
Nomor baru itu kembali menghubungi ponsel Helios dan kebetulan, Chole yang sedang membawa ponsel berikut dompet sang suami. Mereka tengah berada di toilet yang ada di bandara. Lebihkebetulan, lagi, Chole beres lebih dulu. Hanya saja karena Chole penasaran dan ingin tahu siapa sebenarnya pemegang nomor tersebut hingga begitu gencar menghubunginya maupun menghubungi ponsel Helios, Chole tak jadi keluar dari ruang toilet keberadaannya.
Chole dengan cekatan mundur kemudian menutup sekaligus mengunci pintunya. Tanpa terlebih dulu bersuara, Chole yang memang sengaja bungkam segera menggeser tombol jawab di layar ponsel milik Helios yang sampai detik ini masih memakai wallpaper fotonya yang memakai efek anak kucing.
“Kalau orang itu sampai sibuk menghubungi mas Helios juga, berarti dia memang kenal kami! Namun masa iya, kak Cinta?” pikir Chole yang seketika bungkam karena tebakannya benar.
“Mas Helios! Ini aku, Mas. Cinta! Mas, aku ... maksudku, kita harus bicara. Harusnya enggak gini. Harusnya, kita menikah, kan?”
Apa yang Cinta lakukan dari seberang langsung membuat dada Chole bergemuruh. Chole refleks menghela napas pelan sekaligus dalam guna meredam emosi yang seketika berkobar-kobar.
“Assalamualaikum, Kak. Ini aku, Chole, ... istrinya mas Helios. Maaf, Mas Heliosnya ada di toilet dan hapenya memang sama aku.”
“Apa maksud kamu menjawab teleponnya tanpa izin? Kamu bahkan enggak bilang dari awal, Chole! Sopan sedikit kenapa?”
Mendengar itu, Chole langsung bengong. “Kamu salah makan apa gimana, Kak? Sebenarnya kamu kenapa? Sudah ... sudah, enggak usah dijelaskan. Kakak cukup diam dan Kakak baru boleh menghubungi kami jika Kakak sudah merasa jauh lebih tenang. Cara Kakak begini beneran sudah enggak bener. Jangan lupa, mas Helios dan aku sudah menikah, jadi Kakak juga harus bisa jauh lebih menjaga sikap Kakak. Jangan karena Kakak enggak jadi sama Akala, terus Kakak lari ke suamiku dan berharap suamiku mau menampung Kakak, makanya Kakak juga sampai meminta aku buat mundur!”
Tanpa memberi Cinta kesempatan untuk menjawab, Chole juga segera berkata, “Sekarang katakan, wanita seperti Kakak, wanita macam apa? Kenapa harus mengejar-ngejar suami adikmu sendiri? Kalaupun hubungan kita membolehkan kita dipoligami, memangnya Kakak enggak mikir, siapa Kakak dalam keluargaku? Kakak bahkan lebih jahat dari kak Cikho! Kakak bahkan tetap enggak bisa belajar dari apa yang sudah mencolok mata kita, ... mencolok mata Kakak!”
__ADS_1
“Aku pikir, dengan aku yang menikah dengan mas Helios, ini bisa melindungi nama baik kita karena yang kami khawatirkan, Kakak dengan sadar selingkuh dengan Akala. Namun, hanya karena Kakak enggak jadi dengan Akala, Kakak tega merusa*k rumah tanggaku.”
“Ingat, Kak. Tebar tuai karma itu nyata. Jangan sampai Kakak menyesal karena penyesalan selalu datang terlambat!” Detik itu juga Chole langsung mengakhiri sambungan telepon mereka. Tak lupa, ia juga langsung memblokir nomor baru Cinta.
Tanpa mau pusing memikirkan keadaan Cinta, Chole langsung kembali bersikap biasa-biasa saja. Ia bahkan langsung bisa tersenyum ketika di waktu yang sama, ternyata Helios keluar dari toilet laki-laki paling ujung kanan.
“Aku baik-baik saja ya Alllah, ... aku baik-baik saja. Aku yakin aku bisa. Aku yakin, aku kuat. Aku percaya, Enggak enggak mungkin memberi cobaan lebih dari kemampuan!” batin Chole. Ia memilih menunggu Helios di depan toilet yang baru ia tinggalkan. “Mungkin ini yang disebut orang terdekat jauh lebih berbahaya dari penjahat manapun. Namun sudahlah, lumrah kak Cinta ingin kembali ke suamiku. Suamiku punya materi yang andai aku hidup mirip sosialita, suamiku sanggup mencukupinya. Selain itu, statusnya sebagai ketua mafia berpengaruh juga bikin pasangannya disegani banyak pihak dan otomatis jadi kelebihan sendiri.
Yang langsung mengganggu Helios, tentu karena ponselnya dan awalnya ada di dalam tas Chole berikut dompetnya, kini Chole genggam menggunakan tangan kanan. Chole menggenggamnya sangat erat dan jemari lentik yang sebagiannya memakai sarung tangan pink salem itu ia pergoki gemetaran.
Tanpa memperkarakannya bahkan sekadar bertanya karena takut itu hanya membuat keadaan makin fatal, Helios sengaja langsung merangkul, memeluk gemas Chole kemudian membawanya pergi dari sana.
Ben dan Dandi yang awalnya menunggu di depan pintu masuk toilet segera mengawal mereka. Sementara Helios sengaja mengambil alih ponsel berikut tas Chole. Ia memasukan ponselnya ke dalam tas Chole yang ia berikan kepada Dandi agar membantu membawakannya.
“Yang penting yang urus perempuan juga. Nanti Mas temenin saja, ya?” balas Chole.
Baru Helios sadari, ada yang aneh dengannya. Terbukti, kedua mafia yang kini bertugas menjadi ajudannya, kerap ia pergoki menahan senyum sambil melirik ke arahnya. Hingga akhirnya Helios menyadari, kenyataannya yang melangkah sambil memeluk gemas Chole menjadi pemandangan aneh, bahkan untuknya sendiri. Namun tak bisa Helios pungkiri, rasa telanjur nyaman menjadi penyebab keadaan itu terjadi.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Helios berangsur mengubah rangkulannya menjadi gandengan biasa. Di tempat tunggu, Tuan Maheza dan ibu Aleya sudah menunggu. Keduanya langsung berdiri dan menyambut kedatangan mereka dengan senyuman hangat.
“Ayo, siap-siap, bentar lagi take off,” sergah ibu Aleya lembut. Ia mengulurkan tangan kanannya kemudian menuntun Chole yang langsung menggandengnya.
Chole memang sengaja ikut dengan ibu Aleya agar sang suami juga memiliki waktu untuk mengobrol sekaligus lebih dekat dengan Tuan Maheza.
“Siap, kan?” tanya Tuan Maheza sengaja memulai kebersamaan mereka. Karena walau ia memang tipikal pendiam, pada kenyataannya sang menantu jauh lebih parah darinya. Lihat saja, disapa layaknya tadi saja, Helios hanya tersenyum canggung sambil mengangguk-angguk. Sesekali, Helios juga ia pergoki membenarkan masker maupun kacamata hitam yang pria itu gunakan untuk menutupi wajah sekaligus kedua matanya.
“Nanti kalau sudah beres, kita buat syukuran ya. Sekalian mau kasih nama baru juga buat kamu. Ibaratnya, biar dengan nama baru kamu, semuanya jadi lebih berkah dan kamu pun jauh lebih sehat,” ucap Tuan Maheza kembali merangkul punggung Helios.
“Oh iya bener, ... dulu Mamah juga gitu. Alhamdullilah, setelah dua tahun koma dan banyak cobaan setelahnya, setelah ganti nama dibuatkan syukuran juga, beneran jauh lebih bahagia,” cerita ibu Aleya yang langsung membuat Chole kepo.
“Iya, gitu saja Mas nanti. Tapi nanti yang kasih nama gitu siapa?” ucap Chole tak sabar. Ia sungguh ingin semuanya cepat selesai. Ia ingin melihat sang suami dengan wajah barunya. Ia ingin melihat sang suami mendapatkan ketenangan sekaligus kebahagiaan dari wajah sekaligus penampilan barunya.
Tak lama kemudian, Helios membiarkan sang istri menggandeng mesra lengan kirinya menggunakan tangan kanan. Mereka sudah masuk pesawat dan memang duduk bersebelahan dengan pasangan masing-masing. Begitupun dengan Ben dan Dandi yang masih mengawal mereka.
“Mas tegang?” tanya Chole berbisik-bisik. Ia tak ubahnya anak kucing yang terus nyempil kepada Helios meski mereka sudah memiliki tempat duduk berbeda dan itu masih bersebelahan.
__ADS_1
Keceriaan Chole yang tetap layaknya biasa membuat Helios menyadari, istrinya sangat pandau menyembunyikan luka.
“Lalu, tadi Chole kenapa?” pikir Helios berniat akan memeriksa ponselnya nanti setelah mereka selesai penerbangan dan tentunya tanpa sepengetahuan Chole.