Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam

Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta Yang Kejam
94 : Fokus Hidup Bahagia


__ADS_3

“Ayo! Ayo kita siapkan masa depan!” ucap Helios yang kemudian memberikan senyum harunya.


Chole sudah langsung bengong, tapi mendadak kegirangan. Segera ia yang duduk di pinggir tempat tidur berdiri kemudian memeluk erat Helios menggunakan kedua tangan. Helios juga sudah langsung membalas pelukan Chole seiring senyuman di wajahnya yang kian lepas.


“Wanita yang telah mengubah hidupku! Wanita yang telah memberiku banyak bahagia, menjadi pelangi sekaligus cahaya penerang dan membuat hidupku tak lagi gelap. Hidupku benar-benar berwarna, tak lagi sepi dan semuanya benar-benar indah karena adanya kamu bersamaku. Mana mungkin aku ragu apalagi menolak semua arahan kamu, sementara selama ini, kamu selalu memberiku yang terbaik!” batin Helios sambil mengeratkan dekapannya. “Menyiapkan masa depan, aku benar-benar akan melakukan yang terbaik!” batin Helios lagi.


Di tempat berbeda, Syam berusaha menyudahi dekapan Shin, tapi wanita yang belum ia ketahu rupanya itu menolak. Shin terus saja menempel ke punggung Syam, meski Syam berusaha menyingkirkan.


“Kau cari mati!” kesal Syam sesaat setelah menghela napas kasa*r lantaran ia terlalu kesal.


“Hah ...? Kok suaranya beda?” batin Shin benar-benar terkejut. Karena meski Helios jarang bicara, ia paham suara pria yang baginya bisa memberinya materi sekaligus kedudukan berlimpah.


Setelah Shin mengakhiri dekapannya, Syam sudah langsung balik badan. Ia tatap Shine penuh kebencian. Layaknya wanita p*enghibur lain di kapal pesiar kebersamaan mereka, Shin hanya memakai biki*ni merah, sementara rambut panjang sepinggang yang terlihat sangat indah itu, dibiarkan tergerai bebas.


“Hah ... dia beneran bukan si ketua!” panik Shin dalam hatinya yang lagi-lagi terkejut terlebih setelah mendapati wajah Syam. Padahal, Syam hanya membuka kacamata hitam yang dipakai, tapi ia sudah langsung mengenalinya. Makin yakin bahwa itu bukan Helios, meski gaya pria di hadapannya sangat mirip Helios.


“Kamu sengaja menggo*da bos kami?” kecam Syam sambil menatap tak habis pikir Shin.


Shin kebingungan, cukup malu meski tidak berlebihan karena pada kenyataannya, pekerjaan yang ia pilih melatihnya untuk terbiasa memutuskan urat malunya. Namun, Shin sungguh syok ketika tiba-tiba, Syam menggandengnya kemudian membawanya keluar dari kapal secara paksa.


“Lebih baik kamu mat*i daripada adanya kamu hanya membuat ketuaku susah!” Niat Syam benar-benar bulat, membuang hidup-hidup Shin ke tengah laut, di tengah dinginnya malam dan bisa ia pastikan akan membun*uh Shin dengan lebih cepat jika wanita itu ditenggel*amkan.


“Jangan lakukan ini, aku mohon!” Shin benar-benar memohon. Ia sudah sangat ketakutan. Dadanya saja sudah langsung berdentam kencang dan terasa nyaris copot.

__ADS_1


Syam yang masih menatap marah Shin menggeleng. “Aku pernah melihat fotomu di hape salah satu rekanku. Kamu kegan*jenan, baper hanya karena ketua menolong kamu. Namun bukannya balas budi atau setidaknya sadar diri, kamu justru menentang semua larangannya!”


“Ketua sudah melarangmu mendekatinya, kan?” lanjut Syam, tapi sampai detik ini, Shin tidak menjawab. Shin hanya kebingungan dan sesekali menggeleng di tengah deru napasnya yang terdengar berisik. Karenanya, ia sungguh tidak memiliki pilihan lain selain mele*mpar wanita itu ke tengah lautan.


Suara teriakan Shin menggema di antara angin malam yang berembus kencang di sana. Syam dengan tampang kej*inya merasa puas terhadap apa yang baru saja ia lakukan. Suara jatuhnya Shin ke lautan sana ia susul dengan menghela napas lega.


“Orang seperti dia hanya akan berhenti setelah disingki*rkan untuk selama-lamanya!” batin Syam seiring dengan kedua tangannya yang mengepal di sisi tubuh.


Bagi Syam, walau apa yang ia lakukan sangat kejam, orang seperti Shin memang hanya akan berhenti jika sudah meninggal, layaknya keyakinannya. Hanya dengan begitu, Shin tidak mengganggu Helios bahkan kehidupan Helios termasuk Chole dan keluarga kecil mereka. Helios dan Chole berhak bahagia dengan damai layaknya manusia normal pada kebanyakan. Karenanya, ia yang sudah bisa beraktivitas dengan normal setelah mendapat kaki palsu, berniat mengambil alih sebagian besar bahkan bila bisa semua pekerjaan mafia Helios, agar Helios bisa fokus hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.


***


Karena semua pekerjaan mafia jatahnya diambil alih Syam, dan Helios benar-benar hanya tinggal menerima beres mengecek setiap laporan pekerjaan, Helios yang awalnya hanya menjadi pengawal Chole, justru makin tertarik untuk mengurus perusahaan.


Helios yang duduk di sebelah Chole sambil mengunyah pelan bekal makan siang mereka berangsur bersedekap. “Iya juga sih ... apalagi kalau kamu begini, kamu jadi enggak sibuk urus jin jongkok penunggu rumah makan.”


“Kata siapa?” ucap Chole refleks menatap Helios sambil tetap menikmati rujaknya. Sebab di kehamilannya yang memasuki usia tiga bulan, ia mulai rak*us pada rujak. Hampir setiap hari ia menghabiskan banyak buah sekaligus bumbu rujak, melebihi jadwal meminum o*bat.


“Ada apa lagi?” refleks Helios yang memang sudah langsung panik. Karena dari tanggapannya, ia yakin sang istri merencanakan atau malah menyimpan rahasia besar. Lihatlah, Chole sudah langsung kemayu! “Kamu jangan macam-macam yah Chole.


“Apaan ih, Mas. Penyuka kpop itu tipikal setia. Mas baru boleh takut kalau tiba-tiba Jung Kook DM apa WA aku!” yakin Chole.


“Tapi pengusaha bedak itu!” kesal Helios lantaran sampai detik ini, Rayyan benar-benar masih usaha.

__ADS_1


“Pengusaha bedak ...? Rayyan?” lirih Chole mengernyit serius. Namun karena Helios sudah langsung menghela napas sambil menepis tatapannya, itu bertanda dugaannya benar.


“Ih biarin aja Mas, kalau si Rayyan. Nanti kita jadiin mantu aja. Gitu-gitu, dia kan pengusaha fashion sukses!” Chole mulai menanggapi dengan santai.


“Dijadikan mantu bagaimana? Yang ada mantuku mantan pacar istriku. Atau, mantuku mepet bojoku!” kesal Helios yang memang cemburu akut.


Chole sudah langsung terkikik dan menggunakan tangan kanannya untuk menutupi mulutnya. Kini berhubung di ruang kerja pribadi dan mereka sedang makan siang, ia memang sengaja melepas cadar.


“Mantuku mepet bojoku! Ini judul novel online, apa sinetron ya. Sinetron jeritan hati suami! Hahaha!” canda Chole yang tetap kesulitan mengakhiri tawanya meski Helios berdalih akan menjawab telepon dari Excel.


“Tumben si Excel ngajanin telepon video,” ucap Helios heran karena biasanya tidak pernah begitu. Jika bukan pesan, paling mentok hanya telepon suara.


“Kepencet kayaknya Mas. Sekarang kan Mas Excel sibuk ikut urus perusahaan paman Lim,” ujar Chole.


“Coba bentar aku jawab,” sergah Helios.


Yang pertama Helios lihat di layar ponselnya dan itu dari pihak Excel, dua bayi merah. Satu bayi merah memakai bedong pink, satunya lagi memakai bedong biru. Keduanya ada di ranjang bayi bernuansa putih.


“Cel, itu bayi siapa?” refleks Helios.


“Hah ...? Bayi gimana, Mas?” Chole ikut kepo kemudian melongok layar ponsel suaminya. “Ih, lucunya! Masya Allah!”


“Kalian enggak mau yang lucu-lucu begini?” ucap Excel yang kemudian menampakkan diri. Excel tersenyum semringah, dan Chole yang tipikal peka langsung menduga, bahwa Azzura sudah melahirkan.

__ADS_1


“Ih, Azzura sudah lahiran. Duh jadi galau, ... pengin jenguk tapi lusa saja kami pergi ke Singapura buat operasi mata mas Helios. Ih Excel malah sengaja pamer yaaa!” bawel Chole.


__ADS_2