
Baru dibangunkan, Helios sudah disambut dengan satu kantong berisi rantang susun warna biru.
“Mas, ini aku masak serba sehat karena Mas harus jaga kesehatan lebih dari sebelumnya. Ini aku juga bawa dua liter air putih dan satu termos jus jambu merah dengan manis terbatas!” jelas Chole. Ia bahkan masih memakai celemek karena ia memang baru selesai menyiapkan semua itu sendiri.
Karena Helios hanya terdiam bengong menatapnya, Chole sengaja merengek. “M-mas, harusnya Mas bilang, jusnya memang enggak perlu manis-manis karena aku sudah manis.”
Bukannya mengikuti tuntunan sang istri, Helios justru mendengkus kemudian menunduk. Tentu Chole tidak kehabisan akal dalam mendapatkan perhatian suaminya. Karena setelah buru-buru meletakan bekal buatannya di meja nakas, ia juga segera duduk di pangkuan sang suami yang sampai ia dekap erat tengkuknya menggunakan kedua tangan. Detik itu juga terdengar Helios yang mend*esah.
“Tolong ambilkan minum sekalian jusnya. Kepalaku agak pusing,” lirih Helios dan Chole langsung siaga.
“Aku siapkan obat juga,” sergah Chole setelah memberi Helios sebotol air minum dan awalnya ia siapkan untuk bekal.
Helios membiarkan Chole pergi sambil minum melalui sedotan yang tersedia di botol bekal. “Jaga langkahmu, Chole. Jangan ja—” Helios yang memang belum sedikit pun melirik Chole langsung terdiam kesal lantaran lagi-lagi, sang istri terjatuh.
“Aku baik-baik saja, Mas. Aku baik-baik saja.” Bahkan meski Chole terus meyakinkan semuanya baik-baik saja, Helios tetap tidak mau meliriknya.
“M-mas ...,” rengek Chole yang kembali duduk di pangkuan Helios. Ia berusaha mendapatkan perhatian dari suaminya. “Tatap aku dong.”
“Aku sedang marah ke kamu karena kamu terus jatuh.” Walau masih menggunakan suara lirih, kali ini Helios yang akhirnya menatap Chole memang mengomel. “Besok siang kita ke markas buat cek kaki kamu.”
“Kakiku memang begini, dulunya kan aku kena ‘cerebral palsy’,” balas Chole bersemangat.
“Harusnya kamu lebih berhati-hati!” omel Helios lagi.
“Oke!” balas Chole cepat kemudian membuka kotak obat di tangan kanannya. Itu obat khusus milik Helios yang ia dapatkan sesuai resep dokter. Karena demi yang terbaik untuk Helios maupun keluarga kecil mereka, ia memang menyiapkan segala sesuatunya dengan rinci. Meski untuk urusan jatuh, sampai detik ini, ia memang belum bisa mengontrolnya.
Setelah Helios menerima obat pemberiannya, ia sengaja menempelkan bibirnya di pipi kiri Helios. Namun, sampai saat ini Helios masih cuek dan ia sadar, itu terjadi karena sang suami tengah menghukumnya. Apalagi bukan kali pertama Helios memintanya untuk jauh lebih mengontrol langkah agar Chole tidak terjatuh.
Dengan hati-hati, Helios membopong Chole, memindahkannya dari pangkuan.
“Mas mau ke mana? Mau langsung berangkat?” lirih Chole panik.
__ADS_1
“Sudah kamu diam saja di sini. Kepalaku jadi pusing kalau lihat kamu jatuh!” omel Helios.
Chole langsung tersipu dan sengaja duduk selonjor dengan agak lebih santai sambil mengawasi apa yang Helios lakukan. Sambil menikmati jus di termos karena Chole sengaja membuat jusnya tahan dingin lebih lama, Helios meninggalkan area tempat tidur setelah sebelumnya, wajahnya tersangkut kelambu pink. Chole refleks tertawa ketika Helios mendecih kesal sambil mendorong kelambunya.
“Chole, masker-masker hitamku, kemarin kamu taruh di mana, ya?”
“Loh, kemarin kan Mas yang beresin terakhir?”
Mendengar utu, Helios refleks berucap, “Oh!” sambil mengangguk-angguk karena ia memang langsung ingat.
“Ingat?” lirih Chole memastikan sambil merangkak ke bibir tempat tidur tanpa berani turun. Namun ketika Helios membuka ritsleting koper dan beberapa barang berjatuhan, ia tak bisa untuk tidak hanya menonton. Seperti yang ia khawatirkan, Helios juga tergolong ke dalam tim laki-laki yang asal tumpuk, asal masuk jika untuk urusan bebenah. Lihat saja, yang awalnya marah-marah, kini mendadak sibuk tersenyum tak berdosa kepadanya. Dan Chole yakin, alasan sang suami begitu karena Helios merasa bersalah bahkan berdosa.
“Masssss Heliooooossss, DVD album Jung Kook-ku patah jadi duaaa. Ya ampun, Mas ... hatiku potek!”
Untuk pertama kalinya, Helios tak berani menghentikan tangis Chole apalagi sampai marah-marah.
“C-chole ... nanti ... nanti bisa diurus.”
“Aku janji ... nanti pesen lagi!”
“Enggak ada. Udah hanya seratus Army yang beruntung aja yang bisa dapat itu!”
“Enggak ada bagaimana? Mereka itu perusahaan dan mereka akan tetap beroperasi apalagi Jongkok masih hidup!”
“Tetap saja, ribet urusannya. Aku bahkan enggak ngerti gimana caranya bisa dapat itu lagi!”
“Nanti aku yang cari tahu. Nanti aku minta anak buahku buat cari tahu!”
“Aku saja enggak tahu apalagi kalian, ih!”
Helios yang kesal akhirnya berkata, “Nanti kita ketemu Jongkooknya sekalian! Sudah, kamu jangan nangis gitu, nanti dikira diapa-apain sama aku.”
__ADS_1
Namun meski sepuluh menit telah berlalu dan Helios harus segera pergi, Chole masih belum bisa merelakan DVD edisi khususnya yang patah jadi dua gara-gara tertindih brankas jam tangan milik Helios dan memang baru pria itu beli berikut beberapa jam tangan mahal yang sudah menjadi isi.
“Heran, brankas segede itu kok enggak ditaruh dibawah dibungkus-bungkus kain dulu. Asal masuk pas dibuka, bluk. Ahh ...,” batin Chole yang sukses membuat Chalvin dan orang tua mereka menertawakan interaksinya dan Helios.
Helios terpaks*a menceritakan alasan Chole sesedih sekarang.
“Sudah yah, aku berangkat dulu. Telat dari yang sudah dijadwalkan.” Helios memakai maskernya setelah ia membiarkan Ben memboyong bekalnya.
“Kenapa pakai masker lagi?” balas Chole.
“Karena aku enggak pergi sama kamu, selain aku enggak mau nambah beban hidup apalagi pekerjaanku dikelilingi laki-laki sekaligus wanita kesepian. Habis ini kamu langsung tidur ya, biar nanti malam bisa temenin aku. Nanti kita WA-n,” ucap Helios.
Hati istri mana yang tidak tersentuh mendengar alasan sang suami sengaja menjaga sekaligus menyembunyikan penampilannya hanya untuk istrinya? Gara-gara itu juga, Chole jadi lupa jika sebelumnya ia sedang marah ke Helios.
“Besok pagi beneran pulang, kan?” sergah Chole sambil mendekap lengan kiri Helios menggunakan kedua tangannya. Helios yang sudah beres memakai masker, berangsur mengangguk-angguk.
“Besok pagi, aku langsung pulang ke sini. Kamu mau aku bawakan apa?” balas Helios sambil menatap kedua mata Chole.
Chole menggeleng. “Bawaan dari Korea saja entah kapan habis dimakan.”
“Ya sudah aku pergi. Habis ini beneran langsung tidur, jaga langkah kamu. Hati-hati jangan sampai jatuh lagi.” Helios langsung pergi. Membuat sang istri panik karena selain belum dipeluk bahkan dic*ium, Chole juga belum menyalaminya padahal ke Chalvin dan orang tua mereka saja, Helios sudah melakukannya.
“Hati-hati, ya,” lembut Chole sambil menyalami tangan kanan Helios dengan takzim, kemudian membuka masker sang suami karena ia juga mengabsen wajah itu menggunakan kec*upan.
Tuan Maheza dan ibu Aleya sampai tertawa geli menyaksikannya dari teras rumah.
“Hubungan mereka sedekat itu!” ucap Chalvin terkagum-kagum.
“Cepet nyusul, Kak. Cari pasangan yang bisa bikin kamu nyaman seperti mereka. Jadi tuh, kalau kamu sudah nyaman sama seseorang, mau kamu marah, kesel, bahagia, ya pasti kamu akan menjadikan pasangan kamu sebagai rumah!” ucap ibu Aleya dan Chalvin hanya tersipu.
“Nanti saja Mah. Sampai saat ini beneran belum ada yang cocok,” yakin Chalvin yang langsung sigap menjalani titah sang papah untuk mengajak Chole masuk apalagi Helios sudah pergi. Di depan gerbang sana, Chole masih berdiri sedih sambil melambaikan tangan ke kepergian mobil Helios.
__ADS_1