
Kak Cinta : Chole, bagaimana? Sini, biar Kakak saja yang jadi istri Helios. Kamu pasti sangat tersiksa. Sudah, jangan dilanjutkan—
Sebenarnya Chole belum selesai membaca pesan WA dari Cinta, tapi sebuah handuk mendarat di kepalanya. Namun, meski memang terkejut dan itu jelas ulah Helios, Chole memilih melanjutkan membaca pesannya.
“Ini maksudnya apa, sih?” pikir Chole sudah langsung tak karuan. Jantungnya berdetak kencang hingga dadanya terasa pegal.
Helios menatap kesal sang istri yang masih bertahan di depan nakas sebelah wanita itu biasa tidur, meski ia sudah membuat kepala Chole tertutup handuk. “Chole, kamu mau bikin aku busung lapar karena kelaparan? Main hape terus!” omelnya masih bertahan berdiri di depan bibir tempat tidur.
Chole masih belum baik-baik saja karena inti pesan yang ia terima dari Cinta memang masih sama. Wanita itu ingin kembali, meminta Chole pergi dan membiarkan Cinta yang menggantikannya.
“Kak Cinta ada masalah dengan Akala apa gimana?” pikir Chole memilih tidak membalas pesan dari Cinta. Ia meletakan ponselnya di nakas kemudian balik badan hingga membuatnya menghadap sekaligus menatap Helios. “Mas Heli ih, dikiranya kepalaku jemuran. Bentar aku gantung di kamar mandi dulu. Bentar lagi pasti diberesin sama Mbak!” gerutunya. Meski jujur, pesan yang Cinta kirimkan membuatnya bertanya-tanya. Apa maksudnya? Bukankah Cinta memang tidak mencintai Helios dan selama ini hanya terpaksa menjalani hubungan dengan pria itu?
“Atau, ... kak Cinta sedang ada di posisi sulit hingga dia berpikir bersama mas Helios jauh lebih bikin dia merasa baik? Akala enggak mau menerima dia lagi, apa bagaimana? Harusnya kak Cinta masih di kampung, kan?” pikir Chole berusaha tak terkecoh. Ia tak mau pihak luar termasuk itu Cinta dan juga pesan yang kakaknya itu kirimkan, sampai meru*sak hubungannya dan Helios yang telah ia bangun susah payah bahkan hingga sekarang.
Bergegas Chole meninggalkan kamar mandi yang memang lebih mewah dari kamar mandinya di rumah. Ia memergoki Helios yang tampak sentimentil mengawasi nuansa pink di sana. Jujur, baginya itu sangat lucu, tapi ia sengaja pura-pura biasa saja ketimbang semua ornamen pink di sana justru dibumihanguskan oleh Helios.
“Nanti undang tukang urut,” ucap Helios sambil terus bersedekap dan melirik sinis Chole.
Chole yang baru sampai di sebelah kiri Helios langsung terbelalak. “Mas mau urut? Luka di punggung sama kaki saja masih belum kering.”
“Buat kamu! Ngapain juga buat aku?! Aku enggak mau kamu berisik minta dipijitin sementara aku saja sudah capek!” balas Helios masih sewot.
Namun, sewotnya Helios kali ini dirasa Chole sebagai ungkapan rasa sayang. “Alaaah, bilang saja ini ibarat kode keras agar aku minta dipijitin ke Mas!” ucapnya gemas sambil mencubit gemas dagu Helios.
“Ih ...?!” Helios langsung salah tingkah, dan ia memilih buru-buru meninggalkan Chole yang memang langsung menyusul.
__ADS_1
Chole agak berlari kemudian mendekap lengan kanan Helios menggunakan kedua tangannya.
“Jangan pernah berdiri di sebelah kananku karena aku tidak bisa melihat semua yang ada di sebelah kananku!” tegas Helios sambil terus melangkah.
Chole menunduk murung, tapi itu hanya berlangsung sesaat. Sebab beberapa detik kemudian, ia menengadah hanya untuk menatap wajah sang suami yang buruk rupa, khususnya mata kanan Helios yang buta. “Kalau begitu, mulai sekarang aku bakalan jadi mata kanan Mas!”
Meski ulah Chole sudah langsung membuat Helios gugup dan jantungnya juga seolah nyaris loncat, Helios masih bertahan berlindung di balik gengsinya. Helios tetap belum berani mengakui rasa cintanya kepada Chole, secara terang-terangan.
“Ini sunnah, Mas!” ucap Chole masih berusaha romantis. Mereka sudah nyaris makan dan duduk bersebelahan di ruang makan.
“Ah!” refleks Helios tak suka karena setiap usaha romantis Chole langsung membuatnya tak karuan, kacau. Jantungnya apalagi, ‘jegad-jegud’ terus.
Pagi ini mereka sarapan steak sapi, kentang panggang dan juga sayuran rebus. Semua itu Chole siapkan khusus sebelum sorenya ia akan masak tumpeng. Chole tengah memotong steak sapinya dan siap menyuapi Helios yang ia katakan sebagai sunnah.
“Kamu lupa ambil nasi?” tanya Helios sambil mengawasi sekitar.
“Ya iya, nasi. Sudah ada lauk sayur gini, kamu enggak sediain nasi?” sewot Helios.
“Ini steak, Mas. Steak. Steak jodohnya kentang sama sayuran, bukan nasi!” jelas Chole benar-benar lembut.
“Jangan lupa, kita ibarat steak dan nasi. Paham ...? Apalagi aku sudah terbiasa makan apa-apa serba pakai nasi!” balas Helios.
“Oke ... oke!” sanggup Chole tak mau meru*sak moment manis dalam kebersamaan mereka. Ia tak meminta bantuan pekerja walau ia bisa saja melakukannya. Ia berdiri meninggalkan tempat duduknya, tapi kemudian menoleh menatap Helios. “Ini enggak mau sekalian aku bikinin sambal? Sambal kan jodohnya nasi.” Jujur, yang kali ini Chole sengaja meledek sang suami.
“Ya sudah, iya. Bener. Bikin sambel!” balas Helios tapi Chole langsung menertawakannya. Terus begitu walau sang istri sudah masuk ke dapur yang memang ada di sebelah ruang makan.
__ADS_1
“Chole, jangan lama-lama. Nanti aku beneran busung lapar!” seru Helios.
“Aku mau sambil chatingan sama laki-laki lain saja biar makin lama!” Chole sengaja membuat suaminya kesal.
“Chole!” Walau ia mendengar Chole cekikikan, Helios yang memang jadi sangat posesif, buru-buru menyusul.
Ternyata Chole membuat sambal baru.
“Bentar lagi, Mas. Bentar. Ini masih diulek. Sambal dadak saja, biar cepat,” ucap Chole tanpa sedikit pun melirik Helios. Ia terlalu fokus dengan sambal di cobeknya.
Mendapati kenyataan tersebut, Helios makin tersentuh. Ia begitu menghargai usaha Chole dalam menjadi istri yang baik untuknya.
“Itu tangannya hati-hati nanti panas kena sambal!” bawel Helios mulai perhatian.
“Sudah biasa, Mas Suami. Gini-gini kan aku sering masak,” balas Chole baru saja beres mengulek.
“Sudah biasa sih, sudah biasa. Masalahnya kamu kan sering elus-elus aku. Nanti aku jadi ikut panas.” Helios masih bawel.
“Yang penting bukan hati Mas yang panas. Aman,” santai Chole siap memanasi minyak yang ia tuang di taflon kecil.
Helios langsung kicep dan sengaja mendekat, mengawasi gerak-gerik Chole lebih dekat sambil bersedekap.
“Mas, aku mau hadiah!” ucap Chole kemudian menatap Helios.
Helios langsung mengernyit. “Memangnya kartu kredit kemarin sudah habis? Buat beli pernak-pernik pink di kamar, ya?”
__ADS_1
“Bukan ih. Itu memang stok punyaku. Aku dikirimi sama papah. Sopir papah yang kirim,” balas Chole segera menyiramkan minyak panasnya ke sambal dadaknya.
“Terus hadiah apa? Minta dipeluk?” balas Helios masih pura-pura sinis, padahal memeluk Chole sudah menjadi kebutuhan pokoknya. Hanya saja, ia terlalu gengsi mengakuinya. Terlebih di setiap ia ingin serius, Chole juga akan langsung menertawakannya layaknya sekarang.