Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
66 : Bulan Madu


__ADS_3

Tiga ponsel milik Helios, tiga ponsel milik Chole, dan juga dua laptop di meja nakas, masih kompak memutar MV terbaru dari idola Chole yang Helios sebut bernama Jongkok. Pemutaran video diulang secara otomatis hingga suasana di sana mirip museum untuk musik video tersebut. Selama itu juga, Helios yang duduk di sebelah Chole, jadi rutin melirik tak habis pikir sang istri.


“Tahu begini, kemarin aku oplas mirip Jongkok!” iri Helios sambil melirik sebal Chole yang langsung menertawakannya.


“Tapi biasku Jin, Mas!” yakin Chole. Ia menggunakan tangan kanannya untuk menahan sekaligus mengelus dagu Helios.


“Innalilahi ....” Helios terlalu syok dan sampai tidak bisa berkata-kata. “Bias apa lagi? Dan itu Jin!”


“Bias itu semacam ... apa ya yang bisa bikin Mas mudah ngerti. Ah, idola! Bias itu kayak artis yang kita idolakan. Terus Jin bukan yang makhluk ghaib, tapi yang anggota BTS!” jelas Chole sedang menuntun sang suami untuk mengenal kegemarannya. Karena meski sudah beberapa kali menjelaskan, semua yang berkaitan dengan kegemarannya pada budaya sekaligus hiburan dari Korea Selatan, tetap membuat Helios tidak paham. Bahkan sampai sekarang, Helios tetap belum bisa membedakan setiap wajah anggota karena bagi pria itu, semua wajah idolanya Chole nyaris sama.


“Menyukai seorang idola segitunya, memang dapat kebahagiaan sendiri, ya?” tanya Helios.


Chole yang meringkuk di pangkuan Helios langsung mengangguk-angguk ceria kemudian menatap wajah suaminya yang kini memang


sangat tampan. Namun, meski ia berusaha membahagiakan kebahagiaannya, Helios justru terlihat tidak bahagia.


“Mas kenapa?” tanya Chole serius. Melihat Helios seserius sekarang, ia jadi khawatir.


“Aku jadi khawatir ke kamu.” Helios berangsur menatap Chole.


“Lho, kenapa?” balas Chole heran.


“Kamu begitu mudah bahagia. Kamu sangat hobi membuat orang lain apalagi orang yang kamu sayangi bahagia. Biasanya orang yang seperti itu, sebenarnya hatinya sangat rapuh. Sebenarnya dia kesepian makanya dia sengaja membuat orang lain selalu bahagia karena begitu juga yang sebenarnya ingin dia terima.” Sesekali, Helios yang berucap hati-hati juga melirik Chole. Kesedihan tampak jelas dari ekspresi Chole kali ini hingga Helios yakin, dugaannya benar.

__ADS_1


“Ya ... mau bagaimana lagi? Tapi aku senang di setiap usahaku membahagiakan orang yang aku sayangi, juga berhasil, Mas ....”


“Kamu tahu kan kalau aku sayang banget ke kamu?” sergah Helios sengaja memotong ucapan Chole.


Senyum tipis yang perlahan menjadi ceria, Helios dapati menghiasi wajah sang istri. Kemudian, Chole mengangguk-angguk.


“Dan aku bahagia banget karena itu!” ucap Chole berkaca-kaca menatap suaminya. Ia hanya tertawa ketika Helios men*ci*um gemas pipinya. Bahkan di c*iuman kedua dan itu di pipi kanan, Helios sampai menggi*gitnya.


“Mas ih ... bolong nanti pipiku enggak ada yang buat tambal!” ucap Chole masih tertawa sambil mengelus-elus pipi kanannya.


“Nanti aku beli semen putih buat tambal biar warnanya menyatu sama warna kulit kamu!” balas Helios dengan entengnya sambil mendekap erat tubuh Chole yang masih meringkuk di pangkuannya.


“Tega ....” Kali ini, Chole yang masih tertawa, merengek-rengek.


“Tidur, nanti pas ashar aku bangunin. Habis ashar, kita langsung jalan-jalan.” Helios menepuk-nepuk pelan punggung maupun kepala Chole penuh sayang.


“Dia bangga, tapi aku sebagai suamimu ngenes!” keluh Helios.


“Mas bilang, yang penting aku bahagia!” rengek Chole menagih janji Helios.


“Ya sudah ... ya sudah. Asal kamu BAHAGIA!” Helios benar-benar pasrah, mengalah.


Mendengar itu, Chole benar-benar girang. Tak tanggung-tanggung, kedua tangannya langsung berpegangan erat pada lengan Helios hanya untuk mempermudah ia bangun. Terakhir, ia menc*i*um gemas pipi Helios. Hanya saja, kenyataan Helios yang langsung menahan tawa justru membuatnya bingung. “Mas kenapa?”

__ADS_1


“Lah, kamu lagi puasa kok c*ium-c*ium? Batal itu karena pipiku keringetan dan aku yakin jadi ada rasa asinnya.” Helios sengaja meyakinkan, membuat sang istri takut. Lihatlah ekspresi wajah Chole yang langsung jadi panik takut, benar-benar lucu.


“M-maasss, itu kan aku enggak sengaja! Enggak batal, enggak ....” Chole merengek-rengek panik.


“Kata siapa?” Helios sudah mulai tertawa. Tawa yang juga menular kepada Chole meski wanitanya itu masih panik ketakutan gara-gara puasanya terancam batal.


“Kata pak ustad!” yakin Chole, tapi malah membuat tawa seorang Helios makin keras.


“Ustad yang mana? Gini-gini, dulu aku juga ustad!” balas Helios yang justru langsung ditertawakan oleh Chole.


“Heh Chole ... kenapa kamu malah ketawa begitu? Menertawakan suami seperti itu enggak sopan, ya!” Semprot Helios, tapi Chole tak peduli.


“Aku puasa buat Mas. Tiga hari lagi gol. Bantu, buar nazarku enggak gagal!” ujar Chole.


Sorenya, keduanya jalan-jalan. Kepergian mereka dikawal oleh Ben dan Dandi, dan diwarnai agenda Chole yang lagi-lagi jatuh karena tidak bisa diam. Chole begitu heboh ketika mendapati poster patung Jung Kook dengan penampilan terbarunya, ada di ruang VIP restoran mereka makan.


“Ben, ini posternya enggak ada gaya lain? Ngapain yang buka-buka dada, auratnya enggak ditutup begini?!” semprot Helios sampai melepas jas hitamnya untuk menutupi poster Jung Kook yang memang pamer dada sekaligus perut rata. Jadi, poster tersebut mendadak diselimuti jas hitam milik Helios.


Bukan hanya Chole yang langsung tertawa. Karena Dandi termasuk Ben yang sempat kena marah Helios, juga jadi sibuk menahan tawa.


“Ukhti ... jaga pandanganmu! Suamimu juga punya!” kesal Helios sembari menutup kedua mata sang istri menggunakan kedua tangannya. Dalam keadaan seperti itu, ia menuntun sang istri untuk duduk di kursi yang sudah tersedia di sana.


Di meja makan mereka sudah tersedia makanan sehat karena selain Helios yang tetap wajib menjaga pola makan demi hasil terbaik untuk operasinya, program hamil yang Chole jalani juga membuat wanita itu sangat menjaga pola makannya. Kue tart cokelat dan atasnya penuh stroberi berukuran besar lengkap dengan lilin angka tiga puluh, menjadi yang paling mencolok di sana.

__ADS_1


“Wah ... ini beneran bulan madu. Terus ini kuenya juga buat kita, Mas!” ucap Chole setelah Helios menyingkirkan kedua tangannya dari kedua matanya, selain Helios yang juga sampai membantunya duduk. Alih-alih duduk di hadapannya, Helios sengaja menarik kursi terdekat dan membuat kursi itu berada tepat di sebelahnya.


Sambil duduk di sebelah Chole, Helios menyuruh Ben dan Dandi keluar menikmati makan malam mereka juga di ruang berbeda. Chole tersenyum riang melepas kepergian kedua pengawalnya dan tentu saja paham kenapa Helios hanya ingin berdua dengannya.


__ADS_2