
Chole menyeruput jus jambu biji merahnya melalui sedotan sambil sesekali memperhatikan sang suami. Di sebelahnya, Helios tengah sibuk berbincang lirih dan terdengar serius.
“Biasa puasa dan sekarang makan minum bebas, rasanya masih aneh,” lirihnya yang kemudian baru menyadari, terhitung dari kemarin, ia begitu rakus meminum jus jambu biji merah. Kini saja, ia sampai tidak menyadari telah menghabiskan satu gelas besar jus jambu. Helios yang sedang fokus pada obrolan di ponsel sampai merebut gelas plastik berikut sedotannya lantaran suara Chole berusaha menyeruput jus yang tinggal es batu, sangat berisik sekaligus mengganggu.
“Berikan yang baru biar istriku tidak berisik!” omel Helios pada Dandi yang langsung “iya-iya” ketakutan.
Menyaksikan itu, Chole langsung kegirangan lantaran sang suami sudah mengutus Ben dan Dandi untuk menyetok banyak jus jambu biji.
“Memangnya kapan kalian beli? Pas di bandara? Masih ada berapa?” tanya Chole berbisik-bisik di belakang punggung Helios.
Helios yang cemburu karena baginya cara Chole berinteraksi dengan Dandi dan Ben terlalu manis, buru-buru menggunakan tangan kirinya yang tak memegang ponsel, untuk menangkap kepala Chole kemudian meletakan wanita itu di depan dadanya.
Mereka memang baru keluar dari bandara setelah menjalani penerbangan dari Bandar Udara Internasional Incheon–Seoul. Rencananya, Helios akan langsung mengantar Chole ke rumah Tuan Maheza sementara ia akan langsung mengurus pekerjaan. Ia akan mengawal jalannya pelelangan yang lagi-lagi harus ia pimpin sendiri lantaran selain keadaan Syam yang tak mungkin lagi melakukannya, Excel juga sudah tidak mau ikut campur.
“Mas?” panggil Chole lembut lantaran meski masih sering marah-marah, Helios memperlakukannya dengan manis. Suaminya itu memperlakukannya layaknya tengah menghadapi bayi dan Chole sangat bahagia karenanya. Chole menikmati setiap perlakuan spesial dari suaminya termasuk ketika Helios sedang marah-marah karena cemburu. Iya, Helios pencemburu parah.
“Mmm?” Helios hanya bergumam sambil fokus menatap ponselnya meski ia masih melangkah buru-buru dan juga menuntun Chole yang ia dekap erat pinggangnya menggunakan tangan kiri.
“Mas sudah beres urus kesibukan Mas belum, aku mau ngobrol?” tanya Chole sambil mengawasi sisa jus jambu merahnya di gelas dan lagi-lagi nyaris habis.
__ADS_1
Tampak Ben yang buru-buru menuju mobil mereka sementara Dandi masih menarik kedua koper besar. Dandi segera menyusun koper maupun ransel miliknya di bagasi. Termasuk ransel Ben yang segera ia ambil alih untuk disusun juga di bagasi.
“Dan, dusnya jangan lupa. Itu buat Chalvin dan Syam biar mereka cepat pulih.” Helios sengaja berseru. Ia memang membelikan beberapa ram*uan sekaligus suple*men khusus untuk menambah daya tahan tubuh.
“Siap, Bos!” sergah Dandi yang segera mengambil dua dus terbilang besar dari troli.
Chole menatap heran sang suami yang menyebut nama Chalvin, padahal yang ia tahu, Chalvin baik-baik saja dan Helios pun tidak cerita apa-apa. Kemarin malam Helios hanya menceritakan akan mengurus Syam agar secepatnya mendapat kaki palsu.
“Masuk,” sergah Helios sambil membimbing Chole masuk ke tempat duduk penumpang. Ia mengantongi ponselnya ke tas Chole yang menghiasi pundak kanannya.
“Tadi kamu bilang mau ngobrol?” lanjut Helios yang langsung duduk dan kembali melakukan segala sesuatunya dengan cepat.
“Kamu kebanyakan minum jus jambu, makanya jadi linglung gitu efek trombosit kamu meningkat drastis.” Helios mengomel lirih sambil menatap kedua mata Chole yang jadi sibuk berkedip. Seperti yang ia keluhkan, istrinya itu tampak linglung.
“Tadi Mas bilang buat kak Chalvin, ... memangnya kak Chalvin kenapa?” lirih Chole yang belum apa-apa sudah merasa sangat sedih. Ia bahkan sudah hampir menangis lantaran kakak kesayangannya yang hampir tidak pernah melukainya, ia curigai sakit, tapi Helios yang mengetahui itu sengaja tidak mengabarinya.
Helios yang menjadi jauh lebih serius menghela napas pelan. Ia menghadap pada Chole yang malah sudah menangis. Ia tahu hati istrinya teramat lembut, tapi ia benci jika wanitanya itu menangis karena terluka. Dadanya sudah langsung pegal hanya karena menyaksikannya.
“Chalvin kecelakaan dan keadaannya sudah membaik. Kamu enggak usah khawatir karena meski Chalvin kehilangan sebagian memorinya yang satu tahun ke belakang, keadaannya benar-benar membaik dengan cepat,” jelas Helios sambil menahan sesak di dadanya karena tangis Chole malah pecah seiring penjelasan yang ia lakukan. Chole tersedu-sedu.
__ADS_1
“Mas kalau ada apa-apa langsung cerita kenapa?” protes Chole.
“Kamu harus sadar diri keadaan kamu begini,” sergah Helios. “Bukan bermaksud membuatmu enggak berguna, tapi karena aku yakin, Chalvin bakalan lebih sedih kalau kamu sedih gara-gara dia. Buktinya mamah dan papah saja sampai merahasiakannya dari kita, kan? Oke, ya ... kendalikan emosi kamu. Kamu boleh nangis, tapi kamu enggak boleh sampai melukai diri kamu karena itu enggak akan membuat keadaan lebih baik.” Setelah mengatakan itu, Helios berangsur memeluk Chole karena sang istri merengek minta dipeluk.
“Sekarang papah mamah sedang bawa Chalvin pulang. Jadi sampai rumah sepertinya kita akan langsung bertemu mereka. Untuk sementara kita tinggal di rumah orang tuamu agar ... ya biar kamu bisa sama Chalvin, saling suport ... ya yang semacam itu soalnya aku enggak pinter ngomong.” Helios mendengkus berat. Sebenarnya tak semata ia yang tidak pandai bicara, tetapi karena kesedihan Chole yang memang sudah langsung membuatnya tidak baik-baik saja. Memang sepay*ah itu kalau ia sudah bucin. Ia akan langsung ikut terluka jika orang yang ia cintai terluka.
Dandi dan Ben sudah masuk dan kompak menutup pintu mobil. Ben segera menyalakan mesin mobil.
Setelah menghela napas dalam, Helios menatap ke depannya dan di sana Dandi baru beres memasang sabuk pengaman. “Dan, beri aku jus jabu biji merah. Kepalaku langsung pusing banget,” sergahnya sambil mengulurkan tangan kanannya. Ia siap menerima satu gelas jus sambu bijinya. Tanpa ia sadari, tak kurang dari satu menit, ia sudah menghabiskan satu gelas jus jambu biji merahnya.
“Loh ... ini aku lebih parah dari Chole,” pikir Helios buru-buru menyisihkan gelas kosongnya ke sela punggung sofa Dandi duduk.
“Mas, aku minta jus jambu biji merahnya lagi,” ucap Chole sembari menyeka sekitar matanya. Di sebelahnya, Helios tetap diam dan tak kunjung menjawab.
“Mas ...?” tagih Chole.
“Sudah habis ....” Helios terlalu malu mengatakan itu lantaran ia tahu diri. Sebelumnya ia mencibir kesibukan baru Chole yaitu meminum jus jambu biji merah, tapi kini ia juga ikut demam jus jambu biji merah.
“Mas haus apa doyan?” lirih Chole yang perlahan menertawakan sang suami.
__ADS_1
“Kebiasaanmu, habis nangis terus ketawa,” sinis Helios terlalu gengsi ditertawakan sang istri, tapi Chole tak peduli.