Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
63 : Merasa Sangat Beruntung


__ADS_3

Sampai detik ini, Helios masih belum berani melihat bayangan wajahnya sendiri. Di cermin wastafel kamar mandi kamar hotel ia menginap, Helios tengah panas dingin memberanikan diri untuk melakukannya. Ia yang masih menunduk, mendapati butiran bening silih berganti jatuh ke lantai setelah melewati pipinya.


Ketakutan itu belum saja hilang bahkan terasa sama saja. Ketakutan yang dibarengi detak jantung keras nan kacau hingga Helios memutuskan untuk menyerah. Agar keinginannya melihat penampilan wajah terbarunya, tak meru*s*ak acara bulan madunya dan sang istri di sana. Namun ketika ia menoleh ke pintu kamar mandi yang ia biarkan tak terkunci, diam-diam di sana ada yang mengawasi. Chole yang melongok dari balik pintu yang sedikit dibuka, tersenyum ceria menatapnya. Senyum yang menjadi can*d*u sekaligus penyemangat untuknya.


Chole yang sadar sang suami hendak memakai kacamata hitamnya, buru-buru masuk. Ia mengambil kacamata hitam Helios kemudian memeluk erat tubuh suaminya itu dari samping. Ia juga menyandarkan kepala berikut wajahnya ke dada Helios—hal yang sudah menjadi kebiasaannya, akhir-akhir ini.


“Chole ....”


“Ayo Mas Suami Sayang! Ayo, aku temenin!” Tentu Chole sengaja menyemangati. Ia paham apa yang tengah Helios rasakan. “Batin Mas kembali per*ang? Karena jika dulu yang Mas permasalahkan itu keadaan wajah Mas yang buru*k rupa, kini justru keadaan wajah Mas yang Mas khawatirkan akan menjadi penilaian orang hanya karena wajah Mas yang sekarang, ... hasil operasi?” Chole berucap lembut sambil menatap sang suami penuh keteduhan.


“Kalau Mas saja belum bisa mencintai diri Mas, apalagi orang lain? Kalau bukan Mas sendiri yang mencintai Mas, siapa lagi? Semuanya dimulai dari Mas, dan sekarang itu cukup syukuri, jaga dan rawat baik-baik apa yang Mas miliki karena enggak semua orang bisa beruntung seperti Mas. Enggak semua orang punya kesempatan buat operasi, buat menjalani lembaran baru.”


“Di lembaran baru ini, Mas harus mulai belajar buat bersyukur. Jangan sampai, ... jangan sampai Allah marah dan ambil semua kenik*m*atan yang dititipkan ke Mas. Semua kenik*m*atan yang dititipkan ke kita karena semua ini memang hanya titipan.”


“Sampai kapan pun kita enggak bisa membuat orang berhenti menilai kita. Karena sesuatu yang ada memang sudah lumrahnya dinilai. Selain itu, kita juga enggak bisa mengubah seseorang tanpa kemauan yang bersangkutan. Itulah yang sampai detik ini aku pelajari sekaligus coba jalani, Mas. Karena memang ... ya begini, praktiknya enggak semudah memberi materi ke orang lain. Namun percayalah, gunanya bersosialisasi dalam hidup karena kita memang enggak mungkin bisa sendiri. Kita butuh orang lain, sampai kapan pun akan tetap begitu agar bisa membuat semuanya lengkap. Satu mungkin utuh, tapi lebih baik lagi jika satu ini ada karena disatukan. Layaknya pasangan yang disatukan pun hanya bisa menyatu jika mereka berusaha melengkapi satu sama lain. Bayangkan jika satu terlalu ke kanan, satu sengaja ke kiri. Ya enggak jadi. Beneran, ibaratnya Mas terlalu kaku. Mas terlalu optimis, tentu sudah jadi tugasku buat memperbaiki keadaan itu. Namun, jangan sampai Mas selalu membuat aku harus mengerti, sementara Mas sendiri tetap enggak mau belajar! Jangan lupa, yang namanya pasangan itu dua jadi satu. Otomatis dua ini harus sama-sama berjuang buat jadi satu.”

__ADS_1


Menggunakan kedua tangannya, Chole menuntun Helios untuk bercermin. “Ini gambaran dewasa dari wajah asli Mas.” Karena Helios memang mengubah wajah bu*r*uk rupanya menjadi wajahnya yang dulu. Hanya saja, dokter dan tim yang menangani sengaja membuat versi dewasanya.


Chole masih tersenyum ceria, sementara Helios yang tetap serius malah lebih memilih menatap pantulan bayangan wajah istrinya. Mendapati itu, Chole yang memang belum memakai jilbab apalagi cadar, refleks cemberut.


“Lihat wajah Mas!” omel Chole mesk ia melakukannya dengan suara lirih.


“Aku maunya lihat wajah kamu!” singkat Helios tetap menatap wajah Chole.


Seiring hatinya yang menjadi berbunga-bunga, Chole yang kembali tersenyum ceria sengaja menatap pantulan bayangan wajah Helios. Sampai detik ini, suaminya itu masih menatap wajahnya. Tatapan sendu yang dipenuhi ketulusan. Meski ketika Helios menipiskan jarak wajah mereka dan wajah suaminya itu tepat berada di depan wajahnya, Chole menggunakan tangan kanannya yang tak memegang kacamata hitam Helios untuk membekap mulut pria itu.


“Jangan bibir dulu,” lirih Chole wanti-wanti.


Chole tertawa, benar-benar lagu lama. “Ya ... ya mau bagaimana lagi. Aku kan sudah nazar, kalau operasi Mas lancar, berhasil tanpa hambatan berarti, dan Mas juga sehat, aku bakalan puasa tiga puluh hari berturut-turut. Ini masih tiga hari lagi! Semangat, ya. Kan malam masih bebas!”


Membuang pandangan dari Chole, Helios juga menghela napas panjang.

__ADS_1


“Ya sudah, ci*um, tapi jangan bibir,” ujar Chole.


“Aku maunya bibir,” lirih Helios masih jengkel.


Chole tertawa, kemudian membingkai wajah suaminya menggunakan kedua tangan. Ia kembali menuntun Helios untuk terbiasa bercermin.


Dalam hatinya, Helios jadi takjub pada wajahnya sendiri. Wajah yang awalnya berupa gumpalan daging tak rata nan kas*ar, kini jadi mulus bahkan glowing mirip wajah bayi. Hidung, alis, mata, termasuk bibir, semuanya kembali layaknya wajah Helios sebelum diru*s*ak Cikho.


“Iya, aku beruntung ... aku beneran beruntung banget karena sudah bisa begini. Aku sudah bisa menjalani lembaran baruku meninggalkan aku yang dulu bu*r*uk rupa. Dan ... aku juga sangat beruntung karena aku punya kamu. Chole membuat aku menjadi serba beruntung,” batin Helios yang kemudian mendekap erat tubuh Chole dari samping.


Pelukan yang Helios rasakan membuat Chole tersenyum bahagia. “Pelan-pelan yah, Mas. Bahagia ... biasakan diri Mas buat bahagia karena bahagia itu juga Mas yang buat,” ucap Chole lembut sembari menatap pantulan bayangan Helios di cermin wastafel hadapannya.


Meski belum bisa tersenyum, Helios berangsur mengangguk-angguk. Ia berangsur menempelkan bibirnya di ubun-ubun Chole. Terus begitu dan memang berlangsung sangat lama, apalagi Chole sengaja memeluknya erat sambil terpejam. Barulah setelah bel bunyi dan bertanda seseorang datang menekannya, Mereka bergegas memastikan.


Dari CCTV di sebelah pintu, mereka mendapati ibu Aleya yang berdiri gelisah di depan pintu kamar hotel mereka menginap. Chole dan Helios yakin, memang ibu Aleya yang menekan bel mereka.

__ADS_1


Sebenarnya hari ini menjadi jadwal kepulangan ibu Aleya dan Tuan Maheza. Namun jika melihat kegelisahan ibu Aleya, baik Helios apalagi Chole sudah langsung khawatir.


“Mah ... kenapa?” Chole sudah langsung merengkuh kedua lengan sang mamah. Matanya sudah langsung berembun melihat kegelisahan sang mamah yang juga sudah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2