
“Kalian kenapa?” Helios menatap serius kedua wajah di hadapannya.
Anak buah Helios, Hanan dan Ando, masih belum bisa mengakhiri kegelisahannya. Namun, Hanan melirik Ando untuk maju.
“Yang pink itu ... maksudku, yang wanita bercadar dan dikejar Ojan, ... itu beneran Jay?” lirih Helios yang kemudian menutup pintu kamar hotel dengan hati-hati. Ia tetap membelakangi pintu tersebut sambil mengontrol emosi sekaligus suaranya agar tidak mengusik sang istri yang ada di dalam kamar. Namun jika melihat dari ekspresi kedua anak buahnya, itu sudah cukup menjadi jawaban bahwa dugaannya memang benar.
“Kalian taruh dia di mana?” lanjut Helios.
“Anak-anak yang berjaga di rumah makan dan kemarin malam menemukannya pingsan di bawah pohon mangga pekarangan rumah sebelah rumah makan, menyek*apnya di mobil,” ucap Hanan, si pria bermata sipit sambil menatap lega Helios. Di hadapannya, Helios mengangguk-angguk.
“Minta mereka untuk tetap menjaganya, awasi jangan sampai kabur lagi. Atau kalau tidak, minta mereka kirim Jay ke markas kemudian kurung di penjar*a bawah tanah,” ucap Helios dan langsung mendapat kesanggupan dari kedua anak buahnya. “Untuk sementara, yang jaga-jaga di rumah makan cukup satu saja. Apalagi kita terlebih Excel sedang di sini. Kita bisa urus semuanya biar mereka urus yang lain,” yakin Helios sebelum akhirnya ia kembali masuk kamar.
Helios ingin fokus dengan jadwalnya hari ini. Mengunjungi alamat wanita yang tertangkap kamera CCTV rumah sakit bersama Chalvin, dan terakhir menemui Cinta. Agar Chole juga bisa fokus bahagia tanpa bayang-bayang masalah dari keluarganya.
***
Menggunakan mobil dan hanya satu kawalan mafia yaitu Hanan, mereka memasuki jalan yang makin lama makin jauh dari kata mulus. Jalan yang sebenarnya pernah Helios maupun Chole kunjungi. Walau sebelumnya, keduanya tidak ke sana bersama, Helios dan Chole sungguh pernah ke sana. Bedanya, ketika Helios melakukannya hanya berdua dengan Cinta, Chole sudah terbiasa ke sana bersama keluarganya termasuk itu Cinta.
“Ini pemakaman ibu Resty dimakamkan,” ucap Chole sambil mengawasi tempat pemakaman sederhana khas pemakaman di kampung. Sebagian dari makam di sana tampak tidak terawat dan dipenuhi rumput liar. Namun yang membuat Chole terkejut, tentu kenyataan Helios yang sampai membingkai perutnya menggunakan kedua tangan. Helios melantunkan doa-doa di depan perut Helios.
__ADS_1
“Apakah pertemuan kak Chalvin dan wanita itu masih berkaitan dengan makam ibu Resty?” lirih Chole masih menerka-nerka.
Setelah mengarungi perjalanan yang penuh lobang hingga mereka sampai terguncang-guncang, dan Helios yang benar-benar protektif, sampai memangku Chole sampailah mereka di jalan sepi dan dikata orang sebagai RT dari alamat si wanita yang bersama Chalvin.
Chole sengaja turun, bertanya pada warga yang ia temui. Seorang pria sebaya dirinya yang berjalan bersama seorang wanita lebih muda. “Mas dan Mbaknya kenal pak Sanmulya dan ... ibu Sopiyah?” tanya sangat sopan setelah membaca nama pasien yang diurus Chalvin dan si wanita. Ada dua pasien dan diprediksi memang suami istri.
“Mereka asing dan sepertinya orang kaya. Jangan-jangan, mereka dari Jakarta. Jangan-jangan, mereka masih kerabat suaminya Laras. Enggak bisa dibiarin ini!” batin si pria yang Chole tanyai dan bernama Rudy.
Bagi Helios dan Chole, sulitnya mencari alamat di kampung karena di kampung apalagi yang pelosok layaknya tempat mereka mencari sekarang, tidak sampai disertai nomor rumah layaknya di kota-kota.
“Oh iya ... mereka ... pak Sanmulya dan ibu Sopiyah, orang tuanya Laras, ya? Mereka sudah pindah!” yakin Rudy yang diam-diam memang memiliki dendam pribadi. Karena biar bagaimanapun, sebelum dipak*sa menikah dengan Chalvin, Laras itu tunangannya, sementara di sebelahnya, wanita cantik dan lebih muda karena memang masih SMA, merupakan pengganti Laras.
Helios yang sudah menatap tidak nyaman sosok Rudy, berkata, “Kita cari ketua RT terdekat saja.”
“Lah, saya anaknya pak Kades dan kebetulan RT di sini meski usia saya masih muda dan saya memang belum menikah. Lihat seragam saya, ... saya juga kerja di Balai Desa. Ini masih dinas mau sensus!” ucap Rudi yang memang memakai seragam setelan cokelat muda. Ia menunjukkan semua pernak-pernik dan seabrek meyakinkan bahwa dirinya merupakan ketua RT, anak kades, dan juga bekerja di balai desa yang otomatis paham keadaan wilayah sekaligus penghuni di sana.
“Kalau begitu, biarkan kami mengunjungi rumah pak Sanmulya dan ibu Sopiyah, orang tuanya Laras. Kalau boleh, kami juga ingin mengobrol dengan tetangga mereka!” tegas Helios masih belum percaya karena meski dari keterangan sekaligus data diri Rudy, pria itu memang berstatus penting di sana, baginya gelagat Rudy sangat mencurigakan.
“Oalah, Masnya enggak percaya ke saya?” tanya Rudy, padahal jauh di lubuk hatinya, ia sudah ketar-ketir.
__ADS_1
Dengan tegas, Helios yang menjadi menatap gar*ang Rudy mengangguk, kemudian berkata, “Iya!” Helios sengaja membuka kacamatanya, agar pria di hadapannya makin takut kepadanya.
“Astaga, matanya seseram ini!” batin Rudy sudah langsung deg-degan sekaligus gemetaran lemas.
Namun pada akhirnya, Rudy berhasil mengelabuhi Helios dan Chole, berkat kuasanya di sana. Ia membawa kedua orang berpenampilan khas orang kota sekaligus kaya itu, ke sebuah rumah kosong, selain semua warga di sana yang sudah langsung ia bungkam.
“Kalau begitu, ada kontak yang bisa kami hubungi karena kami perlu berkomunikasi langsung dengan mereka?” ucap Chole santun, tapi di sebelahnya, Helios justru melangkah pergi.
Helios sengaja menghampiri sebuah rumah tak jauh dari sana. Jarak rumah tersebut dari kebersamaan yang baru ia tinggalkan, tak kurang dari empat menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Kemudian dengan dada yang menjadi berdebar-debar, Helios mengetuk pintunya.
“Sepertinya memang bukan hanya aku yang tidak bisa percaya. Karena Mas Helios juga,” batin Chole yang masih bertahan di antara warga yang dikawal langsung oleh Rudy. Ia hanya dikawal Hanan lantaran Helios memilih mendekati salah satu rumah tak jauh dari sana. Rumah semi permanen dan tampak sudah renta.
“Assalammualaikum ...?” ucap Helios sambil sesekali mengetuk pintu. Untuk pertama kalinya setelah menjadi Helios, ia bertamu layaknya manusia normal pada kebanyakan.
Di dalam rumah tersebut, Laras benar-benar ada dengan orang tuanya. Namun, Laras sedang tidak fokus karena sang ibu tengah sesak napas parah layaknya pengidap asma pada kebanyakan. Susah payah Laras meredam sambil menyeka setiap air mata sekaligus keringat dingin di sekitar wajah hingga dada sang ibu.
“Ras, sepertinya ada yang datang,” ucap pak Sanmulya yang menggenggam erat sebelah tangan sang istri. Dari tadi, ia sibuk menuntun sang istri untuk istighfar kemudian melafalkan syahadat.
Laras yang sudah berderai air mata dan keadaannya benar-benar kalut, berkata, “Biar Pak. Paling si Mas Rudy. Emang kurang kerjaan tuh orang. Dia yang memaksa aku dan mas Chalvin menikah, tapi dia juga yang sibuk bikin gara-gara. Lama-lama aku teba*s beneran lehernya pakai go*lok!”
__ADS_1