
Yang Chole tahu dari Helios, pak Mul merupakan ayah kandung Syam. Keduanya baru bertemu sekitar lima tahun lalu, sejak itu juga pak Mul menjadi bagian dari mereka. Pak Mul bahkan menjadi orang kepercayaan Helios karena selain pria itu merupakan ayah kandung Syam, pak Mul juga tipikal serba bisa sekaligus cekatan. Hanya saja, setelah mengenal sekaligus mengalami sendiri, di balik semua kelebihan pak Mul, nyatanya pria itu memiliki kekurangan yang sangat fatal.
Bagi Chole, tak ada kata lain selain kata paling kasar. Chole muak, segera ia lari memungut deterjen dalam bungkus besar kemudian menabur-nabur isinya ke pak Mul. Pria itu memang sigap menghindar, tapi beberapa kali, deterjen yang Chole taburkan mengenai kedua mata pak Mul.
Di luar, Helios sudah sampai. Namun karena pintu dalam keadaan tertutup rapat dan tanpa ia pastikan dengan membukanya ia yakin itu dalam keadaan terkunci dari dalam, Helios sengaja mencari pencarian ke tempat lain. Ia kembali buru-buru lari memasuki lift di ujung lorong kamarnya berada. Padahal tepat tak lama setelah pintu lift tertutup, Chole berteriak histeris karena pak Mul yang terus ia ser*ang justru berhasil mencekal pergelangan tangan kanannya.
Tangan kanan Chole dipelintir karena pak Mul berusaha menarik Chole dan membuat jarak mereka sedekat mungkin. Chole refleks meringis kesakitan, butiran bening langsung berjatuhan dari kedua sudut matanya. Kendati demikian, Chole sengaja menggunakan kaki kirinya untuk menendang pangkal paha pak Mul. Chole masih berusaha memberontak dan sebisa mungkin terus menjaga jarak.
Pak Mul memang sudah langsung kesakitan karena biar bagaimanapun, yang Chole tendang merupakan bagian kejanta*nan sekaligus kelemahannya. Namun, ia masih memiliki tenaga ekstra untuk tetap menahan Chole.
Di luar, Helios baru saja keluar dari lift. Tampak seorang mafia dan merupakan mafia berbeda dari yang di depan pintu rahasia. Pria itu lari sangat kencang menghampirinya.
“Pak Mul lewat anak tangga darurat ke lantai kamar Bos berada. Belum ada sepuluh menit, tapi sampai sekarang belum ada pergerakan dia kembali lewat tangga darurat. Apa memang pak Mul sedang membereskan CCTV di sana yang Bos bilang bermasalah?” ucap pria tersebut tapi Helios langsung pergi begitu saja tanpa kepastian.
“Belum ada sepuluh menit, sementara tadi di sana sepi tidak ada siapa-siapa, tapi kamarku dalam keadaan terkunci?” Helios benar-benar berpikir keras. Namun ia sudah merasa linglung lantaran ia merasa kecolongan.
__ADS_1
Helios terlalu yakin, hal yang tidak ia inginkan telah terjadi dan itu karena pak Mul. Kini ia sudah berada di dalam lift dan sudah langsung menuju lantai kamarnya berada. Suasana di sana masih sangat sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan lain. Termasuk di kamarnya yang benar-benar sepi.
“Chole!” Kali ini Helios berusaha membuka pintunya. Ia juga menggedor-gedor pintu, meminta sang istri untuk membuka pintu. Ia melakukannya sambil berteriak, tapi dari dalam tak kunjung ada jawaban.
Helios menempelkan telinganya pada pintu. “Chole!” lagi-lagi ia berteriak, tapi suasana di dalam yang tetap senyap membuatnya nekat mendobrak pintu di hadapannya.
Di dalam, Chole sudah dibekap dan tubuhnya dipiting dari belakang.
“M-masssss!” teriak Chole, tapi lantaran mulutnya nasih dibekap, suara yang ia hasilkan tidak seberapa. Suaranya tak kalah keras dari dobrakan yang sedang Helios upayakan.
Susah payah Chole mencoba menggigit telapak tangan pak Mul yang ada di mulutnya, dan akhirnya kena tapi pria itu lebih dulu melepaskannya. Pak Mul yang sempat meringis kesakitan buru-buru melepas kausnya kemudian melemparnya begitu saja. Melihat itu, Chole langsung bingung dan yakin ada maksud lain. Karena harusnya pak Mul tahu, sebentar lagi Helios bisa menerobos masuk tanpa dibukakan pintu. Anehnya, pria itu sampai hendak melepas celana panjangnya.
Chole segera minggir lantaran pintu berhasil Helios dobrak. Helioa melakukannya sendiri dan detik itu juga, Chole memilih menerobos keluar, bersembunyi di belakang punggung sang suami.
Pak Mul berusaha memakai kembali celananya. Ia melakukannya tanpa berani menatap Helios. Seolah dirinya juga korban Chole yang telah menggunakan kuasanya untuk ia pua*skan. “Maaf, Bos, saya khilaf. Saya sudah berusaha menolak istri Bos, tapi saya tidak punya kuasa untuk menolak apalagi istri Bos punya kuasa—” Pak Mul tidak memiliki pilihan lain selain memfitnah Chole agar ia tetap aman.
__ADS_1
“Enggak, Mas. Sumpah, Mas. Aku berani sumpah!” yakin Chole histeris. Tak menyangka, cara pak Mul menutupi kesalahan benar-benar keji sekaligus murah*an.
Mendengar itu, Helios langsung maju. Chole tidak menahannya dan tak lagi membela diri. Chole sengaja melipir, membenamkan wajahnya di tembok sebelah pintu tanpa berani melihat apa yang terjadi dari dalam sana. Namun bisa Chole pastikan, walau Helios tak berucap sedikit pun, pria itu sudah mengha*jar pak Mul tanpa ampun. Suara bogeman, suara tendangan, dan juga suara bantingan terdengar dari dalam berpadu dengan suara kesakitan sekaligus permohonan ampun dari pak Mul.
Bagi Chole yang selama ini menjalani kehidupan serba damai layaknya tuan putri, apa yang terjadi di dalam dan itu Helios yang melakukan, benar-benar menyeramkan. Ngeri, bulu kuduk Chole tak hentinya berdiri. Bahkan karena terlalu takut, Chole juga menjadi merasa sangat lemas. Ia berangsur menunduk di tengah kedua tangannya yang masih menekap erat wajah.
Beberapa langkah terdengar mendekat dan berakhir di sebelah Chole. Bisa dipastikan, mereka yang datang tak berani mendekat apalagi menghentikan apa yang Helios lakukan.
“Ya Alloh, setakut ini. Aku bahkan sampai enggak bisa menggambarkan perasaanku. Andai ada papah mamah, mungkin aku akan ikut mereka. Aku ingin kembali menjadi Chole kecil yang tidak harus berurusan dengan urusan orang dewasa!” batin Chole.
Ketakutan Chole menjadi tak terbendung ketika suara langkah tegas cepat sekaligus berat dan Chole kenali sebagai langkah Helios mendekat. Langkah itu berhenti tepat di sebelah Chole, jarak mereka benar-benar dekat.
Chole yang sudah menangis tanpa suara di tengah tubuhnya yang gemetaran, memberanikan diri untuk mendongak. Ia melakukannya sambil melipir dan sengaja menjaga jarak. Helios menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sekitar mata pria itu basah, Helios menangis!
Yang membuat Chole refleks terlonjak karena ketakutan tapi sebisa mungkin Chole tahan, kedua tangan Helios sudah dihiasi darah segar nyaris hingga siku. Chole yakin itu darah pak Mul. Tanpa memastikan apa yang terjadi kepada pak Mul, jujur Chole takut Helios percaya bahkan Chole telah bermain api dengan pak Mul.
__ADS_1
Chole ingin menjelaskan, tapi lidahnya kelu. Yang bisa ia lakukan hanyalah terus mundur, walau ketika Helios menyusulnya jongkok dan membuat wajah mereka sejajar, kedua kaki Chole tak lagi mundur. Chole memberanikan diri menatap Helios.
“Maaf,” ucap Helios benar-benar lirih lantaran suaranya tertahan di tenggorokan sementara dadanya yang bergemuruh menahan amarah, terasa sangat sesak, dan ia merasa tersiksa. Iya, Helios merasa tersiksa, benar-benar sakit hanya karena melihat Chole yang terus menangis tanpa suara, sampai gemetaran ketakutan. Lebih menyakitkan lagi ketika tangis Chole pecah dan wanita itu langsung mendekapnya sangat erat. Benar-benar pelukan erat disusul tangis Chole yang sampai meraung-raung.