
Chole terbangun ketika ponselnya berdering. Yang membuatnya terkejut, bukan karena dering telepon masuk dari ponselnya. Melainkan, kedua tangan kekar Helios yang mendekapnya dari belakang.
Chole menjadi terkikik. Karena hal terakhir yang ia ingat, Helios masih di balkon kamar mereka, tapi kini Helios sudah meringkuk di belakangnya, sama-sama tidur di tempat tidur berkelambu pink.
“Chole, jangan bikin telingaku bude*g gara-gara dering hape kamu!” kecam Helios yang akhirnya terbangun.
Tak ada perubahan berarti dari Chole. Wanita itu tetap cekikikan kemudian berangsur meraih ponselnya dari nakas. Lain dengan Helios yang buru-buru menarik kedua tangannya kemudian menjauh. Helios jadi meringkuk di pinggir tempat tidur dan itu membelakangi Chole. Chole yang melihat itu jadi gemas. Chole sengaja menyusul Helios kemudian mengecu*p kening sang suami. Namun dengan cepat, tangan kiri Helios mencubit hidung Chole meski pria itu masih meringkuk dan kedua matanya juga masih terpejam.
Chole malah tertawa kemudian izin untuk menelepon sang mamah karena alasan ponselnya berdering memang efek telepon masuk dari ibu Aleya.
“Merek sudah datang buat bantu-bantu bikin tumpeng sama bakaran,” ucap Helios yang perlahan membuka mata.
“Enggak tahu sih,” balas Chole.
“Pasti. Jam berapa ini?” ucap Helios berangsur bangun kemudian meninggalkan tempat tidur mereka. Ia menjadi jengkel karena wajahnya tersangkut kelambu.
“Chole!” kesal Helios.
“Hati-hati ya, Mas!” Chole tetap menertawakan sang suami. Namun, ia juga sengaja menghampiri Helios. “Mau ke mana, sih?”
“Mau cuci wajah. Itu pasti orang tua kamu yang datang.” Helios kembali mengomel. “Telepon balik mamah kamu biar dia enggak mikir macam-macam apalagi tadi, kita yang mengundang mereka!” Kali ia sengaja mengingatkan sang istri.
Seperti yang Helios duga, orang tua Chole sudah datang. Keduanya tertahan di pintu masuk, membuat Helios tak jadi masuk kamar mandi dan langsung melakukan telepon darurat ke satpam yang berjaga melalui telepon rumah du kamar mereka.
__ADS_1
“Ya sudah, aku juga mau cuci wajah dulu.” Karena cuci wajah yang Chole lakukan juga, ia tahu sang suami tak berani melihat wajahnya sendiri. Helios membasuh wajah pada wastafel tanpa cermin. Chole yang diam-diam mengawasi jadi sedih.
“Cepat cuci wajah dan nanti jangan lupa pakai jilbab sekaligus cadar kamu,” ucap Helios karena kini, Chole memang tidak memakai jilbab maupun cadar. Chole melepas keduanya ketika wanita itu akan tidur siang.
“Iya Mas Suamiku sayang, tapi keluar kamarnya jangan pisah, bareng-bareng ih. Nanti dikira kita lagi berantem,” rengek Chole.
Helios yang baru akan melenggang pergi meninggalkan tempat tidur langsung mendengkus. Namun, ia tetap melangkah keluar meski ia juga kembali sambil membawa kerudung maupun cadar Chole.
Chole buru-buru mengeringkan wajahnya menggunakan handuk. Kemudian, ia mengambil cepuk bening warna merah dan mengaplikasikannya ke wajah. “Sini, Mas juga pakai!” sergah Chole.
“Ihhh!” Helios refleks mundur.
“Enggak apa-apa, ini adem banget dan cocok untuk semua kulit!” yakin Chole berjinjit-jinjit, tapi selama usahanya itu, Helios yang memang jauh lebih tinggi darinya juga akan sibuk berjinjit.
“Kulit perempuan dan laki-laki itu beda. Aku tahu itu mesk aku bukan lulusan medis!” omel Helios.
“Istri yang baik selalu punya berbagai cara buat kasih yang terbaik buat suami, Mas. Dan suami yang baik juga alangkah baiknya mengimbangi usaha istri tanpa hanya menuntut istri menjadi sempurna!” tegas Chole sambil mengaplikasikan lotion pelembab wajahnya ke wajah Helios dengan hati-hati sekaligus merata.
Helios merasa terta*mpar dengan ucapan Chole. Alasan yang juga membuatnya pasrah didandani dengan gaya bar-bar oleh istrinya itu. Karena setelah mengurus wajahnya, Chole juga menggunakan tangan kanannya untuk merapikan gaya rambut Helios. Terakhir, bagi Helios apa yang Chole lakukan benar-benar jurus ma*ut. Karena wanita itu menghujani wajah, kepala bahkan bibirnya dengan ci*uman bertubi. Walau ketika wanita itu turun secara buru-buru, Chole yang menginjak ujung gamisnya sendiri justru berakhir terbanti-ng mengenaskan di hadapan Helios. Suasana sunyi yang awalnya diselimuti kehangatan sudah langsung pecah digantikan dengan rintih kesakitan Chole dan itu benar-benar manja.
“Aku beneran heran sama kamu. Kamu kalau enggak jatuh sehari saja kayaknya emang enggak bisa. Astagfirullah ... astagfirullah!” omel Helios yang langsung merengkuh Chole.
Chole yang awalnya meringis sambil terus merintih kesakitan jadi terkikik. Untuk pertama kalinya ia mendengar seorang Helios istighfar. “Tetap gini ya Mas. Mau Mas jadi Helios, mau Mas jadi Heri, Mas memang orang yang baik. Memang enggak sembarang orang bisa menyadari apalagi merasakannya. Karena hanya orang-orang beruntung saja yang bisa merasakan kebaikan Mas!”
__ADS_1
“Lama-lama aku beneran bisa buang kamu ke kandang buaya, kalau dikit-dikit kamu ceramah gini!” omel Helios masih membantu sang istri berdiri dengan benar. Ia masih mendekap punggung Chole.
“Kalau Mas buang aku ke kandang buaya, Mas enggak punya istri cantik jelita paket komplit kayak aku lagi! Masalah aku berisik kan ini yang bikin aku makin jadi paket komplit. Lagian, Mas juga yang melarang aku buat jangan diam. Ini rumah belum dibikinin selamatan kan? Baru mau nanti!” yakin Chole terus bicara walau Helios hanya diam. Pria itu baru menatapnya dan itu sampai mendelik ketika kedua tangannya justru memakaikan kerudung ke kepala Helios.
“Astagfirullah. Kok malah dipakein ke Mas!” Lagi, Chole hanya tertawa dan buru-buru memakai jilbabnya.
“Diam,” ucap Helios yang juga langsung berdalih dirinya akan memijat punggung Chole lantaran wanita itu langsung bertanya.
“Pelan-pelan loh, Mas. Nanti kalau aku kesakitan, aku bakalan peluk Mas sampai Mas enggak bisa napas!” ancam Chole.
Mendengar itu, Helios yang awalnya serius refleks menunduk seiring tawa yang susah payah pria itu tahan. Karena untuk pertama kalinya, Helios.merasa ucapan Chole sangat lucu. Ia refleks melampiaskannya dengan menab*ok panta*t sang istri dan berakhir membuat Chole latah menyebut panggilan untuknya secara lengkap.
“Lama-lama kok kamu mirip si Ojan!” ucap Helios geleng-geleng. Ia sudah beres memijat punggung Chole dan Chole pun tengah memakai cadar.
“Wah, Mas Suami Sayang, kenal Ojan juga? Aku sama dia kan sohib, Mas. Malahan pas aku kecil, setiap aku pulang kampung, dia yang momong alias jagain aku,” jelas Chole sambil menyusul Helios yang sudah melangkah keluar dari kamar mandi.
“Pantas kelakuan kalian kembar. Ternyata kalian satu padepokan!” ujar Helios.
Lagi, Chole tertawa. “Bukannya gimana, gitu-gitu dia penyayang ke anak kecil apalagi anak perempuan. Dia sama aku kan emang terpaut agak jauh ya. Ada tujuh belas tahun apa ya.”
“Penyayang anak kecil gimana? Yang bener dia itu penyayang janda sama wanita bercadar. Excel sendiri yang cerita,” jelas Helios masih sewot, tapi sang istri yang sudah mendekap lengan kirinya menggunakan kedua tangan, sudah terbahak-bahak.
Baru di pertengahan anak tangga yang menghubungkan lantai atas lantai bawah, Chole sudah sangat heboh, berisik menyapa orang tuanya di bawah sana. Namun, dengan cekatan Helios mendekap pinggang Chole kemudian mengingatkan istrinya itu untuk hati-hati.
__ADS_1
“Aku enggak mau kamu jatuh lagi. Pelan-pelan saja. Mamah papah kamu enggak akan pindah ke planet lain hanya karena kamu jalannya pelan!” omel Helios.
Dan Helios sungguh tidak menyangka, Chole yang masih bersuara lantang, mengabarkan kepada orang tuanya perihal larangan Helios. Tuan Maheza dan ibu Aleya langsung tersipu. Tampak jelas kebahagiaan dari wajah keduanya yang jadi sibuk memandangi kedatangan Helios dan Chole.