
“Aku rasa, ....” Helios sengaja menggantung ucapannya kemudian menatap Chole. Setelah Chole balas menatapnya, ia berkata, “Hal yang sama juga akan aku lakukan jika aku ada di posisinya.”
Mendengar itu, Chole refleks menghela napas kemudian terpejam pasrah.
“Justru kalau kita terus memaksa meski niat kita baik, enggak menutup kemungkinan kalau Cinta justru berpikir sebaliknya,” lanjut Helios lagi. “Yang penting kita sudah kasih semuanya. Diterima enggaknya dan bagaimanapun balasannya, kembali ke dia. Kita beneran cuma bisa doa!” yakin Helios lagi sambil mendekap Chole menggunakan kedua tangannya.
“Kita sudah punya jalan hidup masing-masing. Bukan berarti aku melarang kamu menjaga jarak apalagi enggak peduli lagi ke dia. Sebab ketimbang memaksakan diri untuk hal yang hanya melukaimu, memang ada hal yang lebih penting untuk kamu jaga yaitu memastikan diri kamu sekaligus janin kita baik-baik saja. Jangan lupa, Azzura sudah wanti-wanti, emosi seorang ibu hamil sangat berpengaruh kepada janin yang dikandung, bahkan hingga janin itu menjadi orang dewasa. Dan kamu juga jangan lupa, yang namanya penyesalan itu ada di belakang. Karena yang ada di depan namanya pendaftaran.”
Setelah mendengar masukan panjang lebar dari Helios, akhirnya Chole menyerah. Chole menitipkan semua barang yang dibawa kepada petugas wanita yang jaga.
“Sekalian titip salam yah, Mbak. Salam dari adik perempuannya. Semoga kak Cinta istiqomah!” lembut Chole yang susah payah meredam egonya. Sebab meski keinginannya bertemu Cinta dan memastikan keadaan wanita itu secara langsung masih sangat besar, apa yang suaminya katakan tidak ada yang salah. Meski awalnya mungkin Chole akan berpikir dirinya untuk belajar tidak peduli pada tanggapan Cinta bahkan tanggapan paling menyakitkan sekalipun, pada kenyataannya itu tidak mungkin terlebih Chole tipikal baperan.
Jadi, demi kebaikan bersama termasuk itu kebaikan janin mereka, Chole belajar ikhlas. “Biasanya, rasa ikhlas jauh lebih ampuh dan bisa sampai ke langit asal kita sungguh-sungguh,” pikir Chole. Ia membiarkan tubuhnya dirangkul oleh Helios yang membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
Perjalanan dari lapas Cinta ditahan sekaligus menjalani bimbingan benar-benar sunyi karena semuanya termasuk Chole yang biasanya berisik, benar-benar diam. Namun meski tidak bersuara apalagi bertanya, Chole tahu tujuan mereka. Helios akan membawanya ke tempat di mana pesantren dan rumah orang tua Helios berada.
Di lain sisi, di tempat berbeda, Cinta yang masih memakai cadar, hanya bisa menangis menyaksikan kiriman dari adik perempuannya. Kiriman itu begitu banyak, tahanan lain sampai kepo dan tampak ingin.
“Adik perempuanku ... Chole?” lirih Cinta menerka-nerka. Meski penasaran pada sosok pengirim semua itu, Cinta tidak menyesali keputusannya yang tetap memilih bersembunyi.
“Aku menjadikan ini sebagai hukuman untuk diriku sendiri,” pikir Cinta yang tak segan membagi makanan di setia wadah, kepada rekan-rekannya di sana. Namun untuk pakaian dan seperangkatnya, ia tidak berani membaginya.
“Dari adik, ... ketemu laginya enggak tahu kapan. Maaf banget yah, ibu-ibu, mbaknya ....” Berbeda dari sebelum akhirnya benar-benar menjalani hukuman kurungan, Cinta yang sekarang memang sangat amat sabar, lemah lembut, yang berbicara saja tidak pernah dengan suara tinggi. Kenyataan yang jujur saja, Cinta akui sebagai bagian hikmah dari musibah yang ia alami. Hikmah dari kesalahan fatalnya di masa lalu.
Di tempat berbeda, Chole dan Helios akhirnya sampai. Lokasi bekas pondok milik keluarga Helios terbilang agak di pegunungan. Tanah di sana saja berwarna merah dan lokasi bekas pondok maupun rumah orang tua Helios ada di dataran tinggi.
Kanan kiri masih dihiasi banyak kebun singkong, kacang tanah, cabai, maupun sayur dan buah lainnya, selain beberapa rumah gedong yang sudah dibangun. Di samping rumah warga juga tampak ada kolam ikan terbuat dari terpal. Hingga suasana di sana benar-benar asri dan memang cocok untuk kembali dibangun pondok pesantren.
__ADS_1
Helios bilang, dulu belum banyak rumah layaknya sekarang. Kendaraan layaknya di perkotaan juga belum seheboh sekarang. Termasuk juga fasilitas jalan yang sudah sangat maju. Dulu, jalan di sana belum aspal halus layaknya sekarang.
Sebelum mendekati bekas lokasi keberadaan pondok, Helios sengaja membaca doa untuk kebaikan bersama khususnya janin mereka. Helios mengelus-elus perut Chole, terlebih biar bagaimanapun, Helios yakin di sana agak angker. Banyak korban yang mati karena terpa*nggang, termasuk orang tua dan adik-adik Helios.
”Ya nanti dibacakan doa-doa saja, Mas. Buat semacam doa bersama. Nanti aku kabarin papah mamah deh. Minta bantuan warga, pasti mereka juga mau, asal kita baik-baik ke mereka,” ucap Chole.
“Di Jakarta papah mamah juga sibuk. Kabarin boleh, tapi mereka enggak wajib di sini. Biar semuanya sama-sama terurus,” yakin Helios.
“Sesibuk-sibuknya papah mamah, mereka tetap jadikan kepentingan anak sebagai prioritas, sih.” Chole tersenyum tak berdosa. “Sekalian suruh ketemuan sama keluarganya istrinya kak Chalvin.”
Helios menghela napas dalam. Tanpa membahas usulan rencana Chole, ia yang masih menggandeng Chole, menuntunnya untuk masuk lebih dekat. Bersamaan dengan itu, memori di ingatannya terputar menampilkan kejadian masa lalu bagaimana keadaan di sana.
Di ingatan Helios, nyaris semua santri tersenyum bahagia. Termasuk di sesi pencak silat dan latihan beladiri, mereka dan Helios yang ada di sana tak segan mewarnainya dengan obrolan bertabur senyuman sekaligus canda tawa ketika mereka selesai latihan atau memang istirahat.
__ADS_1
“Nanti mulai dibangunnya kalau kebunnya sudah dipanen,” ucap Helios karena di pekarangan bekas pesantrennya memang dikelilingi kebun singkong, kacang tanah, dan kebun lainnya. Semuanya tampak subur, termasuk pepohonan besar di sana. Ada pohon nangka sayur atau yang warga sekitar sebut tewel. Pohon tersebut menjulang tinggi sekaligus kokoh dan masih berbuah banyak. Dulu, para santri tidak pernah kehabisan sayuran karena di pekarangan pesantren memang dihiasi banyak tanaman sayuran termasuk pohon nangka sayur yang buahnya menjadi favorit di sana jika sudah matang.
Beberapa warga yang awalnya hanya melihat-lihat dari kejauhan berangsur mendekat. Mereka menatap saksama, mengawasi Helios, Chole, maupun Hannan, dari ujung kepada hingga ujung kaki. Namun, tangis mereka pecah setelah mereka mengenali Helios. Mereka yang usianya sudah renta, buru-buru memeluk erat Helios dan membiarkan air mata yang mengalir deras, mengurai cerita sekaligus kisah kasih dari masa lalu.