
Keluarga pak Kalandra datang dalam formasi lengkap. Terlebih biar bagaimanapun, Tuan Maheza sekeluarga sudah menjadi bagian dari Nina, istri Akala.
“Pi, tadi Papi bilang pintu rumah ada di atap. Asli aku mikirnya bakalan diangkut dulu pakai skuter!” ucap Ojan.
“Helikopter, Pah!” tegur istri Ojan dan sampai detik ini akan Author rahasiakan.
“Ya makanya, Beb. Sempat mikir, papiku kaya banget, tapi kok ke aku kerikil!” balas Ojan.
“Heh anak tak diakui, siapa yang kerikil?” semprot Helios, tapi Ojan hanya menertawakannya.
“Terus, adik kesayanganku apa kabar, Pi, Mi? Si Kim? Bilangin, kakaknya yang paling hansom, si Kim Oh Jan, misyu!” yakin Ojan yang kemudian berbisik-bisik kepada sang istri. “Beb, ... bahasa Inggrisnya rindu, misyu, kan? Soalnya dari semua bahasa Inggris, yang aku hafal sekaligus paham itu i lope yu, yang artinya aku cinta kamu. Saking cintanya aku ke kamu loh, Beb. Terbukti, baru nikah empat tahun, kita sudah punya dua anak yang hansomnya kayak aku dan biutinya mirip kamu!” lanjut Ojan.
Azzam yang mendengar itu refleks mual. “Beb, kamu enggak gumoh punya suami macam Ojan? Kalau aku sih kayaknya sudah langsung almarhum!”
“Huahahaha ... orang sirik emang bernama Ajam. Sudah, biarin saja, Beb!” tepis Ojan dengan bangganya.
Yang di sana sudah langsung sibuk menahan tawa. Lain dengan kedua anak perempuan Akala dan Nina yang memang kembar dan sudah langsung minta gendong kepada Tuan Maheza maupun ibu Aleya.
“Kalian kangen sama Opa Oma? Makanya nginep di sininya yang lama, ya? Bilang ke mamah papah, nginep di sini semingguuuuu aja,” ucap ibu Aleya sambil menci*um sang putri penuh sayang.
Chole yang berangsur memeluk Nina, dengan gembira berkata, “Akhirnya aku juga punya ‘boneka hidup’ juga. Beneran enggak sabar buat dandan-dandaninnya, Nin!”
“Pokoknya seru banget, Mbak. Bisa sekalian kompakan sama kita!” ucap Nina tak kalah gembira.
Kemudian, yang mencuri perhatian mereka di sana, tentu interaksi Akala dan Helios. Keduanya yang dulunya lawan dan Helios tidak pernah bisa menerima Akala, kini justru tampak akrab.
“Ayo istirahat ke kamar. Mau mandi, mau tidur. Persiapan salat subuh. Minum, makan, langsung ke dapur, ya!” sergah Chole sambil menghampiri mbak Arimbi kemudian memeluknya.
“Anggap rumah sendiri pokoknya. Soalnya ini rumah papi mami aku!” ucap Ojan bersemangat. “Pi, aku gagal bawa sapinya, jadi aku cuma bawa foto sapi!”
“Buat apa bawa-bawa foto sapi? Lihat kamu saja sudah mewakili!” semprot Helios yang kemudian membingkai gemas wajah Ojan menggunakan kedua tangannya. Namun karena ulahnya itu juga, ia jadi sibuk tertawa.
__ADS_1
“Hensom yah, Pi?” ucap Ojan haus pujian.
“Binar sayang, sudah gede!” ucap Chole sambil membingkai wajah dari anak sambung Sepri. Tak lupa, ia mengelus-elus perut buncit Suci yang tampak sangat mungil.
“Nih, kalau sudah brojol, yang dikangenin ya pas mungil-mungil gini! Gemes banget Mbak!” ucap Chole sambil terus membingkai perut Suci menggunakan kedua tangannya.
Jika melihat penampilan Suci yang sekarang dengan Suci sebelum dinikahi Sepri, tentu sangat berbeda. Karena meski Sepri sangat cuek kepada penampilannya sendiri, kepada istri dan anak bahkan itu anak sambung, Sepri sangat mengurus. Bukan hanya sandang pakaian yang benar-benar berkualitas bagus. Karena selain istri dan anak-anak Sepri sangat terawat, perhiasan yang menyertai penampilan Suci berikut Binar juga membuktikan betapa Sepri sangat memuliakan keduanya.
“Pi, Pi, lihat. Mami kode keras pengin hamil lagi!” bisik Ojan yang masih saja sangat energik.
Helios yang memang masih bersebelahan dengan Ojan, dan mereka sama-sama mengawasi Chole, berkata, “Otak aku enggak segrek kamu!”
“Hehehe ... Pi, jadi orang gresek awet muda loh Pi. Malaikat maut takut dekat-dekat sama kita!” yakin Ojan.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Helios hanya menatap datar Ojan.
“Pi, jangan sesinis itu dong. Soalnya meski kamu sinis gitu, kamu tetap ganteng. Makin iri dong aku sama Papi. Bisa-bisanya, ganteng kok enggak bagi-bagi!” protes Ojan.
“Terus, aku slip di mana, Pih?” sergah Ojan.
“Kamu sleep di depan pos satpam, tapi anak istrimu di kamar tamu.” Helios masih menjawab dengan sabar.
“Ya jangan gitu dong Pih. Itu namanya LDR!” rengek Ojan.
Kedatangan keluarga dari kampung, membuat rumah Helios makin hangat oleh kebersamaan. Terlebih berbeda dengan kelahiran Kim, kelahiran Calista, tak sampai ada acara muyen karena keadaan yang berbeda. Sebab acara setelah kelahiran di desa dan kota, benar-benar berbeda. Andai pun ada yang datang, ya hanya rekan atau tetangga dekat, dan itu pun hanya sebentar. Lain ketika saat muyen Kim dan sampai ada yang sampai subuh.
“Kak Cinta enggak datang?” lirih Chole kepada Azzura yang memang datang bersama rombongan. Karena kebetulan, Azzura dan Excel sedang di kampung dan sengaja berangkat sekalian dengan rombongan.
“Sudah diajak. Tanya ke semuanya. Sekelas Ojan sampai kesal capek. Ya sudah, mungkin memang harus begini. Mungkin masih ada rasa-rasa ... kamu pasti ngerti tanpa harus dijelaskan,” ucap Azzura penuh pengertian.
Chole yang menyimak, berangsur mengangguk-angguk paham. “Ya sudah ... langsung istirahat, minum apa makan. Ambil sendiri. Ingat, jangan langsung pulang ke rumah meski kamu punya rumah di Jakarta. Pokoknya wajib nginep lama di sini. Kumpul-kumpul, jarang banget kan bisa begini.” Chole sengaja wanti-wanti kepada Azzura.
__ADS_1
Azzura yang diwanti-wanti refleks tersenyum.
Semuanya berangsur bubar, masuk ke kamar masing-masing. Sebagian di lantai bawah, tapi ada juga yang ke lantai atas selaku keberadaan kamar Chole dan Helios. Namun khusus Ojan dan keluarga kecilnya, Chole dan Helios sudah menyiapkan kamar khusus di gazebo.
“Pi, Mi, aylopyu pul! Dikasih kamar di atas gini dan ke sininya naik lift!” girang Ojan.
“Lift kamu bisa rusa*k gara-gara tiap saat dipake bolak-balik sama anak angkat kamu, Hel!” komentar Azzam yang kebetulan dijatah kamar di lantai atas.
Mendengar itu, Helios dan Chole hanya bisa tertawa.
“Nanti kalau sudah bosan juga diam, Mas,” yakin Chole pada Azzam.
“Bayi tua macam Ojan, mana ada bosannya! Mustahil!” yakin Azzam lagi dan lagi-lagi membuat Chole dan Helios tertawa.
“Jam, kolam renangnya beneran gedueeee! Ada perosotan yang mirip di Dufan, Jam!” ujar Ojan yang sudah kembali muncul dari lift.
“Kayak pernah ke Dufan kamu, singgung-singgung Dufan!” sinis Azzam. Sundari sang istri memilih pergi lantaran tak tahan menahan tawa.
“Di tivi lah Jam!” ucap Ojan yang kemudian mengajak semuanya untuk renang rame-rame apalagi ia sudan sampai membawa pelampung untuknya yang tak bisa renang.
Di balik kebahagian di sana, absennya Cinta yang masih membatasi diri, menjadi PR besar untuk Chole apalagi ibu Aleya.
“Aku enggak mau gara-gara Cinta, ASI kamu terganggu dan Lista jadi yang paling dirugikan. Fokus bahagia saja karena bahagianya kamu, kamu yang buat.” Helios sengaja wanti-wanti kepada sang istri.
Chole yang mendapat itu sudah langsung mengangguk-angguk. Chole memilih memangku Calista yang terbangun dan mungkin karena keramaian di luar sana. Apalagi suara Ojan mirip dikeraskan menggunakan sound sistem. Dan setiap Calista mendengar suara Ojan, bocah perempuan yang memiliki kulit sangat putih itu akan mencari-cari.
“Dek, kamu paham kalau itu suara kak Kim Oh Jan, ya?” lembut Helios sengaja mengajak sang putri berbicara.
Chole yang langsung menahan tawanya berkata, “Mungkin karena sudah terbiasa teleponan yah, Pah. Ojan kan kalau teleponan teriak-teriak!”
“Aku sampai berpikir, itu di tenggorokan Ojan emang ada toaknya!” balas Helios dan justru membuat sang istri makin ngakak.
__ADS_1