Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
60 : Penyakit AIN


__ADS_3

Chalvin tidak ada di IGD, dan lagi-lagi kenyataan itu membuat Cinta kecewa. Padahal Cinta yakin, dirinya tak mungkin salah lihat dan tadi memang Chalvin. Apalagi Chalvin tak mungkin memiliki kloni*ngan seperti Cinta yang telah mengubah wajah Nina menjadi mirip wajahnya.


“Terus, Chalvin ke mana? Tadi kan dia dari IGD dan otomatis dia enggak mengenali aku karena aku saja jadi enggak kenal wajahku sendiri. Wajahku yang sekarang beneran asing. Mirip nenek-nenek ....” Dalam hatinya, Cinta terus berpikir keras, hingga sang perawat mengingatkan perihal rujukan yang harus ia jalani.


“Tapi, Kak. Tanpa adik saya, otomatis saya juga enggak bisa bayar biaya pengobatan karena saya sudah enggak punya uang,” yakin Cinta. Dalam diamnya Cinta juga yakin, cepat atau lambat, orang-orang akan mengetahui keadaannya termasuk itu Chalvin lantaran polisi sudah memproses kasus kecelakaannya.


Terhitung dari beberapa jam lalu, kasus kecelakaannya diusut, setelah Cinta bisa berbicara dengan lancar. Bahkan karena kenyataan tersebut pula, Cinta akan menjalani perawatan rujukan.


Di rumah sakit Cinta memutuskan menunggu, sebenarnya Chalvin ada di ruang ICU. Chalvin baru saja mengantar bapak mertuanya yang memang harus ditangani secara intensif. Di sana juga ada Laras yang tampak kacau karena terlalu bingung. Hanya saja, Laras memilih diam tanpa mau membaginya kepada Chalvin.


“R-ras ...?” Tangan kanan Chalvin nyaris meraih tangan kiri Laras, tapi di waktu yang sama, Laras menoleh sekaligus balik badan menatapnya, hingga tangan kiri Laras menjadi jauh dari jangkauan tangan kanannya.


“M-mas, maaf ya. Aku bakalan merepotkan Mas.”


“Enggak apa-apa.”


“Ini aku mau jaga ibu di IGD. Mas yang di sini. Soalnya kalau Bapak kan otomatis sudah dapat penanganan intensif, sementara Ibu pasti ada saja yang dikeluhkan. Jadi, aku yang rawat ibu.” Laras susah payah mengatakan itu karena ia terlalu sungkan.


“Ya sudah, gitu saja. Kamu jaga ibu, aku jaga bapak. Sekalian minta nomor hape kamu biar komunikasi kita lancar.” Chalvin mengeluarkan ponselnya hingga untuk pertama kalinya, setelah mereka menjadi pasangan suami istri, akhirnya mereka bertukar nomor ponsel.

__ADS_1


“Kamu bawa atm, kan?” lanjut Chalvin masih sibuk dengan ponselnya. Ia tengah membuka aplikasi m-banking.


“Memangnya kenapa, Mas?” tanya Laras ragu.


“Buat ambil uang, biar kita ada pegangan. Bawa enggak? Kalau bawa, aku langsung transfer terus kamu ambil di depan kan ada mesin ATM, tapi kalau enggak bawa, ini langsung bawa saja, nanti aku kasih tahu pin-nya.” Chalvin mengeluarkan sebuah ATM dan memberikannya kepada Laras.


Setelah obrolan tersebut, mereka berpisah dan mengerjakan tugas sesuai pembagian. Alasan yang juga membuat Cinta makin tidak bisa menemukan Chalvin. Bahkan walau pada akhirnya di beberapa kesempatan, Cinta bertemu Laras, keduanya tetap asing. Laras yang terus tersenyum kepada Cinta di setiap pertemuan mereka, merasa kasihan pada Cinta. Sementara Cinta merasa malu apalagi Cinta sadar, penampilannya sekarang membuatnya dikasihani.


“Mah, itu orang mirip zombi!” celetuk seorang bocah yang kiranya berusia enam tahan.


Seorang wanita terbilang necis yang dipanggil mamah oleh si bocah, buru-buru membekap mulut sang putra sambil sesekali membungkuk kepada Cinta.


“Aku akan memanfaatkan kondisiku yang sekarang agar orang-orang iba, agar orang-orang lebih peduli kepadaku. Apalagi Helios, dia pernah merasakan apa yang aku rasakan. Aku yakin, sebenci apa pun dia kepadaku, dia enggak pernah bisa benar-benar enggak peduli. Ditambah lagi andai aku jadi lemah lembut. Akala pun, ... aku akan membuat Akala merasa bersalah atas apa yang terjadi kepadaku. Aku akan membuat Helios dan Akala berlomba memberikan perhatian kepadaku. Chole dan Nina juga wajib merasakan pembalasan setimpal. Karena meski aku enggak mungkin bikin wajah mereka bu*ruk rupa seperti yang aku alami, aku pastikan mereka akan menjadi wanita paling menderita. Aku akan membuat setiap pasangan mereka lebih peduli bahkan bertekuk lutut kepadaku!” sumpah Cinta dalam hatinya.


Tanpa direncanakan, Cinta dan Laras melangkah sejajar. Laras membawa kantong keresek berisi nasi bungkus, minuman, dan juga beberapa pisang matang.


“Mas, aku mau ke Mas bawa makan sore. Aku bawa nasi ... Mas butuh yang lain juga enggak? Mumpung ibu masih istirahat,” ucap Laras yang belok ke lorong berbeda.


“Ciri-ciri orang pamer dan bikin yang enggak seberuntung dia, iri. Mau ketemuan saja masih harus telepon,” batin Cinta yang dibawa masuk ke lift sebelah tangga darurat tujuan Laras.

__ADS_1


“Yang tadi gimana?” tanya perawat yang mengantar Cinta, kepada si rekan yang ikut dengan lift mereka.


“Kayaknya sih kena penyakit AIN, soalnya kasus seperti ini, meski langka tapi memang ada. Dulunya dia model gitu, cantik banget. Aku saja sempat mengikuti dia. Namun memang banyak yang iri atau malah sakit hati—”


“Penyakit hati memang paling susah penanganannya. Wajib kesadaran dari yang menjalani,” ucap perawat yang mengantar Cinta dan tanpa ia sadari justru membuat Cinta merasa tertam*par.


“Bukan gitu, Bro. Ternyata meski cantik, doi hobi merebut pasangan orang. Yang suka dia memang segambreng, banyak banget, dari segala kalangan. Tapi si doi ternyata punya kebiasaan apa malah hobi merebut pasangan orang. Ini beneran penyakit, jadi dia biasa WA pasangan sahabatnya baik yang baru pacaran, mau nikah atau malah suami sahabatnya. Ini terakhir, calon suami sahabatnya malah jadinya sama dia, nikah gitu, padahal dua minggu sebelum mereka akhirnya ngamar bareng, sahabatnya ini harusnya menikah. Itu lagi jadi bahan gibahan panas para suster. Penyakit hati, sakit ji*wa gini beneran ada,” jelas pria tadi.


“Innalillahi ... yang namanya azab beneran ada,” ucap perawat yang menangani Cinta.


“Kasihannya sana sini pada kompak nuduh sahabatnya itu, itu sahabatnya ikut linglung nangis terus karena si doi kejang-kejang. Sekujur tubuhnya yang awalnya mulus seksoy, jadi penuh cacar nanah bau kalau pecah.”


“Sudah, Bro ... ngeri, semoga aku enggak ditugasin urus dia!” ucap perawat yang mengurus Cinta.


Tanpa direncanakan, kedua perawat pria di sana kompak melirik Cinta. Bukan karena wanita itu hanya diam, tapi luka Cinta yang bagi mereka tak biasa. Rupa Cinta sampai tak bisa dikenali. Keduanya kembali kompak saling lirik, tapi perawat yang mengurus Cinta buru-buru menggeleng sambil bergidik. Ia bahkan tidak pamit walau ia pergi dari lift yang baru saja terbuka. Pria itu mendorong kursi roda Cinta dengan sangat buru-buru.


“Penyakit ain? Aku ...?” pikir Cinta jadi merasa ngeri sendiri.


Di tempat berbeda, Chole masih berzikir tasbih ditemani orang tuanya. Ketiganya begitu kompak berdoa dipimpin oleh Tuan Maheza. Hingga selang lima jam kemudian, ketiganya terusik oleh pintu ruang operasi yang terbuka. Saking lamanya menunggu, ketiganya kesulitan berdiri, tapi dengan kepala dan kedua mata mereka, mereka mendapati Helios diboyong keluar. Wajah Helios masih diperban, dan Chole tidak bisa menghentikan air matanya untuk tidak berlinang di tengah kesibukan kedua matanya melepas kepergian sang suami.

__ADS_1


__ADS_2