Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
42 : Keputusan yang Akhirnya Diambil


__ADS_3

Chole jadi khawatir, makin yakin memang ada yang tidak beres. Dari WA Cinta yang malah meminta Chole meninggalkan Helios sementara Cinta akan menjadi istri yang baik untuk Helios. Juga Chalvin yang justru menyusul Cinta ke rumah mereka yang ada di kampung.


Karena tetap saja tidak bisa tidur, Chole memutuskan untuk menunaikan salat sepertiga malam. Helios yang terbangun menjadi makin terpesona kepada Chole. Helios memutuskan untuk mengawasi Chole diam-diam sambil mendekap guling pink dan awalnya ada di atas kepalanya.


“Ya Alloh, kok aku jadi enggak bisa tenang gini? Aneh saja, masa kak Cinta minta aku buat ninggalin suamiku sendiri? Andaipun maksudnya bercanda, cara dia beneran keterlaluan,” pikir Chole yang akhirnya sadar, ada yang diam-diam tengah mengawasinya.


“Mas Suami Sayang, ayo salat bareng!” ajak Chole, tapi Helios tetap meringkuk sambil mendekap bantal guling, meski tatapan pria itu terus tertuju kepadanya.


Chole berangsur meninggalkan sajadahnya. Ia menghampiri sang suami kemudian membimbingnya hingga mereka berakhir salat bersama.


Sebenarnya Chole ingin membagi pikirannya kepada Helios, atau malah orang tuanya. Namun, Chole khawatir itu berdampak fatal.


“Terus aku cerita ke siapa?” pikir Chole masih menyalami tangan kanan Helios dengan takzim.


Keesokan harinya, Chole mendapatkan pesan WA balasan dari sang kakak.


Kak Chalvin : Aku baik-baik saja, Chole.


Chole : Kakak di Cilacap?


Kak Chalvin : Kata siapa?


Chole : Sinyal hape Kakak.

__ADS_1


Kak Chalvin : Kamu lagi jadi intel? Sini, peluk dulu 🫂


Chole : Kak Cinta apa kabar, Kak? Kalian sudah ketemu, kan?


Kak Chalvin : Iya, tinggal di kampung kan memang sudah jadi keputusannya. Kita sudah kasih semuanya, jadi jangan pernah menyalahkan diri kamu. Termasuk itu mengenai hubungan kamu dengan Helios. Walau awalnya harusnya kak Cinta, dari awal pun kamu sudah mencoba pendekatan ke Helios. Bukan kita yang mengorbankan dia. Dia sendiri yang maju meski pada akhirnya, dia juga yang memutuskan pergi.


Chole : Boleh ngobrol lewat telepon.


Chalvin : Ngobrol apa?


Belum sempat membalas pesan dari Chalvin, Chole yang masih meringkuk dalam selimut, dikejutkan oleh raungan suara Helios dari dalam berikut suara pecah yang menyertai. Kaget, jantung Chole seolah lepas karenanya. Segera Chole menyingkirkan selimut dari tubuhnya.


Darah segar menghiasi cermin wastafel biasa Chole bercermin di kamar mandi. Kini, cermin tersebut sudah retak dan sebagian pecahannya terserak di wastafel. Chole refleks menyelinapkan anak rambutnya ke belakang kedua telinganya. Setelah ia amati, darahnya bersumber dari punggung tangan kiri sang suami dan sebagiannya sudah menghiasi lantai sekitar. Di bawah wastafel dan sampai terengah-engah, Helios terduduk lemah. Keringat dingin terus keluar dari tubuh pria itu. Jujur Chole sangat takut dan nyaris berteriak, meminta tolong kepada siapa pun yang mampu. Namun Chole sadar, itu hanya akan memperbu*ruk suasana. Chole refleks agak jongkok kemudian mendekap kepala sekaligus punggung Helios.


“Mas, ... Mas kenapa? Mas punya aku. Mas enggak sendiri lagi. Mas bisa ngandelin aku!” lirih Chole yang membiarkan air matanya berlinang. Di hadapannya, Helios yang ia tatap, berangsur menggeleng dan perlahan memalingkan wajah. Perlahan Helios juga menunduk, tapi Chole tetap menyusul, mengecup pipi kiri sang suami dan kali ini terasa asin akibat keringat yang menyertai.


“I love you, Mas!” bisik Chole tepat di sebelah telinga kiri Helios. Kemudian, ia sengaja membenamkan sebelah wajah kanannya di ubun-ubun Helios.


“Seberat ini hanya untuk melihat wajah sendiri,” lirih Helios.


Chole yang mendengar itu berangsur duduk di depan Helios. “Ya sudah ayo, pelan-pelan. Ke Korea Selatan. Kita balikin wajah Mas mirip semula. Meski mungkin enggak bisa benar-benar mirip, setidaknya wajah baru Mas bisa bikin Mas merasa jauh lebih nyaman,” bujuknya.


“Aku malu, Chole!” cemas Helios.

__ADS_1


“Wajib ada yang dikorbankan, termasuk ego Mas biar Mas bisa melakukan perubahan besar buat diri Mas sendiri. Serius, Mas. Orang lain termasuk aku, hanya mampu menolong Mas sampai batas ini. Kami hanya bisa meyakinkan, kasih Mas semangat sekaligus arahan. Selebihnya beneran tergantung Mas.”


“Mas maunya bagaimana? Kalau aku, jujur aku ingin yang terbaik buat Mas. Yang bikin Mas nyaman. Ambil yang paling nyaman. Kalaupun Mas mau operasi, enggak usah malu. Mas operasi pakai uang Mas, bukan orang curi*an. Mulai sekarang, Mas juga wajib menggembleng mental Mas. Karena memang ada hal yang membuat kita wajib masa bod*o pada anggapan sekaligus penilaian orang lain.”


“Ini kan buat perubahan lebih baik, sementara omongan orang enggak ada yang bisa bikin Mas lebih baik. Pokoknya, kalau Mas mau hidup nyaman, sudah mulai sekarang terapkan saja prinsip hidupku urusanku, hidup kamu urus sendiri!” Chole sampai ngos-ngosan karena harus berbicara panjang lebar.


“Ya sudah, aku bersihin sekaligus obati luka di tangan kiri Mas. Ayo!” Susah payah Chole berdiri, kemudian melakukannya juga kepada Helios yang sampai ia tuntun. Ia membawa Helios ke wastafel sebelah ruangan untuk mandi. Wastafel biasa Helios cuci tangan maupun wajah karena di sana memang tidak ada cerminnya.


Chole melapisi telapak tangan kiri Helios menggunakan tisu kering. Kemudian, ia membawanya ke sofa depan kasur mereka. Chole melumurinya menggunakan obat merah kemudian meniupnya nyaris tanpa jeda sambil menunduk.


“Chole, ...?” panggil Helios lirih. Bibir sang istri masih monyong akibat kesibukannya meniup, ketika akhirnya Chole menatapnya.


Chole masih mengerucutkan bibir menatap Helios penuh terka, ketika Helios berkata, “Jangan pernah pergi, ya. Jangan pernah meninggalkan aku.”


Detik itu juga Chole tersipu. “Kok kontras dari yang kak Cinta minta, berarti Mas Helios tetap ingin mempertahankan hubungannya dengan aku,” pikir Chole.


“Enggak usah senyum-senyum gitu. Aku bilang gini karena kalau kamu enggak ada, otomatis juga enggak ada yang urus aku!” sewot Helios lirih. Di hadapannya, sang istri yang tak memakai jilbab maupun cadar, langsung merengut dan tampak ngambek.


“Jangan gitu, kalau aku ngambek beneran, dunia Mas berasa kiamat Sugra!” ucap Chole.


Helios tersenyum kecil, tapi kemudian menggunakan kedua tangannya yang terluka untuk merengkuh punggung sang istri. Sesekali, bibir berisinya juga mendarat di ubun-ubun maupun punggung hidung Chole.


Ketika akhirnya tatapan mereka bertemu dan wajah mereka nyaris tak berjarak hingga mereka bisa merasakan hangatnya udara dari kedua lubang hidung satu sama lain, Helios mengec*up kilat bibir Chole.

__ADS_1


“Baiklah, ... aku mau operasi. Aku mau menjalani hubungan kita dengan normal!” ucap Helios.


Chole langsung bengong tak percaya, tapi wanita itu langsung tersipu ketika bibir kenyal sang suami mencoba menguasai bibirnya.


__ADS_2