Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
61 : Tetap Bersamaku Hingga Akhir


__ADS_3

“Chole ....”


“Chole ....”


“Chole ....”


Panggilan lirih yang terdengar sangat lemah dari Helios, mengusik tasbih Chole. Buru-buru Chole melongok ke belakang. Ia dapati, tangan kiri sang suami yang perlahan bergerak. Tanpa pikir panjang Chole bergegas di tengah hatinya yang berbunga-bunga. Karena setelah hampir dua hari tak sadarkan diri, akhirnya Helios siuman.


“Braaagggg ....”


“Aduh ....” Chole terban*ting karena menginjak ujung mukenanya.


“Terus, Chole ... banti*ng terus. Terus lukai diri kamu. Pengin sekalian aku ban*ting lagi kamu?!” marah Helios meski suaranya masih sangat lirih.


Chole yang kembali berlinang air mata, perlahan tersenyum geli. Ia berangsur bangkit dan buru-buru meraih tangan kanan Helios yang ia salami dengan sangat takzim. Malahan tanpa mau melepaskan tangan itu, bibirnya juga sibuk mengabsen di sana dengan ci*uman dalam.


Wajah Helios masih bengkak dan sedang parah-parahnya akibat operasi yang dijalani. Chole sangat khawatir bahkan takut karena itu, meski dokter beserta tim yang menangani berdalih, operasi yang Helios jalani sukses.


“Sakit yah, Mas? Sabar, ya ... enggak ada hasil yang mengkhianati usaha kok.” Chole berucap lirih dan perlahan merebahkan kepalanya di dada bidang milik sang suami.


“Enggak ... karena sekarang memang enggak ada yang lebih sakit dari menahan rindu ke kamu. Sudah kuduga ini akan terjadi,” ucap Helios dengan wajah yang sebagiannya masih tertutup kain kasa.


Mendengar itu, Chole langsung tersenyum kikuk. “Ini efek operasi, Mas jadi kera*sukan jin romantis, ya?” Ia berangsur melongok wajah suaminya.


Tanpa menjawab, tangan kanan Helios berangsur merab*a wajah Chole. Ia mencubit hidung Chole dan berakhir membuat wanita itu terkikik.


“Mas tahu, aku khawatir banget. Aku takut ... ini beneran hal yang paling bikin aku takut. Rasanya lebih takut dari ketika awal aku mengenal Mas apalagi kalau aku sampai bikin kesalahan.”


“Tahu. Aku tahu itu. Matamu lebih bengkak dari korban operasi abal-abal?”


Mendengar itu keluar dari mulut Helios yang turut mengalami operasi, Chole refleks ngakak.


“Mas sudah paham banget ya?” ujar Chole, tapi lagi-lagi Helios tak menjawab. Tangan kanan Helios menjadi sibuk mera*ba wajah Chole.


Chole yakin sang suami sangat merindukannya. Karenanya, ia berinisiatif melepas cadarnya.

__ADS_1


“Hidungmu masih satu?” lirih Helios.


Chole langsung menahan tawanya dan perlahan tersipu. “Dikiranya hidungku beranak apalagi membelah diri? Mas ini ....”


“Berapa lama aku tak sadarkan diri?” balas Helios seiring tangan kirinya yang ikut merab*a kemudian membingkai wajah Chole.


“Dua tahun,” singkat Chole.


“Hah? Selama itu? Pantes aku kangen banget ... ini serius, Chole? Eh, kamu jangan bohongi aku yah, Chole!” Helios bingung sendiri. Namun, menahan rindu kepada Chole karena proses operasi yang harus ia jalani rasanya memang sangat lama.


Chole sengaja menahan tawanya, selain ia yang memutuskan diam. Namun yang ada, kedua tangan Helios dengan segera mencubit kedua sisi wajahnya dengan gemas.


“Maksudku dua hari, Mas. Dan luka bekas operasinya sedang sakit-sakitnya, kan? Merah bengkak begitu.” Chole kembali tertawa.


“Biarkan aku melihat wajahmu,” ucap Helios yang memang belum berani bergerak lebih termasuk sekadar menggerakkan wajahnya yang terasa sangat kaku.


“Sekarang Mas bilang ingin lihat wajah aku. Bentar lagi kalau Mas sudah normal, pasti bilang, ‘Chole, wajah kamu menuh-menuhin mata aku!’” ucap Chole.


Tangan kanan Helios dengan sigap mencubit bibir Chole. “Dikiranya sekarang aku enggak normal?”


“Matamu ... lebih parah dari korban operasi ab*al-a*bal!” kesal Helios.


Chole hanya menunduk tak bersemangat. “Semoga ini yang terakhir, dan ke depannya enggak ada lagi keadaan mendebarkan seperti dua hari lalu.” Ia berangsur menatap Helios penuh harap.


“Aku tidak janji karena setelah ini, aku juga ingin operasi mata,” ucap Helios, dan detik itu juga, Chole langsung menatapnya dan tampak sangat terkejut.


“Saat anak kita lahir nanti, setidaknya aku harus melihat kalian dengan kedua mataku,” lanjut Helios, tapi ulahnya itu justru membuat sang istri berlinang air mata.


“Kamu harus lebih sabar. Kamu sendiri yang bilang, hasil enggak pernah mengkhianati usaha,” lanjut Helios dengan suara manusiawi. “Sudah jangan bikin aku ngomong terus. Aku masih belum boleh banyak omong.”


Chole yang sengaja tidak berbicara juga menjadi tersedu-sedu. Ia berangsur mendekap tubuh sang suami kemudian menyandarkan kepalanya di dada Helios.


“Kamu harus tetap bersamaku hingga akhir,” lirih Helios.


Chole yang tidak menjawab berangsur mengangguk-angguk seiring dekapannya kepada Helios yang makin erat.

__ADS_1


Terdengar suara pintu yang dibuka dengan hati-hati.


“Oh iya, aku harus panggil dokter!” ucap Chole sampai lupa mengabarkan keadaan Helios kepada sang dokter.


“Sayang, ayo buka puasa dulu. Biar Mamah yang jaga Helios. Itu Papah sudah beliin kamu makan,” lembut ibu Aleya yang juga berbicara dengan sangat hati-hati.


“Chole, kamu mau bikin malaikat maut makin sibuk? Ngapain kamu sampai puasa?!” omel Helios.


Chole langsung tidak bisa berkata-kata mendelik kepada sang mamah yang detik itu juga ikut memelotot syok kepadanya.


“Namanya juga istri, sayang, cinta, Mas. Kalau sudah begini kan yang bisa aku lakukan hanya berdoa. Bersyukurlah kamu punya istri salehah seperti aku!” ucap Chole yang malah mengomel.


Ibu Aleya menjadi menahan senyumnya, merasa lucu pada interaksi Chole dan Helios. Yang satu keras, yang satu sabar tapi juga ngeyel.


“Kamu yah kalau dibilangin!” kesal Helios kembali mencubit gemas hidung Chole dan kali ini sampai membuat Chole merengek kesakitan.


“Tapi kan memang benar, Mas!” yakin Chole.


“Iya, yang paling solehah!” ujar Helios sewot, tapi Chole malah menertawakannya.


“Ya sudah, Mamah panggil dokter dulu, habis itu kamu baru buka puasa,” ucap ibu Aleya sengaja pamit.


Chole tersenyum melepas kepergian sang mamah. Tentu saja, ia tak lupa untuk berterima kasih.


“Papah belum balik ke Indo?” tanya Helios.


“Belum, tunggu Mas stabil katanya. Orang tuaku ke anak beneran sayang banget, Mas. Meski menantu kan sam-sama anak. Ke depannya pun, aku ingin seperti orang tuaku. Aku ingin, mendidik anak tanpa harus membuat mereka tertekan. Meski kasus kak Cikho juga jadi PR tersendiri buat aku. Namun sejauh ini, aku dan kak Chalvin waras,” ucap Chole.


“Anak-anak kita juga akan waras semua,” ucap Helios yang perlahan berusaha meraih kepala Chole. Setelah kembali menatap wajah termasuk mata Chole yang sangat sembam, ia berangsur menyandarkan kepala Chole ke dadanya.


“Mas ...?” lirih Chole, dan Helios membalasnya dengan berdeham.


“Aku sayang Mas,” ucap Chole yang perlahan mendekap tubuh Helios.


“Aku juga sayang banget ke kamu Chole,” batin Helios. “Aku enggak bisa tanpa kamu,” ucap Helios.

__ADS_1


Chole tersipu dan menjadi sangat nyaman hanya karena masih menyandarkan kepalanya di dada sangat bidang milik Helios.


__ADS_2