Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
100 : Muyen


__ADS_3

“Anaknya Brokoli kesayangan, namanya pakai bahasa Kroya, tapi lahirnya di kampung tercinta. Bukan di Kroya!” ucap Ojan sudah langsung tertawa.


“Mas Ojan, ... bukan Kroya, tapi Korea. Kroya mah masih tetangga kita!” ucap Chole yang kemudian mengeluh, “Kalau gini caranya, beneran bahaya buat jahitan aku. Ketawa terus! Tolong jangan lawak terus ....”


“Jan, kamu keluar sana. Di sini kan perkumpulan wanita. Helios saja sibuk menjamu tamu yang lagi muyen,” tegur ibu Septi yang memang membawa Ojan ke sana karena biar bagaimanapun, Ojan bagian dari keluarganya.


“Walau aku bukan wanita, hatiku lebih lembut dari wanita loh Mbak. Mbak jangan lupa! Terus gara-gara Brokoli kasih nama Kim ke anaknya, aku juga pengin ganti nama jadi Kim Oh Jan!” balas Ojan. “Jadi mirip Lee Minho yah, Mbak akunya. Mau gondrongin rambut lah. Terus kalau senyum aku bakalan meringis biar jadi makin manis!”


Chole yang memang sangat menyayangi Ojan, tidak bisa untuk tidak tertawa. Meski pada akhirnya, ibu Septi yang khawatir pada jahitan Chole, sengaja memanggil Sepri untuk menjemput Ojan.


“Jangan rusuh, ... sudah sana telepon Rere saja,” ucap Sepri sambil membawa paksa Ojan pergi dari sana.


“Ini mamah papah sudah sampai mana?” tanya ibu Septi kepada Chole yang duduk di pinggir tempat tidur.


“Sudah sampai Banjar, Bu. Kebetulan lewat Banjar, bukan Majenang. Berarti dua tiga jam lagi kalau enggak macet, sampai.”


“Wah ... pasti seneng banget mereka dapat cucu lagi. Terlebih enggak bisa dipungkiri, ini cucu kandung pertama dan dari di dalam perut sudah dirawat penuh cinta sama kakek neneknya.” Setelah berucap begitu, ibu Septi berkata, “Ini nanti panggil kakek neneknya apa?”

__ADS_1


“Oma opa, Bu. Disamakan sama panggilan anaknya mbak Rere,” manis Chole merasa sangat bersyukur, hadirnya Kim memang disambut bahagia oleh semuanya.


“Mah!” Suara kagok menahan malu dari seorang Helios, mengusik kebersamaan di sana.


Ibu Septi sudah langsung mesem-mesem karena sadar, Helios tipikal yang gengsinya lebih dari gaban. Ia segera menyuruh Chole untuk menghampiri sekaligus mengurus Helios.


Suasana rumah Tuan Maheza yang ada di kampung halaman memang sudah ramai oleh orang muyen. Bukan hanya dari keluarga dekat. Karena tetangga juga berdatangan meramaikan acara yang selalu digelar oleh kebanyakan orang di sekitar sana, setelah ada kelahiran. Muyen sendiri merupakan tradisi menjaga bayi atau itu ‘lek-lekan’ yang dilaksanakan setelah bayi lahir hingga tali pusar bayi belum lepas.


“Ada apa, Pah?” tanya Chole sudah ada di hadapan Helios. Kali ini ini suaminya tampak bersahaja menggunakan koko putih lengan panjang yang dipadukan dengan sarung.


“Ya sudah enggak apa-apa. Mas mau ke mana? Klinik apa RS? Ke kliniknya dokter Andri, juga enggak apa-apa. Itu nanti diantar mas Sepri juga boleh biar lebih cepat. Nanti urusan tetangga pesantren yang mau ke sini, kan banyak orang jadi Mas enggak usah khawatir,” jelas Chole.


“Ya sudah, nanti aku sekalian cari makanan. Biasanya acara begini kan ada yang sampai pagi,” balas Helios yang sudah langsung memberikan tangan kanannya untuk Chole salami.


“Ooiyaa ...?” Chole benar-benar terkejut karena ia memang tidak tahu-menahu mengenai tradisi di kampung termasuk itu tradisi muyen. Namun, suaminya yang memang asli orang kampung paham, selain Helios yang juga masih memegang teguh tradisi. Ditambah lagi, antusias keluarga sekaligus tetangga dalam muyen, membuat sekelas Helios sangat bahagia.


“Assalamualaikum!” seru dari luar sana. Helios dan Chole yang sudah langsung mengenali suara tersebut sebagai suara ibu Arum sekeluarga, refleks menoleh ke sumber suara sambil membalas salam.

__ADS_1


Rombongan ibu Arum membawa banyak makanan.


“Ibu bawa soto ayam sama gorengan. Tadi sengaja bikin sama mbak Mbi dan Nina. Setelah dikabari mamah kamu, kami sengaja bikin banyak karena yakin, kalian belum ada persiapan muyen. Oh iya ... Mbak Azzura dan mas Excel juga sudah langsung pulang, pengin lihat baby Kim!” ucap ibu Arum sangat bersemangat.


Yang ikut datang dengan ibu Arum memang hanya pak Kalandra, Akala, dan Nina karena mbak Arimbi dan mas Aidan termasuk kakek nenek mereka tidak ikut. Bayi kembar mas Aidan dan mbak Arimbi belum genap berusia empat puluh hari, jadi mbak Arimbi berikut bayinya masih terbatas dalam bepergiannya. Tentunya alasan mas Aidan tidak ikut karena mbak Arimbi dan kedua anak kembar mereka jauh lebih membutuhkan mas Aidan. Sedangkan kakek Sana dan nenek Kalsum memang tidak bisa jauh-jauh dari si kembar, selain keduanya yang ikut membantu momong.


“Masya Allah ini banyak banget Ibu. Ini makasih banget yah semuanya. Makasih juga ke mbak Mbi yang masih sempat-sempatnya masakin!” ucap Chole. Ia menggandeng Helios untuk mengikuti rombongan ibu Arum. Malahan Helios sengaja membawa boks besar yang pak Kalandra bawa. Karena laki-laki yang datang memang membawa makanan dalam jumlah banyak. Azzam dan Akala saja gotong royong mengangkat panci berisi sup soto ayam. Sementara Nina dan ibu Arum membawa dua boks tidak begitu besar berisi aneka gorengan.


Banyaknya hadiah sekaligus berkah yang Helios sekeluarga dapatkan, tentu tidak luput dari kebaikan orang tua Chole, maupun kebaikan Chole selama ini. Chole dan Helios tak hentinya berterima kasih. Mereka juga mengabarkan bahwa ibu Septi sekeluarga sudah membawa banyak makanan termasuk itu Es Gepluk Cap Gajah Duduk yang legendaris. Namun karena yang datang muyen memang langsung banyak, sementara rombongan tetangga Helios juga rencananya akan hadir, Helios sudah nyaris membeli makanan tambahan. Hanya saja adanya makanan dari ibu Arum tentu membuat Helios tak jadi beli makanan.


“Mah, soto ayam yang begini asli enak banget. Nanti tolong sisihin buat aku tiga porsi, ya!” ucap Helios berbisik-bisik kepada Chole.


Mereka masih di dapur, Akala dan Azzam sudah berdalih siap jadi tukang soto. Panci berisi kuah sudah langsung dipanaskan di atas kompor. Namun permintaan Helios barusan sudah langsung membuat Chole cekikikan.


“Apa mau makan sekarang? Makan sekarang dulu, baru berobat yah. Nanti pun bisa gampang tinggal panasin kalau mau makan lagi.” Walau sempat menertawakan Helios, Chole tetap jadi istri yang baik. Ia meracik soto secara khusus untuk suami ditemani oleh Akala dan Azzam.


Anak-anak ibu Arum memang sangat pengertian. Terlebih untuk urusan pekerjaan, kaum laki-laki biasanya akan mengambil alih dan tak mengizinkan para wanita lelah. Layaknya kini, ibu Arum dan Nina tidak ikut serta bekerja. Keduanya yang ditemani Malini dan pak Kalandra, sudah langsung muyen menjaga baby Kim!

__ADS_1


__ADS_2