Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
59 : Mirip Nenek-Nenek


__ADS_3

Sekitar satu minggu yang lalu, ketika berniat mencari Cinta ke makam, Chalvin justru bertemu Laras yang sempat Chalvin kira kuntilanak—baca novel : Pembalasan Istri yang Haram Disentuh.


Suasana malam yang gelap, sepi, dan jalan di sekitar makam yang jauh dari kata baik menjadi awal pertemuan mereka.


Chalvin tidak sengaja menabrak sepeda milik ayah Laras, yang kebetulan jatuh ke jalan. Dan walau sudah menabrak sepeda, Chalvin juga tidak menyadarinya lantaran jalan di san memang penub lobang jauh dari kata baik.


Sepeda ayah Laras ternyata membonceng satu karung kecil berisi satu kantong belut dan satu kantong ikan gabus. Ayah laras pulang lebih dulu karena ditemukan nyaris pingsan oleh tetangga yang kebetulan melintas menggunakan motor. Karenanya, Laras yang sudah memakai gaun tidur warna putih lengkap dengan masker mirip bedak beras, nekat mengambil sepeda sang ayah.


Chalvin yang memang dasarnya tipikal orang baik sengaja turun membantu. Ditambah lagi, Chalvin yang tidak terbiasa dengan suasana makam berlampu nyala-mati, berniat meminta bantuan Laras untuk mengecek keberadaan Cinta di makam ibu Resty.


“Itu u-ular?!” panik Chalvin ketika Laras dengan cekatan mengantongi setiap belut yang kabur dari kantong.


“Belut, Mas. Kan tadi sudah dijelasin, ini belut sama ikan gabus. Bapak baru beli ini buat dimasak besok dan dijual di pasar. Tapi asma bapak kambuh, untung saja ada tetangga yang lihat,” jelas Laras benar-benar sabar. Walau karena penjelasannya, masker di wajahnya mendadak retak-retak dan perlahan jatuh.


“Ini maaf banget yah, Mbak—”


“Nama saya Laras. Panggil saja Laras, Mas!” yakin Laras, dan pria di hadapannya dan belum ia lihat wujudnya dengan jelas akibat penerangan cahaya di sana, mengangguk-angguk paham menanggapi balasannya.


“Oke, Mbak Laras. Maaf banget karena saya, saya enggak bisa bantu karena saya memang takut ikan apalagi belut begitu. Astafirullaaahhh, innnalilahi geliii!” Chalvin sampai balik badan, tapi melihat lampu jalan sebelah kuburan terus mati hidup dan jelas disertai suara tanpa penampakan, ia lebih takut. Ia sampai lari dan berdiri di belakang punggung Laras.

__ADS_1


“Mas takut ...?” tanya Laras enteng sambil menatap khawatir Chalvin. Pria itu tampak sangat tegang, kaku mirip patung.


“Semuanya, termasuk kamu, beneran bikin aku takut!” balas Chalvin jujur tapi tak mau terlihat takut.


“Kalau saya lempar ikan gabus, Mas takut juga?” tanya Laras justru sudah mengangsurkan satu buah ikan gabusnya kepada Chalvin.


“I-itu namanya cari gara-gara!” semprot Chalvin refleks.


Singkat cerita, karena sepeda ayah Laras sampai patah jadi dua, Chalvin memboyong sepeda tersebut di bagasi mobilnya. Termasuk juga dengan Laras. Ia meminta Laras untuk duduk di tempat duduk penumpang. Awalnya Chalvin baru menutup pintu, tapi karena Laras heboh dan berdalih belut dan ikannya ada yang jatuh beberapa ke tempat duduk, Chalvin refleks masuk.


Beberapa warga yang kebetulan tengah keliling dan memergoki mobil Chalvin berhenti di tempat gelap dan itu depan pemakaman, tapi mobil dalam keadaan terguncang-guncang, segera menggerebek keduanya. Jadilah, keduanya dinikahkan paksa meski keduanya apalagi Laras sibuk meyakinkan, alasan mobil terguncang-guncang murni karena mereka sedang berusaha menangkap ikan dan belut.


“Beri aku waktu buat urus kakakku dulu. Setelah itu, aku akan mengenalkan kamu ke orang tuaku. Aku akan mengenalkan kamu ke keluarga besarku!” yakin Chalvin. “Maaf kalau aku juga sampai minta kamu buat masa bodo ke omongan tetangga. Ini aku beneran minta maaf, tapi untuk saat ini itu memang cara terbaik.” Karena Chalvin kembali mendengar suara napas sesak khas orang ampeg, ia menanyakannya kepada Laras. Namun sebelum Laras sempat menjawab, ia sudah langsung mengajaknya ke rumah sakit.


“Ya sudah ayo kita ke rumah sakit. Kamu juga harus siap-siap. Kayaknya bapak kamu harus semacam diuap!” sergah Chalvin buru-buru berdiri.


Laras juga segera menyusul dan menatap Chalvin dengan tatapan sangat tidak nyaman. “Tapi, Mas. Aku beneran enggak punya uang. Uangnya sudah buat berobat ibu, jadi paling bapak baru bisa berobat besok kalau aku pulang jualan dari pasar.”


Chalvin juga tidak akan lupa, selain dinikahkan paksa, ia juga sampai didenda lantaran sebelum dinikahkan paksa dengannya, Laras merupakan tunangan anak kepala desa di sana. Hanya saja karena uang di dompet Chalvin tidak cukup, Laras yang menutup sebagian uang dendanya.

__ADS_1


“Urusan uang gampang. Yang penting sudah ada mesin ATM atau bayar lewat m-banking. Gampang. Sudah kamu siap-siap, sekalian Ibu juga dibawa. Aku panasin mesin mobil dulu, habis itu baru bantu kamu,” sergah Chalvin meyakinkan.


Tak sampai dua puluh menit, Chalvin sudah membopong ibunya Laras. Kemudian hal yang sama juga Chalvin lakukan kepada bapaknya Laras. Keduanya Chalvin dudukkan du tempat duduk bagian tengah, sementara Laras memilih duduk di antara keduanya. Laras menyandarkan kepala bapak dan ibunya ke bahunya. Dan sepanjang proses itu, mereka sudah langsung jadi bahan tontonan keluarga.


Tanpa direncanakan, Chalvin justru membawa istri dan mertuanya ke rumah sakit Cinta dirawat. Mereka bahkan berpapasan tak jauh dari pintu masuk. Karena ketika Chalvin baru sampai, Cinta yang duduk di kursi roda didorong oleh seorang perawat yang siap merujuknya naik ke mobil ambulans.


“Chalvin!” jerit Cinta dalam hatinya lantaran Chalvin justru cuek dan tanpak tidak mengenalinya. Bahkan meski ia sudah menahan sebelah tangan Chalvin, adiknya itu hanya menatapnya bingung kemudian buru-buru menyusul ke ruang pendaftaran.


“Tadi Chalvin dari IGD? Siapa lagi yang sakit? Chole, kah? Helios, kah? Papah mamah, apa gimana?” pikir Cinta yang akhirnya bisa bicara. Ia meminta perawat yang mengurusnya untuk mengantarnya kepada Chalvin, tapi ketika ia menoleh ke ruang pendaftaran posisi terakhir ia melihat Chalvin, pria yang begitu tampan itu sudah tidak ada di sana.


“Ya Allah, ... sial banget sih aku! Itu tadi beneran di sana, terus ke mana lagi? Ini aku mau dirujuk buat dapat pengobatan kulit intensif, tapi nasa enggak ada yang tahu!” kesal Cinta dalam hatinya.


“Ke mana, Mbak?” tanya si perawat yang mendorongkan kursi roda Cinta.


Karena tadi sempat melihat Chalvin keluar dari IGD dengan sangat buru-buru, Cinta berniat mencarinya ke sana.


“Coba Kak, tolong antar saya ke IGD, sepertinya adik saya ada di sana. Tolong banget yah, Kak!” mohon Cinta berucap lirih sekaligus lembut.


“Baik Bu!” sanggup sang perawat.

__ADS_1


“Aku dipanggil Ibu? Ini beneran masih untung karena kalau aku lihat kondisi wajah terbaruku, aku jadi mirip nenek-nenek!” batin Cinta menunduk nelangsa.


__ADS_2