Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
109 : Bahagia Banget!


__ADS_3

“Bangun ... Sayang, ayo bangun!”


“Mager, Pah.”


“Ih, kamu bikin aku gagal romantis. Lihat, Kim saja sudah bantu bawa balon angka.”


“Tapi angkanya tujuh belas tahun, kan? Aku belum siap menerima kenyataan kalau usiaku sudah makin berumur, Pah.” Chole tidak bisa untuk tidak tertawa meski keadaannya memang masih terkantuk-kantuk. Ia membiarkan Helios membangunkannya.


“Enggak apa-apa umur makin bertambah, tetap cantik bahkan makin cantik.” Bibir Helios sedang agak oleng, hingga bisa menghasilkan kejujuran, mengalahkan rasa gengsi yang awalnya segede gaban. Walau pada akhirnya, ia juga sudah langsung ditertawakan oleh Chole.


Setelah mendekap erat Helios kemudian mengabsen wajah itu dengan kecu*pan, Chole juga melakukan hal serupa kepada Kim. Meski ketika ia berniat memangku Kim, bocah itu menolaknya.


“Kenapa?” lembut Chole sembari membingkai gemas wajah Kim yang meski baru bangun tidur, tetap terlihat tampan. Tampan, tenang, tapi tatapannya selalu hangat mirip tatapan Chole.


“Karena di perut Mamah ada dedeknya. Kata Papah, sekarang aku enggak boleh minta gendong atau emban dulu ke Mamah. Pangku pun enggak boleh, kasihan Mamah sama dedek aku,” jujur Kim dan terdengar sangat manis di telinga kedua orang tuanya.


“Kok bisa semanis ini sih si Mas Kim!” Chole sampai menitikkan air mata. Ia terlalu terharu terhadap keadaan anaknya yang benar-benar menjadi bibit unggul. “Terus manis begini, ya.”


“Cara kamu begitu bikin aku pengin nyiptain produk yang manis-manis,” ucap Helios yang lagi-lagi menemukan inspirasi untuk bisnis, di setiap kebersamaan mereka, bahkan itu kebersamaan yang harusnya membuat Helios larut menjadi penenang di sana.


“S-sayang, ih ... kamu ya ... dikit-dikit jadi bisnis!” lembut Chole sembari menatap sang suami. Sebelah tangannya meraih kemudian menggenggam tangan kanan Helios yang sebenarnya masih merangkul punggungnya dari samping.


“Nanti aku bikin menu romantis buat di restoran. Nanti kamu yang kasih inspirasi. Apa perlu, aku bikin menu ‘suami romantis’?” balas Helios yang kemudian diingatkan untuk membuat Chole meniup lilin di kue ulang tahun yang sungguh dihiasi lilin angka tujuh belas tahun. Padahal kita sama-sama tahu, usia Chole sudah lebih dari itu. Namun karena keputusan itu juga, Chole langsung tersenyum ceria tak lama setelah wanita itu melihat lilinnya.


“Mas ayo bantu tiup. Papah juga!” Chole yang diapit oleh kedua laki-laki spesial dalam hidupnya, makin bersemangat merayakan hari jadinya. “Sekarang sudah berempat meski yang di perut baru bisa senam, ya!”


“Yang di perut bukannya lagi senam. Karena sebenarnya, dia juga lagi usaha buat bisa tiup lilin juga,” yakin Helios sembari mengelus gemas perut Chole.

__ADS_1


Chole langsung tertawa, meski ketika Kim mengecup pipinya, kemudian berganti mengecup perutnya yang buncit dan sudah besar, tawanya menjadi reda karena ia langsung tersipu.


“Hadiah buat Mamah mana, Mas?” tanya Helios yang kemudian bersemangat menatap sang putra.


Buru-buru Kim menuju lorong keluar dari kamar orang tuanya. Tak disangka, Kim kembali sambil menarik standee Jung Kook.


“Wah ... Masya Aaalllllaaaah!” Chole yang gampang tersentuh, sampai menangis sesenggukan.


Apalagi ketika Helios yang pamit pergi, kembali dengan buket mawar pink berukuran sangat besar.


“Masih ada lagi loh, Mah. Nangisnya ditunda dulu soalnya Papah punya banyak banget hadiah buat Mamah!” yakin Kim.


Mendengar itu, Chole sudah langsung kegirangan. Chole bahkan menepi dari kesedihannya. Namun lain dengan Chole, Helios justru melotot syok.


“Mas kok dibilangin ke Mamah? Kan sudah sepakat ini rahasia,” lembut Helios. Karena kepada Kim, berbicara saja ia selalu menggunakan nada lirih.


Mendengar itu, Chole sudah sibuk menahan tawanya. Lain dengan Helios yang langsung mingkem kemudian mengangguk-angguk.


“Mana, hadiahnya apa lagi? Katanya banyak?” lanjut Chole sengaja menagih.


“Itu di luar. Ada tas, sepatu, sama ... mobil!” yakin Kim.


Helios yang pasrah berangsur menghampiri sang istri kemudian memeluknya dengan hati-hati. “Beneran enggak ada rahasia lagi. Sudah enggak jadi kejutan!” pasrahnya.


Chole yang langsung girang, juga berangsur memeluk Helios. “Makasih banyak yah, Pah. Sekarang aku tahu kenapa mas Kim makin lama makin manis. Ya karena papahnya juga manis.”


“Padahal aku belum jadi pengusaha gulali, yah, Mah!” refleks Helios sambil menahan tawanya.

__ADS_1


Chole langsung ngakak dan perlahan mendekap kepala Kim lantaran bocah itu berangsur mendekap pinggang Chole dan Helios, secara bersamaan.


“Oh iya, ... aku juga punya hadiah spesial untuk kalian!” yakin Chole yang kemudian berangsur mengakhiri pelukan mereka. Chole melipir ke sebelah. Ke meja biasa ia menaruh tas kerja. Ia mengeluarkan amplop cokelat dari sana, kemudian memberikannya kepada Helios.


“Rontgen?” tebak Helios jadi was-was.


Chole yang memakai piyama pink salem polos lengan pendek, tersenyum sambil mengelus-elus perutnya menggunakan kedua tangan. Senyum yang menjadi tersipu setelah akhirnya Helios mengeluarkan isi amplopnya.


“Ini beneran, aku beneran bakalan punya anak perempuan? Ya Allah, ... masya Allah banget!” heboh Helios yang langsung sibuk mengucapkan terima kasih sambil memeluk erat Chole. Tak lupa, ia juga mengabarkan kepada Kim, bahwa adik dari bocah itu perempuan!


“Wah, asyiiik!” Kim heboh, jingkrak-jingkrak saking senangnya akan memiliki adik perempuan. Terlebih sejak Chalvin dan Laras memiliki anak perempuan, Kim juga jadi ingin punya adik perempuan.


“Kok kamu enggak ajak-ajak pas USG kemarin?” protes Helios.


“Namanya juga buat kejutan, Mas!” balas Chole tetap memeluk Helios.


Usia kehamilan kedua Chole memang sudah memasuki bulan ke tujuh. Dan Helios berpikir, mereka akan menjalani USG besok karena rencananya, setelah memberikan semua hadiah ulang tahun yang ia siapkan secara khusus untuk Chole, ia juga akan mengajak istrinya USG. Bukan semata untuk mengetahui jenis kela*min. Namun juga untuk memastikan kesehatan janin.


“Tapi besok kita USG lagi, ya. Pengin lihat langsung!” mohon Helios sambil menatap sang istri tanpa sepenuhnya mengakhiri dekapan mereka.


“Aku juga mau. Aku mau lihat dedekku!” rengek Kim benar-benar semangat dan kembali loncat-loncat.


Detik itu juga Chole dan Helios langsung tersenyum gemas kepada Kim. Segera Helios mengemban Kim dan siap mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui bidik kamera ponsel maupun kamera yang hasil fotonya sudah langsung dicetak otomatis.


“Satu, dua, tig—” Ketiganya kompak tersenyum ke arah kamera dan mengukir kenangan indah tak terlupakan di hari ulang tahun Chole, layaknya ulang tahun Chole selama lima tahun terakhir.


“Mas, aku bahagia banget!” manja Chole sambil memeluk Helios yang masih memeluknya.

__ADS_1


“Lebih-lebih aku. Bentar lagi bakalan ngerasain punya anak perempuan juga! Makasih banyak, ya!” balas Helios yang kemudian membenamkan gemas wajahnya di kepala Chole.


__ADS_2