Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
101 : Romansa yang Berbeda : Jaga Menantu Hamil Sekaligus Jaga Cucu


__ADS_3

Mendapati suasana rumahnya sangat ramai oleh para orang muyen, kebahagiaan Tuan Maheza sekeluarga yang memang baru sampai, langsung membuncah.


Sepeda, motor, bahkan mobil terparkir dengan rapi di pinggir jalan. Mirip ada bazar dadakan. Mobil milik mereka sampai tidak bisa masuk lantaran para pemuyen memang dibiarkan berkumpul di teras rumah hingga halaman. Jadi layaknya pemandangan ibadah di masjid akbar, tikar-tikar digelar di.halaman rumah yang sudah ditegel. Jamuan tampak lengkap di sana. Sekelas Ojan dan orang-orang mereka sendiri tampak yang mengantar setiap suguhan. Meski khusus untuk Ojan yang memang susah tenang, pria itu tak sungkan meninta bayaran untuk setiap sajian yang diantar tapi tentu saja hanya bercanda.


“Ramenya,” bisik Laras masih membiarkan sebelah tangannya digenggam erat sang suami meski pinggangnya juga sudah dirangkul mesra. Sebab seiring perutnya yang makin besar, meski sempat amnesia dan juga sempat sulit menerimanya, Chalvin jadi makin perhatian.


“Besok kalau kamu lahiran, boleh banget kalau mau lahiran di sini. Jangan di desa kamu, tetangga kamu enggak banget. Apalagi kalau sudah berurusan dengan Rudy,” ucap Chalvin.


Mendengar itu, Laras sudah langsung menengadah, menatap Chalvin penuh cinta. “Tapi sekarang mendingan, Mas. Semenjak mas Helios dan Chole bawa polisi sama keluarga pak Kalandra. Sebelum akhirnya kita bertemu.”


“Tapikan itu tandanya, mereka enggak tulus,” balas Chalvin yang juga sudah langsung membimbing sang istri mandi karena mereka akan bertemu baby Kim. Namun sebelum itu, mereka sengaja menemui tamu ala kadarnya sambil mengabarkan mereka akan mandi dulu.


Jadi, rombongan Tuan Maheza yang sampai disertai Chalvin dan Laras, baru berani masuk kamar setelah mereka mandi, yang mana kepala mereka juga sama-sama setengah basah.


“Diboyong juga bumilnya?” heboh ibu Septi yang tak segan mengelus-elus perut Laras.


“Diboyong lah, biar enggak kepikiran. Mau lahir, lahir saja di sini rame-rame biar urusnya gampang. Jadi Chalvin pun kerjanya online dulu!” balas ibu Aleya.


Balasan ibu Aleya sudah langsung ditanggapi positif oleh semua yang ada di sana. Yang mana semuanya juga berdalih, agar mereka turut bisa bantu momong.

__ADS_1


“Si Kim enggak mau barengan, jadi dia keluar duluan. Padahal kalau dihitung-hitung, harusnya anak Akala, Chole, sama Chalvin bakalan menuh-menuhin kelas karena mereka seumuran!” ucap ibu Arum.


“Kalau dipikir-pikir, dibuatin satu sekolah, sudah cukup ramai meski hanya ditempati cucu-cucu kita, ya?” kali ini ibu Septi cekikikan.


“Sepri sama Suci, jadi kan, bu Septi?” tanya ibu Aleya benar-benar lembut meski ia tengah mendekap sang putri yang duduk di pinggir tempat tidur, penuh cinta.


“Isya Allah jadi. Pelan-pelan. Yang namanya orang trauma ke pernikahan kan enggak mudah ya. Ibaratnya kan, sekarang mereka pendekatan dulu, bahasanya ya pacaran lah. Jadi kan itu si Jam-jam, mas Aidan, semuanya kan juga mendukung, kasih Sepri maupun Suci masukan. Sepri wajib dekat sama Binar, biar Suci juga enggak beban lagi. Soalnya kalau sudah kayak Suci dengan masa lalu pernikahan yang dipenuhi air mata pernikahan, ya memang enggak mau nikah lagi. Sudah, pokoknya fokus sama anak saja. Tapi ya Alhamdullilah, sekarang mereka kan sudah makin dekat. Tinggal nikah lah, biar aku juga bisa merasakan romantis yang berbeda juga kayak kalian-kalian. Soalnya kan kalau seumuran kita, romantisnya kita sama suami kan, ya ... menjaga menantu atau anak hamil, sambil momong cucu!” Berkaca-kaca ibu Septi bercerita, meski tentu saja, ia tidak bisa untuk tidak tertawa.


“Suci orang yang sangat baik. Sabar banget sama dia. Insya Allah, jodoh sama mas Sepri yang memang sangat baik. Apalagi mereka saling melengkapi. Kan selama ini Suci dituntut jadi istri sempurna, hidupnya kerja, kerja, dan kerja, nanti kalau sudah sama Sepri dia pasti tinggal menikmati perjuangannya. Ibaratnya, Sepri pasti sudah langsung memperlakukan Suci layaknya ratu. Ke Binar saja, Sepri sayang banget walau memang masih kaku apalagi kalau sudah dicie-cieen sama anak-anak!” ucap ibu Arum yang turut bercaka-kaca lantaran terharu pada perjalanan hidup Suci maupun Sepri yang penuh perjuangan. Keduanya hadir dengan kekurangan sekaligus kelebihan masing-masing. Namun ibu Arum yakin, keduanya selalu berusaha menghadirkan sekaligus mencintai satu sama lain, dengan sempurna.


“Kita bantu doa terbaik. Buat Sepri, buat mas Ojan juga,” ucap ibu Aleya masih memeluk Chole penuh sayang.


“Makanya mas Andri makin klepek-klepek ke sayah Mas Maheza!” balas ibu Septi dengan bangganya, tapi sudah langsung ditertawakan oleh semuanya, termasuk oleh dirinya sendiri.


“Mirip siapa, yah, Pah?” bisik Laras. Memiliki mertua super baik sekaligus lembut layaknya Tuan Maheza, membuatnya seperti sedang bersama bapak kandung sendiri.


“Ganteng banget, ya?” balas Tuan Maheza berbisik-bisik juga.


“Mirip banget sama bapaknya. Hidungnya tinggi banget Pah! Tapi asli, ini wajahnya perpaduan sih ... mirip V BTS malahan Chole! Ah kamu gimana Chole. Ngefansnya ke siapa, miripnya ke siapa?” Laras terkikik dan menjadi alasan mereka yang di sana jadi terkikik juga.

__ADS_1


“Yang penting jangan mirip Rayyan, soalnya papanya ged*eg banget ke Rayyan!” balas Chole sambil menahan tawanya.


“Ini orangnya ke mana, kok enggak kelihatan?” ujar Chalvin setelah melongok-longok wajah baby Kim dari sebelah Laras.


“Lagi ke klinik Kak soalnya bilang kayak terkena gejala bapil. Galau terancam enggak bisa dekat-dekat anak sama istri,” balas Chole. “Tadi habis makan soto sudah langsung diantar ke klinik.”


“Soto ayam? Bikin emang? Masih enggak?” timpal Chalvin bersemangat.


“Masih, ... masih. Sudah langsung ke dapur saja. Tadi ibu sama mbak Mbi termasuk Nina, bikin banyak!” ucap ibu Arum.


“Berarti memang soto buatan Ibu Arum, kan?” sergah Chalvin memastikan.


“Iya, Mas. Soto buatan Ibu Arum yang paling enak, kan?” balas ibu Arum dengan bangganya.


Meski yang lain sudah langsung terbahak, Chalvin dengan sadar menyodorkan kedua jempol tangannya kepada ibu Arum. Chalvin bahkan sengaja memboyong sang istri untuk langsung makan soto di dapur.


“Nin, kelakuan ibu mertuamu, makin tua makin pede dia!” ujar ibu Septi.


“Ya enggak apa-apa yah, Nin. Pede wajib, daripada minder. Toh memang kenyataan, jadi memang enggak salahnya kalau kita ngikutin motivasi—hari ini wajib lebih baik dari hari kemarin. Biar ada yang bisa dibanggain!” sergah ibu Arum lagi sambil memeluk Nina dari samping. Pelukan tak kalah hangat sekaligus penuh kasih sayang dari pelukan yang ibu Aleya lakukan kepada Chole.

__ADS_1


“Ini juga cepet-cepet lahir, ya. Yang gampang, lancar jaya sehat semua! Amin!” ucap ibu Arum sambil mengelus-elus perut Nina yang memang sudah sangat besar. Tiga minggu lagi saja menjadi HPL kehamilan Nina.


__ADS_2