sangat membahagiakan jika harapan itu terwujud.
“Habis ini ....” Tuan Maheza merasa sulit untuk melanjutkan ucapannya.
“Kenapa, Pah?” Chole penasaran.
“Harusnya Papah sama Mamah bakalan segera punya cucu. Iya, kan?” balas Tuan Maheza.
__ADS_1
Chole yang awalnya salah tingkah, perlahan menjadi tertawa. Namun ia mengangguk optimis hingga sang suami hanya geleng-geleng melihatnya.